Tags

dari pak hoeseinrushdy, sejarawan kita

…………………………………………………………..

 

Saya jadi ingat bulan Agustus tahun 1920 waktu untuk pertama kali diadakan kongres buruh di Semarang oleh organisasi sentral buruh (PPKB). Tentu saja PPKB punya hubungan dengan ISDV meskipun Sneevliet sudah hengkang kembali ke Belanda. Khabarnya awal Mei 1920 PKI sudah berdiri dengan cerita sendiri dan dengan segala romantikanya. Saat itu Darsono yang berperan aktif karena bosnya Semaun sedang pergi ke Moskow. Memang partner Semaun-Darsono ini sudah punya strori lama sama bos besarnya Haji Oemar Said.  Tapi jangan lupa lho, kongres buruh ini sangat mendukung pada gerakan yang dilakukan si jago mogok Surjopranoto (tokoh SI). Alhasil Hindia waktu itu cukup rame, demo dan mogok terjadi yang bikin pusing pemerintah kolonial. Memang Mas Suryo yang mengprovokasi para buruh perkebunan gula sejak bulan Maret tahun yang sama, berhasil membujuk para buruh tersebut mogok dengan alasan minta kenaikan gaji karena tidak cukup untuk beaya hidup. Rupanya kongres buruh Semarang ingin memanfaatkan demo dan mogok itu untuk memunculkan gerakan PKI lebih nyata. Faktanya memang terjadi penyebaran gerakan perlawanan buruh yang dimotori perhimpunan buruh perkebunan sampai ke luar Jawa seperti Deli Sumatera Timur. Sarekat Islam merencanakan kongres kelimanya pada awal 1920, tapi terpaksa ditunda sampai Oktober 1920. Walaupun demikian Oktober 1920 itu, ahirnya diadakan juga rapat. Dan karena H.Oemar Said dan Abdul Muis sedang berhalangan, pertemuan dipimpin oleh Agus Salim dan Surjopranoto. Dari pihak PKI, karena saat itu Alimin, Muso, Sosrokardono, Sanoesi, Najoan, Bratanata, Tirtodanuredjo dan Hadisoebroto sedang dipenjara (mungkin karena memimpin pemogokan), Semaun yang masih di Moskow mengutus Darsono hadir dalam rapat Sarekat Islam di Surabaya itu. Ndlalah, pimpinan rapat (Agus Salim) dan Surjopranoto menolak Darsono karena sejak tanggal 16 Oktober Sarekat Islam mengeluarkan kebijakan Disiplin Partai. Kalau sudah anggota PKI tidak diterima lagi jadi anggota Sareka Islam, habislah perkara. Disamping itu kuping para pimpinan Sarikat Islam memang sudah lama cukup panas, terutama dengan tulisan Darsono pada tanggal 6, 7 dan 9 Oktober 1920 di koran Sinar Hindia yang menyerang (mungkin maki-maki) kebijakan pimpinan Sarekat Islam. PKI tambah hari tambah kuat dan menjadi kekuatan sayap kiri utama sampai nanti ahirnya melakukan pemberontakan tahun 1928, yang habis ditumpas sampai keakar-akarnya

About these ads