>
> Coba simak tulisan di buku : BENNY Tragedi Seorang Loyalis hal 53
karangan Julius Pour sbb :
> “Empat hari setelah Pekanbaru dibebaskan, pasukan pemberontak
dipimpin Mayor Boyke Nainggolan mencoba menguasai Medan dengan
melancarkan operasi Sabang Merauke. Sebelum peristiwa tersebut
meletus, jabatan Panglima TT I/BB telah diserahkan dari Simbolon
kepada Djamin Gintings. Simbolon dipindahkan ke MABAD tetapi tidak
pernah terlaksana karena dia lantas bergabung ke PRRI/Permesta.
Selama hari-hari menegangkan tsb, Djamin Gintings tidak mampu
menegakkan kewibawaannya sebagai Pangdam. Dia menyingkir ke Berastagi
di lereng Bukit Barisan”.
>
> Pertanyaan yang muncul di benak kita adalah atas dasar apa Julius
Pour memberikan penilaian bahwa Djamin Gintings tidak mampu
menegakkan kewibawaannya sebagai Pangdam? Kalau betul saat itu Djamin
Gintings di Berastagi apakah untuk menyingkir dari konstelasi politik
yang panas ketika itu atau untuk urusan lain? Saya tergelitik akan
tulisan Julius Pour di atas karena menyangkut kewibawaan dan nama
baik salah seorang tokoh TNI asal Tanah Karo yang memiliki peran
sentral pada perang Kemerdekaan RI di Sumut. Tulisan Julius Pour
menyiratkan Djamin Gintings tidak kesatria dan bertanggung-jawab
menghadapi pergolakan di wilayah yang menjadi tanggungjawabnya.Adakah
tokoh Sumut yang mau sumbang saran atas hal di atas?
>
Pendapat Benny Murdani spt ditulis oleh Julius Pour tentu harus
dihormati, karena begitulah sudut pandangnya melihat peristiwa itu.
Bagi Benny, seorang panglima menyingkir berarti tidak berwibawa. Dia
tidak mengulas bagaimana situasi dalam tubuh TNI khususnya AD pada
masa itu. Juga tidak disinggung, pembrontakan di daerah PRRI
Permesta, DII-TI, Kahar Muzakar dsb, dilakukan oleh tentara.
Perbedaan sudut pandang itu biasa terjadi. Sama halnya ketika kita
membaca biografi Mauludin Simbolon yang ditulis oleh Prof. Payung
Bangun MA, sosok Simbolon ditampilkan sebagai seorang humanis. Dia
beranggapan manusia itu baik (harap dicatat, Payung Bangun
mewawancarai Simbolon beberapa puluh tahun kemudian setelah peristiwa
PRRI Permesta.
Tapi kalau kita baca buku yg ditulis sejarawan atau pengamat asing,
sudut pandang mereka berbeda lagi.
Kembali ke masalah pokok persoalan, mengenai menyingkirnya Panglima
TT I Djamin Gintings ke Berastagi. Pada masa itu, di seluruh
Indonesia, TNI belum menjadi kekuatan militer yang terintegrasi.
Termasuk di Sumut.
Masalah pergolakan politik militer di Sumut tahun 1956 – 1958
disajikan di Sora Mido secara bersambung dimulai edisi Februari yl.
Dalam tulisan selanjutnya nanti akan terlihat bagaimana friksi TNI AD
di Sumut, bagaimana peranan Mabes AD dalam hal ini AH Nasution, yg
mengukuhkan kedudukan Djamin Gintings sebagai Panglima TT I antara
lain dgn mengirimkan pasukan RPKAD/siliwangi.
pohan said:
jangan banyak cinconglah jamin ginting adalah seorang penghianat besar dari sebagian teman-teman simbolon yang tidak kosekuen dipertemuan 4 des . jadi wajarlah dia menyingkir kedaerah asalnya menunggu pasukan pusat datang. kan gitu coy. makanya dia mati diluar negeri(amerika Serikat ) Karna Apa???…ya bumi indonesia pun nga betah menerima Jasadnya……….jangan lupa kawan2 jamin ginting adalah kepercayaan simbolon, tapi dia menghianatinya supaya jadi panglima TT I/BB. jadi itu hal yang lumrah Saudara Apalagi Didaerah dia……horas
deff said:
beliau bukan menyingkir …itu karena situasi ekonomi dan politik pada saat itu melanda indonesia..
Beliau diangkat menjadi duta besar di kanada …dan meninggal disana ,bukan karena indonesia tidak menerima jasad nya…
kutunggu jawaban mu selanjut nya lae….
nb: jangan banyak cingcong lah lae…
Udam Munthe said:
@pohan:
Kalau menurut saya, itu karena perbedaan karakter. Secara umum orang karo mempunyai karakter konsisten, dan sudah tertanam bagi semua orang karo.
Orang karo sudah sepakat bhw Tanah Karo adalah RI, sehingga apapun yang terjadi maka keputusan pertama harus tetap dipertahankan. Seperti itulah karakter Jamin Ginting, beda sekali dngan karakter orang batak toba pada umumnya yang mempunyai karakter plin plan, condong apabila mguntungkan bagi mereka. Mereka tidak akan segan untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yg mereka inginkan. Dengan kata lain mempunya jiwa penjajah, karena belanda sudah sangat lama masuk ke Toba dan karakter mereka paling tidak menjadi sama. Menjajah dan Jering.
AT.Ginting said:
Saudara-saudaraku yang berasal dari Sumatra Utara…. marilah kita berpikir secara positif, profesional dan porposional. Berpikir positif berarti pertama-tama tidak dibarengi dgn prasangka buruk, tetapi mau mendengar apa sebenarnya yg terjadi, setiap peristiwa pasti ada asal usulnya, causa prima. Perbedaan pendapat antara M.Simbolon dg Djamin Ginting harus kita tempatkan dalam bingkai NKRI, bukan bingkai kedaerahan. Satu sisi saya biasa “paham” pikiran pak M.Simbolon yang mau berpisah dg pemerintah pusat, karena pusat hanya memikirkan pulau Jawa….. ini harus dipahami oleh saudara2 yang ada di pulau Jawa… tapi disisi lain saya tidak setuju dg bentuk “pembangkangan” Simbolon terhadap Pusat, melalui “Pengerahan Militer” ke arah PRRI/Permesta. Pada posisi ini saya menilai Djamin Ginting adalah orang yg setia pada NKRI, sekalipun dipandang oleh antek2 M.Simbolon sebagai “penghianat”. Berpikir secara Profesional artinya cobalah mengambil kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Untuk menilai tindakan M.Simbolon Cs juga harus dilihat secara konprehensif dan integral, tidak boleh secara parsial. Demikian juga dalam menilai apa yang diambil oleh Djamin Ginting harus dilihat dalam kerangka NKRI…. bagi saya peran yang dilaksanakan oleh Djamin Ginting adalah peran NKRI yang mendapat mandat dari Pusat, yang dilegitimasi oleh Jendral AH.Nasution. Berpikir porposional berarti semua ank bangsa, khususnya kita yang dari SUMUT dapat memberi argumentasi untuk mengukuhkan pendapat masing-masing, tetapi harus memenuhi kaedah-kaedah akademis dan masuk akal, bukan asal bunyi, jangan buat malu kalau belum mampu berdebat secara sehat, belajarlah dulu. Masalah Buku Benny Mordani karangan Julius Pour mengenai “pengepungan Kota Medan” adalah masuk akal…. situasi pada saat itu…. setelah Jendral AH.Nasution memberikan perintah Kilat kepada Pasukan Kopassandha secara terbuka untuk merebut Kota Medan dari tangan pemberontak/PRRI/M.Simbolon….. Secara militer pasukan Djamin Ginting sdh menggunakan strategi yang tepat, yaitu konsolidasi pasukan di daerah Brastagi sekitar, sehingga mudah manuver ke arah Medan bila diperlukan, Djamin Ginting pasti menghindar dari saling tembak dg pasukan Pusat yang dipimpin langsung oleh Benny Mordani….. yang penakut terhadap pasukan Pusat adalah pasukannya pak M. Simbolon, karena tidak berani menunggu kedatangan pasukan Pusat. Sekali lagi saudara2ku dari SUMUT, marilah kita tempatkan para “Pejuang dan Tokoh” dari SUMUT secara baik dan benar. Untuk diketahhui pak M.Simbolon jg telah ditetapkan sebagai Pahlawan oleh NKRI, bukan hanya Djamin Ginting. Tidak perlu kita mengorek luka lama yang tidak bermanfaat. Mejuah-Juah, Horas dan Jahou…..
itinkndu iben said:
Seorang Pemimpin Pasti Sudah Memikirkan hal tsb,,, Bahwa NKRI Harga Mati….
Dabuts said:
kalau memang djamin ginting tidak mau untuk memperjuangkan daerahnya kenapa dari awal dy ikut serta dengan simbolon??kenapa tidak dari awal saja ia menyatakan tidak ikut??kenapa setelah dy ikut lalu tiba2 membelot??saya sudah dengar dari cerita2 orang tua dulu baik orang karo maupun toba..memang mereka mengakui djamin ginting berhianat dengan melapor ke pusat..padahal sebenarnya PRRI bkn berjuan untuk simbolon saja tetapi untuk seluruh sumatera utara termasuk tanah karo, karena daerah tidak mendapatkan perlakuan yg adil dari pemerintah pusat.jadi sebenarnya djamin ginting pun menghianati tanahnya sendiri.saya dl pun bertanya-tanya kenapa jendral yg kalah terus dalam perang dan jasa nya tidak banyak bahkan di buku sejarah jarang di sebut punya patung sebesar itu di depan Kodam..ternyata dy penjilat,menggulingkan teman2nya supaya jadi Pangdam
agus bre karona said:
@pohan.
memang dari dulu sampai sekarang orang toba yang selalu pembuat onar di negara ini,lihat saja PROTAP,sampai2 KETUA DPRD SUMUT,Drs.Azis Angkat jadi korban.Lihat gedung DPR RI,anggota DPR RI orang2 Toba tukang berantam semua,lihat kampus UHN Nomenssen Medan,terkenal kau TOBA tukang demo semua.Kau memang tukang bikin onar saja,SUMUT ribut gara2 kau saja.MEJUAH-JUAH KITA KERINA KALAK KARO!!!!!
AT.Ginting said:
Buat saudara-saudaraku baik dari Toba. Karo, Simalungun, Tapsel, Pakpak, Tapteng, dll, masalah yang ada kaitannya antara M. Simbolon dengan Djamin Ginting mari kita “terima dan aminkan” dengan lapang dada. Kedua Putra terbaik Sumut ini adalah Pahlawan Bangsa Indonesia. Mereka berdua memiliki kelebihan dan kekurangan karena mereka masih manusia, yang tidak luput dari “khilaf dan dosa”. Oleh sebab itu kita yang memiliki “sub suku” yang disebut di depan, tidak perlu saling menjelekkan satu sama lain, tetapi marilah kita saling mengambil hikmah dari peristiwa yang disampaikan oleh Benny Murdani melalui bukunya tsb, yaitu “mari kita bersama-sama membangun Sumut yang adil, damai dan sejahtera” (Marsipature huta nabe). Sejarah masa lalu adalah kenyataan hidup yang sudah terjadi, yang penting jangan membuat sejarah yang tidak berdasar pada sejarah. Mejuah-juah, horas, Jahou
Sitepu Naman Njulu said:
@Pohan : Taik kau jering, bengkala. Binatang kau, ngomong gak pake otak. Kalo ketemu kau kumakan dan kuhisap darahmu itu.
yonas a purba said:
@pohan:begu,,,,,klo ngomong pikir dlu…..
klo mau protes jgn pke kata2 kasar…..
jgn menyingung org karo….
bisa aja kau bukan org batak,,,bisa aja ku itu pengadu domba…
D"Gitsu said:
@pohan
Saya keturunan keturunan ke 5 djamin gintings.Pada pertemuan 4 desember teman-teman simbolon banyak tidak hadiri pertemuan karena menurut mereka dalam pertemuan itu tidak hasilkan satu hal yang berarti dan orang2 dalamnya juga plin-plan seperti saudara Munthe jelaskan.Dan saat itu Djamin gintings sudah banyak pertimbangan mengapa tidak hadiri pertemuan tsb.Dan Buat kau Pohan cibai lancau ,,,jangan anda suka karang cerita yang buat kacau orang saja,cukup selama ini seluruh negeri kau jadi pengacau dimana-mana,bikin malu SUMUT aja ,saya stuju saudara Agus,Dan @pohan dari mana kau tau Djamin gintings dengan kisah karanganmu sampai di Amerika???Jangan asal luam aja bagi kesut berngi,,,Klo bicara tolong pake pertimbangan jangan kaya anak babiku dipeternakan di ToBASA sana.Siap makan tidur.aja smua,mbur2 la rotak!!!(Info Dari Kakek Keturunan 3).Bahwa djamin gintings slama dulu tenar dengan perjuangannya mempertahankan sumut.bahkan dikenall smpai pulau jawa.hingga pada jaman pemerintahan itu orang pusat takut digulingkan posisinya(Jendral tertentu yg tak mau di gusur posisi oleh Djamin gntings dgn prestasinya),Hingga ada provokasi kepusat sebaiknya djamin ginting pindah tugaskan di kedubes kanada.Dari sini Djamin ginting merasa tidak dihargai akan perjuangannya,dan menangisi yang harus dilawan bukan belanda lagi tapi orang bangsa sendiri yang pakai otak,otaknya belanda.Like yu r Teba…Hingga satu masa Djamin ginting sakit dan wafat disana dan mulih ku suka….jelas mr Pohan.
D.Ginting’s(Osaka)
Rasiman said:
Sejarah RI membuktikan bhw : siapa yg kalah disebut “Pecundang” bahkan disebut Pembrontak alias Penghianat, sedangkan yg menang disebut “Pejuang” bahkan disebut Pahlawan. Djamin Ginting mendapat penghargaan dari Bangsa RI sbg “Pahlawan”. Jadi kesimpulannya Djamin Ginting adalah “Pejuang”.
ilmar dalimunthe said:
salinglah mengerti!!….yg menjadi pahlawan itu sudah pasti jasanya sudah tak terhitung ,….oleh bangsa dan negara…..
binz said:
@pohan,
Takalmu iti jering..
binz said:
mari kita hargai pahlawan kita…dengan memberikan yang terbaik bagi negara ini, bukan saling menjatuhkan antara suku yang satu dengan suku yang lain, kita semua sama tak bisa dipisahkan dari NKRI
ba-kar said:
@ALL
batak sama karo itu satu ras nya dan satu kesatuan yaitu nkri.
jadi jangan lah saling berlawanan, yang sudah ya sudalah
biarkan semua menjadi kenangan.
seharus nya kita bersatu , dan law menurut ako orank karo ma orank batak bz kompak/akrab..
sumut gak ada yang berani gangu pasti aman , sejahtera dan semakin maju tentunya.
BLack Gia said:
Jamin gintings adalah pahlawan paling di hormati dan di hargai di seluruh penjuru NKRI ini, aku dah merantau ke seluruhpenjuru ibu pertiwi ini, dari suku mana pun ngak ada yang ngak mengenal dan tahu sejarah perjuang Jamin Gintings…!!!
darah jamin gintings mengalir dalam tubuhkU.. dia adalah jendral yang ngak kan takut melawan atasanya sendiri demi kebenaran..
Karena keberanian’ya lah dia di ungsikan………..!!!
NGerti Ngak Kau…!!
BLack Gia said:
Jamin gintings adalah pahlawan paling di hormati dan di hargai di seluruh penjuru NKRI ini, aku dah merantau ke seluruhpenjuru ibu pertiwi ini, dari suku mana pun ngak ada yang ngak mengenal dan tahu sejarah perjuang Jamin Gintings…!!!
darah jamin gintings mengalir dalam tubuhkU.. BELIAU adalah jendral yang ngak kan takut melawan atasanya sendiri demi KEBENARAN…!!
Ilmar Dalimunthe said:
Kisah hidupnya sangatlah bersahaya….
andreas bangun said:
@pohan
adi ngerana mejile ban nak
ula min kita pe sesama batak si panganen
teh akap mu enko si payona
adi jumpa ..ku inem nari mis dareh mu e
agus ginting said:
Letjend(purn).Drs. Djamin Gintings adalah PANGDAM I BB yang pertama. Pohan, anda bisa lihat sendiri patungnya yang gagah perkasa, jika anda jalan-jalan ke KODAM I Bukit Barisan. Jasa beliau sudah cukup banyak bagi bangsa ini, khususnya sumatera utara. Jadi, tolong anda hargai ya saudara pohan. Sukses buat kita semua. BRAVO !!!!!
aprianda ginting said:
perlu diingat dan diketahui oleh seluruh rakyat indonesia,ketika belanda melakukan agresi militer ke wilayah nkri ,sang proklamator yakni bung karno diasingkan ke brastagi oleh pihak belanda .siapa yg menjadi penyelamat bungkarno? jawabnya adalah ledjen .drs djamin ginting. kalau saudara mau tau persis datang langsung ke brastagi didesa lau gumba.disitu ada merek rumah pengasingan bung karno.jadi jendral nomor satu yg pernah ada di tanah air indonesia adalah ledjen djamin gintings
Drajs said:
Sepertinya tidak mungkin Djamin Ginting bertindak asal-asalan, dia memang dipilih oleh AH Nasution karena melihat situasi dimana bahkan Zulkifli Lubis yang bahkan satu puak dengan AH Nasution malah memilih berjuang dalam PRRI
Djamin Ginting sudah diberi jabatan panglima TT 1 bukit barisan sekitar tahun 1956, dua hari setelah Dewan Banteng didirikan… dari cerita itu kita dapat melihat bahwa Jamin Ginting seperti mendapat buah simalakama
Kita tahu bahwa Jamin Ginting dkk dalam Resimen Gabungan dengan gigih mempertahankan Kewedanaan Alas dari belanda sehingga tidak bisa menembus aceh, karena itu wilayah aceh tidak masuk dalam peta wilayah yang dikuasai oleh pasukan agresi belanda, hal ini terjadi karena pasukan Resimen Gabungan mulai terkoordinasi setelah sebelumnya masih terkotak-kotak saat berjuang di Tanah Karo
Dari sini terlihat dari runut kejadian, bahwa Jamin Ginting dengan gigih melawan belanda, tetapi berbalik dari itu dengan berat hari harus mengikuti operasi Saptamarga melawan kawan-kawan dari prajurit sumatera dan dewan gajah
seperti dikatakan diatas bahwa saat itu seluruh prajurit belum terintegrasi karena kebanyakan adalah prajurit yang terpisah secara divisi-divisi saat kemerdekaan dan kebanyakan terbentuk oleh didikan jepang yang penerimaan militernya tidak kuat saat TKR
Kakek saya sendiri diangkat menjadi bupati samosir kala PRRI berkuasa, M Simbolon datang sendiri ke oppung untuk meminta dukungan, terlihat jelas bahwa PRRI mempersiapkan semua dengan seksama bahkan memberi dana bagi daerah-daerah, membangun pusat di sumatera tengah, juga melakukan perdagangan ke luar negeri secara terpisah dari pusat
Tetapi ada satu yang fatal, yakni kekuatan militer, PRRI tidak memperhitungkan sama sekali dan jelas PRRI saat itu menentang PKI dalam waktu bersamaan M Simbolon menolak saran CIA untuk membom pangkalan minyak agar menjadi alasan AS untuk menjungkalkan kekuatan sayap-kiri di indonesia, terkocar-kacirlah PRRI karena tidak ada sekutu baik Soviet maupun AS
Ditambah saat itu operasi Saptamarga di SUMUT mengikutsertakan Brigjen Jatikusumo, jelaslah tindakan militer tanpa perundingan oleh pusat membawa juga kekuatan pusat, saya pikir tidak mungkin Jamin Ginting mau melakukan tindakan sembrono, dalam hal ini dia setia pada NKRI juga pada kawan-kawan di SUMUT, bila dia terlibat secara frontal maka akan jadi perang sipil Sumatera Utara, sudah tepat dia menyusun strategi di berastagi
Jamin Ginting adalah pahlawan bagi saya
Horas, Mejuah-juah
wongcilek said:
semua pahlawan karena mereka sudah berjuang untuk NKRI, beda prinsip boleh saja. Simbolon melawan pusat kan untuk kemajuan daerah yang sekarang kita tuntut lewat otonomi daerah. Djamin Ginting juga setia pada NKRI dan Sapta Marga, menyingkir ke Berastagi anggaplah itu strategi agar tak terjadi perang saudara.
karo jambi kena ukur said:
simbolon itu patut di kasihani, beliau mau menjadi pemberontak dan ingin menjadi presiden odang tapanuli, tanpa memperhitungkan kekuatan rpkad, pemberontak tetap pemberontak, dan jamin ginting lebih pintar dari pada simbolon, militer tidak selalu mengandalkan peralatan tempur tetapi taktik dan strategi. tapi wajar juga, orang tapanuli ingin jadi pemberontak karena makan kuat kuat semua jadi tenaga mereka sisa, terbukti mereka punya anak banyak banyak dan ingin menjadi presiden dunia. ha ha ha ha ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Ilmar Dalimunthe said:
Menurut pandangan saya…orang pun bisa berpendapat beraneka ragam adalah sesuatu yg wajar , dikarenakan tidak merasakan berada dalam suatu pertempuran yg terjepit musuh dari luar dan musuh dari dalam itu sendiri..kalau musuh dari luar kita akan cepat mengerti ..tetapi musuh dari dalam sulit kita untuk mengetahuinya…mungkin itulah yg mungkin terjadi sehingga menyingkir menurut sudut pandang diluar pelaku sejarah pada waktu itu..tetapi apakah mereka tau penyebabnya ..??..dari sudut pandang saya adalah Bapak Jendral Djamin Ginting .. bukannya Menyingkir !! Tetapi Menyusun Kekuatan dengan Bergerilya Menuju TITIK TERTENTU DENGAN KODE / sandi yg hanya dimengerti oleh Pasukan YG SETIA KEPADA Beliau terlihat seperti Menyingkir tetapi menuju satu titik temu yg hanya dimengerti oleh yg setia kepada Beliau , Dengan bertujuan mengetahui Musuh dari dalam yg tidak diketahui agar diketahui….Inilah sedikit pandangan saya tentang Bapak Jendral Djamind Ginting dalam kepiawai Beliau Sebagai Seorang Yg Ahli Dalam Taktik Perang Dalam Kondisi Apapun.. CEPAT DAN TANGGAP…..DALAM MELIHAT SITUASI KEADAAN YG AKAN TERJADI…INI HANYA PANDANGAN SAYA TENTANG BELIAU ….BILA ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN DAN KATA-KATA SAYA …SERTA LAINNYA,MOHON DIMAAFKAN DAN DIPERBAIKI SERTA DILURUSKAN…SEKIAN ..DAN TRIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA PARA PEMBACA … TULISAN SAYA INI.
Jacub Tarigan said:
Menurut pendapat saya, sebelum kita berbicara atau menyampaikan pendapat siapa itu Let.jend. Djamin Gintings, perlu kita membaca buku tulisan tangan beliau dgn judul: 1. Titi Bambu………saksi bisu tumpahnya darah pejuang. 2. Bukit Kadir……..
Kedua buku ini ditulis oleh tangan beliau, menceritakan bagaimana beliau memimpin pasukan untuk melawan pasukan Belanda yang serba lengkap dan modern untuk ukuran pada saat itu.
Kedua buku ini menuliskan perjuangan beliau mulai thn 1945 – 1949 yang kita kenal dengan ” Perang Kemerdekaan ” atau Perang mempertahankan kemerdekaan.
- Periode 1950 – 1965.
Pada periode ini beberapa kali terjadi pemberontakan di Tanah Air, al: DI – TII, Daud Bruweh di Aceh, Kertosuwiro di Jawa Barat. Khahar Muzakar di Sulawesi Selatan, PRRI – Permesta, Maludin Simbolon, Boyke Nenggolan dan Pembebasan Irian Barat dll….
- Untuk menjaga Keutuhan Negara Kesatuan, Ko TT I/ Bukit Barisan yang kemudian berubah nama menjadi Kodam II/ BB terus menerus terlibat menjaga keutuhan Negara Kesatuan.
Pada Thn 1951, Bataliyon- 114/ BB berangkat satu Bataliyon Penuh ke Sulawesi Selatan, Maluku, Sulawesi Uemua Oprasi Militer dinyatakan berhasiltara untuk melakukan Oprasi Militer memadamkan pemberontakan Khahar Muzakar dan bertugas selama lebihkurang 2 thn dan pada akhir thn 1952 pasukan ini kembali ke Sumatra Utara, namun pasukan ini tdk boleh kembali ke Medan tapi terus melanjutkan Oprasi Militer ke Aceh karena terjadi lagi gejolak di Aceh, demikianlah pasukan ini saling mendukung hingga pasukan ini dikatakan berhasil.
Pd thn 1956, terjadi pemberontakan lagi yang dikenal dengan pemberontakan Simbolon.
Pd thn 1958 terjadi lagi pemberontakan yang dikenal dengan nama pemberontakan Nainggolan. Pada saat itu jabatan Mayor Boiyke Nainggolan sebagai Dan Yon 131/ Melati, yang dikenal dengan pasukan elit saat itu. Keadaan sangat kacau saat itu karena tidak diketahui mana kawan dan mana lawan.
- Untuk menghindari korban penduduk sipil maka Panglima TT I/BB mengambil sikap untuk mundur ke Sibolangit dan mengkonsolidasi pasukan yang setia kepadanya dan menyususn strategi militer.
- Yang saya ingat saat itu semua tentara yang setia kepada Panglima memakai tanda pengenal warna kain yang berubah-ubah setiap hari dan kode2 lain yang dimengerti oleh pasukannya, kalau tdk menguasai kode langsung ditangkap atau ditembak.
- Kemudian Presiden Soekarno mengeluarkan maklumat Negara dalam keadaan bahaya ( S.O.B) dan diberlakukan jam malam, bagi orang yang keluar malam tanpa surat perintah langsung ditangkap, karena yang berkuasa mengendalikan keadaan adalah Panglima selaku Penguasa Perang.
- Jadi Djamin Gintings sebagai Panglima mengambil langkah-langkah pengamanan karena Pasukan dari pusat sudah tiba di Medan yang dikenal dengan Pasukan RPKAD dan Siliwangi.
- Setelah itu dilakukanlah oprasi militer untuk mengendalikan keadaan..
Jadi janganlah kita mencari-cari kesalahan Let,Jend. Djamin Gintings, karena beliau pantas sekali dikatakan seorang Pahlawan Nasional.
- Patung Let.jend. Djamin Gintings sangat pantas ada di Kodam I/ BB karena patung tsb dilakukan atas usulan teman2nya seperjuangan al. May. Jend. Abdul Muluk Lubis , DHD Angkatan 45, Golkar, Lembaga Negara yaitu DPRD tkt 1, DPRD Tkt II demikian juga Pemda se-sumut.
Sebagai ketua panitia Pembangunan Monumen Maha Putra Utama Let,Jed. Drs Djamin Gintings saat itu Kolonel Haji Mas Sukardi dan Panglima Kodam II saat itu Brig.jend. Sukoco.
Patung tsb didirikan setelah beliau wafatdi OTTAWA Kanada dan di kebumikan di MakamPahlawan Kalibata di Jakarta.
Terima kasih……….
jacubtarigan 25 Maret 2012.
dody bangun said:
lanai kidah ngerana kalak teba ndai (@pohan)?!
goblok..
bartholomeus sitepu said:
Dah. stop perdebatan argumen kalian ini. Ada yang menjatuhkan, ada pula yang membanggakan sosok yang diperdebatkan. Sekarang apa yang sudah kita perbuat untuk SUMUT. Lagian, malu kita sesama rumpun kok saling memojokkan. Mau gimana kita disegani oleh etnis lain, sedangkan kita saja seperti ini?
laskar ginting said:
we pohan anjing keturunan babi, mulutmu it bisa di jaga ap nggak?????emang.a ap kw buat untuk sumut in maka.a kw bisa bilang gitu anak setan…
dewi said:
bisa dilihat bahwa inilah kita orang karo ini bahwa kita tetap menghargai pahlawan kita dan “jangan ganggu saya kalau saya tidak menggagu anda” filosofi orang karo ini sangat mendarah daging loh…
@pohan…kamu pintar tapi sayang kamu tidak tepat dalam penggunaan katanya bikin malu aja
man kita krina kalak karo lo pedah i sambut alu kara-kata silang mehuli siniken saja jelma sebege rupa baiase nge kalak si pentang pengetahuan tiba erpengenen mis kel sombaong akapna iya sijagona jadi..bujur saja man kita kirina salam Mejuah-juah
ma 3nna said:
mejuah juah kita kerina pal..tarigan rmh b.tagi nari nake..
bukhori ginting said:
panganimulah jering e POHAN
gerson kaban said:
gajah mati meninggalkan gading,manusia mati meninggalkan nama..
dan itu terjadi dalam diri,Letjen.Jamin Ginting..
nama nya menjadi salah satu nama jalan terpanjang di indonesia bahkan di dunia..
patung nya gagah di halaman markas komando I/BB
JASMERAH (jangan sekali-kali melupakan sejarah)..
Erwin Niwattana Sitompul said:
Sudahlah nggak usah diperdebatkan lagi hal2 yang seperti, jangan berlaku bodoh untuk saling menjatuhkan dan menghakimi satu sama lain apalagi menyanjung2 kehebatan diri sendiri :) Tak ada gunanya dan Tak ada manfaatnya :) Saran dari saya mari kita bangun suasana SUMUT supaya bisa menjadi lebih maju dan kondusif :) Kalaupun ada perbedaan pendapat tidak harus menjadi sumber Perpecahan, silahkan baca juga buku Biografi KOLONEL VENTJE SUMUAL, salah seorang Tokoh PRRI/PERMESTA dari MANADO – SULUT, disana nanti anda akan mendapat banyak informasi2, fakta2 dan kritikan beliau, intinya adalah sebenarnya karena rasa kekecewaan dari DAERAH2 yang merasa tidak diperhatikan dan diperlakukan tidak adil oleh Pemerintah Pusat yang cenderung lebih mengutamakan Jawa, dan faktor paling penting adalah rasa kekecewaan mereka mengenai tindak tanduk dari PRESIDEN RI saat itu yaitu BUNG KARNO yang mereka rasakan sudah jauh berubah dari seorang yang DEMOKRATIS (Periode 1945 – 1955) sampai menjadi seorang DIKTATOR (Periode 1959), dua fakta inilah yang menyebabkan mengapa BAPAK2 kita yang HEBAT2 tersebut terpanggil hati nurani dan jiwa raganya untuk mencetuskan Pemerintahan PRRI/PERMESTA. Jangan lupa semboyan ini “JASMERAH” Jangan Sekali2 Melupakan Sejarah….MERDEKA ! :))
putra ginting said:
we pohan kontol….jangan banyak cakap kw…kita sekali duel kalo brani pepek….anak mana rupanya kw????
Sigura-gura Gelap Gulita. said:
Semua sama-sama tidak baik, tertinggal, miskin, dan terpinggirkan saat ini. Kalau dilihat sejak dulu hingga saat ini. Kota Medan salah satu kota semraut, bau, kotor, (saluran-saluran pada tergenang), nyamuk merajalela, macet dimana-mana, angkotnya tahun 70 an, banjir, pasar tradisinil becek tidak teratur, universitasnya tertinggal, semua urusan musti uang tunai (Sumut), dimana-mana terdapat makanan tidak halal, penduduk terbanyak suku jawa, tionghoa, petani dikerumuni tengkulak. Sedih…… sedih………sedih…… Gintings dan Simbolon meratap melihat itu………..
yoi said:
jadi setujukah saudara saudara sekalian jika putri jendral jamin gintings diusung menjadi calon gubernur pada pilgubsu 2013 ini.please you clic now respons
amour m'the said:
Loh, kok pada emosi … Jgn mau diadu domba Karo dgn Toba – Ginting dgn Simbolon itu sodara parna. Kalopun ada perbedaan antara Jamin G- Simbolon itulah krn mrk pemimpin yg beda pandangan. Apalagi Jamin pernah kenal lsg Bg Karno waktu di Brastagi sbg tahanan Bld. Susah mmg memilih siapa yg ‘lebih’ dr keduanya. Jamin G setia pd pemerintah – Simbolon setia pada rakyat. Kalaulah PRRi menang maka Simbolonlah yg ‘Pejuang’ dan Jamin yg ‘Penghianat’ – ternyata sebaliknya. Kita tahu org Toba lbh emosional dan keras dibanding dgn org Karo yg kalem lembut dan ‘nrimo’. Sampai saat ini org Toba suka protes dan demontrasi. Tp lihatlah org Karo – meskipun saat ini Bupati Karo merupakan Bupati paling konyol diseluruh Sumut dan satu2nya yg ‘terbelakang’ dari seluruh bupati yg pernah memimpin Tanah Karo …. Kita hanya diam … Krn tak peduli ato takut ato kagum ? …. Tp ngomong2 , si Pohan ini emang org Toba ato mana ya ? Biasanya Pohan itu di tapanuli pake Simanjuntak ? … Horras ..Mejuah juah kita
amour m'the said:
Sejarah mmg selalu melahirkan kontroversi krn cenderung subjektif. Dan kita bukanlah hakim utk menilainya. Jamin Gintings dan Maludin Simbolon adalah dua kesatria militer diawal kemerdekaan yg sgt menjunjung tinggi kesetiaan. ;JGs setia pada pemerintah sedangkan MS setia pd rakyat. MS adalah pemberontak dan JGs pejuang – seandai PRRI berhasil dalam perjuangannya maka predikat keduanya akan bertukar. … Enrio Gueteres adalah penghianat bgs Timor Leste … Begitu juga Multatuli adalah penghianat Belanda….Sebagai saudara seketurunan dari leluhur yg sama yakni Parna maka perbedaan diantara keduanya bukanlah masalah pribadi. JGs yg berjiwa laskar sejati dan pernah dekat dgn Bg Karno saat jd tahanan Belanda di Brastagi pasti sgt merasakan kharisma seorg BK. Sedangkan MS yg mantan guru dan berkarir di Jawa pd masa kolonial dan paham percaturan politik, melihat ‘sesuatu’ dalam kepemimpinan BK. Ada yg mengatakan PRRI/Permesta di Sumatera dan Sulawesi bukanlah gerakan makar tp justru gerakan yg menyadarkan BK bahwa Indonesia bukanlah Jawa Bali saja. Seandainya Supersemar yg asli ditemukan bisa saja Pak Harto adalah mendapat predikat yg lain. Atau tahukah kita spt apa pandangan P Harto thd Habibie setelah menjadi Presiden yg dimata para pahlawan Seroja ( Timor Timur ) “menghadiahkan” dgn gegabah kemerdekaan kpd Timor Leste ? JGs bukan seorg pengecut tp taktis dan penuh strategi. Menggambarkan typikal org Karo yg kalem, tegas dan taktis – MS adalah seorang yg keras, berani dan terus terang, gambaran dari typikal org Toba. Tentu saja karakter ini dupengaruhi kondisi geografis lingkungan hidup kedua sub etnis ini. ~ Toba yg sbg besar gersang, tandus berbukit berbeda dgn Karo yg subur hijau. Ke”kalem”an kita org Karo ini sampai skrg msh kita lakoni, sampai2 Bupati Karo yg konyol dan yg ‘terbelakang’ dr seluruh Bupati Karo yg pernah memimpin – kita diamkan dan pasrah saja. Kita kagum thd JGs tp ternyata putrinya (yg sdh sukses) tidak terpilih jd Bupati. Coba belajar dr org Jawa – kagum pd BK dan putrinya pernah jd presiden jg….bisa saja cucunya Puan mengikuti jejak. Atau masy Karo yg kepintaran sdh diperhitungkan ditingkat Nasional tdk memilih Petrus Sitepu yg pintar itu jd Bupati. ….. Loh kok jadi ngawur ya ? Jadi baik JGs maupun MS adalah dua tokoh pahlawan yg mestinya kita teladani dan hormati. – @ Pohan – kalo kam itu org Toba knp gak pake merga Simanjuntak saja. Lae. Apa mau menyudutkan org Angkola/Tapsel ya… Unang songoni ipar da ….
Parhansit-hansit said:
Pahlawan dan Pemberontak tidak jauh berbeda, hanya dibatasi oeh satu garis yang sangat tipis hanya sepersemilyar milli micron. Hal ini sangat politis, para penguasa menyebut pengikutnya setianya bla….bla….bla……; Sedangkan berbagai pihak yang berjuang menyampaikan pendapat konstruktifnya (baik dengan sopan maupun dengan keras) dianggap oleh penguasa sebagai bla….bla….bla……;
Pada saat itu yang terjadi adalah adanya peminggiran, pelupaan dan penyepelean daerah-daerah yakni:
- Daerah dianak tirikan dan dibuat sapih perah;
- Pulau Jawa dianak emaskan;
- Terganggunya dwitunggal kepemimpinan;
Untuk itulah ada pihak-pihak yang tergerak hatinya untuk mengingatkan Jakarta, supaya ada pemulihan kepemimpinan dwitunggal serta ada pemerataan pembangunan diseluruh wilayah NKRI.
Menurut hemat kami, kita tidak perlu berdebat kusir saat ini. Banyak perbedaan diantara kita namun jangan dibuat menjadi pemisah kita untuk menggapai kehidupan yang lebih baik lagi. Keadaan saat ini bahwa dunia, lingkungan, kehidupan kita adalah sangat jauh tertinggal dan terbelakang. Bila kita lihat Kota Medan sebagai Ibukota Provinsi begitu-begitu saja dari dulu hingga saat ini tidak ada kemajuaanya, tidak ada yang dibanggakan hanya sebagai kota konsumtif , tidak produktif, dan setuju apa yang disebut sdr. Sigura-gura Gelap Gulita diatas bahwa Kota Medan kotanya Bau, Banjir, Semraut/macet, Universitasnya tidak maju, Semua Urusan Musti Uang Tunai (Sumut), dll. Ibukota provinsi saja sudah demikian apalagi ibukota kabupaten/kota dan kecamatan serta pedesaan pasti jauh dibawah tertinggal dan terbelakang. Mari kita sebagai masyarakat agar kita meningkatkan kualitas hidup kita supaya maju. “Gintings dan Simbolon mengharapkan itu”.
Kemala said:
Dimana-mana orang karo itu memang berjiwa penghianat…….penjilat….baccul….!!
Sekin Ginting said:
Halo KEMALA !!!!!!. Hati-hati dengan pernyataanmu itu. Lidahmu adalah harimaumu. Silap ngomong lidahmu itu, nyawamu bisa melayang dalam hitungan detik. KAU CAMKAN ITU !!!.
dewa sembiring said:
si ageng agengen radu mbiring,,si gersingen radu megersing….
jadi adi menurut aku labo kuakap perlu kel bas forum einda kita ngerana kasar2,,,
cidahken lah kita seorang berpendidikan ngerana..jadi ngerana einda lit iya dasarna kita ngerana…..
ALBION GINTING SUKA said:
Jamin Ginting bukanlah pemberontak, Beliau merupakan seorang pahlawan yg patut dikenang diseluruh penjuru NKRI
Salam dari cucu Jamin Ginting
seluruh Ginting Rumah pengulun Desa SUKA
Muhammad Yusni Harahap said:
Letjen Jamin Ginting adalah tokoh militer yang demokrat, dia patut dijadikan teladan bagi kita warga sumut khususnya. Dia seorang ksatria. warga sumut hendaknya jangan mau di pecah belah oleh suku2 lain. KARO dan TOBA adalah saudara yang tak pernah bisa terpisahkan. dan hendaknya tokoh Letjen Jamin Ginting dapat menjadi PAHLAWAN NASIONAL nantinya. Insya Alloh… Mejuah-juah Horas
Erwin Niwattana said:
Setuju Warga Sumut jangan mau dipecah belah oleh Suku Pendatang untuk tujuan DEVIDE ET IMPERA ! Pecah Belah dan Jajahlah !:)))
sembiring said:
@pohan & kemala: hati2 kau bicara.. apa yang kau katakan, itulah cermin dari dirimu sendiri. PENJILAT…
Manurung Heinz said:
Kemelut pusat dan daerah memang terjadi di berbagai daerah pada masa itu. termasuk sumatera. ketidak adilan pemerintah pusat dan ketidak berdayaan bung karno yg mana Bung Karno sebagai kepala negara, tapi bukan kepala pemerintahan. kepala pemerintahan adalah Kabinet yg di kepalai PM. daerah khusunya sumatera menuntut pembubaran kabinet Juanda, agar Bung Karno memerintahkan Sultan Hamengkubwono IX dan Moh. Hatta membentuk kabinet baru. kalau tidak, maka mereka akan mengambil kebijakan sendiri. tapi Bung Karno menolak tuntutan tersebut. Beliau tdk mau dicap sbg diktator. maka daerah tdk mengakui lagi pemerintahan yg ada, dan membentuk pemerintahan baru. (perlu dicatat; pemerintahan baru, bukan negara baru. mereka tetap mengakui Bung Karno sbg kepala negara). karena pusat tdk merespon maka tokoh perjuangan di sumatera membentuk PEMERINTAHAN REVOLUSIONER REPUBLIK INDONESIA (PRRI). disulawesi dibentuk PEMERINTAHAN RAKYAT SEMESTA (PERMESTA), yg pd akhirnya bergabung dgn PRRI. oleh karena itu, Kol.Simbolon dan teman2nya yg ikut dlm PRRI dibebastugaskan. digantikan oleh Letkol Djamin Ginting. pemerintah pusat sebenarnya telah membuka pintu untuk konsolidasi dgn daerah, akan tetapi pd tgl 30 Nov 1957, ada usaha pembunuhan thd presiden Soekarno yg disebut dgn peristiwa Cikini. tuduhan dalang kejadian ini mengarah kpd Kol.Zulkifli Lubis Komandan Inteligent dan jg loyal thd dewan perjuangan di sumatera. maka diputuskan jalur kekerasan untuk menumpas PRRI. keputusan ini juga atas anjuran Kol.Nasution dan PM Juanda.
Dalam masalah ini, Letkol. Djamin Ginting seakan memakan buah simalakama. beliau sangat berhati2 dlm mengambil keputusan. saya pribadi mendukung sikap beliau, menyingkir dulu (mungkin begitu) lalu menyusun strategi yg lebih tepat. hal ini seharusnya tdk perlu lg diperdebatkan. Kol.Simbolon dan Letkol.Djamin Ginting sama2 memikirkan kemajuan daerah sumatera utara. mereka berdua bagaikan dua sisi mata uang yg tdk boleh dipisahkan. mereka berdua sama2 pahlawan. soal negara menilainya bagaimana, itu hal lain. tapi Rakyat menilai mereka adalah PAHLAWAN SEJATI. dan mereka sama2 membenci PKI yg pd waktu itu menjadi momok yg paling besar utk mengancurkan NKRI. Simbolon cinta thd Indonesia dan bahkan dekat dgn Soekarno. pd bln Januari 1950, Simbolon mendapingi Soekarno bersama Nasution, dan Sungkono berangkat ke India berkaitan dgn perayaan kemerdekaan india yg disambut langsung oleh Jawaharlal Nehru di Calcutta. perjalanan dilanjutkan ke Karachi, Rangoon dan kembali ke Jakarta. Djamin ginting jg dekat dgn Bung Karno, ketika Bung Karno di asingkan belanda ke berastagi..
Serasius keke said:
Jangan kau bilang orang karo penghianat (kemala dan pohan yg penghianat)kena sekin ko kari nak.bujur mejuah2 kt krina.
Rendy said:
Jangan bicara soal NKRI harga mati kalau kita masih bicara soal suku dan budaya!
Kalau memang kita bijaksana, coba kita lakukan yang terbaik untuk Indonesia.
Kita berbeda untuk saling melengkapi, kita berbeda supaya ada kata SEPAKAT.
Jangan ngaku orang Indonesia kalau masih buang sampah sembarangan, Jangan bilang kita orang Indonesia kalau takut untuk mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah!
Terakhir, jangan sekali-sekali ngaku orang Indonesia, kalau kamu tertawa ketika saudara sebangsa mu terjatuh tanpa tahu suku dan budaya!