Revolusi Memakan Anak Kandungnya Sendiri : Amir Syarifudin (2-END)

Tags

 

…….. [disambung dari seri 1]

 

amirs

 

Tahun 1932 saya berangkat dari Jakarta, dan memulai karier dokter di Medan Dli pada maskapai Kebon Tanjong Morawa.

 

 

Saya tidak bersedia masuk pegawai negêri, dan karena itu melepaskan kontrak saya de ngan Belanda. Berat juga hati saya ketika berpisah dengan Amir. Rasanya kami ba nyak persamaan dalam sifat, watak dan pe rasaan. Ia antarkan saya ke kapal yang akan berangkat. Kami saling merasa kehilangan sesuatu.

Baru tahun 1946 saya bertemu lagi dengan Amir Sjarifudin. Ketika sayâ balik dan Sumatera tahun 1939, buat mendapat titel arts di GHS, ia tidak di Jakarta. Kemudian saya berlayar sebagai Opsir Kesehatan Angkatan Laut Sekutu (tahun 1940-1941- 1942), terus menerus di medan perang, di Bombay, Singapura kemudian di Tanjung Priok sampai ditangkap tenterajepang akhir Maret 1942. Pada mulanya sekali-sekali kami masih ada hubungan surat menyurat. Tahun 1937 Arnir termasuk pimpinan Ge rindo (Gerakan Rakyat Indonesia) yang Se kalipun sosialistis dan nasional.istis tetapi menyokong Belanda, karena benci ter hadap fascisme Eropa. Dalam bulan Mei 1939, terjadi satu federasi dan partai-partai yang berdasarkan nasionalisme, bernama Gapi (Gaboengan Politick Indonesia), di mana Amir juga tercantum sebagai salah se orang pemimpin. Anehnya, dalam Kongres Rakyat Indonesia, tahun 1939 Gapi mene rima secara resmi 3 putusan, yang sebelumnya telah diikrarkan Angkatan 1928. 

 

Putusan itu ialah mengakui Bahasa Indonesia Se bagai satu-satunya bahasa, Sang Merah Putih sebagai Bendera Nasional, dan lagu Indonesia Raya sebagai lagu Kebangsaan. Benar-benar satu hal yang mengherankan. Sebab itu berarti, kaum tua sampai tahun 1939 belum mengakui Sumpah Pemuda dan hasil-hasil Kongres Pemuda kedua. Rasa nya, kalau tidak ada Amir Sjarifudin dan Mohamad Yamin, mungkin sekali penga kuan terhadap Sumpah Pemuda oleh par tai-partai politik waktu itu belum juga ter laksana. Saya tak mengatakan, bahwa pop ularitas Sumpah Pemuda dan hasil-hasil Kongres Pemuda kedua tidak ada. Malahan sebaliknya. Sampai organisasi-organisasi non-politis telah mengakui hasil-hasil ta hun 1928. Rupanya telah menjadi penyakit kaum tua untuk tidak lekas-lekas mengakui prestasi pemuda.

 

————-

 

Apalagi kalau pemuda itu juga telah dewasa dan mem”buldozer” kebenaran yang telah ada dalam masyarakat sendiri.

Tetapi pada tahun 1939 itu juga Amir Sjarifudin ditangkap oleh pemerintah Hin dia Belanda bersama beberapa pemimpin lain. Ada cerita yang tidak dapat dibuktikan sekarang, bahwa Amir Sjarifudin, di bela kang layar dibela oleh Prof. Schepper, seorang guru besar yang amat taat kepada agama Kristen. Rupanya pada tahun 1935, Amir Sjarifudin telah masuk agama Kris ten. Ada kabar waktu itu di koran-koran, yang tidak begitu dapat dicek, bahwa sebenarnya Amir Sjarifudin semula ber sedia mendirikan satu partai politik kristen. Tetapi karena perhitungan politik, tidak jadi meneruskan maksudnya itu. Malahan se perti diketahui ia turut mendirikan Gerindo pada bulan April 1937. Ketika Amir Sjarifudin berada dalam tahanan Belanda tahun 1939, ia sering didatangi oleh Prof. Schepper, yang rupanya dapat meyakinkan pemerintah Belanda, bahwa Amir Sjarifudin lebih baik dipakai dalam pemerintahan. Se telah itu, rupanya Amir diberi kesempatan memilih, apakah dibuang ke Digul atau ke kerjasama dengan Belanda di Departemen Ekonomi.

 

Rasanya, kalau saya boleh berspekulasi (ka rena sedikit mengenal Amir Sjarifudin) ía memilih taktik kerjasama. Bila ia dibuang ke Digul, kesudahannya ia terang akan terasing akan pergerakan bangsanya. Padahal perang Dunia II telah berkobar, dan Jepang sedang bersiap-siap buat turut serta. Kalau Amir waktu itu masih Amir yang saya kenal, maka fascisme dan diktatorial-nazisme terang bukan idealnya. Jadi mungkin ia memilih yang “kurang jelek.” Rasanya begitu jalan fikirannya.Itu sebabnya, Belanda menyerah kepada Je pang, Amir Sjarifudin bersedia menerima uang sebesar 25 ribu gulden sebagai modal buat mendirikan satu partai bawah-tanah untuk sabotase terhadap Jepang. Dalam hal mi rasanya ia terpaksa bekerjasama dengan PKI illegal yang didirikan Muso di tahun 1939. 

 

Harus diingat, bahwa Russia waktu itu ber pihak pada Sekutu yang memerangi

 

—-

Fascisme dan Nazisme. Mungkin waktu itu ia telah didekati oleh PKI illegal, sebagai sa lah satu pemimpin Gerindo, yang memang menganut, radikal- sosialisme. Mungkin Be landa telah mencium hal itu dan lekas-leka menangkap dia, tetapi mungkin juga Be landa tidak percaya, bahwa ía seorang komunis. Kalau tidak, ia tidak akan lepas dan tahanan Belanda, betapapun bësarnya pengaruh Professor Schepper.

Lagipun mungkin sekali Amir percaya ke pada janji-janji Van der Plas, bahwa setelah perang, Belanda akan memerdekakan Indo nesia menurut aturan Commonwealth ala Ing geris. Kesan mi saya dapati dan satu pem bicaraan dengannya dalam tahun 1946, ke tika saya singgah di Yogya. Ia waktu itu menjadi Menteri Pertahanan RI. Di zaman Jepang ia tertangkap dan sedianya akan di hukum mati, ‘ tetapi tertolong oleh usaha Bung Karno. Ia waktu itu bekerjasama dengan golongan Illegal PKI.

 

Saya bertemu dengannya setelah 14 tahun berpisah. Rasanya ia agak berubah. Lebih fanatik, lebih emosionil. Saya waktu itu da tang ke Yogya buat membicarakan soal sen jata bagi pasukan-pasukan kami di Jawa Ba rat, bagian daerah saya. Kami kekurangan peluru dan senapan otomatis. Ia nampak nya agak sedikit curiga. Lagipun saya waktu itu anggota pemimpin pusat Masjumi, ke tua pertahanan daerah Bogor, serta Ketua Dewan Nasional daerah Bogor. Saya tidak mendapat senjata yang saya minta, karena di Yogyapun tidak benlebihan senjatanya. Te tapi saya berkesempatan buat bicara kem bali secara terbuka dengan Amir, sekalipun kami berada dalam pangkuan partai yang berbeda. Ia menyatakan kekecewaannya, bahwa Belanda tidak menetapkan janji, yang katanya pernah dijanjikan oleh van der Plas. Ia sangat jengkel rupanya. Tetapi per sahabatan kami tidak terlalu rusak, apalagi setelah bercerita-cerita tentang zaman IC.

 

Kedua-kalinya saya bertemu lagi dengan. Amir, ketika ada rapat-rapat KNIP di Ma lang. Sekali mi saya bertindak sebagai ketua fraksi Masjumi, yang sangat menentang per setujuan Linggarjati. Terjadi pertentangan keras dalam soal penanda-tanganan, ka rena Masjumi, kemu-dian juga PNI, meng anggap pemerintah Sjahrir (termasuk Amir 

 

Sjarifudin) bersedia buat sementara menerima usul Belanda, supaya Republik Indonesia hanya terdiri defacto atas Sumatera dan Madura. Masjumi dan PNI tidak bersedia turut dalam pemungutan suara. Saya jadi jurubicara Masjumi, dan PNI diwakili Mr Ali Sastroamidjojo. Persetujuan Linggarjati diterima oleh KNIP serta disokong Sukarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta.

Seminggu setelah itu saya bertemu lagi dengan Amir Sjarifudin. Ia meminta saya bersedia memimpin delegasi Indonesia ke Asian Relations Conference di New Delhi, India. Saya merasa heran, mengapa kabinet Sjahrir merasa perlu menyerahkan pimpinan delegasi Indonesia ke konferensi internasional yang begitu penting, kepada pihak yang menentang beleid kabinet yang berkuasa. Kemudian Presiden Sukarno dan PM Sjahrir dalam pembicaraan dengan saya me minta lagi dengan sangat supaya saya terima pengangkatan sebagai ketua Delegasi Indonesia itu, Kemudian saya mengerti strategi mereka. Dunia luar tidak boleh berpendapat, bahwa dalam Republik Indo nesia ada konflik serius antara pemerintah dengan oposisi. Di sini jelas benar, peme rintah RI amat sangat berpendapat, bahwa

 

satu oposisi parlementer adalah satu hal yang normal dalam demokrasi, dan tidak perlu rnerusak hubungan antara kelompok di luar dan di dalam pemerintahan. Demo krasi murni tidak selalu dapat terjadi Se lama hidup Republik Indonesia. Tetapi ada kemungkinan suasana psikologis yang me nyebabkan mereka yang memerintah dan diperintah waktu itu dianggap sederajat mutu fikirannya dan tahu benar aturan aturan permainan politik dalam demokrasi. Kebetulan, banyak di antara mereka adalah Angkatan 1928. Memang harmoni kerja sama antara oposisi dan pemerintah baru menghilang, ketika telah masuk angkatan angkatan lain seperti generasi Serikat Islam, PKI, dan lain-lain. Ini yang menyebabkan revolusi Indonesia hampir ambruk oleh pe rang saudara, seperti pada pemberontakan Madium tahun 1948.

 

Sebelum saya berangkat ke Asian Relations Conference di New Delhi, ada beberapa kali rapat antara saya—sebagai Ketua Dele gasi—dengan Sjahrir dan Amir Sjarifudin. Tujuannya adalah supaya Indonesia dalam konferensi itu dapat memberi keterangan yang jelas tentang politik luar negerinya. Sa ya sendiri tidak puas dengan politik positive neutrality yang maksudnya waktu itu dalam

 

____

 

mencari kawan dan menjauhkan lawan, Indonesia tidak mau campur dengan soal soal negara-negara lain, dan akan selalu bersikap netral. Saya berpendapat, bahwa Indonesia akan menghadapi wakil negara negara yang sedang memperjuangkan ke merdekaannya, seperti India, Vietnam, Bur ma, dan negara-negara lain yang setengah jajahan di Asia. Mereka tentu mengharapkan satu sikap Indonesia yang positif, sekurang-kurangnya dalam soal-soal jajahan, penindasan ekonomi oleh kapitalis dunia, diskriminási ras oleh para penjajah dan lain-lain. Setelah beberapa hari berdebat, di mana turut juga Mr. Ali Sastroamidjojo dan beberapa pemimpin partai pemerintah, sampailah kami kepada konklusi, bahwa kita harus balik kepada mukadimah Undang Undang Dasar 1945. 

 

Pendeknya, kesudahannya kami sampai kepada keputusan, bahwa politik luar negeri Indonesia, adalah bebas dalam memilih politik terhadap soal soal dalam negeri, dan aktif bersikap dalam batas-batas kekuatan kita. Semua itu harus berdasarkan kepentingan rakyat Indonesia Ada yang menyatakan waktu itu, seharus nya berdasarkan kepentingan nasional. Tetapi itu ditolak, karena kediktatoran Hitler dan Mussolini pun dinyatakan berdasar kepentingan nasional. Demikianlah lahir politik luar negeri kita seperti dianut sekarang: “politik bebas dan aktif.”

 

Sungguhpun sejak 1947 sampai sekarang, sering politik itu dilaksanakan seperti menarik sehelai karet, kadang-kadang ditarik ke kiri, dan kemudian ditarik ke kanan, waktu itu belum jelas, ke mana karet itu di tarik. Maka berangkatlah delegasi Indo nesia yang saya pimpin itu, terdiri dan 37 anggota. Tetapi ketika saya pulang dan New Delhi akhir Maret 1947, keadaan politik di Indonesia telah keruh. Belanda nampak sangat agresif. Saya pulang dulu ke kota saya, Sukabumi. Sebelum saya dapat memberi laporan ke Yogya, Belanda telah memulai agressi pertamanya. Tanggal 20 Juli 1947, tentara Belanda menyerang Sukabumi, salah satu daerah yang diincer benar oleh Belanda, karena kaya dengan karet, kina, teh dan beras, Saya dengan jas putih berdarah karena sedang melakukan operasi terhadap seorang pasien di Rumah Sakit, ditangkap dan ditahan di sel penjara Suka bumi. Rekan saya, yang berbangsa Cina, di biarkan terus bekerja. Kesudahannya, saya dibawa ke Jakarta dan ditahan di penjara Glodok, kemudian di kamp tahanan Tanggerang.

Setelah ada cease-fire, tahun 1948, saya dan beberapa kawan dilepaskan ke daerah re publik via Salatiga. Di Magelang, Letkol Sarbini (sekarang Letjen) menampung kami dan diteruskan ke Yogya. Sukarno, Hatta, Sjahnir dan Amir, dengan agak terharu melihat saya yang kurus kering. Mereka rupanya mengira saya sudah mati.

 

Rupanya telah banyak yang terjadi selama saya dalam tahanan Belanda. Sjahrir sudah turun sebagai Perdana Menteri dan di gantikan oleh Amir Sjarifudin. Ini terjadi tanggal 3 Juli 1947. Kemudian terjadi perundingan dengan Belanda yang terkenal sebagai perundingan “Renville.” PM Amir Sjarifudin dan kabinetnya menyetujui dan menandatangani persetujuan Renville, yang kemüdian ternyata lebih lagi menjepitkan posisi RI (17-19 Januari 1948). Letika saya dan kawan-kawan sampai di Yogya pada awal 1948, Amir Sjarifudin telah meletak kan jabatan sebagai Perdana Menteri.

 

Presiden Sukarno membentuk satu kabinet presidentil, di bawah pimpinan Wakil Presiden Hatta. Memang Presiden Sukarno, selalu membentuk satu kabinet presidentil, di bawah pimpinan harian satu PM. Tetapi ia selalu hadir dalam sidang-sidang kabinet, dan sening memveto apa yang ia anggap satu hal prinsipiil yang harus dipertimbangkan lagi. Tetapi sehari-hari kabinet bertindak Se akan-akan sifatnya parlementer, sekalipun tidak bertanggungjawab pada parlemen, tetapi pada presiden.

 

Kabinet presidentil ini dan semula di tentang keras oleh sayap kiri. Menurut persetujuan Renville, tentara RI harus di pindahkan dan satu ganis yang dinamakan “van Mook line.” Karena itu kira-kira 35 ribu prajurit TNI, terutama Siliwangi dan Jawa Barat harus hijrah ke Jawa Tengah, yang masih masuk daerah Republik di Jawa. In terjadi 26 Februari 1948. Hijrah ini adalah soal pelik dan banyak juga barisan, terutama barisan rakyat tidak bersedia hi-

 

____

jrah. Mereka terus menjalankan perang gerilya di daerah yang terrnasuk daerah yang

dikuasai” tentera Belanda. Di antaranya beberapa pasukan Hizbullah di Jawa Barat.

 

Persetujuan Renville dipakai Belanda buat menjalankan politik cerai-berainya, terutama dengan menciptakan negara-negara boneka, seperti negara-negara Madura, Pasundan dan Jawa Timur. Di luar Jawa ada negara-negara Indonesia Timur, Sumatera Timur, Sumatera Selatan, Borneo Barat, anjar, Borneo Timur, dan Bangka. Negara-negara ciptaan Belanda ini memang tambah menyukarkan kedudukan Re publik. Tetapi sebagian besar dari Sumatera masih setia kepada Republik Indo nesia.

 

Munculnya politik Partai Komunis Indonesia

 

Sampai tahun 1947, PKI, dan kawan-kawan boleh dikatakan lebih sering bergerak se perti kaum nasionalis, tetapi karena politik berunding kabinet-kabinet RI sering meleset , timbul pendapat, bahwa mereka harus lebih banyak memakai cara-cara kaum komunis. Dalam hal ini Stalinis. Pendapat ini terutama berkembang setelah ada kesan keras, bahwa PBB di bawah pengaruh 

Amerika Serikat kuat sekali membela Belanda,

 

PKI sebenarnya hanya mempunyai kira-kira 3 ribu anggota, tetapi menurut mereka, itu jumlah kadernya saja. Tetapi mereka dan para simpatisannya percaya, bahwa per juangan jangka lama akan menguntungkan mereka. Sehingga mereka mulai memperkuat posisinya di dalam organisasi-organi sasi seperti Partai Sosialis, organisasi Buruh Pesindo. Juga mereka mulai lebih  melihat kepada pimpinan Moskow. Waktu itu Moskow yang dikuasai Stalin, ber pendapat bahwa kemerdekaan negeri-negeri yang dijajah tidak pernah diperoleh, sebelum Amerika Serikat dan sekutu tunduk kepada Sovyet Rusia. Lain daripada itu aliran komunis baru, yang ditekankan dan Moskow mengajarkan bahwa dunia ini ternagi dalam dua blok, yaitu blok kapitalis “agresif” dipimpin Amerika Serikat dan blok “demokratis” yang berada di bawah  pimpinan Sovyet Rusia. Maksud utama

 

waktu itu adalah menghancurkan Marshall- plan Amerika di Eropa.

Kebetulan dalam bulan Februari 1948 di adakan satu Konferensi Pemuda Asia Teng gara di Calcuta dan dihadiri oleh wakil wakil PKT di antaranya Soepeno. Di situ mereka diberitahu tentang taktik baru kaum komunis dunia dan juga detail pembagian dua blok kekuatan di dunia baru. Kembali di Indonesia, maka propaganda komunis di alirkan kepada sistem baru tadi. Dalam bu lan-bulan sesudah itu pemuda-pemuda yang dilatih dalam konferensi Pemuda Ko munis di Praha dan mereka yang meng hadiri konferensi Buruh Internasional (juga di Praha) datang kembali ke tanah air.

PKI mengikuti aliran baru yang ditunjuk oleh konferensi-konferensi komunis di atas. Banyak di antara pemimpin lama kehilang an pengikut waktu itu.

 

Di dalam Partai Sosialis sendiri lama ke lamaan timbul perpecahan antara mereka yang pro Sjahrir dan pro Amir Sjarifudin. Kepada Amir, Sjahrir menanyakan apakah ia lebih dulu nasionalis baru komunis atau sebaliknya. Sjahrir berpendapat, bahwa perang kelas tidak dapat diterapkan di Indo nesia, sebab Indonesia belum memiliki kelas borjuis. Borjuis di Indonesia sebelumnya hanyalah orang-orang Belanda dan Cina. Sjahrir juga tidak bersedia berpihak kepada salah satu negara besar, Amerika atau Sovyet. Kèmbali Sjahrir kepada posisi nya yang lama, yaitu positive neutrality. Buat Sjahrir itu masih Iebih aman dari “politik bebas dan aktif,” karena keadaan. Bagi Sjahrir waktu itu, yang penting Indonesia jangan terlibat dalam pertengkaran antara dua negara raksasa itu. Ia mengharap, dengan begitu Indonesia dapat berbuat lebih banyak buat perdamaian dunia. Tetapi nampäknya bagi saya, Sjahrir telah men campur-adukkan “politik bebas dan aktif” dengan politik positive neutrality. Telah mulai “soal karet,” yang akan ditarik-tarik.

 

Perpecahan antara kelompok Sjahrir dan Amir terjadi ketika terbentuk Kabinet Pre sidentil Hatta. Amir dan kelompoknya, yaitu PKI, Partai Buruh dan Pesindo, menentang kabinet Hatta, sedangkan kelompok Sjahnir. menyokong. Tanggal 13 Februari 1948 ter jadi perpecahan. Kelompok Amir mem

 

__

 

bentuk Partai Sosialis baru, sedangkan Sjahrir membentuk Partai Sosialis Indonesia. Partai Sosialis baru itu dipimpin oleh Amir Sjarifudin, Tan Ling Djie dan Abdul Mad jid, dan garisnya menentang kabinet Hatta, Tetapi dalam rapat di Surakarta, 26 Februari 1948, sayap kiri Amir diubah menjadi Front Demokrasi Rakyat atau FDR.

 

Amir Sjarifudin menjadi ketua federasi baru ini, tetapi programnya tak berbeda dan Sayap Kiri, ketika kelompok Sjahrir masih bersamanya. Tetapi lama-kelamaan aliran FDR bertambah radikal. Anggota-anggota nya yang terkemuka menghendaki penghentian segala perundingan dengan 

Be landa, dan menganggap persetujuan Renville sebagai satu kesalahan besar. Malahan mengusulkan, supaya segala harta Belanda di Indonesia dinasionalisir. Ini sebenarnya hampir sama dengan program kelompok Tan Malaka, yang dari semula menuntut apa yang mulai dipropagandakan oleh FDR itu. 

 

Posisi Amir Sjarifudin mulai sukar, sebab FDR mulai bergerak kepada aliran komunis yang lebih nyata. Tetapi sebaliknya ia me miliki kekuatan nyata. Ketika Amir masih menjadi menteri 

pertahanan, ia mengambil kesempatan itu buat membikin basis -basis kekuatan dalam angkatan bersenjata dan barisan buruh. Waktu itu ia menempatkan orang-orang nya pada posisi-posisi kunci dalam angkatan darat dan barisan buruh. Juga penyimpanan senjata-senjata cadangan hanya diketahui oleh orang-orangnya saja. Selain itu sebagai menteri pertahanan, ia sempat membentuk TNI-Masyarakat. Tetapi mereka yang terkena pengurangan jumlah dalam TNI itu, mulai melihat kepada FDR dan Amir Sjarifudin sebagai pimpinan. Tetapi rupanya inti dan simpatisan-simpatisan FDR dalam TNI tidak begitu terkena. Lagi pun ketika Kabinet Hatta memerintahkan barisan-barisan rakyat supaya membubarkan diri hal ini ditentang keras. Tidak boleh tidak dapat diperkirakan pada suatu waktu satu bentrokan antara barisan-banisan rakyat atau lasykar-lasykar dengan pasukan TNI yang masih patuh pada pemerintah dapat terjadi. Sementara itu FDR memulai tak tik lain, yaitu menganjurkan pemogokan

 

 

pemogokan. Ini ditentang keras oleh golongan komunis yang katanya berdasar kan nasionalisme di bawah pimpinan Tan Malaka. Mereka tergabung dalam Gerakan Revolusi Rakyat (GRR).

 

Sebenarnya program GRR tidak banyak bedanya dan FDR, tetapi mereka menyokong Hatta.

Tiba-tiba datang satu perubahan besar, yang membahayakan posisi ‘Amir Sjarifudin sebagai pemimpin top dan sayap kiri pro komunis. Rupanya Suripno, yang pernah menjadi sekretanis saya pada Asian Relations Conference di New Delhi, tidak langsung pulang, tetapi terus berangkat ke Eropa Timur, buat keperluan partai. Rupanya dia anggota PKI dan dicap Stalinis tulen. Di Praha ia dapat janji dan Duta Besar Sovyet, bahwa negaranya akan bersedia mengadakan satu consular treaty dengan RI. Tetapi ketika ia balik ke Indonesia Amir Sjarifudin sudah bukan PM lagi, sedangkan Hatta tidak bersedia menerima perjanjian apa-apa dengan Sovyet pada waktu itu. 

 

Dengan sendirinya pemerintah Hatta bertambah curiga terhadap FDR. Memang rupanya ada maksud FDR, buat mengadakan coup dengan senjata. Mereka telah memiliki satu program yang terperinci buat itu. Pemerintah Hatta lama tidak mengetahui maksud-maksud FDR mi. Tiba-tiba Soeripno kembali ke Indonesia lewat Bukittinggi. Ia datang bersama Muso, jago lama PKI. Tanggal 11 Agustus 1948, Soenipno dan Muso sampai di Yogya. Seperti diketahui, Muso selain termasuk anggota pimpinan PKI yang berontak tahun 1926, juga pendiri dan apa yang dinama kan “PKI satu organisasi bawah tanah yang dibentuknya di tahun 1935. Sukses Muso segera nampak, sebab dengan entusias dan aklamasi ia diangkat menjadi Sekjen PKI menggantikan Sarjono.

 

Rasanya mulai sejak itu Amir Sjanifudin me rasa posisinya terdesak sebagai pemimpin utama FDR. Bertambah lama bertambah jelas, bahwa FDR akan dikuasai kaum komunis. Maka datanglah pengakuan Amir Sjarifudin yang mengherankan kawan kawannya dan mengejutkan pemerintah. Amir berkata tanggat 29 Agustus 1948, bahwa ia sebenannya adalah seorang komunis, dan sejak tahun 1935, ketika berada di Surabaya, masuk “PKI Illegal” dari Muso.

 

Juga Setiadjit, Abdul Madjid dan Tan Ling Djie dari Sosialis mengakui, bahwa mereka memang telah lama menjadi komurlis. Setiadjit dan Abdul Madjid sejak tahun 1936 ketika mereka masih 

mempin PI di negeri Be landa, sedangkan Tan Ling Djie adalah mahasiswa institute lenin dan anggota pki illegal musso, jadi . Jadi kartu-kartupun mulai terbuka.

 

 

Telah diuraikan tadi, ada kabar dalam tahun 1936 (mungkin permulaan 1935), bahwa Amir Sjarifudin menjadi seorang Kristen. Ada juga kabar, bahwa dalam tahun itu ia bermaksud mendirikan partai politik Kristen, barangkali semacam Parkindo, tetapi tidak diteruskan karena iklim politik tidak menguntungkan. Kemudian ia masuk Gerindo, malahan menjadi salah sati pe mimpin yang penting di bawah Mr. Sartono sebagai ketua. Dalam pimpinan Gerindo itu ada juga Wikana, yang kemudian memang juga tercatat sebagai seorang komunis. Tetapi Gerindo waktu itu menjalankan satu politik kooperasi, yang memperbolehkan anggotanya masuk Volksraad. Jadi kalau pengakuan Amir itu serius, maka ia telah menjadi komunis dalam tahun 1937, ketika Genindo didirikan.

 

Ada dua kemungkinan. Satu hal, ialah Amir turut dengan kurang kesadaran tentang tindakannya. Kedua, ia memang dapat di yakinkan sebagai komunis, tetapi dalam hidupnya sehari-hari tidak ada kesan sedikitpun. Malahan cara hidupnya lebih mirip cara hidup borjuis, juga ketika ia saya jumpai di Yogya di tahun 1948. Atau mungkin ía termasuk seorang aktor besar, yang dapat menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

 

Tetapi ketika ia masih muda dn amat rapat bergaul dengan saya sampai tahun 1931 , ia lebih mirip seorang Bohernien, artis , kadang2 seperti gypsie. Sesorang yang penuh emosi , sentimentil, lekas marah, tetapi lekas baik, suka ketawa, tetapi bila sedang main bio;a menyinarkan sedih atau gembira. Saya tidak mengatakan bahwa seorang komunis tidak bisa mempunyai sifa2 seperti diperilhatkan

 

>>

 

Amir. Tetapi sukar melihat Amir sebagai seorang Stalinis, yang ia akui dengan ke yakinan itu.

 

Benar, seperti lazim pada seorang komunis, ía menjalankan self critic yang cukup hebat, tetapi inipun bagi saya belum merupakan bukti. Memang pada 9 September 1948, ía mengumumkan kritik diri yang berbunyi kira-kira sebagai berikut:

 

“Sebagai komunis saya akui kesalahan saya, dan saya berjanji tidak akan membikin kesalahan lagi. Saya menerima 25 ribu gulden dan Belanda sebelum pendudukan Jepang, buat menjalankan gerakan-gerakan bawah tanah. Tetapi saya terima uang itu karena Comintern (Communist-internationa!e). meng usulkan supaya kita bekerjasama dengan kekuatan kolonial dalam satu front melawan Fasisme.” Ia seterusnya menjelaskan lagi, bahwa setelah perang dunia kedua berakhir, tidak ada alasan lagi buat bekerja sama dengan kaum kolonialis. Kaum ko- munis sekarang tidak memerlukan lagi kerjasama dengan kaum kapitalis.

 

Keterangannya itu diucapkannya di Yogya karta dalam bulan September 1948. Saya waktu itu juga di Yogya. Anehnya, baru saja pada 8 September saya bertemu dengan Amir Sjarifudin. Ceritanya begini: Amir me nelpon saya pagi hari, apakah saya dapat datang ke rumahnya, sebab anaknya sakit. Ia minta saya makan siang di rumahnya, sebab Zainab, isterinya akan memasak rendang dan gulai kambing. Saya menyatakan, bahwa penjaganya anak-anak Pesindo mungkin, akan menghalang-halangi, dan bagaimana pendapat masyarakat nanti. Amir pentolan FDR, dan saya waktu itu boleh dikatakan jurubicara Masjumi dan anggota pimpinan pusat Masjumi. Tetapi ia me nyatakan bahwa kita toh masih sahabat. Karena ingin melihatnya dan juga ingin tahu apa sebenarnya yang berada di belakang permintaannya itu, saya datang pukul 11 p gi. Saya juga ingin melihat anak—anak dan tinya yang telah lama tidak saya ketemui. Sampai di rumahnya rupanya dia sedang kedatangan tamu lain , Musso, yang baru diangkah menjadi sekjen PKI. Terang rupanya maksud amir hendak mempermukan saya dengan Musso. Timbullah sedikit dialog antara Musso dengan saya tentang

 

>>

 

kemerdekaan Indonesia, dan corak pemerintahan yang baik. Timbul pertentangan ideologi, yang diadakan dalam suasana cukup ramah. Tetapi dan mula ternyata Musso adalah Stalinis keras, menurut faham saya.

 

Dialog kami yang tidak disertai Amir, berkisar dari Sosialisme ke Marxisme, ke Historis-Materialisme ke Manifesto Komunis, Leninisme, dan Stalinisme. Berhadapan dengan Musso, yang telah diindoktrinir ala Stalin itu berat juga. Terlalu panjang buat membicarakan dialog itu. 

Jelas Stalinisme seperti dikemukakan oleh Musso, amat berbeda dan teori Lenin. Sekalipun (menurut Musso) Stalin setia kepada ajaran Lenin, tetapi nampak perbedaan dalam cara 

berfikirnya. Musso rupanya dengan sabar mencoba menjelaskan pada saya, bahwa tidak benar Stalinisme itu seperti banyak orang menyangka adalah staats-capitalisme. Ia caci Trosky, dan kemudian Bukharin. Yang sebenarnya dikerjakan Stalin, katanya adalah membina sosialisme. Dan banyak lagi.

 

Tetapi kita tersangkut kepada pendapat saya, bahwa komunisme, apa namanya Trotskyisme atau Leninisme atau Stalinisme adalah bertentangan dengan pendirian saya sebagai seorang Islam yang berkeyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya katakan juga bahwa saya seorang sosialis, tetapi sosialis religius. Musso tertawa keras. Ia menyatakan pendapat saya itu telah kuno, sebab termasuk utopis-sosialisme.

 

Kesudahannya setelah datang waktu makan, ia mengatakan, bahwa antara saya dan dia sebenarnya tidak banyak perbedaan. Kita bersama-sama bersedia mengabdi kepada rakyat, sedangkari kaum borjuis dan kapitalis mengisap rakyat. Saya jawab, “Tetapi dasar dan pengabdian itu berbeda. Saya menganggap pengabdian itu harus berdasarkan satu moral, dan moral itu bagi saya adalah keyakinan kepada adanya Tuhan Yang Mahakuasa.”

 

Saya heran mendengar jawabannya, “Percayalah Bung Abu, di Rusia kami sedang mempersiapkan satu kapal terbang yang akan memeriksa langit hijau. Nanti kita lihat apakah Tuhan itu ada atau tidak.” Baru dalam tahun 1956 saya mengerti, bahwa yang dimaksud Musso mungkin Sputnik-Sovyet, yang menggemparkan dunia itu.

 

Setelah makan siang Musso berangkat. Saya bertanya pada Amir mengapa ia biarkan saya berdebat dengan Musso. Ia senyum, dan berkata, “Abu, kamu saya kenal benar, tetapi saya belum kenal Musso. Tetapi saya sekarang tahu kapasitasnya.” Rupanya saya dibikin kelinci percobaan Oleh Amir Sjarifudin.

 

Dalam pembicaraan satu jam sebelum saya pergi dan rumahnya, saya mendapat kesan, bahwa ia agak nervous, dan kadang-kadang ketika sedang bicara, tampak ia memikir mikir. Rupanya ia suka minum, wiski campur air. Juga Musso suka minum. Selama kami berbincang-bincang mereka berdua menghabiskan setengah botol wiski. Saya merasa curiga, tentang keadaan ketenangan jiwa Amir. Seakan-akan “equilibrium individu” mulai terganggu. Juga saya mendapat kesan, bahwa ia terus-menerus dalam ketegangan, tensi-tinggi, mungkin karena merasa senantiasa dalam tekanan. Tekanan itu kiranya adalah perasaan, bahwa dengan kedatangan Musso dan beralihnya aliran perjuangan kaum sosialis-radikal Indonesia yang menjurus kepada komunisme, terutama Stalinisme keras yang dibawa Musso dari Moskow dan pemimpin-pe mimpinmuda yang baru dapat latihan dan Praha, wibawa Amir akan berkurang. Esok harinya, 9 September 1948, Pimpinan Pusat Masjumi mendapat surat dan Sentral Komite PKI buat bekerjasama membentuk satu persatuan nasional. Tentu saja Ketua Masjumi Dr. Soekiman, bertanya kepada saya, apakah saya memberi janji-janji pada Musso dan Amir Sjarifudin. Saya berpendapat bahwa usul PKI itu hanya balon politik dan tidak perlu dianggap serius. Pimpinan Pu- sat Masjumi membalas, bahwa kerjasama politik antara PKI dan Masjumi tidak mung kin, karena berbeda aliran politik dari dâsar perjuangan buat memerdekakan tanah air. Rupanya PKI juga mengirim usul yang sama kepada PNI yang juga ditolak.

 

Sejak saat itu keadaan dalam negeri ber tambah tegang. PKI mempercepat gerakan nya di mana-mana. Pimpinan PKI memulai sening mengadakan rapat umum. Musso, Amir Sjarifudin, Wikana dan lain-lain pemimpin turut serta berpidato anti kabinet Hatta. Mereka jalan di daerah-daerah Jawa Tengah dari ujung ke ujung, ke Solo, Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu dan banyak tempat lain lagi. Sedianya turnee pimpinan itu akan berlangsung sampai akhir September. 

Tetapi, tiba-tiba pemimpin-pemimpin PKI muda tak sabar lagi. Barisan-barisan bersenjata pro-PKI dan Pesindo, dan pasukan Divisi 4 pro PKI, telah memulai pemberontakan bersenjata dan menduduki Madiun. 

 

Musso dan Amir Sjarifudin menghadapi satu fait-accompli dari mana tidak ada jalan balik lagi. Revolusi Komunis dimulai. Tetapi pemberontakan itu tidak terorganisir baik dan koordinasinya buruk, sekalipun ribuan anggota dan simpatisan komunis turut serta. Sebenarnya kericuhan besar-besaran telah terjadi di Solo, tetapi dapat dipadamkan oleh pasukan Siliwangi. Tanggal 4 September, batolyon-batalyon Siliwangi dapat menduduki kwartir-kwartir pasukan-pasukan pro PKI di Solo.

 

Tanggal 15 September 1948, Presiden Sukarno menyatakan daerah-daerah Solo dan lingkungan dibawah keadaan perang, dan ditunjuk Kol Gatot Subroto sebagai Gubernur Militer.

Militer. Pada hari itu Jenderal Soedirman mengirim 3 ribu orang dari Divisi Siliwangi ke Solo buat memperkuat kedudukan Republik dan sekaligus terus mengejar pasukan pro PKI. 

Kemudian terjadi satu pertempuran yang sebenarnya menentukan nasib pemberontakan PKI. 

 

Dalam pertermpuran ini terlibat kekuatan inti mereka yang terbaik. 

Tetapi Madiun berada dalam tangan pasukan-pasukan pro PKI. Maka berkecamuklah perang saudara di Jawa Tengah yang berkesudahan dengan hancurnya tenaga-tenaga militer PKI. 

Ribuan korban keganasan PKI di mana mana menjadi saksi. bahwa PKI mernang tidak mengenal ampun bila lawan-lawan nva tertangkap.

 

Musso dan Amir boleh dikatakan masuk perangkap gerakan revolusinva sendiri. Kuat kesan bahwa mereka belum siap melakukan pemberontakari bersenjata, tetapi terpaksa menyokong sikap pemimpin-pemimpin muda seperti Soemarsono dan Djokosujono.

 

 

 

____

 

Pasukan-pasukan pemerintah ternyata memiliki pimpinan yang lebih baik dari prajurit-prajurit yang Iebih berpengalaman. Lama-kelamaan nyata bagi Musso, bahwa rakyat banyak tidak berpihak kepada mereka, dan kekuatan mereka hanya ada di daerah-daerah Jawa Tengah saja. Maka berubahlah pidato-pidato mereka, yang mula-mula rnengumandangkan suatu “Republik Proletar Indonesia.” 

 

Pidato penghabisan yang diucapkan oleh Amir Sjarifudin tanggal 23 September berbunyi sebagai berikut:

 

“Perjuangan yang kami adakan waktu ini hanya buat memberi koreksi kepada revolusi-revolusi kita. Jadi dasarnya tidak berubah sama sekali. Revolusi ini tidak berubah dari corak nasionalisnya, yang sebenarnya adalah revolusi merah-putih, dan lagu kebangsaan kami tetap Indonesia Raya”.

 

Waktu saya dengar pidato Amir Sjarifudin, yang berkali-kali diradiokan, saya benar benar menaruh kasihan pada kawan saya itu. Saya merasa dalam pidatonya itu terdengar suatu frustrasi. Suatu kebingungan dan suatu keputus-asaan.

 

Mungkin, ya mungkin, di tengah-tengah kehancuran perjuangannya dan dalam malam sepi, ia ingat kembali cita-cita yang ia kandung ketika muda. Mungkin ia ingat kembali pada IC. Mana tahu. Pidato itu sama sekali bukan pidato seorang pemimpin komunis yang fanatik dan terdidik, sebab, komunis tulen sama fanatiknya dengan seorang beragama. Contoh-contoh cukup banyak kita lihat di kalangan Lenin, Mao, dan Marxis biasapun. Jadi, saya sejak itu tidak percaya, bahwa Amir Sjanifudin, yang selalu membawa Injil kecil dalam sakunya, adalah komunis. Mungkin ia seorang Radikal-Sosialis, atau Nasionalis-Revolusioner, atao Marxis tok. Terang mentalitasnya, cara hidupnya, jalan fikirannya, jalan perjuangan politiknya, tidak cocok de ngan predikat komunis dalam arti kiasik. Terang buat saya ia seorang pejuang yang kecewa dalam cita-citanya buat 

kemerdekaan tanah airnya. Rasanya ia mengharap terlalu banyak dari manusia-manusia di Se kelilingnya.

 

Di samping itu ada satu segi menyolok dalam wataknya, ambisinya besar, karena ia amat percaya kepada kapasitasnya. Memang ia seorang yang brilian, tetapi nampaknya ia tidak stabil, dan tidak sabar. Juga kelemahannya terletak pada emosi yang sering menjadi pedoman yang salah bagi 

si kap dan perbuatannya.

 

Sebagai manusia, ia kawan yang baik, suami yang setia, bapak yang penyayang. Semua sifat-sifat borjuis, yang biasanya tidak terlalu diperkirakan ada pada komunis klasik. Apa lagi mau dikatakan tentang Amir Sjarifudin? Mungkin ia seorang Don Quichot, yang ke sana-sini mencari musuh cita-citanya, dan mencari kekasihnya yang berada dalam cenkeraman naga kapitalis. Kapitalis seperti yang ia kenal dalam zaman jajahan, biar berkulit putih, kuning atau sawo matang. Saya tahu benar, ia amat benci pada pamongpraja yang ia anggap sebenarnya parasit rakyat, penjilat terhadap penjajah, yang menurut dia memiliki Skiavengeist atau jiwa budak. Sebab itu buku yang paling ia sukai adalah Max Havelaar karya Multatuli. Kesalahan Musso dan Amir Sjarifudin adalah mengira rakyat benci pada peme rintahan Sukarno-Hatta. Mereka kira oposisi yang sekali-kali diperlihatkan berarti konfrontasi. Memang dalam kamus komunis , oposisi sama dengan konfrontasi, malahan kontra-revolusioner. Jadi meng anggap PNI yang nasionalis dan Masjumi yang religius-sosialistis dapat dikonfrontir dengan Presiden Sukarno justru salah tafsir. Biar PNI dan Masjumi menentang persetujuan Linggarjati Sukarno-Hatta-Sjahrir, tetapi tiada niat buat berkonfrontasi sedikitpun. 

Inilah yang dinamakan “demo krasi” dalam praktek.

 

Amir Sjarifudin kesudahannya tenggelam bersama-sama pemberontakan komunis di Madiun. Tanggal 28 Oktober 1948, pasukan-pasukan tempur PKI hancur. Tiga hari kemudian, 31 Oktober, Musso tewas dalam pertempuran dengan pasukan Mobrig, yang dipimpin Jenderal Jasin. Sebelumnya, 29 Oktober, Djokosujono dan Maruto Darusman tertangkap, dan tanggal 31 Oktober itu, Amir Sjarifudin serta Soeripno ditangkap juga. Mereka dihukum mati. Re volusi memakan anaknya sendiri.

 

__________________________________________________________________________

 

Notes: Baca juga kesaksian Soemarsono ( http://www.worldcat.org/isbn/9799465036 ) dan tanggapan Bung Sjahrir terhadap kejadian Madiun di “Indonesian socialism” sebagai pelengkap.

Revolusi Memakan Anak Kandungnya Sendiri : Amir Syarifudin (1)

Tags

Tulisan berikut adalah salinan dari artikel yang ditulis di Majalah Prisma July 1977 oleh Abu Hanifah tentang Amir Syarifudin. Sebagai catatan, Abu Hanifah adalah teman sekolah Amir Syarifudin sejak jaman 20an. Dikemudian hari Abu menjadi spokeperson Masyumi sementara Amir menjadi salah satu founding father Indonesia (yang terlupakan). Tulisan ini bersambung.

>>>>>>>>>>>>

Rasanya tak perlu saya gambarkan terlalu banyak tentarig Angkatan 28. Diketahui Sekarang, bahwa dalam STOVIA telah timbul beberapa organisasi pemuda daerah, se perti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Am bon, Jong Minaliasa dan sebagainya. Semula organisasi itu bercorak kedaerahan, te tapi lama kelamaan kontak antara mereka, juga dengan cabang-cabang mereka di seluruh nusantara mulai nampak, dan tahun 1926 ada usaha untuk rnenggabungkanor ganisasi-organisasi pemuda daerah itu. Te tapi rupanya waktunya belum tiba; masih ada kecurigaan dan daerah-daerah terhadap kemungkinan dominasi mereka yang berasal dan Jawa, mengingat jumlah mereka mi memang besar.

 

Saatnya baru menjadi matang pada tahun 1928, terutama karena pimpinan pusat or ganisasi-organisasi pemuda itu umumnya berada di Jakarta dan dikuasai oleh maha siswa-mahasiswa yang tergabung dalam Per kumpulan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Untuk diketahui, waktu itu apa yang di sebut “pelajar” sama artinya dengan maha siswa sekarang. Mereka yang belajar di se kolah lanjutan seperti MULO, AMS, HBS, biasanya disebut “murid” dengan me nambahkan nama sekoiah di belakangnya. Begitulah pada Kongres Pemuda 11(1928) dilahirkan ikrar untuk bersatu. Lahirlah Sumpah Pemuda, Lagu Kebangsaan Indo nesia Raya dan pengakuan Merah Putih se bagai bendera Indonesia. Semua per kumpulan pemuda akan dibubarkan dan akan dilebur dalam suatu fusi. Organisasi Pemuda Indonesia yang semula menganggap dirinya sebagai wadah persatuan pe muda daerah, akhirnya mengalah juga dan ikut melebur dirinya dalam Indonesia Muda. Dengan demikian, mulai 1928 itu corak perjuangan pemuda berubah: dan corak kedaerahan menjadi corak kebangsaan. Sebenarnya yang dinamakan Angkatan 28 itu berasal dan tiga tempat:

 

Negeri Belanda (Perhimpunan Indonesia), Bandung (Studiclub)

dan Jakarta (Perkumpulan Pe lajar Pelajar Indonesia).

 

Tentu saja yang sa ya maksudkan adalah “inti” dan Angkatan 28. Dalam Perhimpunan Indonesia, kita kenal nama-nama Datuk Nazir Pamoentjak, Nazief, Hatta, Soekiman, Budi arto, Sartono, Soenario, Iskaq, Samsi, dan lain-lainnya. Yang berasal dan Bandung antara lain Sukarno dan Anwari. Sedang yang berasal dan Jakarta, yang jumlahnya lebih besar, adalah Mohamad Yamin, Amir Sja rifudin, Assaat, Wongsonegoro, Abbas, Su wirjo, Reksodiputro, Tamzil, dan banyak lagi.

 

Dalam hubungan mi saya akan membicara kan salah satu kelompok dalam Angkatan 28 itu, yakni kelompok Indonesis Clubgebouw (IC) di Kramat 106, yang sekarang disebut Ge- dung Sumpah Pemuda. Memang di sanalah Sumpah Pemuda itu pertama kalinya di ucapkan. Kelompok mi antara 1928 dan 1931 terdiri dan mahasiswa-mahasiswa senior berbagai Sekolah Tinggi dan STOVIA (tingkat 7 ke atas). Di gedung mi sering berkumpul juga mereka yang dan Bandung, seperti Bung Karno, atau mereka yang telah tamat belajar, seperti Sartono dan Soenario.

 

Kelompok Indonesis- Clubgebouw (IC) dalam Angkatan 1928

 

Kelompok IC, Angkatan ‘28, terdiri dan mereka yang tinggal di gedung Kramat 106, Me reka mi umumnya terdirl dan mahasiswa mahasiswa senior STO VIA dan pelbagai Se kolah Tinggi. Mereka termasuk yang be kerja keras dalam mensukseskan Kongres Pemuda ke dua, yang menghasilkan Sumpah Pemuda, lagu Kebangsaan Indonesia Raya, bendera; Sang Merah Putih dan pengakuan nasional antara para pemuda bangsa.

 

Ketika saya diam di gedung itu, antara táhun 1928 sampai dengan 1931, penghuni IC an taranya adalah Amir Sjarifudin, Mohamad Yamin, Assaat, Abas, Surjadi, Mangaraja Pintor, dan satu mahasiswa dan Sekolah Tinggi Kedokteran yang baru masuk. Se benarnya IC itu hidup karena para peng huni membayar sekaligus, sewa rumah, air, listrik dan lain-lain. Tetapi kesempatan itu dipakai, juga buat berkumpulnya maha siswa-mahasiswa lain, di mana mereka da pat rileks: membaca suratkabar, majalah, main billiard, main pingpong, dan catur atau bridge. Tempat rekreasi mereka di bagi an depan umumnya selalu ramai. Bagian be lakang dan pavilyun-pavilyun adalah tern- pat para penghuni tinggal, makan, beristi rahat, dan lain-lain.

 

Sayang gedung Kramat 106 sekarang, yang telah diberi nama Gedung Surnpah Pe muda itu, dipugar kurang cermat. Justru, di mana ada karnar-.kamar penghuni-peng huni plus satu karnar arca, dibongkar dan sekarang kosong. Sedangkan dapur, kamar mandi dan kamar pelayan, malahan di pugar. Jadi buat penghuni lama seperti saya, gedung itu sekarang kurang menarik. Bekas kamar saya, kamar Amir Sjarifudin, kamar Assaat, kamar Abbas, dan kamar Arca di rubuhkan samasekali.

 

Kalau dilihat dan nama-nama penghuni itu, pembaca akan dengan sendirinya mengerti iklim semangat yang ada antara mereka pada waktu-waktu itu. Karena masing-ma sing memiliki cukup perasaan kritis ter hadap apa-apa yang terjadi di Indonesia dan di dunia, serta terang mempunyai cukup banyak waktu dan kesempatan buat membicarakan, dan memperdebatkan soal-soal politik, kultur, masyarakat, kolonialisme Be landa, teori-teori politik yang pelik dan ha! hal sehani-hari. mi sering terjadi ketika habis makan malam pukul 8. Perdebatan itu kadang-kadang begitu sengit dan ber semangat, sehingga menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa yang sedang her santai di bagian depan. Biasanya mereka menarik kursi-kursi dan depan dan turut mendengarkan perdebatan. Seringkali per debatan tanpa program itu dihadini oleh pe mimpin-pemimpin pemuda lain, seperti Wongsonegoro, Jusupadi, atau Zainudin (Stovia), dan banyak lagi. Sekali-sekali Bung Karno mampir dan turut serta, kalau ia ke betulan berada di Jakarta. Saya kira mung kin banyak lagi mereka yang turut mem bikin sejarah Indonesia hadir dan aktif ber debat di IC. Saya ketahui, bahwa di luar ke lompok IC mi ada kelompok-kelompok lain. Banyak di antara mereka kemudian masuk partai politik, umumnya PNI. Ada juga yang masuk partai-partai lain. Yang penting adalah, perdebatan-perdebatan .itu ternyata benar-benar mengasah otak kami.

 

Ada satu ciri khas dalam berdebat, yang ke mudian ternyata menjadi kebiasaan, yaitu sengitnya perdebatan, sekalipun dijalankan secara ilmiyah. Sening karena tidak puas, esok haninya atau minggu itu juga kami mencari literatur ke Museum, buat mem perkuat pendapat. Pernah berbulan-bulan kami mernperdebatkan revolusi Perancis. Masing-masing mempunyai jagonya. Amir Sjarifudin mengagurni Robenspierre, Mohamad Yamin menjagoi Marat, Assaat pengikut Danton, dan saya lebih me ngagumi Mirabeau. Kebetulan semua jago jago revolusi Perancis itu memang ada counterpart-nya dalam revolusi Indonesia sendiri. Dan seperti revolusi Perancis, revo lusi Indonesia juga menelan anak-anaknya sendiri.

 

Kami kaji sampai detail arti revolusi, rnulai dan revolusi Perancis sampai revolusi Ame rika, terus ke revolusi Russia dan Cina. Juga genakan nasional Gandhi dan kawan kawannya di India. Saya rasa pada akhir 1929, hampir semua revolusi di dunia telah kami bahas. Kadang-kadang dengan amat sengit. Anehnya, tidak pernah ada sifat pribadi di dalamnya. Kalau telah capek, pukul I malam, kami kumpulkan uang buat can kopi plus sate atau sotong ke pasar Senen. Judul percakapan sudah berubah, lebih mendekati soal-soal yang biasanya dekat ke hati pemuda.

 

Kalau kebetulan waktu ujian, perdebatan ti dak ada, dan masing-masing terus masuk kamar. Di gedung hanya terdengar maha siswa-mahasiswa yang masih main billiard atau bridge. Kira-kira pukul 12 malam, mu lai kembali bunyi-bunyian. Amir Sjarifudin melepaskan capek dengan menggesek biola nya, biasanya ciptaan Schubert atau satu serenata yang sentimentil. mi tanda bagi saya buat membalas: Sayapun mengambil biola dan membunyikan lagu yang sarna.

 

Terdengar teriakan dan kamar Yamin, bahwa kami harus diam, sebab ia sedang sibuk bekerja. Ia sedang menterjemahkan karangan Rabindranath Tagore yang harus masuk ke Balai Pustaka bulan itu juga. Malahan Amir Sjarifudin bertambah asyik menggesek biolanya, sehingga Yamin ber teriak-teriak, dan kami bersama ketawa ter bahak-bahak. Kemudian IC sunyi lagi.

 

Di sini mungkin pembaca dapat menerka watak dan semangat penghuni-penghuni IC. Sebenarnya belum nampak benar aliran apa kemudian yang akan kami anut. Tetapi, te rang perasaan romantik ada pada kami Se mua. Kami kagumi pejuang kemerdekaan bangsa-bangsa lain. Sejarah mereka dan buku-buku mereka kami “telan.” Kadang kadang ada kalimat-kalimat yang merangsang.

Hampir semua kagum terhadap Marx dan Engels. “Manifesto Komunis” amat da pat perhatian, terutama karena tujuannya memperbaiki kaum melarat, atau proletar. Kadang kala, kalau ada yang menanyakan, apa ada uang buat beli gado-gado, jawab nya: “Mana bisa, uang saya kan telah habis bulan in Kan saya kaum proletar. Pergi saja kepada si A, ía kan kapitalis, sebab masih dapat beli rokok enak.”

 

Tetapi sebenarnya tiada satupun yang ter lalu terpengaruh oleh ajaran komunis, se kalipun kadang-kadang kami perdebatkan Manifesto Komunis dan pengaruhnya pada dunia buruh. Kebetulan waktu itu, PKI baru dilarang, tetapi rasanya anggota-anggotanya masih berkeliaran, dan mungkin

ada yang masuk partai lain. Yang sangat dicurigai polisi Belanda adalah bekas anggota Serikat Rakyat, yang merupakan organi sasi-massa PKI. Mereka curiga, bahwa banyak bekas anggota organisasi itu masuk PNI. Tentu saja kami menganggap perlu mempelajari Manifesto, yang begitu berpengaruh di dunia. Sekurang-kurangnya secara ilmiyah. Tetapi kami sendiri waktu itu berpendapat, bahwa kondisi dunia telah berbeda dan zaman Marx dan Engels. Te tapi kondisi ekonomi dan sosial di bagian terbesar dunia tidak banyak berubah, ter utama di tanah jajahan kapitalis Barat. Buat kami yang penting adalah jalan apa yang ha rus ditempuh, supaya sukses melawan kaum penjajah.

 

Tidak terlalu mengherankan, kenapa kami amat banyak memperdebatkan komunis me, karena baru saja ada pemberontakan komunis dalam tahun 1926. Efeknya masih nampak di mana-mana. Tetapi, terutama yang lebih diperhatikan adalah tulisan-tulis an Marx dan Engels. Ingatlah, bahwa kami hidup dalam dunia kolonial, di mana ma sih berlaku:

 

Poenale Sanctie, rodi, di mana rakyat Indonesia diperlakukan sebagai budak. Kekayaan Belanda melimpah-Iimpah. Boleh dikatakan eksploitasi petani dan buruh kita oleh Belanda dan kaki tangan me reka—termasuk penggede Indonesia sen diri—dengan parasit-parasit bangsa asing (Cina, dan lain-lain) amat menyedihkan kami. Hal itu menerbitkan amarah dan perasaan kepahitan. Jadi, teori yang menjanjikan perubahan dan perbudakan, harus kami selami dan analisa. Yang penting ada lah, apakah aliran itu baik buat rakyat Indo nesia yang ingin merdeka.

 

Maka dibalik-baliklah buku yang menerangkan Manifes Komunis dan Marx yang kemudian ditambah di sana-sini oleh Engels. Saya masih ingat benar perdebatan pendebatan waktu itu, yang sebenarnya hanya perdebatan teoritis dan ilmiyah. Ba nyak yang melihat komunisme seperti di lakukan Stalin dalam praktek sama sekali tidak menarik.

Makin dipelajari, makin nampak kontro versi dalam teori dan praktek. Mulai nam pak pula oleh kami, bahwa teori-teori Stalin tak sesuai dengan Marxisme asli. Jauh juga kami menganalisa Stalinisme, yang di anggap lain dan Marxis-Leninisme. Bagi kami, mempelajari satu ahiran tidak berarti pro-aliran itu. Rupanya sekarang agak lain di dalam masyarakat kita. Kadang-kadang kita hampir saja seperti burung unta. Asal tidak melihat musuh, cukuplah untuk menganggap musuh tidak ada.

 

Dalam perdebatan-perdebatan itu, mulai te rang bagi kami, bahwa Marxisme memiliki :daya tarik besar pada mereka yang merasa terjepit, merasa dihina, merasa tidak men dapat keadilan, dan terang buat orang mis kin. Satu persatu diperdebatkan bagian bagian Manifesto itu. Bagian historisnya, bagian ramalan, bagian moralnya, dan bagian revolusionernya.

 

Cukup menarik pada waktu itu ad’àlah satu bagian dan mukadimah Manifesto, yang menyatakan, bahwa “… Sejarah manusia adalah sejarah pertentangan kelas, per golakan antara yang memeras dan yang di peras, antara kelas yang memerintah dan di perintah . . .“ Menjadi perdebatan pula pen dapat Marx, bahwa tidak boleh tidak akan ada peperangan antara kaum burjuis, yang akan menghancurkan mereka sendiri, Ke ganasan kaum kapital terhadap kaum buruh, dan melaratnya rakyat banyak juga mendapat perhatian penuh. Marx dan Engels rnengatakan, bahwa pengetahuan mereka tentang hal itu adalah dari laporan inspeksi-inspeksi dan pabrik-pabrik sendiri.

 

Jadi eksploitasi rakyat dikemukakan benar. amat kami rasakan, sebab pada waktu itu kebetulan ada perdebatan di da lam Volksraad tentang nasib kuli-kuli kontrak di perkebunan Sumatera Timur (Deli, Serdang, dan lain-lain). Harus disadari Sekali lagi, bahwa kami waktu itu meng anggap kami ujung tombak perjuangan kemerdekaan Indonesia, apalagi setelah 28 Oktober 1928. Menjadi obsessi benar, bagaimana caranya Indonesia dapat merdeka, dengan jalan apa, dan bentuk apa hendaknya satu negara Indonesia.

 

Perdebatan-perdebatan itu kadang-kadang di hadiri oleh Sartono, Bung Karno, dan me reka yang telah tamat sekolah. Terang, banyak dari Manifesto itu yang tidak di setujui, misalnya: “meniadakan hak milik pribadi,” atau abolition of private poverty. Pendek kata, kami cukup memperdebatkan komunisme, dan sosialisme pada umum nya. Sosialisme juga rnendapat tempat penting dalam perdebatan dan fikiran kami. Sampai-sampai buku Adam Smith dicari di Museum. Hampir semua menolak apa yang disebut classical liberalism, yang menciptakan kapitalisme dan imperialisme modern.

 

Debat besar sekali terjadi, tentang apakah ada kebenaran dalam ide bahwa kebenaran itu hanya bisa didapat dengan kompetisi bebas antara semua doktrin. Memang ide ini dapat dikatakan menjadi populer di ne gara-negara Barat. Tetapi bagaimana dengan negara-negara lemah, apalagi negara negara jajahan seperti Hindia Belanda. Ini juga sudah dirasakan oleh rakyat jelata di Eropa; dapat dibaca dalam Das Kapital. Nyatalah bahwa kami benar-benar memerlukan banyak waktu buat mernpelajari soal-soal yang bersangkutan dengan satu negara Indonesia yang akan merdeka. Tetapi rasanya tidak sia-sia. Ketika revolusi 1945 mulai, rasanya saya sendiri telah siap,

sekurang-kurangnya secara teoritis, buat menghadapi soal-soal yang akan timbul da lam membentuk satu negara baru.

 

Sekali lagi saya tegaskan, bahwa sekalipun kami banyak mempersoalkan sosialisme dan komunisme, tidak berarti kami menjadi pengikut aliran-aliran mi pada waktu itu. Mungkin ada simpati, karena melihat ke adaan tanah air pada waktu itu. Kolonialisme Belanda dengan tirani dan tindakan sewenang-wenang, diskrirninasi yang menyolok serta gap antara Vreemde Oosteriing (bangsa Cina, India, dan lain-lain) dengan Inlander, yang secara menyolok dibina Belanda, kemiskinan rakyat (istimewa di Jawa), dan banyak lagi yang menyakitkan hati. Hal itu semua memang merangsang radikalisme di kalangan pemimpin-pemimpin pemuda dan pemimpin nasionalis.

 

Segala aktivitas terutama terjadi sampai akhir Desember 1929, pada waktu mana pemimpin Partai Nasional Indonesia di geledah, dan juga pemimpin-pemimpin organisasi Pemuda Indonesia. Tetapi satu hal harus saya kemukakan di sini, yang mung kin kurang diketahui. Pada tanggal 19 Oktober 1929, ketika sedang ada perdebatan agak meriah antara kami, Bung Karno masuk.

 

Ia sekitar 1 jam turut mendengar kan, kemudian berdiri dan dengan se mangat berbicara, lalu mengakhiri dengan:

 

“Sudahlah, tidak perlu lagi banyak teori. Man kita fikirkan, apa yang akan diperbuat. Bila kaum kapitalis perang lagi dan bunuh-membunuh satu sama lain, kita dapat menari di atas

bangkai-bangkai mereka, dan berontak secara fisik. Sekarang, soalnya bagaimana mempersiapkan rakyat buat waktu itu. Itu lebih baik kita fikirkan mulai sekarang.”

 

Kami semua tercengang, tetapi persis inilah pendapat Manifesto Komunis. Sebab Mani festo Komunis berkeyakinan, bahwa kapitalis dunia akan runtuh, dan sebagai sebabnya adalah bertambahnya gap antara overproduksi dan konsumsi kurang. Me mang, apa yang dikatakan Bung Karno membikin kami berfikir. Memang setelah itu kami banyak membicarakan cara-cara be revolusi dalam praktek di beberapa bagian dunia yang berbeda-beda keadaanya.

 

Tetapi mulai 1930, keadaan politik memburuk. Lagipun banyak antara kami telah disibukkan oleh pelajaran-pelajaran, sebab ujian penghabisan telah mulai mendekat. Saya sendiri mempersiapkan dalam  ujian semi-arts. Tiba-tiba tanggal 3 September 1930, Bung Karno tertangkap, diadili dan dijatuhi hukuman 3 tahun. Pidato pembelaannya, “Indonesia klaagt aan (Indonesia menggugat)” amat mengesankan.

 

Secara pendek tadi saya gambarkan cukilan-cukilan fikiran, sikap, dan pendapat kelompok Angkatan 1928 IC, yang tidak banyak berbeda dengan mereka di luar kelompok ini. Sekaligus dapat sedikit banyak dilihat lingkungan, di mana Amir Sjarifudin berada waktu itu. Kami semua fanatik, tetapi rasanya Amir yang paling menonjol emosinya dalam perdebatan-perdebatan dan dalam mempertahankan pendapatnya. Tetapi kami semua sebenarnya dilanda obsessi patriot dan tiada fikiran sedikit juga kepada nasib sendiri. Mungkin agak congkak bunyinya, tetapi, kami merasa kami Sebagai ujung tombak perjuangan kebangsa an. Kaum tua waktu itu belum sejauh itu fikirannya. Dan secara jujur, kami anggap mereka koperator dengan Belanda dalam Volksraad dan sedikit sebagai penyeleweng penyeleweng di parlemen Belanda.

 

Hidup pribadi kami, di luar lingkungan IC adalah sedikit berlainan. Semua, selain saya mempunyai famili atau kenalan-kenalan dan keluarga Indonesia. Umumnya mereka mengongkosi studinya sendiri. Kecuali Mohamad Yamin yang mendapat beasiswa dan beberapa lembaga, sedangkan saya mendapat beasiswa STOVIA. Waktu itu rasanya kami ada juga merasakan ke kosongan batin. Karena itulah, Yamin misalnya dekat sekali kepada Gerakan Theosofie, Amir mülai mendekat kepada Gereja Kristen, sekalipun ia seorang Muslim. Ada yang banyak bergaul ‘dengan pastur-pastur Katholik. Aneh, tidak pernah kami didekati oleh kaum ulama Islam. Saya sendiri, mulai 1926 masuk kursus filsafat, yang diberikan Sekali seminggu ‘di gedung Blavatsky.

 

Se benarnya yang memberi kursus campuran guru-guru dan golongan Theosofle, antara nya guru besar dan Sekolah Tehnik Tinggi Bandung. Mula mulanya rasanya Amin juga turut, tetapi ia kemudian terlibat dalam terjemahan-terjemahan Tagore, dan se jarah purbakala. Jadi pada tahun 1929, saya sendirilah yang dapat diploma, sebagai:

Scholar of Philosophy.

 

Semua ini karena mau mengisi kekosongan batin. Tetapi Yamin juga asyik membikin soneta dan sajak, Amir asyik main biola, saya sendiri menutup waktu-waktu kosong dengan olahraga dan musik (biola, gitar, tennis, silat dan sepak bola, plus dansa). Amir dan saya pada waktu malam sering naik andong berjam-jam dan bicara tentang segala hal yang dirasakan, mulai dan politik sampai ke gadis dan cinta. Amir Sjarifudin adalah seorang yang umumnya emosionil, dan ini ternyata juga dalam segala hal. Dalam bertukar fikiran, dalam cara ia bergembira atau kurang Se nang. Pada tahun 1929, saya selain pe mimpin majalah Pemuda Indonesia, juga ber tanggungjawab tentang isi majalah Indonesia Raya, majalah dan PPPI. Satu ketika di muat tulisan Amir tentang perlawanan kaum Vlaming di Belgia terhadap raja Belanda. Judulnya Defiere Vlaamsche Leeuw. Artikel di tulis di bawah nama samaran dan memang isinya galak. Saya dipanggil Polisi Intel Be landa (PID), ditegur, karena artikel itu merendahkan bangsa Belanda.

 

Setelah di periksa beberapa jam saya lolos juga. Memang kami tidak pernah memakai nama sendiri dalam satu artikel. Misalnya saya sering menulis, tetapi tak pernah di bawah nama saya sendiri. Kawan-kawan malahan menulis sajak-sajak cinta-kasih, tetapi di bawah nama samaran.

Berpotret pun kami jarang. Takut dikenali spion-spion PID.

 

Bahwa kami umumnya dapat dikatakan condong kepada sosialisme, itu rasanya terang. Dalam zaman revolusi 1945, Amir Sjarifudin dan Assaat adalah anggota Partai Sosialis. Abas anggota PNI yang terang coraknya sosialis. Saya sendiri waktu itu sayap kiri dan “Masjumi”, yang oleh George McTurner Kahin dicap sebagai religius-socialis. Yamin condong ke Partai Murba.

 [BERSAMBUNG]

High Interest Rate and its correlation to job creation and growth

Tags

 

dari ‘the myth of free trade’  (chang), keadaan ekonomi indonesia skrg mungkin mirip Afrika selatan.

——-

 

Upon taking power from the apartheid regime in 1994, the new ANC (African National Congress) government of South Africa declared tbat it would pursue an IMF-style -macroeconomic policy. Such a cautios approach was considered necessary if it was not to scare away investors given its leftwing, revolutionary history.

 

In order to maintain price stability, interest rates were kept high; at their peak in the late 1990s and the early 2000s, the real interest rates were 10—l2%. Thanks to such tight monetary policy, the country has been able to keep its inflation rate during this period at year.” But this was achieved at a huge cost to growth and jobs. 

 

Given that the average non-financial firm in South Africa has average profit of less than 6 %, real interest rates of 10—12% meant that few could borrow to invest. No wonder the investment rate (as a proportion of GDP) fell from the historical 20-25%  (it was once over 30% in the early 1980s) down to about 15%. Considering such low of investment, the South African economy has not done too badly. between 1994 and 2005, its per capita income grew at 1.8%. But that is only ‘considering ….’.

 

Unless South Africa is going to engage in a major programme of redistribution (which is neither politically feasible nor politically wise), the only way to reduce the huge gap in living standard between the racial groups in the country is to generate rapid growth and create more jobs, 

so that more people can join the economic mainstream and improve their living standards. Currently the country has an official unemployment rate of 26—8%, one of the highest in the world; a 1.8% annual growth rate is way to inadequate to bring about a serious reduction in unemployment and poverty, in the last few years the South African government has thankfully seen the folly of this i and has brought the interest rates down, but real interest rates, at 

around 8 %, are still too high for vigurous  investment.

 

In most countries, firms outside the financial sector make a 3-7% profits. Therefore, if real interest is above that level, it makes more sense for potential investors to put their money 

in the banks , or buy bonds, rather than invest it in a productive firm. 

 

Also taking into account all the trouble involved in managing productive enterprises — labour problems, problems with delivery of parts, trouble with payments by customers, etc. — the threshold rate may even be lower. Given that firms in developing countries have little capital accumulated internally, making borrowing more difficult means that firms cannot invest much.

 

This results in low investment, which , in turn, means low growth and scarce jobs. This is what has happened in Brazil, South Africa and numerous other developing countries lf they followed the Bad Samaritans’ advice and pursued a very low rate of inflation.

 

However, the reader would be surprised to learn that the rich Bad Samaritan countries, which are so keen to preach to developing countries the importance of high real interest rates as a key to monetary discipline, themselves have resorted to lax monetary policies when they have needed to generate income and jobs. At the height of their post-Second-World-War growth boom, real interest rates in the rich countries were all very low — or even negative. Between 1960 and ‘ 73 the latter half of the ‘Golden Age of Capitalism’ (1950—1973), when all of today’s rich nations achieved high investment and rapid growth, the average real interest rates were 2.6% in Germany, 1.8% in France, 1.5% in the USA,  1.4% in Sweden and – 1.0%

Switzerland.

 

Monetary policy that is too tight lowers investment. Lower investment slows down growth and Job creation. This may not be a huge problem for rich countries with already high standards of living, generous welfare state provision and low poverty, but it is a disaster for developing countries that desperately need more income and jobs and often are trying to deal with a high degree of income inequality without resorting to a large-scale redistribution programme that, anyway. may create more problems than it solves.

 

Given the costs of pursuing a restrictive monetary policy, giving independence to the central bank with the sole aim of controlling inflation is the last thing a developing country should do, because it will institutionally entrench monetaris macroeconomic policy that’s particularly unsuitable for developing countries.

 

This is all the more so when there is actually no clear evidence that greater central bank independence even lowers the rate of inflation in developing countries , let alone helps to achieveother desirable aims, , likeh higher growth and lower enemployment.

 

It is a myth that central bankersare non-partisan technocrats. It’s well known that they tend to listen very closely to the view of the financial sector and implement policies that help it, if necessary the cost of the manufacturing industries or wage-earners. 

 

So, giving them independence allows them to pursue policies that benefit their own natural constituencies without appearing to do so. The policy bias would be even worse if we explicitly tell them that they shoul not worry about any policy objettives  other than inflation.

 

 

Moreover, central bank independence raises an important issue for democratic accountability . The flip side the argument that central hankers can take good decisions only because their jobs do not depend on making the electorate happy is that they can pursue policies that hurt the majority of people with impunity — especially if they are told not to worry about any thing other than the rate of inflation. 

 

Central bankers need to be supervised by elected polticians, so that they can be, even if at one remove, responsive to the popular will. This is exactly why the charter of the US Federal Reserve Board defines its first responsibility as ‘conducting the nation’s monetary policy by influencing the monetary and credit conditions in the economy in pursuit of maximum employment, stable prices, and moderate long-term interest rates and why the Fed chairman subject to regular grilling by Congress. Ironic, then, that the US government acts internationally as a Bad Samaritan and encourages developing countries to create an independent central banks solely focus on inflation.

Rosihan Anwar tentang Pemberontakan Blitar

Tags

 
SUARA PEMBARUAN DAILY

Supriyadi dan Pemberontakan Blitar

Rosihan Anwar

Belum lma berselang muncul di media tulisan tentang kembalinya Supriyadi, yang hilang tak tentu rimbanya setelah pemberontakan tentara PETA (Pembela Tanah Air) terhadap Jepang di Blitar pada Februari 1945.

Di sini, saya tidak akan terjun ke gelanggang polemik sejarawan, apakah orang yang mengaku diri Supriyadi itu “benar” atau “palsu”. Tatkala terjadi pemberontakan Blitar, saya wartawan harian Asia Raja dan lantaran sensor Jepang pengetahuan saya sedikit sekali mengenai peristiwa tersebut.

Untung saya gemar membaca sejarah dan menemukan dalam buku Javahet laatste front (2000), karangan W. Rinzema-Admiraal, sebuah cerita mengenai pemberontakan Blitar. Penulisnya melakukan penelitian terhadap arsip rahasia Kerajaan Belanda yang telah bebas untuk disiarkan, seperti: laporan dinas intel Nefis dan keterangan Jenderal Yamamoto yang bertugas di Jawa.

Berikut dipaparkan pemberontakan Blitar. Terlebih dulu keadaan umum di Jawa awal 1945. Waktu itu rakyat sengsara dan lapar. Beras dicatu. Di Pekalongan, beras dibatasi hanya 76 gram per orang per hari. Bandingkan dengan orang Jepang yang mendapat 640 gram beras per hari. Tekstil lenyap. Rakyat pakai baju karung goni atau karet. Para lurah diwajibkan memasok laki-laki dari desanya untuk dipaksa bekerja sebagai kuli atau romusa. Jepang mengirim mereka ke tambang batu bara dan terowongan Neyamah yang tidak jauh dari Blitar. Upah romusa, Rp 5 sehari, sama dengan harga satu porsi nasi tanpa sayur dan lauk. Kesengsaraan mengakibatkan sekitar 100 romusa meninggal dunia setiap hari.

Pada zaman kolonial Belanda, Blitar dikenal sebagai tempat aktivitas orang-orang kiri yang mendukung pemberontakan PKI tahun 1926. Gembong-gembongnya dibuang ke Boven Digul. Di zaman Jepang masih ada kader kiri yang bergerak di bawah tanah. Sikap anti-Jepang di kalangan rakyat berkembang luas.

Suasana Waspada

Sehari sebelum pemberontakan Blitar, 14 Februari 1945, di sebuah restoran yang menjual gado-gado duduk tiga tamu. Di luar hujan turun tiada hentinya. Salah seorang dari mereka berpakaian seragam PETA. Tamu kedua adalah daidanchoyaitu komandan PETA yang beranggota 500 orang dan biasa mengunjungi restoran itu. Semua tampak tenang serta aman. Tapi, di bawah permukaan ada suasana waspada. Rakyat marah, karena dekat terowongan Neyamah ribuan romusa menderita, sehingga jalan keluar ialah memberontak terhadap Jepang.

Supriyadi Shodancho (Letnan II) di daidan Blitar mengetahui sentimen rakyat. Tapi, dia berpendapat, pemberontakan harus terjadi serentak di Jakarta, Bandung, dan Semarang, dengan masa persiapan setengah tahun. Supriyadi dikagumi sebagai idola dan ditaati oleh kaum pemuda Blitar, karena dia mudah bergaul dengan orang-orang yang setara dan dengan pemuda-pemuda desa.

Tiba-tiba, ketiga tamu di restoran melihat dengan mata kepala sendiri, Jepang melemparkan jenazah romusa dari sebuah truk, lalu ditumpukkan di tepi jalan. Pemandangan kejam itu menimbulkan shock di kalbu ketiga anggota PETA. Kemarahan mereka mendidih cepat. Mulanya mereka mau meminta nasihat dulu dari luar dan dari pemimpin mereka di Blitar, dr Ismangil. Pada saat itu, kontak-kontak dengan Surabaya dan Semarang telah terputus.

PETA tahu tentang tindakan Jepang memperkukuh garis pertahanannya yang ketiga untuk menangkal kemungkinan kelak serangan tentara sekutu dengan mendirikan depot dan secara rahasia mengirimkan barang-barang dan perlengkapan ke Boyolali.

Di kalangan pemimpin- pemimpin PETA yang beroposisi terhadap Jepang, timbul pertanyaan, apakah gerangan tujuan akhir dari transpor-transpor Jepang ke daerah pantai? Mereka menyadari bahwa didahului dengan komunikasi antara sesama adalah sangat diperlukan aksi perlawanan.

Dalam situasi demikian, Supriyadi dan teman-temannya yang diinspirasikan oleh sentimen kuat marxistis dan antikolonial, tidaklah bisa bersikap menahan diri terus-menerus. Mereka sadar bahwa Jepang di Pulau Jawa berada di bawah tekanan keras akibat jatuhnya Luzon, Filipina, ke tangan tentara Sekutu. Maka, mereka mau memanfaatkan situasi itu.

Pada 25 Februari 1945 sore jalan-jalan raya di Kota Blitar tiba-tiba penuh dengan militer. Tiada seorang pun tahu, apakah ini suatu patroli ekstra atau tidak. Tahu-tahu terdengar bunyi rentetan senapan mesin dari arah asrama PETA.

Suasana mencekam. Di mana-mana orang siaga. Ternyata seorang Jepang dibunuh di Hotel Sakura. Tapi, para anggota PETA tetap meneriakkan “merdeka, merdeka” dan bertanya “Saudara mau ikut jalan mana, Jepang atau PETA?”

Pemberontakan Blitar merupakan sebuah tanda peringatan. Jepang pun melakukan penyelidikan. Restoran gado-gado diawasi. Secara incognito empat orang mengunjungi Blitar, di antara mereka adalah Mr Mohamad Yamin. Tidak jelas siapa yang mengirimkan mereka, Jawa Hokokai atau Gunseikanbu?

Anggota-anggota PETA dengan Supriyadi, karyawan di restoran dan ayah Supriyadi, ditahan dan disiksa oleh kempetai. Begitu antara lain yang dipaparkan dalam buku Java, het laatste front.

 

Penulis adalah wartawan senior

BUNG HATTA (1957): MINYAK DAN AIR TIDAK BISA BERCAMPUR

Tags

Hatta 


Oil and Water Do Not Mix (1957)

 

This excerpt comes from “Assessing Bung Karrno’s Conception,” an

article comnunting on the President’s Conception speech of February 21, I957 (fig), 

which was published as a supplement to the Djakarta

Daily Indonesia Baja, of March 5, 1957.

         

         

When we come to examine Bung Karno’s conception of a Gotong

 

Rojong Cabinet, we are faced with an idea which is intrinsically good

and idealistic but in practice cannot be put into effect. It could only

be put into effect if all parties represented in parliament shared a

common goal and if their political differences concerned only how this

goal was to be attained.

 

But it is this common goal which is lacking. Especially as between

the PKI on the one hand and the religious parties and some nationalist

groups on the other, there is a difference of ideology and goals which

is very fundamental, so that it is difficult to bring these two together in

a Gotong Ro/ong Cabinet. We can leave for the moment the question

of how portfolios would be divided between these mutually suspicious

groups.

 

Some will concede that there are indeed differences of principle be-

tween the PKI and the religious and nationalist parties as regards their

ideology and view of life but go on to ask whether there are also such

differences as regards goals. Yes, as regards goals, too, there are dif-

ferences of principle! The aim of the religious and nationalist parties

is the building-up of one national state, an Indonesian nation which

will be just and prosperous. The PKI is basically part of an interna-

tional movement which aims at world revolution. Its means of realiz-

ing this is by setting up proletarian dictatorships everywhere.

 

From time to time the Communists are allowed to adapt their tac-

tics to accord with a particular situation, but fundamentally their

struggle may not deviate from the principles laid down by Lenin

which are known as democratic centralism. This means absolute obedi-

ence to the leader, and no right to disagree, in the interests of the

whole. And this leader is, for Communists all over the world, Moscow.

 

For a Communist, the Soviet Union is the capital with which all his

ideals can be realized, for the Communist struggle stands or falls by

the success of the Soviet Union.

 

Because Soviet Russia is the pioneer of the realization of his ideals,

the Communist puts the interests of its international political struggle

first. In order to strengthen the position of the Soviet Union, he will,

if necessary, sacrifice all other interests, including those of his own

country’s freedom. This has been shown by the history of the last

thirty years. As they see it, once Russia has achieved victory in its

struggle against imperialism, the freedom of other countries will come

of its own accord.

 

Absolute obedience to the leadership of Moscow is a fundamental

law of life for a Communist. It is the foundation of the Communist

movement’s strength. A person cannot be a real Communist unless

he understands and can adapt himself to this iron discipline. So an

Indonesian government in which Communists are participants can-

not carry out an independent foreign policy. Whatever his personal

feelings may be, a Communist will be betraying his ideals if he does

not put the interests of the Soviet Union first, even where these con-

flict with the interest of his own country.

 

Because of this, Bung Karno’s efforts to bring the PKI and the re-

ligious and nationalist parties together in a cabinet must fail. It is

like trying to mix oil and water. There are, indeed, some among us,

opportunists, who hope that the PKI can be made into a Titoist com-

munist movement and argue that this could be done by bringing it

into the cabinet to participate in carrying out national policies, in-

cluding our independent and active foreign policy.

 

That possibility is not reasonable! The PKI will continue to take

Moscow as its guide, will continue to hold fast to the fundamentals

of Leninism and Stalinism. Quite apart from considerations of icleol-

ogy, there is no advantage for the PKI in becoming a Titoist com-

munist organization, a body standing by itself and competing with

other parties, without any ties to international communism. This

would only weaken it. The possibility does not exist, especially in view

of Moscow’s present position of returning to the centralist principles

of Stalin.

 

Bung Karno is afraid that a movement such as the PKI, which ob-

tained six million votes in the recent elections, cannot just be left to

be in the opposition. Quite apart from the question of what value

one places on those six million votes, what are we to do if the groups

which obtained more than three times as many votes as the PKI are

unwilling to accept the PKI? To force them to accept it would sharpen

the conflict and take us further away from our ideals of national peace

and national unity.

 

But what is wrong with the PKI’s sitting in parliament as an op-

position party? A good democratic government consists of government

and opposition. The government acts and the opposition acts as a

check on it. If the PKI acts as a good and firm opposition in parlia-

ment and does not merely obstruct and make trouble, it can influence

the course of government and turn it in a favorable direction. It can

prevent corruption in the government parties and so help to raise

the present low level of political morality. In this way the gover

ment parties will be forced to give proper attention to the

improvement of the lot of the common people.

 

Only a good and responsible opposition, one with a sense of res

sponsibility for the welfare of the government and the people can

contribute to the healthy development of democracy, which is

parently struggling to survive.

Suppressing the Aron Rebellion in East Sumatra

Tags

>> sedikit cerita perjuangan Aron di tanah karo pada masa pendudukan
Jepang Agustus 1942.
>>>

The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs of 1942-1945
Book by Anthony Reid, Oki Akira, Jennifer Brewster, Jean Carruthers;
Center for International Studies, Ohio University
————————————————————-

about INOUE TETSURO
Suppressing the Aron Rebellion in East Sumatra

In the eyes of the Allies who reoccupied Sumatra In 1945, and of most
Indonesians in the area, Captain Inoue was the epitome of the
mysteriously powerful Japanese committed to mobilizing a dangerous
Indonesian terrorist force for obscure but sinister purposes. He is
the only representative in this book of those who chose to join their
former proteges among the Indonesian nationalists after the Japanese
surrender, rather than face arrest and possible execution by the Allies.

Inoue was born in Fukuoka, northern Kyushu, probably around 1910-12.
He studied at the Agricultural Faculty of Hokkaido Imperial
University, a school famous for inculcating a pioneering, ambitious
spirit. After graduation he went to Brazil, where he founded and led
for two years an agricultural training school for (Japanese migrant?)
farmers, in San Paulo. He returned to Japan in 1934 by way of a
lengthy tour in the ‘Southern Regions’, and established his own farm.
In 1937 he was conscripted into the army and sent to China on
Intelligence duties. With the outbreak of the Pacific War he appealed
directly to General Yamashita in Singapore to be allowed to go to
Indonesia to develop training Institutions for farmers.

Inoue arrived in Medan at about the same time as the Chokan, General
Nakashima, in August 1942, and immediately gained his confidence –
perhaps because he combined an unusually good education with a
dynamic, confident manner. For a time Inoue acted as Nakashima’s
secretary, in addition to being simultaneously police chief and
administrator of the key Deli-Serdang district. When he withdrew from
these functions in May 1943 to concentrate on his original idea of
developing an agricultural training school (Talapeta), he by no means
withdrew from the limelight. Readers of the Japanesecontrolled press
could have been in no doubt that his project was seen by its founder
and by Nakashima as the front line in implanting Japanese patriotic
ideals among the widest possible group of Indonesians.

==========================================

NOUE TETSURO
BAPA JANGO: BAPA DJANGGUT

( Tokyo, Kōdan-sha, 1953), pp. 50-80
Chapter 5: REMINISCENCES

From early in the morning I was busy writing my memoirs in my ‘palace’
[jungle hideout], having changed my routine in response to a request
which Abdi had brought me from Murni [Chadidjah].

Living in hiding in the jungle I naturally had no desk, but I managed
to write by sitting on the ground between the entrance and the sunken
hearth, and facing the bed. This position made the height of the
bamboo matting bed just right for writing, which I did by the light of
a lamp. While I told myself that my motive in writing was simply to
fulfil Murni’s request, and that one never knows where or when one’s
end will come, in reality her request reinforced what I had been
wanting to do myself. I had been thinking already about writing a
memoir to give to some reliable Indonesian.
Before and After the Aron

A night in early August 1942. The setting is the official residence of
the Shu Chokan [Resident] of East Sumatra, Jalan Sukamulia, Medan. It
was an unusually sultry night, and I was having difficulty in
sleeping. Shortly after the cuckoo clock struck 1 a.m., I was suddenly
roused by the insistent ringing of the telephone.

‘Hallo. Hallo. Rumah Gouverneur disitu? (Hello. Hello. Is that the
Chokan’s residence?).’ The voice of the Indonesian on the telephone
seemed very agitated. Moreover I was aware of some commotion in the
background behind the speaker, and guessed that something must have
happened.

‘Ah, Tuan Keimubocho * is it? This is the switchboard at the Arnhemia
Police Station. I will convey an emergency report from the
Fuku-bunshucho [Sub-district head], Tashiro:

Arnhem. 6 August. 1 a.m.

Report of Fuku-bunshucho Tashiro of Upper Deli. Some members of
the aron * from the region around Arnhemia, who have been staging
demonstrations to demand the unconditional release of farmers detained
on the charge of illegal cultivation, suddenly launched as assault on
the police office here at 12.30 a.m. Casualties so far confirmed: on
the aron side, two dead, five seriously wounded, an unknown number of
minor injuries; on the police side, two seriously wounded, two
slightly injured. After trying to placate the aron insurgents, I am
now with the leaders . . .

The telephone was suddenly disconnected at that point, and I could get
no response thereafter, even though I called back repeatedly. While I
was wondering what had happened, the telephone rang again. It was from
Lt. H., head of the Medan Kempeitai.

‘We have received a report from the police in Arnhemia . . . Ah, you
know about it already. The Kempeitai here is preparing the immediate
dispatch of a squad commanded by a certain sergeant-major. What is the
view of the Gunseibu on this?’

‘Ah, yes,’ I replied. ‘Thank you very much for your trouble. When we
received the report this morning, we planned to deal with the aron
incident ourselves. However, since our police forces are inadequate
and you have already begun preparing a force, we would like you to
settle the incident however you wish, though I am sorry to ask it of
you. I must stress that the Gunseibu still adheres to the policy that
a peaceful solution must be found to the aron problem, and that you
should bear this in mind at all times.’

I put down the telephone, went out of the room and awoke Chokan N
[Nakashima], who was asleep in his room directly opposite mine. I
briefly reported the sequence of events. The Chokan looked troubled
and pondered for some time. Then he abruptly told me to call up the
Divisional Chief of Staff. When I had got the Chief of Staff on the
phone, the Chokan outlined the Arnhemia developments to him. The Chief
of Staff must have been giving his opinion, to judge from the Chokan’s
responses – ‘It would be good if you could do that . . . I am most
appreciative . . . Thank you very much.’

The Karo Batak word aron normally refers to a group of villagers who
harvest collectively, moving through the fields of each in turn. It
was the only term by which the 1942 movement among Karos to cultivate
estate land illegally was known.

However, the conversation ended with the Chokan saying, ‘In any
event, please leave the matter in our hands for a while longer. If we
reach a deadlock, we will certainly call on your ample military
forces.’ He hung up and went back to his bedroom, saying to me, ‘I
want to think this over lying down. Let me know if there are any
important developments.’

I waited for the next developments, but no further reports came in
from either the Kempeitai or the police. Thinking that the disturbance
must have been put down, I began to relax and fell asleep. Before I
knew it, it was dawn. Feeling heavy in the head, I gulped down a
strong cup of coffee, and as usual I got to the Seicho [Residency
Administration] office before the Chokan. At the time, I was holding
three positions at once: in the morning I was Shu Keimubucho [Head of
the Residency Police], working in the police section of the Seicho; in
the afternoon I was Bunshucho [equivalent to Dutch AssistantResident]
of Deli-Serdang, working in the office assigned to that post; and all
the time I was secretary to the Chokan, whether I was in the Seicho or
the Deli-Serdang office.

Immediately, I contacted the Fuku-bunshucho and the Chief of Police at
Arnhemia by phone. I was told, ‘The casualties are the same as have
been reported already. The aron rioters, who had been insisting on the
release of the detainees, were persuaded to withdraw temporarily by
the kempei who came to help, leaving the question of the aron movement
unresolved. The Arnhemia area appears to have now returned to normal.
As Fuku-bunshucho I consider we had better release the detainees. What
do you think?’

I ended the conversation by instructing, ‘Don’t be in too great a
hurry. Watch the movements of the aron closely from all angles, and at
the same time take all precautions against another possible attack by
the aron.’

While I was still thinking over possible means of settling the
problem, the bell suddenly rang above my head. The indicator showed
that it was the Chokan’s room. I went quickly up to this room on the
second floor where I found Flora, a blue-eyed maid attached to the
Seicho, who said, ‘His Excellency is waiting for you in the secret
meeting room.’ The Chokan told me, ‘On my way here to assume my post
as fourth Shibucho [head] of the East Sumatra branch of the Military
Administration and first Shu Chokan * of the region, I talked over
many things with the [25th] Army Commander. The thing he emphasized
most was: “Uprisings caused by the aron secret society are a cancer in
the law and order situation in North Sumatra. The situation has now
reached a critical point. I must ask you to make a special effort to
solve the problem.”

‘As you well know, after the Kempeitai confessed itself beaten by this
problem, the civil administration of East Sumatra, from the time of
the first Shibucho to myself, the fourth, has tried every method and
every combination of people that might reasonably be expected to prove
effective in solving this problem. Unfortunately, we have still not
found even the glimmer of a solution. Meanwhile, as we can see from
the incident last night, the aron are becoming more and more violent.
Moreover, the same trend is spreading with every passing day into
Tanah Karo and Upper Serdang. * As Chokan I am extremely worried by
the situation. Last night the Divisional Chief of Staff recommended
that I mobilize his units to provide a military solution. Since I am
basically a military man myself, I am tempted to use such methods.
However, not only would it leave an indelible stain on the history of
our military administration, but it might also prove a serious source
of political trouble in the future.’

‘I thoroughly agree with you,’ I replied.

‘Right. Well then, I am going to have one last try, win or lose, at a
political solution. I have neither a clear plan nor any real
confidence of success. I have thought about it a great deal since last
night, and reached the conclusion that I must pin all my hopes on you
this time. I feel there is no alternative but to entrust both the
planning and implementation of a solution to you. Do you think you
could do it?’ The old Shogun repeated, ‘How about it? Will you do it
for me?’

At the time I had no more idea how to pacify the aron movement than
the Chokan did, and no more confidence that it could be done.
Nevertheless, I immediately answered, ‘I will do my best to live up to
your expectations.’ Inwardly I came to the simple conclusion that I
would be prepared to the for this Chokan, and would atone with my life
in the event that I failed. That very afternoon I received my official
orders:

East Sumatra Policy No. 1. Operation Order to Captain Inoue
Tetsuro of the Army:

You are to proceed to Upper Deli district as quickly as possible,
and to bring about a settlement of the aron incident. Fuku-bunshucho
Tashiro of Arnhemia will be ready to provide immediate support to you
in any emergency.

After dinner [on August 6] I managed to escape from the Chokan, as he
seemed about to begin his customary eulogy of Bismarck. Back in my own
room I leafed through a thick file of documents on the aron which I
had brought from the Seicho. I hoped that the sources on the history
of the movement would provide a basis for developing an appropriate
policy. The following Kempeitai report was the first document to draw
my attention. *

. . . During the disturbed time when the Japanese were landing in
Sumatra, one or two members of the Fujiyama [i.e. Fujiwara] Kikan
made propaganda among the people, especially those of Upper Deli
(Batak and Karo people) # hoping to win their favour. They told them,
‘When the Japanese come, the native chiefs will be thrown out, and you
can own whatever land you like.’ The people believed them and expected
to have their hopes realized, but a month after the Japanese landing
the native chiefs still held power and the people had to obey the
existing land laws. They became increasingly dissatisfied with the
Japanese military administration. It was only to be expected that
ambitious leaders of political parties would realize the opportunity
presented by the frame of mind of these ignorant people and
distort the rash promises of the Fujiyama Kikan members to mean the
Japanese Army’s recognition of their demands. They instigated innocent
people to cultivate land illegally and to become members of the aron
secret society. Then, native leaders such as the Dai-soncho and
Chu-soncho, * and their retainers, were frequently assassinated,
injured, robbed and assaulted. If possible, they tried to cut down the
chiefs and replace them; or failing this, they aimed to strengthen
their own power by such actions.

. . . The aron problem was created by the land problem. As long as
the authorities maintained the existing one-sided land law which was
based on a secret contract between the traditional aristocrats and the
Dutch planters, the prospect of a return of public order in Upper Deli
was unlikely . . .

I also found the following in a written report by the Fuku-bunshucho
of Arnhemia:
1. The major incidents caused by the aron in June (leaving aside the
question of illegal cultivation):
3 June The Soncho of Sumba [Sembahe?] was
[ 1942] killed.
5 June The banana plantation of the Soncho of
Tangkahan was seized.
8 June The Dai-soncho [Datuk] of Gunung Mulia
[Suka Mulia?] was terrorized.
14 June The Soncho of Sibolangit and his wife
were both killed.
20 June The house of the Soncho of Lau Cih was
plundered and burned.
25 June The wife and children of the Soncho of
Namo Mungkuru [Namokamura?] were
killed.
27 June Twenty pigs belonging to the Soncho of
Puneng [Penungkiren?] were stolen.
2. Initiation procedures for the aron and number of aron members by
the end of June:

New members had to bring a white chicken to the aron leader. Its neck
was wrung, and all drank the blood. Uncooked rice was put in front of
the new member, who had to swear his loyalty to the aron and promise
secrecy. Then the new member had to insert the grains of rice sideways
into his mouth one by one, and swallow them.

There appear to be about 15,000 members of the aron initiated in this way.
3. Attitude of the general population towards the aron:

The clever concealment and strange doings of the aron had brought it a
series of successes, but the majority of the population were as
terrified of the aron as they were of phantoms and ghosts, and after 6
p.m. everyone shut their doors and dared not put a foot outside.
The next report to attract my attention was written by Police
Superintendent Arifin, * who was at the time my righthand man in the
Police Affairs Department (he was a notable figure in the native
chiefs’ group and a relative of the raja of Serdang).

. . . Based on the above observations and many reports from spies,
I venture the following opinion on the question, ‘Who are the leaders
of the aron?’

1. The top leader is Iwan Siregar, chairman of the Gerindo party in
East Sumatra during the Dutch period.
2. Although the role of Suleiman, * vice-chairman of Gerindo, in
the aron movement is not clear, there is no doubt of his important role.
3. The remaining leaders of the aron all live in Upper Deli and are
followers of Iwan Siregar. Kitei Karo-Karo, Gumba Karo-Karo, Hussein
Surbakti and Keras Tarigan are prominent.

Although there were a variety of other reports and opinions about the
aron, I thought it unnecessary to check all of them. Right at the end,
however, I came across some which looked like petitions. When I read
them I found they were all from nobles connected with the Sultan of
Deli, with the titles Tengku and Datuk. # Every petition complained,
‘Because of the influence of the aron we cannot attend the office and
therefore we cannot collect taxes. We beg that it be suppressed as
quickly as possible.’

After checking through the aron file, I went out on the balcony in
search of the fresh night air of the tropics, and to ponder the
question how to fulfil the Chokan’s expectations and shoulder the
burden of pacifying the aron.

By the morning of the following day [7 August] I was already busy with
important preparatory measures for the Upper Deli business. While
carrying out the suppression of the aron in the area, to ensure that
my work would not meet any uncalled-for obstacles and that the people
of the area would not be influenced, I arrested those regarded as
influential among the local leaders, as well as the mysterious Iwan [
Siregar]. To begin with I managed to assemble tactfully about 60
popular leaders at the Seicho, of whom 40 were allowed to go home with
a warning, while the other 20, whom I sensed might be important, were
detained there. Next I had to deal with Iwan Siregar. With the secret
consent of the Chokan, I drove out without using a chauffeur or
wearing a military uniform. I expected Iwan Siregar, who was at that
time an adviser to the mayor of Medan, * to be at home because it was
the time of the siesta. When I got out of the car and knocked at the
door, a tall slim woman, who had the look of a Eurasian, came out. In
answer to my enquiry whether her husband was at home, she replied, as
expected, that he was sleeping. ‘I am the Keimubucho of this
Residency,’ I said. ‘I have come here by order of the Chokan to
collect your husband. Please tell him to get ready immediately’.

The woman frowned slightly, but walked into the back of the house
calmly, saying, ‘is that so? Just a moment, please.’

Iwan, who soon emerged, was an extremely ugly man, quite the opposite
of his beautiful wife. He had frizzy hair like a Papuan, large bulging
eyes, thick lips and a black face. He was dressed simply, and clutched
a shabby hat. On seeing me he bowed and murmured something, but his
words were inaudible, perhaps because he was anticipating the worst. I
put Iwan in the back seat of the car, and as I grasped the handle I
said to his wife, ‘Sorry to have disturbed you.’ She answered,
‘Selamat jalan (Take care), I and forced a smile, but her face was
emotionless.

In no time I was at the gate of Medan’s second prison. I summoned the
director and explained the circumstances to him. Then, saying, ‘It’ll
probably be dull, but be patient,’ I drove off, leaving the bemused
Iwan there.

Back at the Seicho office, I gave a brief report of this to the
Chokan. Then a sudden thought occurred to me and I called
Superintendent Arifin to my office. ‘ Arifin, I’ll come to the point
at once,’ I said. ‘I have locked up Iwan in the Second Prison.’

‘Really? You’ve got Iwan at last! Bagus tuan, bagus tuan (Well done,
well done, air).’ Arifin’s oily features expressed astonishment.

‘I have something I want to say to you – that it will be the Suebo
(myself) who is in charge of Iwan while he is in prison. In other
words, nobody except myself is allowed to intervene in any matter
whatsoever concerning Iwan. Is that clear?’

‘Yes,’ he replied. I am going to leave the office at about 9 p.m. and
make a house search at Iwan’s. You may come with no.’

‘Yes, I will be there,’ answered Arifin cheerfully. In contrast to
him, I could only feel gloom.

When Arifin and I knocked at the door of Iwan’s house at 9 p.m. that
night, the lights were off, perhaps as a deterrent to us. A woman in a
long nightgown came out from the back, holding a candle in her hand,
her hair still damp from being washed. It was the same woman I had met
earlier. I apologized for disturbing her at night, and explained
politely the purpose of our visit. This time she reacted very calmly
to my visit and said, ‘Please feel free to search anywhere.’ She held
the candle to guide us to Iwan’s study.

Superintendent Arifin, like a hunting dog showing the way to his
master, began to pull out drawers and search energetically through
documents. However, the woman appeared completely unperturbed. I lost
interest when I realized that there could not be any important
documents left as long as a woman like this was in charge of the
house. I asked her, ‘What were the aims of the Gerindo party which you
led during the Dutch period?’

‘The annihilation of the Dutch Government! The expulsion of the
Dutchi! was her bold reply.

‘Well, why weren’t you exiled to Boven Digul, then?’ I teased her.

She sailed and replied quickly, ‘Because the manifesto of Gerindo
stated that the aim of the party was the improvement of the living
standards of the Indonesian people.’ When she smiled she was extremely
attractive.

Arifin reappeared carrying a bulging bag and reported that he had
finished the search. His oily features were puffed with triumph. What
a disgusting fellow!

I said, ‘Well, ma’am, I am very sorry to have troubled you. You need
have no misgivings on this question, as we have found nothing
suspicious in our search. Although I say so from my own personal
feelings, the Chokan is particularly concerned about you over this
business, and has telephoned the mayor of Medan to order that Iwan’s
salary be paid as usual. Furthermore, I intend to take personal care
of your husband while he is in prison in the matter of meals,
entertainment and so on. Please don’t worry on account of these matters.’

The woman, who had been standing erect like a statue, suddenly
collapsed on the floor and burst into tears. Feeling that clumsy
attempts at consolation would be out of place, I beckoned Arifin, and
we quietly left the house.
The next day or the day after, I was hard at work on the preparations
for my departure. I was impatient because my orders had stated ‘as
early as possible’, but day after day my departure was delayed by all
the things to be prepared studying the itinerary, selecting the
attendants, communicating with the relevant local rulers, contacting
the families of the detainees, and procuring the necessary supplies
such as medicine, cakes and provisions.

It was about noon when the Eurasian maidservant Elly came into my
office with a namecard which read, ‘Hurni Iwan Siregar’. * I said,
‘Please show her in, and call the interpreter, Yoshida.’

The woman who was shown in by Elly a moment later was without doubt
Iwan’s wife. But today she was dressed magnificently in pure
Indonesian style. Her choice of kebaya and sarong bespoke her highly
cultivated personality, and hinted at hidden depths. She had probably
been expecting to talk to me in English, as she was carrying a small
DutchEnglish dictionary. However, we did not have long to wait before
the interpreter arrived.

She began, ‘I think you are fully aware of the important role my
husband played as one of the top leaders of the F [Kikan] when the
Japanese landed in Sumatra, and what great service he has since
rendered to the Kempeitai and to the Medan municipality. Iwan is of
course anti-Sultanate, but sensible enough to know that he cannot
eliminate the authority of the sultans through reckless measures like
those of the aron. Iwan is indeed the “father” of the people of Upper
Deli, but certainly not a leader of the aron. I came here today to ask
a favour of you on these grounds. I beg you – please find a way to
release Iwan.’

‘Your husband’s arrest was based on purely political requirements,’ I
replied, ‘as declared by the Chokan himself. His arrest has nothing at
all to do with his being a leader of the aron. I should like to tell
you in confidence that although we have gathered all sorts of evidence
relating to the relations between Iwan and the aron, there is nothing
that proves any definite involvement. Thus we must ask both you and
your husband to be patient with us until the “political requirements”
no longer apply.’

Murni cried, ‘Oh, poor Iwan! That he should be so rewarded for serving
the Japanese Army at the risk of his life! I came to you, trusting in
your competence as Keimubucho. I beg you – release him and pardon him.’

‘No,’ I replied, ‘whatever you say, this matter lies outside my
jurisdiction, and there is nothing I can do. I should like you to
accept this and go home.’ Her face became wet with tears as I spoke. I
decided to say no more. After a long silence, she apologized for
having taken my time, and despondently took her leave.

However, she was back at my office the following day. She appealed,
‘Isn’t there some way you could get Iwan released. I don’t mind how
you manage it – even in the form of huis arrestatie.’

‘I am terribly sorry, but as I told you yesterday, it is beyond my
competence, and there is nothing I can do.’

She suddenly began to show some spirit. ‘Well then, could you please
introduce me to the Chokan. I would like to appeal to him directly.’

‘No,’ I replied. ‘it would be pointless, at least as long as the
“political requirements” remain.’

‘Well then, when will the “political requirements” no longer apply?’

‘That depends for one thing on the progress of the aron affair,’ I
replied. ‘I am planning to go there myself in two or three days’ time.’

‘In order to subjugate the aron?’

‘You may suppose what you like.’

‘I am sorry to have to say it, I she said, ‘but have you even begun to
understand Indonesian politics? If you are really hoping to solve the
aron problem, you must definitely release Iwan at once.’

‘No,’ I replied, ‘I have quite the opposite opinion.’

Again an awkward silence hung between us. Abruptly she broke it. ‘Are
you aware that many members of the party are ready to swing into
action in that district as soon as I give the word?’

I reacted angrily. ‘Be careful what you say! I am not foolish enough
to arrest a woman like you. If you are planning to obstruct my work -
fine! You give any orders you want. Let us see which of us will
prevail. However, by way of warning, I want to make it clear to you
that if you make out to be a defender of the people, I will appear
before the people of Upper Deli with much more sincerity than you.’

Breakdown! The charged atmosphere eventually forced her to withdraw. I
felt that the situation was becoming more difficult.

On the evening of 10 August, I was talking with the Chokan over a cup
of tea after dinner. I announced, 11 want to leave tomorrow, since
everything is ready at last.’

-
‘Really? You have a very difficult task this time. I hope you will do
your best. How long are you planning to be there?’

‘If it all goes smoothly, I should be back in two weeks.’

‘Ah yes,’ he said. ‘Well then, I an going to appear an old fuss-pot,
but I think you should take at least one squad of soldiers. You are
venturing into a remote area of which even the Kempei are afraid. If
you want I will ring the Divisional Chief of Staff and ask . . .’

‘Thanks very much,’ I replied, ‘but I am hoping if at all possible to
avoid anything that will provoke the people, so I am restricting my
party to two interpreters.’

‘You may feel it’s all right, but I still feel uneasy,’ he said.

‘Ha . . .’

The Chokan continued, ‘How about cracking a bottle of Bordeaux to
celebrate your departure?’

‘No thanks,’ I said, ‘I still have a few things left to do tonight.’

Back in my room, I went straight to my desk and took up my pen. I
wrote two letters, put them in envelopes, and addressed them. On both
I wrote ‘testament’ in red down the side. One was to the Chokan and
the other to my family in Japan.

With this, my preparations for departure were complete. Just as I
began to relax, the servant Tjokro suddenly appeared and said, ‘Dari,
Chokan kakka (From the Chokanll. He handed me a bundle of bottles of
sherry, on which I found a handwritten note, ‘I pray for your success.
Nakashima.’
Memoir on the Suppression of the Aran in Upper Deli
11 August

At 10 a.m. all the members of my pacification team gathered at the
residence of the Fuku-bunshucho in Arnhemia, the capital of Upper
Deli, about 17 kilometres south of Medan. The team consisted of 44
persons in all – myself, interpreter F (Indonesian language),
interpreter S (Karo language), Teguh (a Karo Batak sawah [wet-rice]
expert) as guide, ten Indonesian policemen whom the Chokan had forced
on me as a guard, and 30 coolies (for the transport of provisions,
cakes and medicines). In addition, we had a horse called Marco for me
(an AngloNorman breed), and two horses (Batak breed) for the
interpreters. Before we set out, I instructed the following order of
march (with the head at the left):

police guide me F superin police coolies S police

At 11 a.m. the big square of Arnhomia, the first place to be
pacified, was packed with Karo people, milling around the assembly
hall roofed with ijo [rice straw]. Teguh, who had a reputation as a
humorous speaker, gave an eloquent opening address in Karo, after
which it was my turn to address the crowd. As I had to use the
interpreter, and the translation was far from smooth, I became
irritated, though there was nothing to be done about it. I made an
effort to control my seething emotions, and proceeded sentence by
sentence, very clearly. in reality the speech presented no problems,
as all I had to do was to state honestly that the Japanese were giving
serious consideration to improvements in the peoples’ welfare,
particularly in the area of agricultural land.

In response to my speech, various members of the audience raised their
hands. I listened patiently to each appeal, to each lament, and to
each entreaty:

‘Give us more ladang [unirrigated land].’

‘Let us prepare more sawah [wet-rice] fields.’

‘Allow us to cultivate palawija [secondary crops] if we wish.’ *

‘Increase the distribution of garam [salt].’

I answered those demands I could; the rest had to be content with
promises that we would do our best, giving our decision at a later
date. I do not know why, but after we had spoken, many members of the
aron who were there opted openly to leave the aron, and came forward
to ask for a ryominsho [certificate of good citizenship]. The number
of converts was about 60. At this unexpected victory the members of
our pacification team began to relax. Even the policemen began to
smile, though they had been tense with strain up to that point. There
is nothing so pleasant as to be touched by the goodwill of a fellow
human being.

Our trial run in Arnhomia had been most satisfactory. The next
destination for our pacification team was Namo Rambei village in
Serbanyanan district [urung]. Traversing hills and swiftly flowing
streams, with the Hi-no-maru flag above us, the team advanced in high
spirits.

We arrived at the village of Namo Rambei at 5 p.m. and decided to
spend the night at the house of the village head, in preparation for
our pacification campaign the following morning. The elderly village
head and his wife, both formally dressed, came and sat down near the
hearth in front of me in order to pay their respects. The old woman
first offered me sirih (a quid made up of betel leaf, tobacco, lime,
areca nut and gambir). Then offerings of rice, fruit, chicken and so
on were brought out and arranged before me. These rituals signified
the highest respect according to Karo custom.

Then the old village head came forward on his knees, and began slowly.
‘Welcome. I am really glad to see you. Last night I had a strange
dream. As my ladang field had turned golden, my wife and I set off for
the harvest. When we reached the ladang we were astonished to find a
crowd of aron people already there, busily harvesting. I was furious
and began to upbraid them without thinking. They rushed upon me and
beat me up, and finally they tied both my wife and myself to coconut
trees in a corner of the ladang. Before long the aron people were off,
carrying their bundles of harvested paddy. I was so upset I could not
stop myself from weeping. Suddenly a tuan besar (chief), dressed in a
red mantle and riding a white horse, appeared from somewhere and
quietly released us both. He opened the palm of my hand and put
something in it, then promptly disappeared. After consulting my wife I
fearfully opened my hand, and what was our surprise to find a shining
gold ring set with precious jewels, the like of which we had never
seen before . . .

‘A strange dream indeed! We talked it over and decided that the dream
must be a good omen. And just then you arrived unexpectedly. My heart
is full of joy.’

The old village head spluttered over this speech as if he were being
overcome by smoke from the fireplace. His wife nodded agreement. ‘You
are most welcome with us. The villagers too will be very pleased.’

I replied, ‘Well, I feel that our visit to this village will be very
rewarding. Your account of your dream is most interesting. I will
write it down in my notebook before I forget it.’

The dinner menu that evening was newly harvested red rice, chicken in
Karo style, fried carp, banana and papaya. After dinner I summoned
about ten local dignitaries and talked with them around the fireplace.
Their demands were similar to those of the Arnhemia people the day
before – a minimum allocation of 6,000 square metres of ladang* for
each married couple. The discussion ended at 2 a.m., but those
present did not go home for fear of the aron, spending the night
instead in nearby houses.
12 August

At 8 a.m. we began our pacification campaign in the village square of
Namo Rambei, where about 500 villagers were gathered. We followed the
same procedure as the day before. Thirty-five people came forward to
renounce their affiliation with the aron. We gave candies to the
children, and continued to offer free medical treatment to the new
converts. This was highly appreciated. The major complaints were
asthma, malaria, malnutrition, beriberi, trachoma, bonggol (growths on
the neck), framboesia (tropical boils), ringworm and scabies.

At 11 a.m. we left the village to shouts of farewell from the village
head and the other villagers – ‘Horas [Long life]!’ ‘Mejuwah-juwah!’†
Although the path climbed ever more steeply, we felt even more
invigorated. It was pleasant for me to see the big Hi-no-maru flag as
I rode along on Marco. Fields newly opened by the aron could be seen
here and there on the steep slopes on both sides of the path. In some
of the fields peasants were already harvesting their first crops. I
spoke to one of them, an honest-looking fellow, ‘How did you get this
ladang?’

He replied, ‘ Iwan Siregar gave it to me.’

‘What is that man to you?’ I asked. Is he a pemimpin (leader) of the
aron?’

‘Yes. He is our bapak (father),’ was the reply.

‘Is the rice ripening well?’

‘Because the villagers did not all plant rice at the same time, we
have had serious damage from birds.’

‘Are you also a member of the aron?’ I asked.

‘Well,’ he replied, ‘if I refused, I would be killed.’

At about 3 p.m. we arrived at Namo Ukuru [Namourat?] village, the
place for our third campaign. The Dai-soncho and notables from
neighbouring areas warmly greeted us in the village square. Women in
formal dress, who had been waiting for us, began scattering rice
grains in time with the shouts of ‘Horas! Horas!’ Then the Dai-soncho
and some other notables, with their wives, respectfully lined up in a
row facing us. Shortly, a very slow melody, similar to the charamela
* began, quiet and beautiful, and played on hand drum, gong and
pipes. Pii . . . hyuru, hyuru, hyuru, pii hyuru, pii hyuru, pii . . .
Boon pokopoko pokopoko, pii . . . The tone of the music reminded me
somewhat of the Japanese Okagurabayashi [ceremonial music offered to
spirits and gods].

Their hands and heads were slowly moving, but the legs and body were
almost still except when leaning left or right. As they danced, their
eyes were always downcast. At each beat of the gong they bent their
knees, and bowed at the waist as if saluting. It was truly an elegant
and meaningful dance, and I was entirely absorbed in watching it.
Teguh advised me, ‘Please join the dance, tuan, just doing what the
others do. otherwise you infringe Karo custom.’ I was thus compelled
to dance, following the moves of the Dai-soncho in front of me, even
though I was in military uniform. The audience burst out clapping. At
the last beat of the gong they stopped dancing and quietly withdrew,
saluting me by joining their hands together.

After ceremoniously receiving the usual sirih and presents, we began a
propaganda campaign according to our previous formula. About 1500
villagers attended, of whom 30 proposed to leave the aron. The
propaganda rally was concluded, and we later attended a dinner at the
Dai-soncho’s. The meeting with local elders proceeded in the same way
as before, without any notable petitions except a strong complaint
against the tyranny of the aron.
13 August

At 8 a.m., with the hearty farewells of the Dai-soncho and villagers
ringing in our ears, we left Namo Ukuru for our fourth destination,
Gunung Mulia. The path became steeper, and the swift streams and
cliffs we encountered caused great trouble to the horses and team
members. When we had marched eight kilometres or so, we suddenly heard
behind us a call to stop. It came from a Karo messenger, who had come
at speed on horseback. He turned out to have brought a letter from
Tashiro, Fuku-bunshucho of Arnhemia, warning us, ‘There is a plot to
murder you along the way. Please be careful.’ I replied through
interpreter F, ‘Many thanks for your warning. I am confident of
success, so please don’t worry.’

After two hours’ walk we reached a savannah of page page (a kind of
cogon grass), and saw a wooden bridge which was not particularly long
but lay across a deep valley. After taking in the bridge and its
surroundings, I spurred on my horse and caught up with Teguh who was
in front. I ordered him with my eyes to stop. Immediately
understanding the meaning of the sign, the guide ran back to alert the
police inspector. Soon seven of the guards took up a position beside
the bridge. They used their rifles first against the clump of page
page just across the bridge, then divided into two parties, one
comprising four and the other three riflemen, to fire at the page page
on the right and left side of the bridge respectively. The calmness of
the Serbanyaman plateau was abruptly shattered. Water fowl flew away
here and there, and monkeys began to gibber.

After the firing, the police inspector and eight of his men carefully
crossed the bridge one at a time. Once across, they re-formed and ran
into the page page. An examination proved, as expected, that the
bridge had been sabotaged so that it would collapse as soon as a
substantial weight was put on it. Consequently all the members of our
party, except a few like myself who were lightly dressed, had to take
a round-about route across the river. In the meantime the policemen
captured a half-witted looking young man. He must have stopped a
bullet in the firing just before. As his knee was bleeding, I ordered
through interpreter F that he be given first aid. After untying him
and giving him a cigarette, I began questioning.

‘Which is your village?’ ‘Lau Kerumat.’ ‘How many were there in
your band?’ ‘About ten.’ ‘Who is your leader and which village does he
belong to?’ ‘Paken of Gunung Mulia.’ ‘What were you trying to do
here?’ ‘First of all we were planning to kill tuan together with your
horse by making the bridge collapse, and then if possible kill other
members of your party with our parang [short swords].’

Although I was full of gloomy forebodings about this Paken’s village,
I ordered that we continue the march toward Gunung Mulia. Except for
putting our young captive at the head, we did not change our order of
march, and the Hi-no-maru flag still fluttered gaily above Teguh’s head.

We arrived at the entrance to Gunung Mulia after two hours’ difficult
march across steep slopes, dangerous cliffs and swift rivers. The
village was fortified with a bamboo fence.

– There was no movement; an unnatural stillness. ‘Suspicious,’ I
thought. In spite of my order to investigate the village, the
policemen were too frightened to move. ‘Follow me’, I said, and walked
into the village, only to find it an empty shell, occupied by
half-starved dogs and pigs running loose . . .

(As I had expected, we experienced several incidents there, the most
dangerous of which was an impending attack by the aron. It is a pity
that I cannot relate the details now. But the reader should understand
that my wisdom and courage, at the risk of my life, forestalled the
aron’s attack.)

I put a stop to the medical treatment of the sick as there seemed no
end to the demand. By the time I could relax, the pope [bird] had
already ceased its warbling and the mountain village was sinking into
the calm of an evening twilight. I thought it better to stay there the
night in order to accept aron converts, and if possible to talk with
the villagers, which seemed particularly necessary in that turbulent
village. However, because all the policemen and coolies were really
frightened of staying there and wanted only to leave the village as
quickly as possible, I had to commit us to a night march to our next
destination, Tanjung Beringin eight kilometres away.

Before we left the village, I summoned the local head of the aron,
Nichoh, and the Dai-soncho, and made them shake hands with each other.
I did not forget to give them this final message, ‘If we cooperate
with each other, you two and I, we can give the villagers all the
happiness they hope for. To this end I am planning to come here again,
by which time you must have begun to improve the living standard of
the villagers. I am sure you will not betray me. By the way, tell
Paken, the man who tried to kill me, when he comes back, that I am not
angry with him now, so he has no need to worry.’

It was already pitch dark when we left Gunung Mulia and entered a
forest path which crossed a ravine and river. Since the effectiveness
of the only light we had, a pine torch, was limited to the few people
walking at the head, the rest had to be very careful not to lose the
path and slide down the bank. There seemed to be terraces for growing
gambir (a liane plant). The air was full of woolly caterpillars
radiating a fluorescent light. This frightening, bewildering
atmosphere spurred on our party, which had fallen silent due to hunger
and fatigue.

Just as I began to feel the journey would never end, we suddenly heard
a noise in front of us. I could see some pine torches approaching, and
from the same direction a call, ‘Hoy, hoy,’ seemed to come. It was
evidently a hearty welcome arranged by the representatives of Tanjung
Beringin, which lay a few hundred metres ahead. The moon was rising
when, at 10 p.m., we reached the village. Music of the unique Karo
type began as if at a sign from the rising moon. Before we realized it
an elegant dance by older couples, similar to the one at Namo Ukuru,
had begun. When this dance had finished and various gifts had been
presented, music in quicker tempo began so the ‘girls and boys’ dance
could take place. The blazing fires and the dinner provided for the
policemen and coolies seemed to represent the warmth of the villagers’
welcome. What an enormous difference in atmosphere was created by the
eight kilometres’ distance! The aged village head roused me from my
reverie by asking if I would like some arak. The villagers went on
dancing until late at night.At 9 a.m. [on 14 August], we began our
propaganda campaign by the riverside. About 400 villagers attended.
There were no aron members. I praised before the villagers the good
administration of the old village head. (I shall abbreviate the
description of our subsequent campaign.)After finishing the
pacification campaign in the Serbanyaman district as described above,
I immediately left for the Duabelas [Kota] and Sukapiring districts.
Although the physical conditions for walking became much easier, I was
given no chance to relax because of a continuous string of incidents
arising from the aron’s obstructionist tactics. Some of these
incidents were very dramatic, but this is no place for all these
stories.Thus, my pacification tour came to an end after many incidents
and episodes. On my return to Medan I immediately wrote a report for
submission to the Chokan. I did not forget to attach my
recommendations in roughly the following form:
1. To deal with the population in all sincerity, and to implement
completely what has been promised.
2. To satisfy the most important of the popular demands:
a. Lease of 6,000 square metres of unirrigated [ladang] land for each
family.
b. Complete freedom for growing palawija.
c. Permission for new sawah wherever this can be done without
disruption to the irrigation plans of the estates.
d. A tripling of the salt ration.
3. To establish an agricultural training centre in Arnhemia in order
to provide the people of Upper Deli with agricultural guidance in
every field.
4. To open an office within the Police Department in Medan for the
provision of ryominsho to converted aron members.

As a result of my report, the Chokan of East Sumatra forthwith
summoned a meeting consisting of four departmental chiefs – those of
General Affairs, Industry, Treasury and Police. Happily the meeting
decided to implement all my suggestions immediately. I was as excited
by the decision as if it affected me personally, and hurried to
Arnhemia by car, where I summoned the most influential village heads
of the region. When I told them the good news they went wild with joy,
shouting ‘Horas’.

It was decided that Jalil, a graduate of an agricultural school in
Java, would become head of the planned agricultural training centre in
Arnhemia, with his first concern to assist in the expansion of new
irrigated rice fields. Meanwhile, the number of aron converts coming
to the administration office increased considerably. As a result, the
area around the office became alive with Karo colour, and the staff
were kept busy issuing ryominsho. As a result, not only did murders
and assaults by the aron virtually cease, but so also did incendiarism
and robbery, although such minor incidents as illegal cultivation,
coercing labour, and stealing occasionally took place. The Upper Deli
region was gradually returning to peace. It was at this time that
people began saying, ‘We will follow whatever that tuan says.’

Suddenly, an unexpected event occurred which led to the total collapse
of the aron. One day at the beginning of October, as Bunshucho of
Deli-Serdang, I was studying a plan entitled ‘The Leasing of Estate
Land (approximately 180,000 hectares) formerly owned by Dutch tobacco
estates, to the population, with the aim of increasing food production
and preventing a repetition of the aron incident’, when I was
surprised by a telephone call from the newly appointed Fuku-bunshucho
of Arnhemia.

‘A short time ago a police corps led by Roti encountered men and women
of the aron (300 in total) who were cooperating to engage in illegal
cultivation near Ujung Labuhan, 15 kilometres east of Arnhemia. These
aron people are now interned in a bangsal [hut for drying tobacco
leaves] under police guard. What are your instructions?’

Intuitively I realized that the people in question had to be the core
of the aron. I told him that I would go there myself, and that the
status quo should be maintained by a strict watch. I then went
straight to the Chokan to receive his instructions. After thinking the
issue over for a while, the Chokan simply said, ‘Unfortunate as it is,
if some of the conspirators are found to be guilty of staging violent
resistance, both anti-military and anti-Japanese, they must be
punished on the spot as sacrifices for the sake of peace for the whole
of the population.’

As soon as I had completed preparations, I left for the spot at full
speed, accompanied by three non-commissioned officers – Sergeants O
and M and Corporal I, who were university graduates working in the
Seicho an members of a support team sent by the Division.

I found an indescribable, extraordinary scene when I arrived. In a
rice field, half of which had already been harvested, there was a big
nipa-roofed bangsal, into which were jammed armed people who had the
definite look of core leaders of the aron. A platoon of police
surrounded the bangsal at a distance, training their guns on the
buildng but trembling as they did so because of the extreme tension.
‘Very dangerous. A touch-and-go situation,’ I thought.

I went into the bangsal with the non-commissioned officers and
interpreter, taking no notice of Fuku-bunshucho M who was trying to
waylay me to say something. With the eyes of the aron members in the
bangsal upon me, I shouted in Karo, ‘Kundul kerina! (Sit down all of
you!).’ The aron people sat down obediently, and I ordered them
through the interpreter, ‘I will take charge of your parang until this
matter is settled.’ Before they knew what they were doing, the aron
members followed my order, disarming themselves with surprising
passivity. Consequently we soon had a truckful of parang.

Seizing the favourable moment when the aron became calm, I began to
talk. Although the content of my talk was much the same as on previous
occasions, it naturally took a long time because I gave it all the
energy and sincerity I could. When I had finished talking I ordered
the Fuku-bunshucho, the police chief and the interpreter to pick out
influential aron leaders and most wanted criminals. They brought
forward eight men from the 300 aron members there. Since three of
these eight men had been identified as known criminals, we were
obliged to handcuff them to take them to Medan. The other five had to
be sacrificed for the peace of the people of Upper Deli, for they
were, in the Chokan’s words, ‘manifestly guilty of staging violent
resistance and antimilitarism’. After meditating a while my mind was
made up. The non-commissioned officers made the preparations. The five
young men were forced to sit down a little apart, facing their 300
friends. Water was brought. Japanese swords glittered in the hands of
the non-commissioned officers . . .

‘Eih,’ shouted Corporal I suddenly, as if to harden himself against
pity. And ‘Yah,’ cried Sergeant O.

The several hundred ‘spectators’ – aron, police, locals had all
thought that we were bluffing, but retribution had been swift and
tragic, and the results were now spread out before their startled
eyes. Whether out of fear or sadness, all 300 of the aron members
threw themselves on the ground. Only the sobbing of women could be
heard from the silent bangsal. I allowed the people a reasonable time
to grieve, and then I addressed them quietly, drying my own tears:
‘The precious lives of these five young men have ben sacrificed in the
interest of the happiness of the people of Upper Deli, and to give
you an opportunity for self-examination. Now we must express our
unbounded gratitude to them. We must endeavour to give peace to their
spirits and to help their families. I beg you not to make their deaths
meaningless. Return once more to being good and diligent villagers. On
my sole responsibility I will take the risk of discharging all of you
and returning your parang. To you, the village head of Ujung Labuhan,
I present this money I have brought with me. As chief of this tragic
village, please use it to arrange a memorial service.’

I ordered the Fuku-bunshucho to investigate the circumstances of the
families of the victims and to work out ways to support them. After
praising the police chief, Roti, for his services I went back to
Medan, farewelled by the grief-stricken aron.

Within two days of this event, the news of the Ujung Labuhan affair
had spread all over Upper Deli through the unique communication system
of the Karo people, bringing real terror to the remaining aron. This
was the immediate reason for the complete collapse of the secret
society, the aron.

About a week had passed since the Ujung Labuhan affair. One day I was
having lunch with the Chokan at his official residence, when a servant
brought us a letter from Murni addressed to the Chokan. I said to him,
‘Here is a letter for you from Iwan’s wife. As it is written in
English, shall I read it for you?’ The letter read roughly as follows:

Your Excellency, Governor of East Sumatra,

Please forgive my writing to you like this. As you know better
than anybody, two months have already passed since my husband Iwan was
imprisoned in Medan. The ‘political necessities’ which required Iwan
to stay in prison, the excuse the Keimubucho [Inoue] once gave me,
seem not to have been removed in this time.

I should say that, as the family of the detainee, we have had no
difficulty mantaining ourselves, thanks to Your Excellency’s special
concern. I should like to express my sincere gratitude to you.

I have now a new problem, however, Your Excellency. It seems that
I am the type of woman who cannot be satisfied with merely making
salads, tatting lace, and looking after the garden. To be honest, I
want to have a worthwhile job. When my husband was at home, I used to
spend most of my time as his secretary or adviser rather than his
wife. Your Excellency may well understand how much the empty life of
these months has tortured me. Nobody could safely predict that I
would not go mad if I have to go on like this.

Please give me some worthwhile job – for my own development and
for the benefit of others. I should be very grateful if you could
kindly find something related either to the newspaper or the Seicho.

In anticipation of your reply, Murni.

‘What do you think of that?’ asked the Chokan.

‘How about the branch office of Domei Toushin [a Japanese news
agency]? She cannot be trusted altogether, though,’ I replied.

The Chokan commented, ‘Moreover, I hear that she is an extremely
beautiful woman. If she gets into trouble on the job we will not be
able to show our face to Iwan in prison.’

‘I agree with you. When we find her a job we had better get permission
from Iwan.’

‘How about employing her for a while, on a trial basis, in your office
in the Police Department? She shouldn’t give you any trouble.’

‘She doesn’t seem to like anything to do with the police, but I will
discuss it with her tomorrow,’ I answered.

Five days after this discussion between the Chokan and myself, Murni
was already at work in the office of the Police Department. She was
particularly good at Dutch, her English was fair, and her typewriting
was remarkable. To begin with I asked her to submit ‘a life history’
in order to test her typewriting ability and keep her from feeling bored.

She always came to the office in modest and purely Indonesian clothes,
spreading a heliotrope perfume around the room. She added colour to
the office, where there had previously been only the Eurasian servant
girl, Elly. I introduced her to Salmiah, who was working as a typist
in the Transportation Department, and who I thought might be a
companion for Hurni. They got on amazingly well together. Salmiah was
of noble birth – a daughter of the youngest brother of the Sultan of Deli.

Murni came to the office punctually every day and seemed to be typing
enthusiastically. In a few days she had completed her life story.
Life History of Murni (Outline)

Murnie was of Eurasian birth, from the union of D, the Dutch deputy
manager of a tobacco estate near Binjai in Langkat Bunshu, and a
Javanese woman Saniam. When she was about three years old, the
Dutchman D returned to Holland, leaving Saniam behind. Although D
tried to take the child with him, Saniam managed to prevent this by
her rigorous opposition. Consequently Murni was left in the hands of
Saniam. Later a Dutch businessman, H, happened to notice Murni’s
beauty and talent, and proposed bringing her up. Murni thus came to be
looked after by H; it was a happy time and she lacked for nothing.
Murni came to love H as if he were her real father. However, during
her first year at the MULO Girls’ School, H died suddenly in a tragic
car accident. Murni had to return to her mother’s house near Binjai,
but money for her education throughout high school had been guaranteed
by a verbal will H made to his relatives on his deathbed.

In the meantime, her mother Saniam had become intimate with a Javanese
man called Hassan. One day the mother said to Murni, hoping for her
agreement, ‘I am thinking of living with Hassan. How do you like the
idea?’ Murni at first opposed the plan because she did not like the
man at all and because she sensed that he had his eye on her education
fund. However, Murni had to agree in the end, out of sympathy for
Saniam’s lonely life, as she had been a widow for a long time. Hassan
came to live in the house, but as Murni had surmised, he lived an idle
life. Belongings which represented her mother’s savings were sold one
by one. As the atmosphere at home was unpleasant, Murni tried to come
home as late as possible each day, and also began to devote herself to
music. She had musical talent and soon became popular among her
classmates. They began to refer to her as ‘Nightingale’ or ‘Nuri’
(Parrot), nicknames which derived from her unusually beautiful voice.

After turning all the mother’s property into cash and cunningly
misappropriating Murni’s education fund, Hassan at last ran away.
Although the mother wailed about it, nothing could be done. Saniam was
forced to earn money to support herself and her daughter and to
provide for the latter’s education, but her earnings were far from
sufficient. Thus, Murni too had to work occasionally a a typist for a
Dutch company when she could spare the time from her studies. Through
her contacts with the Dutch and the many things she witnessed, Murni,
as a sensitive girl, gradually inclined towards an anti-Dutch attitude.

Murni had jut managed to graduate from the MULO Girls’ School in this
way, when she by chance became acquainted with a young man called Iwan
Siregar, who lived near her place. Iwan was tall and well built, but
he had a sour face. Though Iwan’s father was the richest man in his
district, Iwan was then living on his own as a result of a sharp
difference of opinion between them. He did not seem to have any
regular job but was always busy studying, surrounded by piles of
books. After finding that Murni and her mother were living in poverty,
he began to provide them with financial support whenever the
opportunity arose.

Through this association with Iwan, Murni was attracted to him on two
grounds in particular. Firstly, Iwan was not only very knowledgeable -
especially in politics, sociology and psychology – but was also deeply
concerned about the rights of Indonesians and Indonesia’s manifest
destiny, putting these questions in an admirable perspective.
Secondly, he was quite different from most young men who curried the
favour of pretty girls and posed self-consciously in front of them. He
was older than Murni by only five or six years, but he behaved as
though he were her father or teacher and gave her lectures on
practical sociology.

This friendship eventually led the two to marriage. The annoncement of
their marriage surprised and disappointed many Dutch and Indonesian
men who had been attracted by Murni’s beauty and talent. After the
marriage, Iwan was made head of the Gerindo party in the East Coast of
Sumatra, and became involved in underground anti-Dutch activities.
Murni, though a woman, supported Iwan by becoming leader of the Binjai
branch of the party. The result of their activities inevitably
manifested itself in relentless pressure upon them from both the Dutch
and the sultan’s party. They therefore had to face continuous
difficulties.

When Japan began the total attack on Singapore in 1942, Iwan realized,
through secretly listening to radio broadcasts from Malaya, that a
Japanese landing in Sumatra was imminent. He immediately dispatched a
mission to Penang and succeeded in contacting the Japanese Fujiyama
Kikan. * Then he initiated underground activity by the name of the ‘F
Movement’ throughout East Sumatra, aiming to support the expected
Japanese landing. After this landing took place, he helped the
Japanese Kempeitai in Medan considerably by finding Dutch troop
remnants, enemy elements and hidden arms, by making propaganda, and by
providing information. This was the time when Murni travelled about
giving singing performances to solace the Japanese soldiers.

In the ton days since Hurni had submitted her life history, she had
come not only to handle difficult Police Department work, but also to
show her unusual gifts in many areas. When dealing with petitions from
poor people, she showed an extraordinary devotion. In the questioning
of Dutch authorities, she played the role of a dignified interpreter.
Her analysis of information was as good as a specialist’s.

Moreover, as she was fond of arranging flowers, every room of the
Police Department began to shed the perfume of flowers put there by
her. I do not know why, but red roses and white lilies were placed in
regular rotation in my room.

As for Iwan, his health had improved markedly since he was first put
in prison. He was given a special room with a bed and desk, he ate
meals prepared by Murni, and he was allowed to exercise and to read
newspapers and books freely. On my part, I did not forget to send
cakes and so forth to him through a servant whenever we had some at
home. At first he used to cry each time he saw me, but by now he had
become quite cheerful.

One Sunday I went out for a ride on my beloved horse, Marco. The horse
headed instinctively for the peaceful, beautiful district of
Mangalaan. Before I knew it, I was passing in front of Murni’s house.
Murni’s family was living modestly in a pavilion formerly owned by the
Dutch, now rented to them by the Japanese administration. Somebody
seemed to be playing a record in the house, as ‘The Serenade of
Dorigo’ could be heard outside.

I was just wondering whether to pay a call when a pretty girl about
five years old came running out gaily. On seeing me, however, she
jumped back into the house in surprise. I could hear her voice
calling, ‘Sister!’ After a while Murni came out in a simple house
dress and gave me a smiling welcome.

Murni, the girl and I began to chat, sitting on the ground beside
Marco, who was munching at the lawn. I said to Murni, ‘I took this
girl to be your child, but I see she is not.’

‘No, we have not yet had any children, I she replied, in a somewhat
sad tone. Then, abruptly, she pointed to the roof and asked me, ‘Do
you like doves? Look! Up there.’ The doves were exchanging tender kisses.

Suddenly the sky became threatening, and black squall clouds began to
sweep towards us with a swiftness like raging horses. Murni allowed
the strong wind to tousle her black hair, and gazed raptly at the
tumultous clouds. ‘Of all the wonders of nature, this is my favourite
moment’, she murmured with a look which seemed at once exultant and
sad. . .

A fortnight or so passed since the event described above. One day I
was slightly reproved by the Chokan after dinner. ‘You’ve been a bit
peculiar recently, haven’t you? Frankly I have been meaning to ask you
why . . . For instance, once when I came back from a walk with Chiro
(the Chokan’s pet dog), I found you in Chinese dress sound asleep on
the garden lawn, getting soaked by the night dew. When I woke you up,
you said you didn’t remember what you had done the night before. This
happened more than once or twice. Doctor A, whom I consulted,
suggested that you might be suffering from somnambulism, perhaps
influenced by some sort of illusion.’

At this point in the Chokan’s conversation, I grew moody, recalling
the question, ‘How did this Chinese robe come to shed a heliotrope
perfume?’ – a question which I myself was yet unable to answer.

The Chokan went on, ‘Apart from this issue, I suspect that these
incidents are related to mental stress and an immoderate use of your
brain. You have worked intensively from the settlement of the aron
affair to the release of 180,000 hectares of tobacco estate land. Why
don’t you take a rest at Brastagi? I believe we are not short of hands
now in the office.’

‘Let me think it over for a while.’

Following the Chokan’s advice, by the end of November I was
recuperating at Brastagi (70 kilometres south of Medan), a famous
resort on the Taro plateau with an average altitude of 1,500 metres.
The fields were ablaze with flowers carnations, cannas, lilies,
gladioli, chrysanthemums, roses and so on. The place was agreeably
located with the green of the lawns of many gardens surrounding it,
and Mt. Sibayak commanding the scene, issuing white smoke as it looked
down on the town.

One Sunday morning while I was at Brastagi, Murni and Salmiah, both
dressed formally, visited me without warning from far-away Medan.
After greeting me, they explained that the reason for their visit was
that they had heard nothing of me since I left Medan. We took tea on
the terrace of the guest house and ate the cakes they had brought. The
beautiful riding ground of a horse-riding club could be seen down
below us, and a man was galloping about on a grey horse. Although
Murni and Salmiah were making merry, exhilarated by the fresh air of
the plateau and the beautiful flowers, I was becoming increasingly
reticent. Eventually my irritation developed to a point where I felt I
would roar at them if the situation continued any longer. Asking to be
excused, I left the terrace and ran down the slope to the riding
ground. I leapt on to a horse, whipped it fiercely and headed like a
madman for a broad grassy field outside the riding ground. I rode from
one end of the field to the other, forcing the horse to jump over
every ditch, hillock and fence in its path. A voice inside me cried,
‘If you are supposed to be a madman, why not act like one?’ I whipped
the horse again. . .

Somebody is calling me. Who is it?

It was night when I awoke and saw, beside my pillow, Murni and
Salmiah gazing sadly and thoughtfully at me.

Merebut Mimpi Indonesia

Tags

Tulisan Pak Fadjroel ini menarik juga, apalagi karena ada unsur pemikiran Sjahrirnya.

————–

Merebut Mimpi Indonesia

Khazanah, PIKIRAN RAKYAT, 16 Agustus 2008

KEMERDEKAAN nasional adalah proklamasi kebudayaan emansipatif sebuah
bangsa. Karena sebuah bangsa dan kebudayaan adalah mimpi kolektif atau
imajinasi kolektif sekelompok manusia pada konteks tempat dan waktu
tertentu. Bahkan sebuah bangsa sebenarnya sebuah perasaan saja kata
Gustavo de las Casas, perasaan bersatu kolektif yang menjadikan
sekelompok manusia sebagai sebuah keluarga besar (Foreign Policy,
Maret-April 2008), tentu juga terkait tempat dan waktu tertentu. Bila
hari ini, 63 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, semua warga dari
Sabang sampai Merauke, tanpa ragu mengucapkan kata Indonesia, sebagai
bangsa, negara, tumpah darah, serta hikmat mengikuti upacara bendera
setiap hari Senin seperti putera saya Mahatma (11) dan Krishna (10) di
sekolah dasar mereka untuk menghormati, “Bendera Negara Indonesia ialah
Sang Merah Putih.”, tidakkah mereka serta kita semua menyadari bahwa
kata Indonesia hanyalah sebutan antropologis dari seorang antropolog
Inggris J.R. Logan pada 1850?

Di awal abad ke-20, hampir tak ada penduduk dari ujung Sumatra hingga
Papua yang menyebut nama Indonesia atau mengaku orang Indonesia.
Indonesia adalah sebutan rekaan saja dari J.R. Logan yang memerlukan
sebuah nama untuk menyebut penduduk serta kepulauan yang membentang
antara benua Australia dan Benua Asia dalam karya ilmiahnya. Oleh
karena itulah Sutan Takdir Alisjahbana dalam Polemik Kebudayaan bahkan
menyebut para “pahlawan Indonesia” yang kita kenal seperti Pangeran
Diponegoro, Imam Bonjol, dan lainnya tidaklah mengenal Indonesia
sebagai tujuan perjuangannya, mereka adalah “pahlawan` dalam masa
pra-Indonesia, bahkan bersedia “saling berkelahi” untuk kepentingan
masing-masing, sama sekali bukan untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Terasa pahitkah kenyataan ini? Sama sekali tidak, Indonesia adalah
momen dalam kebebasan manusia, sebuah pernyataan kebebasan dalam sekian
kemungkinan pilihan dalam sejarah. Tentu saja ada yang ingin hidup
dalam feodalisme lama, bahkan ingin tetap setia dalam kolonialisme, dan
sungkup masyarakat tertutup untuk kemurnian ras, agama, dan ideologi.
Tetapi kita memilih Indonesia, memilih kebebasan, kebebasan manusia
untuk menentukan nasibnya sendiri. Dalam momen kebebasan itulah para
Bapak dan Ibu pendiri Indonesia memutuskan untuk melakukan, (1)
pembebasan nasional; (2) pembebasan sosial dan; (3) pembebasan individu.

Tentu saja pembebasan nasional adalah prasyarat (conditio sine qua non)
dari pembebasan sosial dan pembebasan individu. Pembebasan nasional
harus dipilih karena, “kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh
sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.” Tetapi
pembebasan nasional tak berarti banyak bila tak ada pembebasan sosial,
“memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi, dan keadilan sosial.” Lalu apa setelah pembebasan nasional dan
pembebasan sosial? Tentu saja pembebasan individu, “supaya berkehidupan
kebangsaan yang bebas.”

Sebuah perjuangan emansipasi yang mahakeras tetapi tetap akan berujung
pada kemegahan kemanusiaan, seperti kata penyair Arthur Rimbaud
(1857-1907), and at the dawn/armed with scorching patience/we shall
enter the cities of splendour (Di waktu fajar/dengan kesabaran
mentubi/kita akan memasuki kota yang megah itu).

**

JADI, Indonesia adalah sebuah cita-cita kebudayaan emansipatif tentang
(1) pembebasan nasional; (2) pembebasan sosial; (3) pembebasan
individu. Bagaimana Indonesia hari ini? Sebuah mimpi-praktis
(practical-visionar y) akan bermakna untuk menegaskan bahwa identitas
politik, budaya, dan geografis, bila wujudnya kongkret –dinikmati
dalam kehidupan sosial sehari-hari- – yang berwujud kesejahteraan,
kecerdasan, dan keadilan sosial, serta kehidupan individual (hak sipil,
politik, ekonomi, sosial, dan budaya). Bila mimpi praktis dan kongkret
ini tak terwujud, setiap warga negara, tentu saja putra saya juga,
Mahatma dan Krishna, akan bertanya-tanya untuk apa tetap bersatu dalam
tanah air, negara, dan bangsa Indonesia bukan?

Indonesia hari ini adalah Indonesia dalam pertarungan untuk mewujudkan
mimpi Indonesia seabad lalu versus realitas konkret yang
menceraiberaikannya . Kemiskinan dan ketimpangan sosial yang menghantui
sepanjang 63 tahun kemerdekaan hampir serupa wujud kongkretnya seperti
di masa kolonial. Ketika Multatuli menulis Saijah Adinda pada 1860-an,
kemiskinan dan penindasan adalah realitas kongkret di Lebak (Banten),
namun 168 tahun kemudian pada Februari 2008 di Lebak Banten kembali ada
empat balita meninggal dunia karena busung lapar tercekik kemiskinan
orang tua mereka.

Teror kemiskinan serupa terjadi di Makassar, Daeng Basse (hamil lima
bulan) dan putranya tujuh tahun juga mati kelaparan, lalu Naila (4)
juga meninggal dunia di Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Di Jawa Barat
saja pada 2007, ada sekitar 5,6 juta orang berada di bawah garis
kemiskinan, naik dari 2006 sekitar 5,2 juta orang, walaupun ukuran
garis kemiskinan hanya Rp 158.000,00/kapita/ bulan atau sekitar Rp
5.300,00/kapita/ hari.

Siapakah yang beruntung? Simaklah, pengusaha terkaya Indonesia
sekaligus Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Aburizal Bakrie dan
keluarga (Bakrie & Brothers) pada tahun 2008 (Tempo, 15 Mei 2008)
menguasai kekayaan sekitar Rp 49,7 triliun (5,4 miliar dolar AS),
padahal pada 2006 hanya menguasai 1,2 miliar dolar AS. Riset terbaru
Globe Asia (Mei 2008) menobatkan Aburizal Bakrie sebagai manusia
terkaya di Indonesia dan di Asia Tenggara dengan nilai kekayaan 9,2
miliar dolar AS (Rp.84,6 triliun); sebelumnya tahun 2007 senilai 1,05
miliar dolar AS (Rp 9,6 triliun); Bisnisnya menggurita di bidang batu
bara, perkebunan, minyak, properti, telekomunikasi, dan media. Lalu ada
Jusuf Kalla (Tempo, 15 Mei 2008) wakil presiden Republik Indonesia, di
urutan ke-30 orang Indonesia terkaya dengan Rp 2,1 triliun, juga Aksa
Mahmud, Wakil Ketua MPR-RI, berkeluarga dengan Jusuf Kalla kekayaannya
Rp 3,1 triliun di urutan ke-24.

Apalagi bila menyimak penguasa sumber daya alam, minyak, gas, dan
tambang sudah dikuasai asing 80 persen, di mana 70 persen di antaranya
adalah pengusaha Amerika Serikat (AS). Contoh, tambang tembaga dan emas
terbesar di dunia di Papua Barat dikuasai perusahaan AS PT Freeport
McMoran. Sungguh tak terbayangkan di lumbung emas dan tembaga dunia ini
puluhan orang Papua mati kelaparan di Yahukimo. Untuk Yahukimo tak ada
mimpi Indonesia, mimpi pembebasan sosial dan individu terjadi ketika
nyawa mereka terbebaskan ke haribaan Tuhan.

Inilah pertanyaan yang paling menyesakkan hari ini, adakah pembebasan
nasional juga sudah berjalan sebagai syarat tumbuhnya kebudayaan
nasional? Apakah proklamasi 17 Agustus 1945 yang menandai pembebasan
nasional berjalan setelah 63 tahun, berdaulat atas politik, ekonomi,
kebudayaan sebagai prasyarat pembebasan sosial dan individual melalui,
“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai
oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”
Mudah sekali sekarang menemukan pemuda-pemudi di pulau Kalimantan,
Sulawesi, Papua, Sumatra yang berteriak lebih baik merdeka daripada
mati dan sengsara dalam Republik Indonesia, mereka bermimpi menjadi
negara merdeka dan berdaulat secara politik dan ekonomi dari Indonesia.

Tetapi para oligarki politik dan ekonomi kita tak perduli dengan
teriakan keputusasaan ini. Nasionalisasi aset strategis salah satu
jawaban untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi nasional terhadap
Freeport di Papua (Freeport McMoran), Blok Cepu di Jawa Timur
(ExxonMobil) , Blok Gas Tangguh di Papua Barat (British Petroleum), Blok
Mahakam di Kalimantan Timur (Total E&P Indonesie, Perancis), Blok
Natuna di Kepulauan Riau (ExxonMobil) ; juga migas di Riau yang dikuasai
Chevron Pacific, Newmont Minahasa dan Nusa Tenggara, Kelian Equatorial
Mining (Aurora Gold Australia), dan lain-lain, bahkan Indosat yang kini
dikuasai Temasek Holding dan Qatar Telecom sehingga 89% pangsa pasar
telekomunikasi Indonesia dikuasai mereka melalui praktik oligopoli dan
kartel harga serta suplai. Termasuk wajah 35% daratan Indonesia yang
dikuasai 257 pengusaha batu bara, 341 kontrak karya, dan 1.194 kuasa
pertambangan.

**

BILA sebuah bangsa adalah mimpi kebudayaan emansipatif, itulah Mimpi
Indonesia. Namun apa yang terjadi bila mimpi tersebut tergadai kepada
tirani modal (dalam dan luar negeri), praktik otoriterisme politik dan
budaya tertutup, setelah 63 tahun proklamasi kemerdekaan? Dapatkah kita
berbicara tentang kemerdekaan, tentang budaya kemerdekaan, hari ini
secara leluasa bila semua prasyaratnya mengerut sampai titik nadir
seperti ucapan Bung Karno, “menjadi bangsa kuli dan kulinya
bangsa-bangsa. ” Bahkan ditawan fundamentalisme pasar dan budaya
tertutup.

Mimpi Indonesia adalah sebuah cita-cita tentang (1) pembebasan
nasional; (2) pembebasan sosial dan; (3) pembebasan individu. Indonesia
adalah sebuah cita-cita kemanusiaan, sebuah agregasi hasrat untuk bebas
menentukan kehidupan sendiri sebagai manusia, untuk menjadi manusia di
bumi manusia, terlepas dari hasrat membenci bangsa lain (xenophobia) ,
maupun untuk menindas dan mengisap manusia lain di muka bumi.

Oleh karena itu, Sutan Sjahrir (perdana menteri pertama Republik
Indonesia, 36 tahun) mengatakan dalam Perjuangan Kita bahkan Indonesia
bukanlah sebuah bangsa pada akhirnya, tetapi Indonesia adalah sebuah
cita-cita tentang keadilan dan kebenaran, karena, “Semua kebangsaan
harus menemui ajalnya di dalam suatu kemanusiaan yang meliputi seluruh
dunia menjadi satu bangsa, yaitu bangsa manusia yang hidup di dalam
pergaulan yang berdasarkan keadilan dan kebenaran, tidak lagi terbatas
oleh perasaan sempit yang memecah sesama manusia karena perbedaan warna
kulit, atau karena turunan darahnya berlainan.”* **

M. Fadjroel Rachman, Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara
Kesejahteraan [Pedoman Indonesia], peminat sastra dan kebudayaan.

Supriyadi

Tags

sangat membangkitkan keingintahuan ketika ada yang mengaku sebagai Supriyadi, konon pada peristiwa Blitar itu ada berita kalau Supriyadi kemudian menemui Tan Malaka di Bayah.

———

saya tertarik dengan keterangan kalau supriyadi kemudian mengungsi ke
bayah mencari tan malaka.

tidak ada keterangan baru dalam soal ini di buku From Jail to Jail
dari helen jarvis kecuali referensinya:

The most substantial uprising during the Japanese occupation of
Indonesia occured at Blitar, East Java, on 14 february 1945. The local
PETA unit rose under the leadership of Supriyadi. The revolt was
quickly smashed by the Japanese and six of the leaders were executed.
Supriyadi was never seen again and is presumed to hav been killed in
the fighting.

At the time,however, it was widely believed that he had gone into
hiding to wait a better time to strike and on the strength of this
belief, he was named as minister of defense of First Indonesian
cabinet (ref: kanahele, "japanese occupation" pp. 185-88; Japanese p
205 ; soekarno p 190ff ; anderson, some aspect pp46-47; kertapati,
sekitar pp 44-46 and notosusanto, pemberontakan tentera peta blitar
melawan djepang).

In possible confusion with Tan Malaka, one Japaneese source reports
that Supriyadi fled to Bayah, where he worked in the coal mine
(Miyamoto Shizuo, Jawa Shusen shoriki, p. 22).

Mengenang Bang Imad (1931-2008)

Tags

, ,

> > > Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim
> > > Habibie Bilang, Silakan Tembak Saya..atau..
> > > Nopember ini, ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) menggelar
> > > muktamarnya yang ketiga di Jakarta. Banyak yang menilai, hajatan
> besarnya
> > > kali ini tidak seberuntung ketika Soeharto dan Habibie masih
> berkuasa.
> > > Di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, keberadaan ICMI
> dianggap
> > > meredup, karena tokoh kontroversial itu secara terbuka membenci
> organisasi
> > > cendekiawan Muslim itu. Salah satu buktinya, ICMI `ditendang’
> dari kantor
> > > lamanya di Kebon Sirih oleh dua orang dekat Presiden, Menristek AS
> Hikam
> > > dan Menag Tolchah Hasan.
> > > Bagaimana kelanjutan kiprah organisasi tempat bermuaranya cendekiawan
> > > Muslim dari berbagai aliran ini? Sahid mewawancarai tokoh yang
> berperan
> > > besar di balik pendiriannya 11 tahun yang silam. Dr Muhammad
> `Imaduddin
> > > `Abdurrahim MSc, pendiri ICMI yang pernah dipenjara karena aktivitas
> > > dakwahnya.
> > > Di rumahnya, di kawasan Klender, Jakarta Timur, kepada wartawan Suara
> > > Hidayatullah, lelaki sepuh (69 tahun) yang biasa dipanggil Bang Imad
> ini
> > > menceritakan kisah-kisah di balik berdirinya ICMI yang belum banyak
> > > diketahui orang.
> > > Misalnya, latar belakang kebencian Gus Dur terhadap ICMI. Upaya
> Jenderal
> > > LB Moerdani menjegal ICMI. Pandangan-pandangannya terhadap Habibie.
> Juga
> > > obsesinya menaikkan Cak Nur sebagai calon Ketua ICMI dan bahkan calon
> > > Presiden 2004.
> > > Dibandingkan tokoh-tokoh lainnya, ustadz yang berguru pada Ismail
> Raji’
> > > al-Faruqi ini menjadi unik karena hampir tak pernah terjun ke
> hiruk-pikuk
> > > partai politik. Bahkan di masa rame-ramenya orang bikin partai
> sekalipun.
> > > Lucunya, selama 14 bulan ia pernah dipenjara karena dianggap
> membahayakan
> > > kekuasaan rejim Orde Baru. Alhamdulillah, di penjara ia menghasilkan
> buku
> > > Kuliah Tauhid yang terkenal itu, dan telah dicetak delapan kali.
> > > Minatnya lebih pada dakwah dan pengkaderan. Dalam hal ini, ruang dan
> waktu
> > > yang dijelajahinya merentang luas sekali. Berbagai tempat di
> Nusantara,
> > > Malaysia, Amerika, Timur Tengah pernah menjadi basisnya. Sahabatnya
> ada di
> > > mana-mana. Ia salah satu murid kesayangan Mohammad Natsir, juga guru
> dari
> > > Anwar Ibrahim.
> > > Ah, mengapa dia tiba-tiba yakin, Anwar akan dibebaskan sebelum bulan
> > > Ramadhan mendatang? Selamat menyimak perjalanan dan
> renungan-renungannya.
> > > Bagaimana Anda melihat peran dan posisi ICMI di bawah rejim saat ini?
> > > Nggak apa-apa. ICMI kan jalannya karena Allah. Yang penting ummat
> Islam
> > > mendukung.
> > > Tapi sejak dulu Abdurrahman Wahid menentang ICMI?
> > > Itu karena dia merasa tidak dilibatkan. Padahal, pertama kali saya
> > > membentuk ICMI di Kota Gede, Yogya (1988), sebetulnya dia mau ikut.
> Dia
> > > setuju saya tempatkan sebagai salah seorang ketua. Tapi waktu mau
> > > berangkat isterinya sakit. Dia minta maaf tak jadi ikut.
> > > Sayangnya waktu Habibie menentukan kepengurusannya, saya ada tugas ke
> > > Kuala Lumpur sehingga tak sempat beri tahu Gus Dur. Di situ mungkin
> dia
> > > marah karena tidak diikutkan. Dia mengkritik macam-macam. Sayangnya,
> oleh
> > > kawan-kawan (yang hadir di Simposium Cendekiawan Muslim) di Malang,
> > > kritik-kritik itu dibalas. Seharusnya memang tidak usah dilayani.
> > > Akhirnya Habibie datang padanya dan minta dia masuk. Terus Gus Dur
> bilang,
> > > Saya tidak menentang, tapi saya tidak mau masuk. Habibie tetap minta
> orang
> > > NU ada yang masuk. Akhirnya Gus Dur memberi Dr Muhammad Thohir, orang
> NU
> > > yang diangkat jadi asisten Habibie. Pak Ud (KH Yusuf Hasyim) dan KH
> Ali
> > > Yafie yang saya usulkan pun oleh Habibie dimasukkannya.
> > > Di masa Orde Baru, sejak pulang dari Amerika Serikat, Bang Imad
> mengaku
> > > sering dibuntuti intel. Rapat persiapan pembentukan ICMI di Yogya itu
> pun
> > > sempat diintai, sehingga akhirnya dibubarkan polisi saat mereka
> sedang
> > > sarapan pagi.
> > > Anda sendiri dekat dengan Gus Dur?
> > > Saya dengan dia sebetulnya tidak ada apa-apa. Dia baik saja dengan
> > > saya. Saya kenal dia pertama kali ketika dia masih tingkat dua di
> > > Al-Azhar. Saya pulang dari Amerika sehabis mengambil S-2 tahun 1966,
> > > mampir ke Kairo. Nah dia yang jadi guide saya, karena bahasa arabnya
> > > fasih. Dia tahu saya dari HMI. Sampai ICMI terbentuk pun saya masih
> baik.
> > > Dia memberi kritik, Dengan ICMI ini bagaimanapun Bang Imad sebetulnya
> > > sudah masuk ke lapangan politik walaupun tidak berpolitik.
> > > Waktu itu Anda tidak melihat sentimen lain di belakang sikap Gus Dur?
> > > Saya justru ingin merangkul semua orang sesuai dengan sumpah saya.
> Waktu
> > > NU keluar dari Masyumi tahun 1948 (saya masih remaja), saya
> bersumpah,
> > > hanya akan masuk organisasi Islam kalau ia merupakan persatuan
> seluruh
> > > unsur ummat.
> > > Mungkinkah kebencian Gus Dur terhadap ICMI karena dia dekat dengan
> Benny
> > > (Moerdani)?
> > > Barangkali begitu alasan dia. Saya tak tahu. Mungkin saja dia diancam
> > > Benny.
> > > Di Balik Layar
> > > Para pengamat cenderung mengatakan, ICMI merupakan alat Soeharto
> mendekati
> > > Islam. Bagaimana sebenarnya proses berdirinya?
> > > Sepulang dari Amerika saya berdiskusi dengan Aswab Mahasin tentang
> para
> > > cendikiawan Islam yang saling bermusuhan. Dia bilang, Bang Imad kan
> yang
> > > masih diterima oleh semua. Satukan mereka.
> > > Dia meyakinkan saya bahwa harus saya sendiri yang menyatukan, karena
> wadah
> > > cendikiawan Islam yang sudah pernah ada tidak bisa. Tahun 1989
> Kebetulan
> > > saya diundang ceramah oleh Universitas Brawijaya. Pulang dari sana
> > > anak-anak Unibraw yang dipimpin Erik Salman almarhum datang kepada
> saya
> > > dan minta saya pindah ke Malang untuk meramaikan Masjid di sana.
> Supaya
> > > Unibraw bisa seperti Salman, kata mereka. Waktu itu saya sudah
> dipecat
> > > dari ITB.
> > > Saya bilang tidak bisa. Kemudian saya kasih saran supaya bikin
> simposium
> > > yang mengundang Habibie. Mereka setuju tapi minta saya ikut membantu.
> > > Apa pertimbangan Anda menyarankan nama Habibie?
> > > Waktu bulan puasa saya kebetulan baca wawancara dia di majalah
> Kiblat. Tak
> > > berapa lama di majalah Business Review dia jadi cover story. Di sana
> dia
> > > dipuji-puji.
> > > Bagaimana Anda bertemu Habibie?
> > > Waktu Hari Raya, saya ke rumah Pak Alamsyah (Ratuprawiranegara,
> mantan
> > > menteri agama). Saya tanya pada Pak Alamsyah, siapa orang dekat
> Soeharto
> > > yang kuat komitmennya terhadap Islam dan bisa menyatukan ummat. Waktu
> saya
> > > tanyakan tentang Emil Salim dia nggak setuju. Begitu juga waktu saya
> > > ajukan Azwar Anas.
> > > Ah, jangan. Orang bodoh bisa kamu bikin pintar, orang miskin bisa
> kamu
> > > bikin kaya, tapi seseorang walaupun pintar dan kaya namun pengecut
> tidak
> > > ada gunanya. Apa yang kamu kerjakan ini perjuangan. Jangan diajak
> berjuang
> > > orang pengecut, katanya.
> > > Saya tanya lagi, Jadi siapa Pak kira-kira orang dekat Soeharto yang
> ada
> > > komitmen Islamnya? Itu, tuh anak Bugis, Habibie, jawabnya. Saya kan
> tidak
> > > kenal dia, jawab saya lagi. Nanti saya kenalkan, kata Pak Alamsyah.
> > > Akhirnya anak-anak Malang itu berusaha temui Habibie, tapi nggak bisa
> > > tembus juga. Mereka datang lagi pada saya. Saya sampaikan ini pada
> Pak
> > > Alamsyah. Terus dia tulis memo di atas kop surat pribadi, dengan
> tulisan
> > > tangan,Tolong terima Dr `Imaduddin yang ingin ngobrol dengan saudara.
> > > Tapi Salman dan teman-temannya kesulitan juga untuk menyampaikannya
> ke
> > > Habibie karena ajudannya, Napitupulu, yang Kristen selama ini selalu
> > > mempersulit. Akhirnya saya sarankan supaya mereka cari tahu di mana
> > > Habibie shalat Jumat. Kan ajudannya tak ikut masuk. Rupanya itu
> > > dilaksanakan.
> > > Awal Agustus 1989 waktu Habibie keluar masjid habis Jumat, dikejar
> oleh
> > > Salman dengan membawa surat Pak Alamsyah. Langsung dipanggil
> ajudannya
> > > untuk buat janji bertemu. Tulis, hari Kamis tanggal 23 jam 12 saya
> terima
> > > ini, Dr `Imaduddin, kata Habibie.
> > > Bagaimana suasana pertemuan itu?
> > > Saya membawa Mas Dawam (Rahardjo) bersama empat anak dari Malang
> > > itu. Waktu kami sampai masih ada tamu di ruangannya. Kami tunggu.
> Lebih
> > > kurang pukul satu kami diterima. Tapi kami disuruh makan dulu.
> > > Waktu mereka pergi makan, saya tidak ikut karena puasa. Dia bilang,
> saya
> > > juga puasa. Nah kesempatan berduaan itulah saya `hantam’ dia.
> Sebab,
> > > tadinya waktu ngobrol ramai-ramai kami tidak diberinya kesempatan.
> Hanya
> > > dia saja yang ngomong. Setelah mereka pergi makan saya masukkan
> ayat-ayat
> > > Quran, tak-tak-tak. Dia diam saja.
> > > Kalimat saya tidak putus, tak saya beri dia kesempatan ngomong. Saya
> pikir
> > > waktu itu, dia ini memang harus dibombardir terus. Saya katakan,
> Ummat ini
> > > sudah dipinggirkan. Kalau Saudara tidak membela, tidak ada yang lain
> yang
> > > bisa membela, karena Saudara punya kapasitas. Saya meminta dia
> memimpin
> > > organisasi cendikiawan yang mau dibuat dalam simposium itu.
> > > Akhirnya dia bilang, Saya mau, saya mau, memang saya bertanggung
> jawab
> > > untuk ummat ini. Tapi kami disuruhnya dulu membuat proposal untuk
> > > disampaikan kepada presiden, karena dia merasa sebagai pembantu
> presiden
> > > tidak bisa memegang jabatan di luar tanpa ijin presiden.
> > > Saya kan lebih tua dari dia. Dia panggil saya Bapak. Katanya,
> Curahkan apa
> > > yang Bapak sampaikan ini dalam surat, dengan usul saya sebagai ketua
> > > organisasi ini. Tapi saya minta dukungan sedikitnya 20 tandatangan
> > > cendikiawan Muslim yang S-3 termasuk Cak Nur (Nurcholish Madjid).
> > > Saya buatlah surat itu dengan beberapa kali perubahan. Baru setelah
> itu
> > > saya cari tandatangan. Ketika didatangi para mahasiswa, Cak Nur
> tadinya
> > > nggak mau tanda tangan karena rencana itu berbau politik. Dia tanya
> pada
> > > saya di telepon, siapa di belakang ini. Saya bilang, saya yang ada di
> > > belakang proyek ini. Akhirnya dia mau ha..ha..ha… Setelah Cak Nur,
> > > barulah terakhir saya tanda tangan. Alhamdulillah terkumpul 49
> > > tandatangan, 43 diantaranya S-3.
> > > Jadi gagasan awal berdirinya ICMI berasal dari Anda ya?
> > > Saya memang yang memberi tugas kepada anak-anak Malang itu supaya
> > > mengadakan simposium di Unibraw yang mengupas tentang sumbangsih
> > > Cendikiawan muslim dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
> > > Waktu itu key note speaker-nya saya suruh anak-anak untuk minta
> Habibie
> > > saja. Rencana saya, sesudah dia bicara di simposium itu, pada session
> > > berikutnya saya akan membakar apa yang dikatakan Habibie dengan
> menegaskan
> > > pentingnya para cendekiawan Islam bersatu dan mengkampanyekan bahwa
> dialah
> > > yang tepat untuk memimpin wadah cendekiawan Muslim itu.
> > > Tapi Habibie minta pernyataan dukungan itu untuk disampaikan kepada
> > > Soeharto. Alhamdulillah, Soeharto juga mendukung, bahkan dia mau
> membiayai
> > > simposium itu. Dia juga bilang bersedia membuka acara itu.
> > > Rupanya Benny Moerdani ketakutan. Tanggal 6 Desember, hari Kamis
> tahun
> > > 1990, jam 7 pagi acara mau dibuka dan Soeharto akan sampai pakai
> > > helikopter dari Surabaya ke Malang. Tapi sampai malamnya, Kapolda
> Jatim
> > > belum kasih surat jaminan keamanan Soeharto sesuai undang-undang.
> > > Rapat panitia sampai jam 12 malam belum ada keputusan. Malam itu kaki
> > > tangan Benny, entah kolonel siapa namanya, berusaha membujuk Habibie
> > > supaya acara itu digagalkan dengan alasan sektarian. Sampai jam 12
> malam,
> > > Habibie jengkel dengan orang itu, akhirnya keluarlah Bugisnya,
> `’Silakan
> > > tembak saya di tempat, kalau tidak maka saya akan teruskan program
> > > ini.”
> > > Orang itu akhirnya mundur. Akhirnya jam dua pagi Habibie menelpon
> Kapolri,
> > > Pak (Jenderal) M Sanusi di Jakarta, minta jaminan keamanan bagi
> > > Soeharto. Nah Kapolri lalu menelpon Kapolda, perintahkan keamanan
> untuk
> > > Soeharto. Itulah sebabnya Benny menganggap saya The Most Dangerous
> > > Man. Itu dikatakannya kepada William Liddle, ahli politik Indonesia.
> Si
> > > Liddle yang bilang pada saya.
> > > Karena peran dan jasanya yang dianggap cukup besar, baik dalam dakwah
> > > maupun pendirian ICMI, tahun 1999 pengagum Umar bin Khatab itu pernah
> > > dianugerahi Bintang Mahaputra Adhipradana oleh Habibie, presiden RI
> ketika
> > > itu.
> > > Apa yang ada di benak Soeharto ketika itu sampai dia mau mendukung
> acara
> > > tersebut?
> > > Yang saya tahu Habibie itu sangat dekat dengan Soeharto. Kalau dia
> datang,
> > > itu bicaranya tidak satu jam, tapi bisa tiga jam, karena dia sudah
> > > dianggapnya anak oleh Soeharto.
> > > Ketika ICMI sedang jaya, Anda pernah berhubungan dengan Soeharto?
> > > Tidak. Tapi kata Habibie, Soeharto yang minta saya mewakili ICMI
> menjadi
> > > ketua di IIFTIHAR (International Islamic Federation for Technology
> and
> > > Human Resource Developent).
> > > ICMI dulu tidak bisa menghindar dari permainan politik yang dilakukan
> > > orang-orang di dalamnya. Bisa Anda jelaskan?
> > > Waktu itu, Habibie selain pemerintah juga kan pembina Golkar. Jadi
> > > kecintaannya kepada Islam membuatnya ingin memajukan pemimpin dari
> > > kalangan Islam di tubuh Golkar.
> > > Dia beralasan, kalau 90 persen Islam, maka 90 persen juga yang
> memegang
> > > jabatan. Ketika Frans Seda tidak setuju, dia bilang, Katanya
> > > demokrasi. Sumarlin juga pernah marah sama dia karena begitu. Pernah
> dia
> > > mengirim orang IPTN untuk beasiswa ke Al-Azhar. Alasan dia, IPTN kan
> > > banyak buruhnya muslim, mereka butuh pembimbing agama Indonesia. Ini
> bukan
> > > uang pemerintah, tapi uang saya pribadi, dia bilang begitu.
> > > Pencalonan Cak Nur
> > > Sejak Habibie jatuh, ICMI terkena dampaknya, perannya pun makin
> surut. Apa
> > > rencana Anda ke depan?
> > > Saya mengharapkan, kalau berhasil, kongres ICMI tanggal 9-12 November
> > > nanti, saya akan mulai kampanye supaya Cak Nur terpilih jadi ketua
> ICMI
> > > yang baru. Tak bisa disangkal, di Indonesia ini dia yang paling
> > > alim. Kalau dia yang jadi, dia suruh saya apa saja, nggak usah kasih
> saya
> > > jabatan, kerja saja, saya mau, dalam rangka mencetak kader-kader baru
> yang
> > > akan kita lempar di pasar politik. Terserah mereka mau ikut di partai
> > > mana.
> > > Apakah dia bersedia?
> > > Saya berkesempatan ngomong sama dia Mei kemarin. Kami ditakdirkan
> Tuhan
> > > dua hari dua malam bersama-sama di Taipei dalam satu undangan yang
> > > sama. Karena hotelnya sama kami ke mana-mana selalu bersama.
> > > Sepanjang itulah saya jejalkan dia, You harus siap. Dia menolak
> karena
> > > katanya akan ada orang yang tidak suka. Saya bilang, orang yang nggak
> suka
> > > itu urusan saya, yang penting kan kita mencari ridha Allah. Apa you
> tega,
> > > nanti ummat ini jadi hancur. Tidak ada pemimpin seperti you. Yang
> pandai
> > > banyak, tapi yang ikhlas itu you contohnya.
> > > Akhirnya karena saya keluarkan ayat-ayat dan hadits nggak berkutik
> > > dia. You jadi ketua ICMI. Konsentrasi mencetak kader selama empat
> tahun
> > > ini. Tahun 2004 angkat saya jadi manajer kampanye. Saya akan kampanye
> > > supaya you jadi presiden. (Bang Imad tersenyum)
> > > Katanya, Ah Bang Imad ini, ada-ada saja.
> > > Sudah, jangan bantah, ini demi rakyat, saya bisa baca hati rakyat,
> Saya
> > > bilang begitu dia diam saja.
> > > Tapi kan sudah ada pernyataan dari sejumlah pengurus ICMI, bahwa
> Habibie
> > > masih pantas memimpin?
> > > Iya, tapi dianya nggak mau. Pulang ke sini saja masih belum mau. Dia
> masih
> > > di Jerman. Dia itu orang cerdas dan ikhlas. Jarang ada kecerdasan
> otak dan
> > > keikhlasan hati bisa bertemu di satu pribadi.
> > > Waktu pemilihan Wakil Presiden tahun 1997, yang meyakinkan supaya dia
> mau
> > > dicalonkan Soeharto itu kebetulan saya. Sejak tahun 1996 saya sudah
> mulai
> > > meyakinkan dia. Lebih khusus lagi ketika sama-sama dari Jeddah,
> sepuluh
> > > jam dia berdiskusi sama saya.
> > > Wajib hukumnya, berdosa kalau you tolak, rakyat sudah menghendaki,
> kata
> > > saya.
> > > Saya sudah sangat dekat dengan dia waktu itu.
> > > Kemudian waktu saya dibawanya ke Brunei, pulang pergi lima jam saya
> charge
> > > lagi dia. Terus dia bilang, Bagaimana kata Tuhan lah nanti. Saya
> bilang
> > > lagi, Kalau rakyat menghendaki, Tuhan menghendaki.
> > > Dipenjara
> > > Bagaimana awalnya hingga Anda bisa masuk penjara?
> > > Saya melakukan aksi pengkaderan dengan menggelar training-training
> dakwah
> > > di Salman. Saya pulang dari Malaysia kan akhir 1973. Awal 74-nya saya
> > > mulai mengadakan LMD (Latihan Mujahid Dakwah). Semua fasilitas Salman
> saya
> > > manfaatkan betul-betul. Hampir tiap bulan selalu ada training.
> > > Bang Imad pernah dipinjam dari ITB oleh pemerintah Malaysia pada
> 1971-1973
> > > untuk membangun pendidikan tinggi di sana, karena ketika itu
> Perguruan
> > > Tinggi di Malaysia hanya setingkat D3. Kerja sama itu terjadi secara
> > > kebetulan, yakni ketika Dirjen Perguruan Tinggi Malaysia ketika itu,
> Datuk
> > > Hamzah terkesan dengan khutbah Jumat yang disampaikan Bang Imad di
> Salman.
> > > Padahal tidak ada gerakan politiknya, tapi mengapa Anda dianggap
> berbahaya
> > > hingga akhirnya ditangkap dan dipenjara?
> > > Ini kan karena Soedomo dan Benny yang tidak suka Islam.
> > > Sepulangnya dari Amerika tahun 1966, Bang Imad diangkat jadi Ketua
> Lembaga
> > > Dakwah Mahasiswa Islam di PB HMI. Di situlah ia menjadi sangat dekat
> > > dengan Ketuanya Nurcholish Madjid, dan banyak berkeliling Indonesia
> untuk
> > > memberi training dakwah.
> > > Setelah selesai dari HMI tahun 1969, ia diangkat menjadi imam di
> masjid
> > > Salman ITB. Waktu itu Salman sudah mulai berbentuk. Sejak itulah Bang
> Imad
> > > mempergunakan masjid itu sebagai basis pengkaderan. Cuma bedanya,
> kalau di
> > > HMI namanya LKD, Latihan Kader Dakwah, di Salman namanya LMD, Latihan
> > > Mujahid Dakwah.
> > > Oleh rejim militer waktu itu, rupanya kegiatan Bang `Imad dianggap
> > > mengancam kekuasaan. Maka ia dipenjara tanpa proses pengadilan dari
> Mei
> > > 1978 sampai Juli 1979 di LP Nirbaya. Ia pun sampai harus dipecat dari
> > > ITB. Penahanannya jadi berita sampul di majalah IMPACT International
> > > terbitan London, waktu itu.
> > > Baik pemenjaraan maupun pemecatannya tak pernah punya alasan yang
> jelas
> > > hingga hari ini. Jaksa pun menurut Bang Imad sampai bingung membuat
> > > dakwaan. Tapi menurutnya bisa jadi karena ceramah-ceramahnya yang
> sangat
> > > keras terhadap Soeharto serta yang membangkitkan semangat
> anti-dominasi
> > > ekonomi Cina dan Kristenisasi. Saya memang sempat menyebut Soeharto
> > > Fir’aun, katanya. Yang unik, julukan itu disematkan kepada
> Soeharto karena
> > > ia berhasil menyusup ke makam yang disiapkan Soeharto untuk diri dan
> > > keluarganya di Imogiri. Areal pemakaman berharga ratusan juta itu,
> dengan
> > > tiang berlapis emas, difoto oleh Bang Imad, dan tersebar di majalah
> > > ITB. Yang bikin makam sebelum mati kan Fir’aun, tuturnya. Ia
> akhirnya
> > > dibebaskan, setelah rektor ITB waktu itu Prof Doddy Tisna Amidjaja
> memberi
> > > jaminan.
> > > Bagaimana reaksi sesama aktivis dan tokoh-tokoh Islam waktu itu?
> > > Nggak ada itu. Semua pada ketakutan. Hanya Pak Natsir yang mengirim
> surat
> > > ke luar negeri sehingga banyak dukungan bagi saya dari luar, Saudi,
> > > Hongkong, Inggris, Amerika, Australia. Media-media muslim di sana
> ikut
> > > merespon penangkapan saya.
> > > Bagaimana perasaan Anda saat dipenjara?
> > > Mulanya saya sempat kesal juga, tapi namanya juga perjuangan.
> > > Apa saja kegiatan Anda selama di penjara?
> > > Saya menulis buku Kuliah Tauhid. Saya banyak menghafal ayat-ayat
> > > Quran. Setiap hari saya baca Quran satu juz berikut tafsirnya. Saya
> juga
> > > bergaul dengan napol seperti Subandrio. Dia malah belajar Islam
> dengan
> > > saya selama setahun.
> > > Kegiatan pengkaderan menjadi concern Bang Imad sejak dulu, karena ia
> yakin
> > > hal itu lebih besar pengaruhnya ketimbang aksi jangka pendek.
> Keyakinan
> > > itu, akunya, diperoleh dari nasihat mantan Wapres RI pertama,
> Mohammad
> > > Hatta yang pernah memanggilnya bersama sejumlah pemuda Islam.
> > > Saya fanatik pada pesan almarhum Pak Hatta, bahwa perjuangan yang
> > > seharusnya adalah dengan pendidikan. Pesan itu disampaikan langsung
> ketika
> > > saya baru lulus ITB, kata anggota Pengurus Pusat Dewan Dakwah
> Islamiyah
> > > Indonesia (DDII) ini. Sekeluar dari penjara tidak ada universitas
> negeri
> > > yang berani mengundang Bang Imad. Unibraw-lah yang pertama kali
> > > mengundang. UI pun pernah mengundang tiba-tiba dibatalkan oleh
> almarhum
> > > Prof Daud Ali. Ceramah di Unibraw itulah yang kemudian menjadi titik
> awal
> > > perjuangan berikutnya dengan mendirikan ICMI.
> > > Dinasihati Bung Hatta
> > > Bagaimana isi pesan Bung Hatta itu?
> > > Beliau bilang, `’Jangan dibayangkan kita ini seperti Amerika dan
> Eropa
> > > Barat. Mereka itu kan sudah ratusan tahun merdeka. Kita kan baru
> tujuh
> > > belas tahun. Rakyat kita masih banyak yang buta huruf, terutama orang
> > > Islamnya, karena dibikin bodoh oleh Belanda. Rakyat ini belum tahu
> apa
> > > kewajiban dan haknya.
> > > Kata Bung Hatta, selama rakyat belum tahu hak dan kewajibannya kita
> tidak
> > > bisa berdemokrasi. Oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang adalah
> > > bagaimana mendidiknya supaya mengerti hak dan tanggung jawabnya.
> > > Saya dengar kalian mau bikin masjid di ITB. Saya gembira, itulah yang
> saya
> > > mau, karena kita membutuhkan pemimpin yang jujur, bertaqwa dan
> > > ikhlas.”
> > > Pesan Bung Hatta itu saya pegang betul.
> > > Bagaimana Anda bisa bertemu Pak Hatta?
> > > Dia yang minta. Tahun 1962, ketika saya baru jadi dosen, suatu hari
> saya
> > > ditelepon oleh Pak Kasoem, pemilik pabrik kaca mata yang sekarang
> > > diteruskan anaknya, Lily Kasoem. Saya diminta mengumpulkan sejumlah
> pemuda
> > > Islam. Katanya, Pak Hatta, yang waktu itu baru berhenti dari
> jabatannya
> > > Wakil Presiden, mau ketemu.
> > > Datanglah kami waktu itu bertujuh, termasuk Hussein Umar dari PII,
> > > dijemput pakai minibis ke Ujung Berung, tempat peristirahatan Pak
> > > Hatta. Saya duduk berdekatan dengan beliau. Tiba-tiba Pak Kasoem
> menunjuk
> > > saya jadi juru bicara. Langsung saya diberi kesempatan pertama
> bicara.
> > > Orang Medan kan nggak kenal basa-basi. Saya ngomong langsung,
> `’Kami
> > > pemuda Islam sangat kecewa kepada Bapak.”
> `’Kenapa,”
> > > kata Pak
> > > Hatta. `’Kami anggap Bapak tidak bertanggung jawab karena Bapak
> > > meninggalkan kursi wapres. Padahal semua tahu, kalau Soekarno itu
> tidak
> > > mau mendengar siapapun kecuali Bapak. Sekarang setelah Bapak
> tinggalkan,
> > > Soekarno merajalela. Negara jadi begini, begitu kata saya.
> > > Saya pikir dia marah, nggak tahunya dia malah senyum-senyum.
> `’Saya bangga
> > > kalian ngerti juga politik, tandanya kalian peduli dengan nasib
> > > bangsa,”
> > > katanya. Baru setelah itu beliau menyampaikan pesan tadi.
> > > Apa jawaban Bung Hatta pada kekecewaan itu?
> > > Kata Bung Hatta, `’Nggak bisa cocok saya dengan Soekarno. Biar
> saya beri
> > > dia kesempatan, mau diapakan negara ini.” Kemudian saya
> bantah
> > > lagi,”Tapi kan sekarang Soekarno jadi diktator.”
> > > Dia bilang lagi, `’Itu karena rakyatnya masih bodoh. Dia akan
> berubah
> > > kalau rakyat bisa kalian didik. Jadi tugas kalian sekarang adalah
> > > bagaimana mendidik rakyat. Satukan ummat ini dengan kecerdasan yang
> > > memadai. Jadi jangan ke politik dulu sekarang ini, tapi melatih dan
> > > mendidik dulu.” Ucapan Pak Hatta ini merasuk ke dalam otak
> dan hati
> > > saya. Itu yang saya pegang.
> > > Puluhan tahun Bang Imad melakukan kaderisasi formal dan informal di
> > > kalangan pemuda, khususnya di Masjid Salman ITB. Kaderisasi itu
> banyak
> > > diminati para mahasiswa hingga mempengaruhi perkembangan dakwah di
> > > berbagai kampus lainnya di Indonesia saat itu. Sebabnya adalah, visi
> > > dakwah Bang Imad banyak difokuskan pada pembentukan Tauhid sehingga
> banyak
> > > melahirkan kader-kader militan.
> > > Kuliah Tauhid
> > > Visi pengkaderan yang Anda lakukan sangat kental fokusnya pada
> tauhid. Apa
> > > latar belakangnya?
> > > Rasulullah 23 tahun berdakwah, 13 tahunnya konsentrasi pada tauhid.
> Ini
> > > pegangan saya. Makanya saya yakin, orang yang belum beres tauhidnya
> masuk
> > > ke politik, dia akan goyang.
> > > Selain itu ayah kan tamatan Al-Azhar. Sejak saya kecil, dia selalu
> > > menekankan masalah tauhid kepada saya. Sementara, kalau soal fiqih
> akan
> > > dijelaskan kalau ditanya saja. Menurut dia, tauhid itu yang bisa
> membentuk
> > > pribadi. Saya pun yakin dengan doktrin ini.
> > > Karena visi dakwah tersebut, oleh Mahathir Bang Imad pernah dikontrak
> > > sejak 1987-1994 untuk membangun etos kerja para pejabat Malaysia
> dengan
> > > memberikan pembekalan tauhid. Dalam pandangannya, bagaimana seseorang
> > > bertauhid bisa dilihat dari urusan terbesar, seperti mengatur negara,
> > > sampai yang kecil-kecil seperti soal rokok.
> > > Anda mengharamkan rokok. Kenapa?
> > > Coba, ilah itu apa artinya? Ada berapa kali perkataan ilah dalam
> > > al-Quran? Saya sudah hitung, semuanya ada 147 kali, baik yang mufrad
> > > maupun yang jamak. Dan artinya macam-macam, dari yang kongkrit sampai
> yang
> > > abstrak.
> > > Contoh yang abstrak adalah orang yang meng-ilah-kan hawa
> > > nafsunya. Afaraayta manittakhadza ilaahahu hawaahu. Hawa terhadap
> rokok
> > > juga bisa jadi ilah. Sesuatu yang mengikat kita itulah ilah. Orang
> yang
> > > mengerti Laa ilaaha illallah tidak akan mau dipengaruhi dan diikat
> oleh
> > > siapapun dan apapun, termasuk oleh rokok.
> > > Meski anti rokok, interaksi Bang Imad dengan kawan-kawannya yang
> perokok
> > > tetap baik. Mereka sangat menghargai prinsip Bang Imad itu. Sebagai
> contoh
> > > adalah AM Saefuddin, sahabat dekatnya di Dewan Dakwah. Kabarnya,
> bekas
> > > menteri yang perokok berat itu segan merokok di depan Bang Imad.
> > > Selain soal rokok, pemahaman tentang Tauhid membuat Anda menjadi
> kritis
> > > terhadap penguasa ya?
> > > Dulu Soeharto kan memper-ilah dirinya, sama seperti Fir’aun. Itu
> sudah
> > > syirik.
> > > Kabarnya sesudah di penjara Anda mengaku belajar dan mulai mengubah
> > > pendekatan terhadap Soeharto?
> > > Saya menyadari akhirnya, bahwa yang melawan Namruj kan Ibrahim.
> Ibrahim
> > > itu anak siapa? Dia anak Azar, tangan kanannya Namruj. Jadi orang
> Istana
> > > juga yang menjatuhkannya. Begitu juga dengan Fir’aun yang
> dijatuhkan
> > > Musa. Musa kan sejak bayi dibesarkan di Istana Fir’aun. Orang
> dalam
> > > juga. Kemudian saya mencoba mencari figur di rejim Orba yang bisa
> membawa
> > > perubahan. Muncullah Habibie melalui ICMI yang saya dirikan bersama
> > > teman-teman itu.
> > > Tak Berpolitik
> > > Selama ini Anda paling konsisten untuk tidak bergabung di partai
> > > politik. Mengapa?
> > > Saya menganggap politik praktis itu tidak mungkin dijalankan oleh
> orang
> > > yang tauhidnya belum beres, karena yang akan mereka cari kan
> kedudukan,
> > > bukan kebenaran.
> > > Dulu waktu Masyumi pecah, NU keluar tahun 48, waktu itu saya mau naik
> > > kelas III (SMU), saya bersumpah, Demi Allah saya tidak akan bergabung
> > > dengan satu partai pun, sebelum partai Islam bersatu. Saya hanya
> memegang
> > > ini saja. Padahal Masyumi adalah satu-satunya partai Islam waktu itu.
> > > Dalam berorganisasi pun saya sempat kecewa. Ketika SMP dan SMA kan
> saya di
> > > PII. Di ITB saya di HMI. Waktu itu saya gembira sekali karena
> organisasi
> > > mahasiswa Islam cuma satu. Sampai ketika tahun 60-an, saya lupa
> persisnya,
> > > Mahbub Junaedi dari NU, keluar dari HMI dan mendirikan PMII
> (Pergerakan
> > > Mahasiswa Islam Indonesia).
> > > Padahal waktu itu dia wakil ketua di PB HMI. Saya kecewa sekali, tapi
> > > bagaimana lagi. Nah saya baru berorganisasi lagi di ICMI. Di ICMI
> saya
> > > berbahagia, karena ada semua, tokoh NU masuk, Muhammadiyah dan
> lain-lain.
> > > Bang Imad juga pernah masuk Hizbullah, laskar rakyat bentukan
> > > Masyumi. Karenanya ia pernah dilatih jadi tentara sampai mendapat
> pangkat
> > > sersan satu. Ia sempat juga bergerilya melawan Belanda, Tapi yang
> berhasil
> > > ketika mencuri senjata Jepang, kata pria berkaca mata ini.
> > > Menjelang Pemilu 1992, Pak Natsir, pernah berfatwa untuk mendukung
> > > PPP. Mengapa Anda tidak menganggap itu sebagai instruksi?
> > > Waktu itu PPP tidak jelas, karena masih mengekor kepada
> > > Soeharto. Sementara saya orangnya tidak bisa begitu. Itu watak dan
> > > keyakinan saya, terserah orang suka atau tidak.
> > > Saya berpegang pada hadist Nabi, `’Kami tidak akan memberikan
> jabatan
> > > kepada orang yang menginginkan jabatan itu.” Ada juga hadits
> Qudsi
> > > yang
> > > mengatakan, `’Kalau engkau menerima jabatan karena dipaksa maka
> Aku akan
> > > mendampingi engkau. Tapi kalau engkau menerima jabatan karena engkau
> > > menginginkannya, maka aku akan biarkan engkau sendirian dengan
> jabatan
> > > itu.”
> > > Jadi saya takut sekali. Kalau dipaksakan, oke saya terima. Kalau
> misalnya
> > > Pemilu nanti rakyat memilih saya langsung jadi presiden, mengapa
> > > tidak. Tapi seperti saya bilang tadi sekarang ini saya sedang giat
> > > mempromosikan Cak Nur jadi presiden, walaupun tidak lewat lapangan
> > > politik.
> > > Mengapa Cak Nur?
> > > Dia orang ikhlas dan pengetahuannya dalam. Saya tidak melihat orang
> yang
> > > lebih baik dari dia.
> > > Usia Anda sekarang 69. Tahun 2004 nanti apakah Anda masih sanggup
> menjadi
> > > manajer kampanye Cak Nur?
> > > Kalau sehat, Insya Allah. Kalau untuk dia saya akan mendukung terus.
> > > Bang Imad pernah mengalami sakit parah sejak Juli 1997 sampai Oktober
> > > 1998. Saat itu jantungnya harus dioperasi. Karenanya, Saya hanya bisa
> > > menyaksikan kejatuhan Soeharto melalui TV saja.
> > > Soeharto dan Anwar Ibrahim
> > > Tentang pengadilan Soeharto, sebagai orang yang pernah dianggap
> musuhnya,
> > > bagaimana sikap Anda?
> > > Anaknya saja yang dibicarakan. Kasih hukuman yang berat. Yang penting
> > > sebetulnya kembalikan uang milik rakyat itu. Kan tidak sedikit itu,
> 30
> > > miliar dolar (menurut majalah Forbes 45 miliar dolar). Kembali
> separohnya
> > > saja sudah untung betul. Anggaran belanja kita kan tidak sampai
> > > segitu. Kalau dia mau mengembalikan itu, sudahlah maafkan saja.
> > > Tapi, maaf juga kan harus lewat proses pengadilan?
> > > Diadili juga tidak bisa. Mau apa lagi. Dokter bilang dia sudah
> permanen
> > > sakit.
> > > Ngomong-ngomong, sebagai orang yang dekat dengan Anwar, bagaimana
> kondisi
> > > terakhirnya?
> > > Berbagai cara sudah kita lakukan supaya dia bebas. Ada yang mengajak
> cara
> > > spiritual dengan doa bersama juga saya tempuh. Karena ada hadits
> > > Rasulullah Saw, kalau 40 orang berdoa dengan permintaan yang sama,
> insya
> > > Allah diijabah.
> > > Ada seorang kiai yang mengerahkan 40 santrinya untuk berdoa bagi
> kebebasan
> > > Anwar. Tiga hari yang lalu saya ditelpon, insya Allah sebelum puasa
> bebas
> > > dia. Itu kekuatan doa.
> > > Semangat Jihad
> > > Latar belakang Anda adalah ilmu elektronika. Dari mana Anda belajar
> agama?
> > > Sejak kecil setiap habis subuh ayah mengajarkan Quran dan tafsirnya.
> Dari
> > > surat al-Fatihah sampai tiga puluh juz. Itu sedemikian kuat tertanam,
> > > tidak lupa sampai sekarang, Alhamdulillah. Itulah bekal saya
> berdakwah dan
> > > berjihad.
> > > H Abdul Rahim Abdullah, ayah kandung Bang Imad adalah seorang ulama
> > > tamatan Al-Azhar yang pernah diangkat dan diasuh oleh mufti
> kesultanan
> > > Langkat. Ibunya, Syaifatul Akmal, adalah cucu Sekretaris Sultan
> Langkat
> > > yang pernah menjadi murid ayahnya sebelum dikawini. Darah keulamaan
> itulah
> > > yang menurun kepada Bang Imad, anak kelima dari sembilan bersaudara.
> > > Apa yang membuat Anda sangat bersemangat dalam dakwah dan jihad?
> > > Dulu kisah perang Uhud sering diceritakan ayah saya. Dalam perang itu
> ada
> > > remaja yang turut berjihad di usia belia dan berhasil meraih syahid.
> Bagi
> > > saya cerita itu sangat mendalam pengaruhnya. Jadi saya ingin seperti
> itu
> > > waktu itu. Apalagi kondisi waktu saya kecil, memang memungkinkan saya
> > > punya semangat itu.
> > > Sesudah Proklamasi, Belanda merebut kampung kami di Tanjungpura. Ayah
> saya
> > > sebagai ketua Masyumi jadi incaran Belanda. Sehingga kami semua lari
> masuk
> > > hutan, dekat pinggir laut. Selama seminggu kami bersembunyi hanya
> makan
> > > nangka muda, daun pakis dan buah nipah. Mana sedang bulan puasa.
> Sejak itu
> > > semangat juang saya terbentuk.
> > > Sampai-sampai karena ingin ikut berjuang, di Hizbullah saya berbohong
> > > tentang umur saya ketika mendaftar. Waktu ditanya saya bilang,
> `’tujuh
> > > belas”. Padahal umur saya baru lima belas. Saya pikir, kan
> ketua
> > > Masyuminya ayah saya. Akhirnya saya diterima.
> > > Tapi ketika dia tahu saya masuk Hizbullah dengan berbohong, dia tidak
> > > marah. Justru dia malah tersenyum dan membiarkan saya ikut. Padahal
> dia
> > > orangnya keras sekali. Itu pertama kali seumur hidup, saya berbohong
> tapi
> > > tidak dimarahi.
> > > Selain ayah, siapa guru yang waktu itu berpengaruh juga?
> > > Ada yang berkesan saat itu. Sepulang gerilya saya ditanya oleh guru
> > > saya. Abdullah namanya. `’Mau apa kamu ikut perang”.
> `’Mau
> > > merdeka,”
> > > kata saya. `’Kalau sudah merdeka nanti, yang begini tidak perlu
> lagi. Yang
> > > diperlukan nanti adalah insinyur yang bisa membangun
> negara,”
> > > katanya.
> > > Sejak itu saya balik lagi untuk sekolah. Guru yang mengajar tinggal
> dua
> > > orang, salah satunya Pak Abdullah tadi. Yang lain keterusan jadi
> > > tentara. Makanya saya sempat diminta mengajar kelas di bawah saya.
> Itu
> > > pengalaman pertama saya mengajar.
> > > Sejak kecil bakat kecerdasan Bang Imad memang sangat menonjol,
> terutama di
> > > bidang eksakta. Ketika pertama kali datang ke Jakarta, setelah lulus
> dari
> > > SMA Negeri Langkat, tahun 1953, ia langsung diberi beasiswa oleh
> > > Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan untuk belajar di ITB
> > > karena angka di rapornya rata-rata delapan dan sembilan. Pria yang
> lahir
> > > 21 April 1931 itu lulus ITB tahun 1961 dan pada Januari tahun
> berikutnya
> > > oleh profesornya, Tubagus Sulaiman ia langsung diminta mengajar di
> > > ITB. Padahal ia baru diwisuda bulan April.
> > > Yang unik, di almamaternya itu, ia justru diminta mengajar kuliah
> agama
> > > Islam bukan Teknik Elektro, jurusan yang diambilnya ketika kuliah.
> Itu
> > > karena latar belakangnya yang HMI dianggap layak. Apalagi mata kuliah
> > > (MK) yang dipelopori oleh dekannya itu ditetapkan menjadi MK wajib
> seluruh
> > > perguruan tinggi di Indonesia oleh Menteri PPK waktu itu, Prof.
> Thayib
> > > Hadiwidjaja. Karena keenceran otaknya juga, takdir Allah di tahun
> 1963,
> > > Bang Imad mendapat beasiswa dari pemerintah untuk meneruskan belajar
> di
> > > bidang Elektro Arus Kuat di IOWA State University.
> > > Begitu pula sekeluar dari penjara, tahun 1980, mendapat beasiswa dari
> > > pemerintah Arab Saudi untuk mengambil gelar doktor di universitas
> yang
> > > sama. Sayangnya, ketika selesai S-3, tahun 1984 ia dilarang pulang
> oleh
> > > Pak Natsir karena meledaknya Peristiwa Priok.
> > > Keluarga
> > > Anda menikah lagi diusia senja. Apa motivasinya?
> > > Sebetulnya, ceritanya tidak sengaja. Dimulai ketika saya sedang
> membantu
> > > seorang anak gadis yang baru lulus SMA dan ingin mencari beasiswa ke
> > > Malaysia.
> > > Waktu itu dia sempat mengadukan keadaannya setelah ditinggal ayahnya
> > > sambil menangis. Saya pun terharu, karena teringat mendiang ayah dan
> ibu
> > > saya yang yatim ketika kecil.
> > > Apalagi saya berpikir, kalau saya mengurus orang yang bukan muhrim
> saya,
> > > apa kata orang nanti. Jadi untuk menjaga fitnah saya memutuskan untuk
> > > menikahi ibunya. Jadi ini tidak semata-mata pertimbangan biologis.
> Usia
> > > saya waktu itu kan sudah 65 tahun.
> > > Bang Imad juga tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan itu.
> Karena
> > > itu, sebelumnya ia minta pertimbangan dari sahabatnya, Prof Ali Yafie
> dan
> > > Dr Sugiat.
> > > Baru kemudian keputusan itu direalisasikan pada 4 Agustus 1996, ia
> > > menikahi Leila Cutsiah, janda beranak empat yang kini sudah
> memberinya
> > > seorang putra, Muhammad Umar Imaduddin (3,5).
> > > Saya ingin dia jadi Umar abad 21, tandas ayah yang lebih tampak
> seperti
> > > kakek dari anak kesayangannya itu. Umar, yang ketika ditemui Sahid
> tampak
> > > lincah dan cerdas itu, bagi Bang Imad memang melengkapi kebahagiaan
> > > bersama tiga anaknya yang didapat dari istri pertama, Siti Amanah.
> > > Dari istri yang dinikahinya tahun 1967 itu ia dikaruniai Nur Halisah
> MBA,
> > > Ir. Sakinah, dan Rahimah MA yang tinggal di Cijantung. Di hari tuanya
> > > kini, Bang Imad selain aktif di DDII, ia juga masih memimpin Yaasin
> > > (Yayasan Pembina Sari Insan), sebuah lembaga pengembangan dan
> manajemen
> > > sumberdaya manusia di Jakarta.
> > > Mudah-mudahan di hari tuanya yang lebih senggang, Bang `Imad sempat
> > > merenungi kekurangan-kekurangannya di masa lalu, dan menghasilkan
> kader
> > > dakwah lebih banyak lagi. Amien.
> > > [Deka Kurniawan, wpr]
> > > –~–~———~–~—-~——

——~——-~–

Dr. Tjipto dan pandanganya terhadap komitmen demokrasi

Tags

ada yang menarik dari buku soekarno by Penders (1972) ini:

Unlike soekarno, TJipto belief in democracy remained until the end of this life and in his view of traditional Javaneese civilization which was basically feudal in character had to be obliterated.

He considered that western education and its subsequent social and cultural dislocation was indispensable in creating revolutionary atmoshphere. From the beginning Tjipto had disagreede with the emphasis put by Budi Utomo on the reinvogoration of the traditional Javaneese civilization. As he had put it in a 1916 debate:

“The psyche of the Javanese people has been changed to such an extent that a change of language, or more cynically a killing of the language has become urgent. Only in this way will it be possible to build another language on its ruins and also another civilization.

(Tjipto ,Kolonial Onderwijs Congress, 1916, p/55).

Negeri Kurawa

Tags

saya tersentuh dengan artikel negeri kurawa di kompas, saya attach juga respondnya dari list yg sama

===========

Negeri Kurawa
Sabtu, 2 Agustus 2008 | 00:42 WIB

Abdul Munir Mulkhan

Saat orang ragu pada 34 partai peserta Pemilu 2009 yang mengumbar janji, warga ragu dan bingung memilih.

Keraguan juga tampak saat menunggu pemimpin baru yang mampu mengubah penderitaan warga di negeri kaya sumber alam ini. Saat pemimpin muda belum tampil meyakinkan, yang senior sudah ketahuan belangnya.

Di saat kritis seperti itu, banyak orang tertarik membaca kembali kisah pewayangan. Sejarah, ajaran agama, dan tradisi lokal di Nusantara juga menyimpan kisah-kisah magis kehadiran pemimpin yang dibutuhkan zamannya. Kisah-kisah itu patut disimak kembali. Dan apa yang sedang terjadi di negeri ini mungkin representasi kisah itu.

Masyarakat merasakan elite partai berbasis agama tidak bebas dari korupsi berjemaah dengan teman seasas (seagama atau seideologi) atau luar asas dari penegak hukum dan pemerintahan. Putusan pengadilan bisa ditawar, undang-undang dan peraturan disusun untuk memuluskan perilaku jahat dan selingkuh sehingga tampak tidak melanggar tata krama.

Aparat pemerintah bagai majikan yang harus dilayani, bukan hanya dengan sikap hormat, tetapi juga dengan rupiah. Cerdik pandai dan agamawan bukan tidak ada. Fatwanya terus mengalir, tetapi lebih beredar di antara menara gading tidak menyentuh hajat publik.

Nafsu menang sendiri

Gambaran melodramatik penyelenggaraan pemerintahan itu terlukis dalam kehidupan suatu negeri di dunia pewayangan yang dikenal Negeri Kurawa dengan pusat pemerintahan di Astina Pura, kadang disebut Negeri Astina. Dalam upacara resmi, para cendekia dan agamawan ditempatkan di panggung kehormatan, ke mana sang penguasa menunjukkan sikap hormat.

Sesekali para cerdik pandai dan agamawan dimintai pendapat, bukan untuk dipraktikkan, tetapi sekadar menunjukkan kepada publik atas kepedulian sang penguasa pada kebenaran. Bahasanya jauh dari kesadaran publik umat dan rakyat jelata karena lebih berorientasi kitab yang telah diseleksi sang penguasa.

Gaya hidup penggawa (aparat) kerajaan Astina itu terlukis, disebut julik. Suatu pola hidup penuh tipu daya, selingkuh menjadi pakerti (perilaku), ambisi menang sendiri, kaya sendiri, kenyang sendiri, pintar sendiri menjadi etika (meminjam Protestan Etiknya Max Weber) hidup komunitas (baca: partai politik).

Warga dan rakyat bukan hanya kehilangan panutan, pemerintahan tidak mengenal sistem keteladanan dan nilai moral. Posisi sosial politik seseorang tidak diukur dari perilaku baik, tetapi dari kemampuan dan keberanian menggunakan kekuasaan guna kepentingan diri dan kelompok.

Oleh Nietzsche, praktik hidup dan pemerintahan itu bisa digambarkan sebagai sistem sosial politik yang didominasi persona ubermensch. Persona demikian ialah pola hidup manusia bermoral tuan, manusia atas atau super yang bernafsu menang sendiri. Berbagai kisah fiksi tentang superman terinspirasi konsep manusia bermoral tuan itu.

Dalam sistem sosial politik dan pemerintahan demikian, kebenaran tidak diukur dari nilai obyektif yang didukung mayoritas, tetapi nilai subyektif penguasa yang memerintah dengan tangan besi dan Machiavelis. Moralitas baik ialah moral tuan saat nafsu menjadi komando kehidupan, bukan moral budak yang lemah. Kebaikan ialah kemegahan, bangga diri, bukan kedamaian dan ke-welas-asih-an yang menunjukkan kelemahan jiwa.

Dongeng demokrasi

Pemerintahan dan orang baik yang tergambar dalam Kerajaan Ngamarto dan Pandawa hanya mimpi indah yang enak dikisahkan sebagai dongeng.

Praktik pendidikan bagai sebuah festival dongeng tentang orang-orang bijak, baik, berbudi, dan dijanjikan surga. Kisah pahlawan dan orang suci terlukis dalam kalimat sastra yang indah dan enak didengar, tetapi kosong dari kenyataan.

Sementara fakta-fakta di lapangan bercerita tentang kisah kelaparan, penderitaan, pembunuhan berantai, korupsi, elite yang selingkuh jabatan, moral, dan seks. Berita anggota dewan, pejabat tinggi pemerintahan, elite keagamaan yang korupsi dan selingkuh seksual, mencerminkan kehidupan mayoritas warga seperti Negeri Kurawa. Wargalah yang memilih elite partai, sosial dan keagamaan, anggota dewan, dan memilih presiden yang kemudian menyusun kabinet.

Situasi kehidupan Negeri Kurawa itu tidak jauh berbeda dengan praktik demokrasi prosedural negeri ini. Suatu eufemisme tentang cara hidup ngurawa melalui sistem penyelenggaraan negara dan pemerintahan modern yang disebut demokrasi. Banyak alasan untuk membela diri dengan fakta buruk kehidupan negeri ini setelah 10 tahun reformasi, 60 tahun merdeka, dan satu abad kebangkitan nasional.

Sebagian melihat fakta buruk demokrasi prosedural itu sebagai kewajaran dalam kehidupan ekonomi dan tingkat pendidikan mayoritas warga Nusantara. Pada tahap sosial ekonomi seperti ini, praktik demokrasi belum menjanjikan peningkatan kesejahteraan warga kebanyakan, kecuali segelintir orang.

Sebagian berpendapat, fakta demokrasi negeri ini adalah suatu tahap yang harus dilalui bangsa yang memulai praktik demokrasi. Beberapa yang lain berpendapat, demokrasi yang baik memerlukan tingkat pendidikan dan ekonomi warga yang sudah sampai titik ekuilibrium setelah dipraktikkan berabad-abad.

Mencari takdir sosial

Berbagai pandangan ini berarti kita menerima apa adanya praktik demokrasi sebagai kebenaran. Suatu etika hidup ngurawa. Para cendekia dan agamawan terperangkap etika ngurawa yang digambarkan dalam dunia pewayangan sebagai Pandita Durno. Ia pandai dan waskita, tetapi semuanya hanya digunakan untuk membela Raja Astina.

Semua agama meramalkan kedatangan zaman akhir seperti gambaran Negeri Kurawa. Dajal tiba, saat kekuatan jahat keliwat-liwat, sebagai penanda datangnya Al-Mahdi Al-Masih, Ratu Adil, atau Satria Piningit. Mungkin manusia telah gagal membuat sistem yang mampu mengendalikan kejahatan sehingga perilaku jahat menjadi dominan. Hal itu merupakan pengantar Perang Baratayuda yang dalam dunia keagamaan dikenal dengan Hari kiamat. Pada saat itulah Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya mengganti penduduk bumi atau negeri ini dengan warga baru.

Dalam situasi demikian, tersedia aneka pilihan tindakan. Kita cukup menyesali nasib dan berdoa meminta Tuhan mengubah yang jahat berhati malaikat atau minta menunda kiamat. Pilihan lain, menggunakan sisa waktu yang ada untuk mengubah perilaku yang mentradisi yang mengakibatkan penderitaan bukan hanya orang miskin, tetapi juga anak cucu sendiri.

Paling mudah ialah menunggu Godot, Satria Piningit, atau Sang Mahdi. Kapan akan datang? Mungkin sudah terlambat saat semua sudah hancur. Kita hanya bisa membayangkan betapa derita yang harus ditanggung anak cucu nanti.

Nasib lebih baik hanya mungkin diraih jika mengubah perilaku sebagai doa.

Abdul Munir Mulkhan Anggota Komnas HAM; Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

========================

Di negeri Kurawa? Apa benar bisa disebut seperti tulisan dibawah ini, bahwa Indonesia sudah masuk jadi dongeng pewayangan yang menjadi kenyataan, realita kehidupan negara Indonesia?
Sangat menarik apa yang dikatakan terdakwa, dan yang sudah ter-vonis (5 tahun penjara)si Artaylita , sempat mengeluh…..” yah…beginilah fenomena hukum di Indonesia” Malahan  si ter-vonis Artaylita sempat mengajak, setidak-tidak-nya dia sendiri minta agar pengadilan dan yang mengadili dirinya mendapat pengampunan dari Tuhan.
Belum lagi ada berita bahwa se-gedubrak pentolan2, yang ngakunya pembela rakyat sebanyak 52 orang menjadi terdakwa dalam kasus korupsi. Bahkan sekarang SBY sudah harus gigit jari karena  kabinet bersatunya jadi deldel duwel karena ada 2 mentri yang tersangkut dalam dana bank.
Kayaknya, dan ini adalah pendapatku, yang tentunya sempat aku pikirkan dan melihat contoh2 apa yang terjadi di-lapangan bahwa dongeng negara Kurawa itu sebetulnya bisa dikaji asal usulnya. Bagaimana negara Kurawa itu bisa “terjelma”? Kenapa begitu banyak para Kurawa jahat dan begitu banyak para dorna2?
Aku bisa menurut, apabila kita mau introspeksi secara jujur, sebenarnya sejarah perjalanan sejarah negara Indonesia yang sekarang jadi negara Kurawa itu bisa kita runut sejak berdirinya…sejak tahun 1945.
Tanpa mengurangi jasa2 para pahlawan revolusi yang sudah wafat, kita harus introspeksi kedalam dan bertanya kepada diri kita sendiri. Apa yang salah dengan perjalanan sejarah kita sejak 1945 yang sekarang rupanya jalan yang di-ambil oleh pemimpin2 kita rupanya telah mengambil jalan yang keliru dan sekarang ibaratnya kesasar?
Sejak semula bangsa ini yang telah jatuh dalam detik2 efori setelah tahun 1945 dan setelah penjajah Belanda angkat kaki maka sejak saat ini rupanya pemimpin2 kita mulai dari Presiden pertama Bung Karno sudah salah langkah. Betapa pentingnya langkah pertama dalam segala aspek kehidupan, apalagi dalam kelahiran suatu negara adalah mutlak menjadi penyebab, menjadi basis, menjadi pondamen negara ini akan maju atau menjadi negara Kurawa.
Secara historis sudah ter-urai, dari Bung Karno yang lebih banyak mementingkan politik ketimbang pembangunan ekonomi, kenudian era Orba yang mewujutkan nepotisme korupsi yang besar2an disertai pembunuhan bangsa dewek, kemudian disusul dengan para miniatur2 presiden2 dari Habibie, Gusdur dan Megawati, semuanya adalah penerus kesalahan awal yang dilakukan oleh para pengawal/pendiri NKRI sejak tahun 1945. Era sekarang yang dikatakan era reformasi sudah ketelanjur meneruskan kehancuran moral bangsa ini.
Jadi sekarang tertinggal yalah kita hanya menekuni yalah berantakannya negara ini, dan kepingan2nya hanya hanya bisa kita sesali tanpa kita kita bisa berbuat apa-apa.
Apalagi bila kita sadari bahwa abad ke 21 ini, kita akan menghadapi globalisasi. Globalisasi dimana negara yang lemah akan jadi tambah lemah karena persaingan ketat antar nation. Negara yang kuat akan keluar sebagai negara adijaya, negara yang lemah akan jadi selain negara kere tapi juga akan di-eksploitasi oleh negara lain.
Alhasil negara Kurawa ini adalah hasil suatu proses sejarah. Proses sejarah yang di motori dan dihasilkan oleh para pemimpin2nya. Negara yang dipimpin dengan baik dan melangkahkan kakinya menuju tujuan yang mengabdi kepada rakyat banyak maka negara itu selain akan merdeka tapi juga menjadi digjaya. Sebaliknya negara dimana para pemimpin2nya mengambil langkah pertama yang salah dalam membina negara maka negara itu akan jadi babak bundas luar dalam.
Pancasila pun tidak akan bisa ber-buat banyak. Malahan ideologi yang fantastis ini hanya dijadikan metode bagi para pemimpin Kurawa dan para dorna untuk ber-koar2, ber-retorika sementara rakyat negara yang sudah jadi negara kurawa tambah deldel duwel luar dalem.
Harry Adinegara

Catatan dari Bad Samaritan:Myth of Free Trade & Secret history of Capitalism (1 of many)

Tags

beberapa catatan dari bukunya Ha-Jon Chang yang superb works ini :

In ZAIRE VS INDONESIA:

  • Corruption often exists because there are too many market forces.
    This explains why in post suharto era where decentralization begun, corruption is even more widespread
  • Market and Democracy clash at fundamental level.
    In market, the principle is ‘one dollar one vote’ while democracy is ‘one man one vote’. Naturally, the market gives greater weight to richer people where ‘one dollar is one vote’, thus they’re in clash. In 19th century, (old) liberalist is actually against democracy. It’s only in our time that the neo-liberalist front can’t oppose democracy openly. leaving  everything to the market means that the rich may be able to realize even the most frivolous element of their desires.
  • NEO-LIBERALIST only accept democracy only in so far as it does not contradict the free maqrket; this is why some of them saw no contractiction between supporting Pinochet dictatorship and praising democracy. To put it bluntly. NEOLIBERALIST WANT DEMOCRACY ONLY IF IT IS LARGELY POWERLESS.
  • NEOLIBERALIST BELIEVE giving political power to those who ‘do not have a stake’ in the existing economic systems will inevitably result in an ‘irrational’ modification of the status quo in therm of distribution of property and other economic right. Since they can’t oppose democracy, they discrediting politics in general
  • DEMOCRACY may redirect government spending into more productive areas, e.g. away from military spending to education or infrastructure investment. Democracy may also promote economic growth by creating welfare state. contrary to the popular perception, a well designed welfare state especially if combined with good retraining programme can reduce the cost of unemployment to the workers and thus make them less resistant to automation that raise productivity.

Pola Kerja Ekonomi Neo-Liberal

Tags

Berikut pola kerja ekonomi neoliberal:
1. privatisasi persh publik
2. deregulasi ekonomi
3. Liberalization of trade and industry (including cutting public subsidy)
4. Massive tax cut
5. monetarist measures to keep inflation in check
6. strict control on worker union
7. reduction of public expenditures especially on social spending (
such as school and education spending)
8. downsizing of government
9. expansionist capitalism towards international market
10. removal of control on global financial flows.

Tan Malaka dan Jenderal Sudirman

Tags

Kompas, Sabtu, 26 Juli 2008 | 01:29 WIB

ZULHASRIL NASIR

Membaca artikel Sabam Siagian, ”Tentang Tan Malaka” (Kompas, 12/7) yang menanggapi tulisan saya, ”Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional” (Kompas, 7/07), ada hal-hal yang ingin dikesankan mantan Dubes RI untuk Australia itu.

Pertama, politik diplomasi Syahrir seolah tak bermasalah bagi TNI dan pejuang sehingga kombinasi politik diplomasi dan pertahanan disimpulkan telah melahirkan Indonesia merdeka.

Kedua, negara memiliki legitimasi mengeksekusi Tan Malaka atas nama keadaan darurat perang guna ”memikul wibawa penuh Panglima Besar Letjen Sudirman”.

Dwitunggal

Adam Malik dalam buku Mengabdi Republik menyatakan, dwitunggal tidak hanya satu pasang—Soekarno-Hatta—tetapi ada dua pasang lagi: Sjahrir-Amir Sjarifuddin dan Tan Malaka-Sudirman.. Saya ulas pasangan ketiga, Tan Malaka-Sudirman.

Bagi Tan Malaka, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah harga mati. Kompromi para pemimpin politik menghadapi Belanda adalah naif dan melelahkan. Maka, Tan Malaka bersama 139 organisasi (Masyumi, PNI, Parindra, PSI, PKI, Front Rakyat, PSII, tentara, dan unsur laskar) menggelar Kongres Persatuan Perjuangan di Purwokerto, 4-5 Januari 1946. Sudirman hadir sebagai unsur tentara.

Setelah mempelajari gagasan Tan Malaka, kongres yang dilanjutkan di Solo, 15-16 Januari, dengan 141 organisasi mengesahkan rancangan Tan Malaka yang disebut ”Minimum Program”.

Program itu untuk mengatasi aneka masalah, seperti pertentangan antara pimpinan negara dan pemuda/rakyat, konflik antarpejuang, dan sikap Inggris yang mengakui kedaulatan Belanda di Indonesia. Sebutlah itu konsolidasi para pejuang. Kehadiran Sudirman dalam kongres itu adalah poin utama hubungan politik Tan Malaka-Sudirman. Tan Malaka mencatat ucapan Sudirman saat itu, ”Lebih baik kita di atom daripada merdeka kurang dari 100 persen.”

Sudirman dikenal tegas, melindungi anak buah, dan tidak kenal kompromi. Ketidaksetujuannya pada diplomasi tergambar pada sikap tetap bergerilya daripada menyerah meski kesehatan Sudirman sakit parah. Sikap menyerah Soekarno dan Hatta kepada Belanda oleh sebagian orang dinilai cara taktis menghadapi diplomasi internasional. Namun, itulah yang membedakan kedua pasang pemimpin itu. Bagi Tan Malaka, kemerdekaan adalah 100 persen dan bagi Sudirman ”tentara tidak kenal menyerah”.

Bagi keduanya, tidak ada lagi penjajahan Belanda dengan segala siasatnya. Perundingan adalah siasat Belanda seperti terjadi dalam hasil Perjanjian Linggarjati dan Renville. Dan Belanda tetap menekan pemerintah dengan Agresi Militer I (13 Juli 1947) dan II (18 Desember 1948). Akibatnya, TNI harus hijrah dari satu tempat ke tempat lain, meninggalkan kantong pertahanan, yang amat menjengkelkan Sudirman.

Saat di pemerintahan pengungsian Yogyakarta muncul kemelut antarpemimpin, saat itu juga terjadi penangkapan terhadap kelompok Persatuan Perjuangan dan Barisan Banteng yang dilakukan Pesindo (kelompok Syahrir) pada 17 Maret dan 16 Mei 1946. Hubungan dwitunggal itu berlanjut saat Sudirman menugaskan Mayjen Sudarsono membebaskan tokoh-tokoh Persatuan Perjuangan dan Barisan Banteng: Tan Malaka, Adam Malik, Chairul Saleh, Muwardi, Abikusno, M Yamin, Sukarni, dan lainnya. Semua dibebaskan. Atas perintah lisan Sudirman, Mayjen Sudarsono menangkap Sutan Sjahrir dan dilepaskan 1 Juli 1946 karena campur tangan Soekarno.

Tuduhan kudeta lalu diarahkan ke kelompok Tan Malaka saat terjadi peristiwa 3 Juli 1946, di mana Mayjen Sudarsono mendatangi Soekarno-Hatta di Yogya, mendesak agar memecat Syahrir. Soekarno-Hatta menolak dan Amir Syarifuddin (Menteri Pertahanan) menangkap Tan Malaka/Persatuan Perjuangan termasuk Mayjen Sudarsono.

Meski tuduhan kudeta tidak terbukti di Mahkamah Agung Militer, dan Jenderal Sudirman ikut bersaksi. Tidak adanya pembelaan Sudirman kepada Tan Malaka dan kawan-kawan merupakan tanda tanya. Namun, ini tidak dapat ditafsirkan Sudirman meninggalkan teman-temannya. Kemungkinan, Sudirman tunduk kepada sumpah prajurit, patuh kepada Panglima Tertinggi APRI Soekarno dan pengaruh intelektual Hatta.

Tak sekeji itu

Saya tidak percaya uraian Sabam bahwa karena pengumuman Darurat Perang Panglima Besar Sudirman, maka Surachman dan Sukotjo mengeksekusi Tan Malaka (21 Februari 1949). Sudirman tidak sekeji itu. Juga tidak diyakini, Hatta bagian komplotan itu. Diyakini, yang terjadi adalah panafsiran berbeda di antara faksi-faksi tentara di lapangan. Juga penafsiran legalisme Sabam tentang kegiatan Tan Malaka yang menjadikan dirinya Pemimpin Revolusi Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap dan dibuang ke Sumatera. Dikesankan, Tan Malaka seolah mengesampingkan peran Pemerintahan Darurat RI (PDRI).

Saya tidak yakin semua pemimpin pejuang di lapangan tahu telah dibentuk PDRI begitu Soekarno-Hatta ditangkap. Adalah masuk akal jika inisiatif Tan Malaka mengambil alih pimpinan (jika Sabam benar) untuk menghindari kekosongan kekuasaan berdasar Testamen Politik Soekarno, Oktober 1945 (”…jika saya tiada berdaya lagi, saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan Malaka….”), tindakan Tan Malaka sah menurut logika hukum.

Bung Sabam perlu tahu, TB Simatupang dan dr J Leimena sempat tergugah mengisi kekosongan kekuasaan itu karena tidak tahu bahwa sudah terbentuk PDRI di Sumatera. Komunikasi radio RI saat itu amat terbatas.

Catatan lain adalah pemerintahan Hatta tidak menunjukkan tanggung jawabnya jika benar itu sebuah eksekusi terhadap Tan Malaka. Tan Malaka bukan hewan, dia pemimpin dan pejuang mendahului Hatta dan Soekarno. Rezim bahkan sengaja menutupi kematian Tan Malaka. Ada yang menyebut Tan Malaka dibunuh di pinggir kali lalu dihanyutkan, dan sebagainya. Hingga kini, negara tampak tak ingin mengungkap temuan Harry Poeze tentang kuburan Tan Malaka di Selopanggung, Kediri. Jika negara tidak bertanggung jawab bukankah itu sebuah pembunuhan?

Setelah terjadi pembunuhan terhadap Tan Malaka, Hatta memberhentikan Sungkono sebagai Panglima Divisi Jawa Timur dan Surachmat sebagai Komandan Brigade karena kesembronoan mengatasi kelompok Tan Malaka. Agaknya, fakta ini pula yang mendorong Soekarno mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional, 28 Maret 1963.

ZULHASRIL NASIR Penulis Guru Besar UI

menolak kutukan bangsa kuli

Tags

Nyinyir rasanya mengutip ucapan yang sudah puluhan, ratusan, atau malahan mungkin ribuan kali dilontarkan oleh Soekarno agar bangsa Indonesia jangan mau menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli bangsa-bangsa lain. Namun, ketika memberikan amanat pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1965 di Istana Negara, Soekarno justru pesimistis bahwa bangsa Indonesia telah menjadi bangsa yang dikhawatirkannya itu, the Indonesian people have become a nation of coolies and a coolie amongst nations.

Soekarno mengatakan, ia mencupliknya dari seorang sarjana Belanda. Berbagai penulis menyebut ucapan eine Nation von Kuli und Kuli unter den nationen itu aslinya dilontarkan oleh Helfferich, warga Jerman. Tidak jelas apakah ia adalah Emil atau Theodor Helfferich, dua orang Jerman bersaudara yang datang ke Pulau Jawa pada awal tahun 1900-an dan membeli tanah seluas 900 hektar di daerah Cikopo, Bogor, dan menjadikannya kebun teh. Tahun 1928, Emil dan Theodor kembali ke Jerman dan menyerahkan pengelolaan kebun teh kepada seorang warga Jerman lain. Kebun teh itu kemudian diambil alih Belanda tahun 1939 setelah Jerman menginvasi Belanda, tetapi tahun 1943 dikembalikan oleh tentara pendudukan Jepang kepada sekutunya, Jerman. Jika benar yang mengucapkan kalimat ”bangsa kuli” itu adalah Emil atau Theodor Helfferich, tak jelas kapan diucapkan dan pada kesempatan apa.

Hanya, menurut Soekarno, waktu itu bangsa Indonesia hidup dengan 2,5 sen seorang sehari sehingga tak bisa mempunyai rumah yang layak, tak bisa mengirim anak ke sekolah sehingga tetap akan menjadi bangsa kecil dan bodoh.

Pledoi Soekarno Indonesia Menggugat mencoba menjelaskan bahwa memang imperialisme Belanda membutuhkan bangsa Indonesia yang bodoh agar bisa diperlakukan sebagai kuli yang percaya bahwa hanya bangsa kulit putih yang mampu berbuat benar.

Dalam perjalanannya, bangsa Indonesia seolah terjebak pada situasi self fulfilling prophecy, ramalan atau kutukan yang menjadi kenyataan. Menurut Hatta, seperti dikutip menantunya, Sri-Edi Swasono, stigma sebagai bangsa kuli yang inferior seolah dipercaya memang sudah suratan takdir oleh bangsa Indonesia sendiri dan hal ini dinilai Hatta sebagai ”kerusakan sosial” akibat penindasan VOC, cultuurstelsel, dan kebengisan dalam pelaksanaan Agrarische Wet 1870.

Jika Anda membaca buku tipis Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005) karya Pramoedya Ananta Toer, ada kutipan ucapan ”Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain” yang dicantumkan di awal pengantar penerbit dan pada sampul belakang, tetapi tak tercantum dalam isi buku. Itu tak lain adalah ucapan tokoh Minke (personifikasi tokoh pers nasional RM Tirto Adhisoerjo) dalam tetralogi Bumi Manusia. Pada saat bangsa Indonesia tahun ini memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional dan tepat 200 tahun mulai dibangun/dilebarkannya Jalan Pos Anyer- Panarukan oleh Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels, penolakan terhadap ”kutukan” dan stigma ”bangsa kuli” menjadi relevan.

Sudah cukup banyak kisah tragis warga Indonesia yang tewas, dihukum mati, dipenjara, disiksa, dan diperkosa sebagai tenaga kerja di luar negeri. Kisah dramatis seperti yang dialami Nirmala Bonat hingga Ceriyati seperti tak ada habisnya diberitakan, tetapi tetap saja akan terjadi hingga kini dan mungkin belasan tahun ke depan. Impian Soekarno ketika merumuskan Pancasila tentang satu masyarakat bangsa dan tatanan dunia yang adil dan makmur tanpa exploitation de l’homme par l’homme agaknya bagaikan suatu utopia yang jauh dan nyaris muskil jadi kenyataan.

Apa sebab ?. Jawabnya dapat diterangkan oleh sebuah aksioma atau dalil yang pernah tercantum dalam buku teks ekologi Fundamentals of Ecology karya Eugene P Odum pada awal tahun 1970-an, ”Suatu ekosistem yang lebih tertata akan mengambil keuntungan dari ekosistem di sekitarnya yang kurang tertata.” Implikasinya, kota yang lebih tertata ketimbang desa akan menyedot sumber daya desa-desa di sekitarnya. Negara yang maju akan menyedot potensi negara-negara miskin dan sedang berkembang.

Sejarah umat manusia telah membuktikan, eksploitasi komunitas atau bangsa yang lebih kuat (secara militer, ekonomi, hingga teknologi, dan kemampuan sumber daya manusianya) terhadap komunitas-komunitas dan bangsa-bangsa lain telah terjadi sejak zaman prasejarah dan terus berlangsung hingga dewasa ini.

Individu yang tak/kurang berdaya akan diperdaya dieksploitasi oleh individu yang licik dan culas. Para TKI (tenaga kerja Indonesia), khususnya para TKW (tenaga kerja wanita), adalah sasaran empuk eksploitasi, penipuan, hingga pemerkosaan para calo, perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) yang nakal, petugas pemerintah (kantor tenaga kerja, imigrasi, Deplu), biro penyaluran tenaga kerja di luar negeri, hingga majikan yang bengis. Apalagi, mayoritas pekerja migran Indonesia adalah pembantu rumah tangga yang kurang terampil.

Seperti halnya kekayaan hutan, tambang, dan lautan Indonesia yang menjadi sumber penjarahan pihak-pihak yang serakah, baik di dalam maupun di luar negeri, jutaan pekerja migran kita juga menjadi sumber korupsi.

Masuk di nalar kitakah jika penyusunan UU Pertambangan kita dibuat dan didiktekan sebuah negara asing dan dicantumkan dalam situs web mereka ?.

Hasilnya, sewa lahan hutan lindung cuma beberapa ratus rupiah per meter persegi dan bisa disewa sampai 90 tahun !.

Sesungguhnya, kedaulatan dan martabat kita sebagai negara dan bangsa merdeka perlu kita gugat lagi jika kita memang menolak menjadi kuli bangsa- bangsa lain !.

Menolak Kutukan Bangsa Kuli. Irwan Julianto. Senin, 28 Juli 2008. http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/28/00245791/menolak.kutukan.bangsa.kuli

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers