> Masa demokrasi liberal adalah masa lanjutan dari sebuah masa
revolusi
> fisik ketika Indonesia mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus.
> Sedangkan masa revolusi fisik adalah sebuah lanjutan dari sebuah
masa
> pergerakan nasional dan masa pendudukan Jepang.
> Masa pergerakan nasional adalah masa pembukaan pola pemikiran
modern
> baik pemikiran yang asli Indonesia maupu pemikiran-pemikiran luar
> Indonesia yang berkembang pada waktu itu yang kemudian dicerna oleh
> para elit baru /intelektual Indonesia untuk di jadikan ideologi,
> rujukan atau sebuah perbandingan untuk meraba memperjuangkan ke
depan
> nasib bangsanya. Dua pengaruh yang sangat signifikan mempengaruhi
awal
> pemikiran para intelektual ini adalah pemikiran pembaharuan Islam
dan
> Komunisme yang di dalamnya menawarkan ide-ide sosialis untuk
> mengentalkan nasionalisme Indonesia kelak. Hal ini terlihat dengan
> berdirinya dua organisasi nasional massa yang besar yakni Sarekat
> Islam (SI) dan PKI (pecahan dari SI).

Sebenarnya PKI tidak langsung berasal dari SI, melainkan berasal
dari organisasi ISDV yang dimulai Sneevliet pada 1917an. Sneevliet
sendiri membawa bendera ‘sosial demokrat’ dan marxist.Pada awalnya
member dari ISDV ini gak banyak, kebanyakan eurasian.Baru pada
1920an muncul tokoh2 seperti Semaoen dan Tang Malaka yg kemudian
juga masuk ke SI dan kemudian membuat PKI setelah terjadi perpecahan
didalamnya.

Setelah pemberontakan 1926 (yg tidak disetujui tan malaka), praktis
gerakan ini terhenti karena pemth belanda sangat menghalangi
pertumbuhan komunis di Indonesia.

Dalam sejarah selanjutnya, justru kaum “extreme-left” seperti PKI
yang paling lantang meyuarakan kemerdekakan Indonesia (hardliner non-
cooperative), beda dengan gerakan lain yang co-operative atau tidak
langsung menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

( No wonder pada 1966 Bung Karno berkata dari golongan mana yang
paling banyak berkorban untuk kemerdekaan Indonesia).

Refer to this book: the rise of communism in Indonesia (McVey).

> Adapun pemikiran konservatif
> tradisional Jawa yang coba bangkit berlindung dibalik Budi Utomo
yang
> telah dikuasai kelompok nasionalis Jawa. Kelompok Budi Utomo non-
> nasionalis Jawa bergabung dengan Indische Partij (IP), SI,
> Muhamadiyah, dll. Polemik pemikiran antara nasionalisme Jawa
diwakili
> oleh Soetatmo dan nasionalisme Indonesia diwakili oleh Cipto
> mangunkusumo. Disamping pemikiran berkembangnya ideologi Islam,
> komunis, tradisional Jawa di Indonesia, pada waktu itu berkembang
pula
> pemikiran nasionalisme oleh mahasiswa Indonesia yang belajar di
negeri
> Belanda, yaitu kelompok Perhimpunan Indonesia (PI). Kelompok PI
sangat
> dipengaruhi oleh ideologi barat terutama demokrasi tempat mereka
> belajar.

PI ini pemimpin utamanya adalah Bung Hatta.

Sebenarnya ideologi yang disongsong bukan “ideologi barat” seperti
kapitalisme atau bahkan fasisme.

Paham yang mereka PI perjuangkan sebenarnya sosial-demokrat yang
menggunakan ekonomi dan teknologi sebagai alat pembangunan. sosial-
demokrat ini juga bukan sosial-demokrat ala komunis ; melainkan
sosial-demokrat yang juga ada dan berasal dari religious/islam dalam
hal ini (karena pengaruh dari bung hatta yang berasal dari keluarga
puritan yg menjalankan syariat scr sangat baik di minangkabau).
Ide “koperasi” juga muncul dari sini.

( Indonesia Free, Mohammad Hatta Political Biography by Cornell).

Kalau menurut saya sendiri, pemahaman bung hatta ini yang paling
cocok dengan kondisi Indonesia Modern, sometimes i just wish he is
the Indonesia first president , pemahaman bung hatta banyak
menggunakan rasionalitas berpikir rather than mass agitation/
provocation. :)

> Tidak semua para intelektual hanya bertolak pemikirannya
> dengan satu ideologi, banyak diantara mereka mempunyai pemikiran
> sinkretis/ menggabungkan ideologi-ideologi yang ada. Tokoh itu
adalah
> HOS Cokroaminoto, Tan Malaka, Haji Misbach, Mas Marco lalu
Soekarno,
> dll setelahnya, mereka ini menggabungkan ideolog islam, komunis dan
> nasionalis untuk Indonesia merdeka kelak melawan kolonialisme dan
> imper5ialisme Belanda.

Banyak ideologi dan gerakan yang muncul pada 1920an karena gubernur
jenderal belanda di era 1920an –saya lupa de jong atau
sebelum/sesudahnya)– adalah gubjen yang sangat ‘liberal’ dan
permisif dengan kemajuan sosial/politik org Indonesia (atau inlander
istilah mereka). GubJen ini malah kemudian mendapat tekanan dari
kerajaan belanda

sebenarnya dalam ideologi dan gerakan Indonesia saat itu, bisa
dibedakan menjadi dua yaitu cooperative dengan pemth belanda dan non-
cooperative.

Contoh dari coooperative organization seperti mereka yg bergabung di
volksraad, boedi oetomo,dlsb. sedangkan non-cooperative seperti bung
karno/PNI/Partino dan Bung Hatta/PI/PNI Baru.

refer to: Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia (Ithaca:
Cornell University Press, 1952)

> Masa pergerakan nasional adalah masa dimana
> para intelektual Indonesia meraba-raba sebuah ideologi perjuangan
yang
> sama-sama bersifat nasionalime, namun dengan kadar yang berbeda-
beda.
> Memasuki kedatangan Jepang pemikiran para intelektual berputar pada
> polemik pada pro dan kontra bekerjasama dengan Fasisme Jepang demi
> tujuan kemerdekaan Indonesia

Waktu jepang masuk, sebagian besar pimpinan pergerakan nasional
indonesia sedang diasingkan di boven digul atau tanah merah.

btw, Bung Hatta pada 1920an dalam satu tulisanya di newsletter PI
mengatakan kalau “pacific war is envitable”. Something that’s
happened years later.

Juga, waktu Jepang masuk. Satu problema muncul di kaum pergerakan,
harus bagaimana kita ini, apakah mendukung kolonialisme baru ala
Fascism Jepang ? atau kita harus melangsungkan undergroudn
resistance. Hasil pemikirin bung karno, BK berpendapat Jepang akan
memenangkan perang WWII sementara bung hatta berpendapat jepang
pasti kalah karena kekuatan teknologi militer msh dipegang oleh
amerika serikat.

singkat ceritanya bung karno dan bung hatta memilih pendekatan
cooperative dengan Jepang.

> Masa revolusi Fisik adalah masa dimana pemikiran-pemikiran yang
> berkembang pada masa pergerakan nasional menguji keampuhannnya
dalam
> rangka patriotisme menghadapi Belanda, yaitu usaha mendapatkan
> pengakuan kedaulatan. Faksi-faksi yang berkembang membentuk
kelompok
> pro dan kontra berunding Indonesia dengan Belanda. Dua faksi
terbesar
> pada masa revolusi fisik, yaitu pertama faksi pemerintah yang
didukung
> oleh dwitunggal Soekarno-Hata yang lebih dikenal dengan sayap Kiri
> lalu Persatuan Perjuangan (PP) sebagai oposisi pemerintah. Sayap
kiri
> terdiri dari kaum Sosialis Kanan Sjahrir yang dikenal dengan
sebutan
> SosKa lalu kelompok Komunis Gadungan Amir Syarifudin yang dikenal
> dengan sebutan KomGa (SosKa+KomGa=Partai Sosialis), ditambah dengan
> Pesindo,PKI, dll. Sedangkan PP terdiri dari komunis nasional Tan
> Malaka, Hizbullah, dll yang terkenal dengan sebutan kelompok kiri
dari
> kiri. Diluar kelompok Ini ada dua partai yang mempunyai kekuatan
> besar, yakni Masyumi sebuah partai federasi dengan ideologi
> nasionalisme Islam dan PNI dengan ideologi nasionalis Sekuler.
> Disamping itu ketiga kekuatan pada masa revolusi fisik ada dua
> kekuatan Dwitunggal Soekarno-Hatta dan tentara. Secara garis besar
> pada masa revolusi Fisik pemikiran yang berkembang adalah tentang
> bagaimana cara mendapatkan kedaulatan Indonesia baik dimeja
> perundingan maupun di medan perang termasuk membentuk tentara
regular
> yang homogen.
> Tercapainya pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949 dalam
> Konferensi meja KMB yang selanjutnya dikuti dengan perubahan
> konstitusi Indonesia dari konstitusi RIS menuju UUDS 1950 adalah
> tonggak diterapkannya demokrasi Liberal di Indonesia. Begitupun
dengan
> bentuk Negara yang awalnya federal menurut Konstitusi RIS berubah
> menjadi Republik Kesatuan melalui sebuah mosi integral M. Natsir.

catatan: ketua delegasi belanda di konferensi KMB saat itu mendapat
kecaman keras dari kerjaan belanda karena gagal mempertahankan
kolonial mereka yg sangat mereka banggakan lebih dari 300 tahun.

> Masa demokrasi Liberal peta pemikiran politik Indonesia menunjukkan
> keheterogenan. Pemikiran yang berkembang adalah seputar tentang
moral
> politik dan militer. Corak dasar dari pemikiran-pemikiran ideologi
> yang berkembang adalah corak Islamis, komunis, sosialis, yang lebih
> bersingkretis/kait-mengkait dengan pemikiran-pemikiran lain. Corak
> dasar pemikiran ini dapat dijadikan ukuran dengan melihat
> masing-masing pendukung dan aktivis partai-partai politik yang
ada.
> Pemikiran islam Indonesia dibagi atas dua golongan besar, yakni
> modernis+santri yang diwakili Masyumi dan tradisionalis+abangan
yang
> diwakili NU yang kedua-duanya anti komunis. Islam modernis mendapat
> pengaruh sosialis dengan ciri khas islam dan bersifat kader
sekaligus
> massa, sedangkan islam tradisionalis mempunyai sifat massa+ kultus
> individu dan mendapat pengaruh praktek tradisionalis Jawa berupa
> khurafat dan bid’ah.
> Komunis terbagi dua yakni komunis Stalinis +Cina (kritik Musso)
yang
> dikenal dengan PKI dan Komunis Nasionalis (Murbaisme / Ide Tan
Malaka)
> yang dikenal Partai MURBA. PKI pada masa Liberal ini mempunyai
> dukungan para islam abangan, ateis, sekuler, buruh, petani dengan
> tokoh pemuda 45 anak didik Musso, yakni D.N Aidit, Sudisman, Nyoto
> dll. Murba mempunyai dukungan para islam abangan, sekuler dengan
tokoh
> pemuda 45 dan eks PArtai Republik Indonesia (PARI) kader Tan
Malaka,
> yakni Sukarni, Adam Malik, Chaerul Saleh,dll.
> Ide Sosialis sama-sama diusung oleh PSI Sjahrir dengan sosialis
> demokratnya+marxis dan PNI dengan marhaenismenya. Perbedaan antara
PSI
> dan PNI adalah dalam sifat partainya. PSI yang mirip dengan
> PNI-baru/PI faksi Hatta merupakan partai kader para intelektual
yang
> cenderung eksklusif dan anti komunis mempunyai pendukung para kaum
> sosialis demokrat, intelektual, akademisi dan kaum sekuler. PNI
adalah
> partai yang bersifat masa yang mempunyai dukungan besar dari kaum
> priyayi, abangan, sekuler, buruh, petani menengah. PNI adalah
jelmaan
> dari PNI Soekarno dengan tokoh eks PI seperti Ali Sastroamijojo,
> Sartono, Iwa K, dll.
>