Tags

Dari hasil diskusi, banyak good wisdom untuk kesejahteraan ummat :)

———-

Persatoean Ditjari , Per-sate-an jang Ada” (Hatta, kiriman cpatrw)

… terlihat jelas pengarahan pandangan terhadap ’persatuan’ dan ’perbedaan’, filosofis maupun praktis, meninggalkan pemahaman tradisionil yang sangat mendalam dipengaruhi terutama oleh way of thinking feodalisme Jawa. Kekuasaan feodal di masyarakat feodal adalah kekuasaan tyran otoriter, dan revolusi Prancis meruntuhkannya secara total di Prancis. Di Indonesia perjalanan proses perkembangan sejarah revolusi ini sangat berbeda dengan Prancis. Revolusi Agustus 1945 tidak menyinggung kekuasaan otoriter feodal, dan keragaman perkembangan semua daerah juga tidak sama, banyak bagian diluar Jawa yang bahkan belum sampai ketingkat perkembangan feodalisme. Beragam tingkat perkembangan begini adalah salah satu sebab utama mengapa dinegeri kita otoritarisme feodal lebih bisa bertahan dan bahkan berkembang subur sampai maksimal di era Suharto, kombinasinya dengan kekuasaan militer juga sangat harmonis. Saya katakan maksimal karena proses perkembangan otoriter feodal ini sudah mencapai puncaknya, selanjutnya menurun di era reformasi bersamaan dengan peningkatan dan perkembangan demokrasi seluruh Indonesia dan dunia, dan yang jelas juga tercermin di milis kita (kita patut bangga juga).
Karena penjajahan adalah dominasi maka dominasi juga adalah penjajahan, perumusan yang tidak perlu diragukan pikirku. Dan penjajahan adalah sumber utama ketidakadilan yang pada gilirannya pasti akan mendatangkan perselisihan, sengketa dan perang. Kita mengenal penjajahan Belanda, artinya bangsa lain datang menjajah alias mendominasi. Tetapi kita enggan melihat atau mengenal dominasi etnis sebagai penjajahan. Sifat ketimuran kita menjadi sebabnya, begitulah saya sering menafsirkan fenomena ini. Saya sering katakan dengan istilah internal-colonialism. Tetapi berapa orang dari etnis dominan yang percaya kenyataan internal-colonialism ini. Berapa orang dari etnis Aceh (terutama pejabat propinsi) yang mau melihat bahwa dominasi mereka atas etnis-etnis lain di NAD adalah praktek internal-colonialsm. Dan bahwa pemaksaan MoU GAM kepada etnis-etnis lain serta penolakan keras penguasa Aceh atas permintaan pemekaran propinsi ALA dan ABAS adalah pencerminan pemikiran mempertahankan internal colonialism etnis dominan Aceh atas etnis-etnis minoritas lainnya. Mengapa orang Aceh tidak percaya bahwa orang Alas, Gayo, Tamiang dll bisa mengurus dirinya sendiri? Bukankah ini adalah lanjutan dari pemikiran kolonial Belanda atau pemikiran otoriter feodal Belanda Wilhelmina ketika itu?
Orang Aceh sering bilang bahwa dengan pemisahan maka orang-orang Gayo, Alas dan lain lainnya tidak akan dapat lagi uang dari hasil alam Aceh yang kebetulan terletak di daerah etnis Aceh. Tetapi orang Gayo bilang mau berdiri sendiri adalah lebih penting dari uang hasil alam NAD, artinya kebebasan lebih penting dari duit dibawah dominasi orang Aceh. Orang Gayo bisa membangun dan memajukan sendiri daerahnya, mengembangkan ekonomi dan menghasilkan duit. Analogi seperti ini banyak di Indonesia, dimana propinsi induk didominasi oleh etnis dominan tertentu. Contoh yang sudah bebas dan berkembang relatif baik ialah Gorontalo dari dominasi Manado, Banten dari dominasi Sunda dan Babel dari dominasi orang Sumsel.
Contoh lainnya yang sudah terjadi lebih lama ialah pemekaran Sumatra Tengah yang tadinya didominasi/hegemoni etnis Minang. Etnis Minang sangat logis cara berpikirnya, dan juga melihat jauh kedepan, dengan sukarela melepaskan hegemoninya dan akhirnya bikin Sumbar yang relatif maju pesat dengan orang-orangnya yang sangat dinamis, rajin dan cekatan. Demikian juga propinsi lainnya ex Sumatra Tengah, berusaha berkembang maju dan bergairah, tanpa didikte oleh etnis lain. Pembebasan dari dominasi alias penjajahan adalah syarat penting untuk membebaskan perkembangan pikiran etnis dan memajukan daerah dengan penuh kegairahan, termasuk bagi etnis yang mendominasi, menggunakan semaksimal mungkin the power of identity dan pelestarian budaya.
Perkembangan dengan problem yang sama terjadi juga di Sumut, dengan dominasi Tapanuli terutama hegemoni orang Tapsel/Mandailing sejak kemerdekaan. Tetapi sudah terlihat perkembangan positif, dengan keinginan memekarkan Sumut jadi Protap, Tabagsel, Propinsi Karo atau Sumtim dan Propinsi Nias. Atau kalau Nias mau bergabung dengan salah satu tapi atas dasar sukarela, tidak ada paksaan ’otoriter’ feodal. Dengan demikian di Sumut juga sudah ada tanda-tanda yang sangat menggembirakan, menghilangkan internal-colonialism untuk selama-lamanyha dari bumi Sumut dan membangun tempat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah bagi setiap etnis dan memungkinkan untuk mengerahkan secara maksimal kekuatan identitas tadi (the power of identity) untuk membangun dan ’membesarkan’ dan mengembangkan daerahnya seperti yang sudah terjadi di ex Sumatra Tengah.
Persatoean Ditjari” kata Hatta, sangat mendalam pengertiannya. Persatuan tidak akan didapatkan atau ditemukan seperti menemukan warung sate atau persatean. Persatuan dicari, harus ada usaha mencari atau kalau istilah sekarang kita sering pakai, perjuangan. Persatuan ditemukan lewat perjuangan. Saya teringat pepatah Minang bilang ”cabiak-cabiak bulu ayam”, atau pepatah Karo ”Caingi muat jilena”, keduanya menggambarkan pertentangan atau kontradiksi dalam proses pendekatan sesuatu persoalan, atau dalam proses pencarian solusi suatu masalah dalam way of thinking Minang dan Karo. Keduanya menggambarkan perkembangan dialektis hal-ihwal, bahwa pertentangan atau kontradiksi ada dalam setiap proses perkembangan, atau dpl kontradiksi adalah tenaga penggerak perkembangan itu sendiri.
Perjuangan melawan Belanda telah membentuk persatuan antara kita. Belanda pergi . . . masih adakah persatuan? Pemuda/mahasiswa bersatu menjatuhkan Suharto, setelah Suharto lengser . . . masih adakah persatuan pemuda/mahasiswa? Jawabnya tidak ada! Persatuan datang lagi kalau dicari lagi, proses pencarian adalah terus-menerus tidak pernah berhenti, karena persatuan bukan persatean yang dimana saja bisa ditemukan terutama kalau musim sate. Tes-antites-sintes, pernah ditulis Hegel menjelaskan perkembangan hal-ihwal termasuk pikiran manusia. Saya biasa tulisken dengan istilah tenang-kacau-tenang lagi atau order-disorder-order lagi. Atau dalam soal persatuan tadi maka, persatuan-perpecahan-persatuan akan berjalan terus menerus. Perkembangan menurut lingkaran spiral, artinya peningkatan kualitas dari setiap persatuan baru. Persatuan Indonesia setelah Belanda lengser tidak sama dengan persatuan ketika kita berperang mengusir Belanda. Memimpikan persatuan lama tentu percuma dan sia sia saja.
Di Aceh ada pesatuan ketika bersama melawan kononial Belanda. Sekarang ada perpecahan karena etnis-etnis lain yang bergabung dalam ALA dan ABAS mau bebas dari NAD bikin propinsi sendiri. Setelah ada 3 propinsi maka akan ada lagi persatuan atau kerjasama baru antara 3 propinsi tetapi sudah dalam tingkat yang lebih tinggi, artinya secara kualitatif tidak sama dengan persatuan lama dibawah dominan etnis Aceh atau GAM. Sama halnya akan terjadi dengan Sumut, persatuan dengan kualitas yang sama sekali baru akan muncul dengan pemekaran 3 propinsi, karena disini prinsip keadilan: saling mengakui, saling menghormati dan saling menghargai sesama etnis terjadi dalam praktek. Begitu juga prinsip berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Ethnicgroups self-assertion and ethnicgroups struggling for power sudah tersalurkan sebagaimana mestinya, artinya secara manusiawi, logis dan sukarela atau dpl adil.
Tidak perlu lagi merampok daerah etnis yang satu diserahkan kepada etnis lain seperti 9 desa Karo Bangun Purba diserahkan kepada Melayu Erri Nuradi atas persetujuan mesera gubsu Rizal Nurdin, Bupati pendatang Amri Tambunan dan sepupu Rizal sendiri, untuk membentuk atau memekarkan Sergai pisah dari Deliserdang. Juga tidak perlu lagi menghalang-halangi pemekaran Delihulu atau Serdanghulu seperti sekarang diusahakan mati-matian oleh Amri Tambunan (juga gubsu?). Untuk apa lagi dia bikin begitu kalau sudah ada tugas dia yang lebih bermanfaat yaitu ’marsipature hutanabe’ membangun Protap atau Tabagsel. Atau adakah yang lebih penting baginya selain membangun daerahnya dan mempercayakan kepada etnis lain membangun daerahnya sendiri pula?
Persatuan harus dicari, tidak ditemukan seperti persatean. Persatuan harus dicari karena yang sudah tersedia ialah perbedaan. Perbedaanlah yang sudah selalu tersedia, tanpa dicari. Tidak mengakui perbedaan adalah ilusi, dan tidak mengindahkan perbedaan adalah berbahaya alias bermain dengan api. Dan itulah yang sudah terjadi banyak dalam politik nasional maupun internasional pada masa era perang dingin. Perbedaan etnis (kultural) diabaikan atau dipinggirkan dalam era negara nasional (tentu ada juga sebabnya atau prosesnya). Perang etnis dalam era erthnic revival dunia tidak terhindarkan. Begitu juga korban jutaan manusia termasuk anak-anak dan wanita ikut disembelih. Perang etnis adalah bentuk perang yang sangat kejam tak berperikemanusiaan. Pertama karena ini adalah pembalasan dendam (kultural) yang sudah puluhan tahun bahkan ratusan tahun terpendam. Ethnic revival atau cultural revival atau revolusi besar kebudayaan etnis-etnis dunia hanya menanti percikan apinya.
Ratusan tahun dominasi Tutsi atas Hutu di Rwanda. Ratusan tahun dominasi etnis Aceh atas etnis Gayo dll, sampai istilah Gayo saja baru terdengar sekarang, dan Pusat sampai MoU Helsingki sama sekali tidak mengerti kalau di NAD ada Gayo atau Alas. Setengah abad dominasi dan hegemoni Tapanuli/Mandailing di Sumut sampai kasus Juma Tombak ketua MA Bagir Manan tidak mengetahui bahwa disana ada etnis yang namanya Karo dan bahwa Karolah yang memiliki hak ulayat tanah, dan bahwa yang mengadu dan minta tanda tangan kepadanya adalah pendatang dari Tapanuli (6 orang ketika itu) yang ingin ngasak daerah Karo tidak bedanya dengan politik pendatang kolonial Belanda lewat perkebunannya di Sumtim yang dilawan keras oleh pahlawan Datuk Sunggal Badiuzzaman Surbakti selama 23 tahun (Perang Karo Deli/Langkat 1872-1895). Pendatang sekarang juga mau meneruskan politik kebun kolonial itu atas bantuan tanda tangan Bagir.
Mengetahui sejarah etnis termasuk usaha dalam mengetahui perbedaan etnis. Janganlah berusaha bikin pesatuan sebelum ada usaha mengetahui perbedaan. Mempersatukan tanpa melihat perbedaan itu namanya fasis, atau otoriter feodal tadi.