Tags

Cerita tentang Belanda membantu kemerdekaan Indoensia sudah banyak
didengar, tapi belum banyak yang sebaliknya. Berikut cerita dimana
pejuang Indonesia ikut membantu kemerdekaan Belanda dari tangan
Jerman.

====

1939-1940 , pasukan Jerman menguasai Belanda. Pemimpin kerajaan
termasuk Ratu Belanda terpaksa harus mengungsi ke Inggris dan
kemudian Kanada. Banyak pejuang Indonesia yang ‘tertahan’ dinegeri
Belanda, terutama di Leiden sebagai pusat perjuangan Perhimpunan
Indonesia yang dibentuk Hatta cs pada 1920an.

1942 Belanda menyerah kepada Jepang. Gubernur Jenderal Belanda TJARDA
VAN STARKENBORGH (
http://www.engelfriet.net/Aad/NedIndie/ggtjarda.jpg ) kemudian
menyerahkan “Indonesia” ketangan Jepang. Pemimpin Indonesia
dibebaskan. Soekarno dibebaskan dari Flores. Hatta , Sjahrir dan
Tjipto Mangunkusumo dibebaskan dari Banda Neira dan dipindahkan
ke Sukabumi. Des Alwi ikut juga mengikuti “Om Sjahrir” dan “Om
KatjaMata”, panggilanya terhadap Mohammad Hatta. Sedangkan sebagian
tahanan tahanan Belanda lainnya di Boven Digul, dikirim ke Australia.

Pada maret 1945, muncul berita dari radio bawah tanah tentang
kekalahan Jepang di Iwo Jima dan tentara Sekutu maju pesat posisinya
menuju Okinawa, dan berakhirnya perang dunia kedua di Eropa setelah
Berlin dikuasai Tentara Russia.

Lalu pada Empat May 1945 tentara Jerman menyatakan menyerah di negeri
Belanda. Sewaktu PD II, Belanda banyak meluncurkan perlawanan bawah
tanah terhadap anti-fascist Jerman yang dalam perjuanganya ternyata
banyak mendapatkan bantuan dari orang orang Indonesia yang tertahan
di negeri Belanda. Group ini dinamakan “Liaison COmmition’, group ini
yang nanti di kemudian hari bertugas menyiapkan reformasi negeri
Belanda sesudah perang.

Karena perang sudah selesai, Komposisi pejuang bawah tanah “Liaison
COmmition’ bisa diumumkan kepada publik. Ketuanya ternyata adalah
Prof WIllem Schermerhorn, anggota dari Partai Buruh Sosial Belanda
(SDAP), Ia adalah seorang ahli potograpi yang dulunya sudah lama
bertugas di Indonesia. Selain itu ada tokoh seperti Setiadjit
Soegondo, beliau ini adalah kawan Hatta dan Sjahrir sewaktu
Perhimpoenan Indonesia aktif di Leiden. Ada juga tokoh P.J. Schmidt,
mantan ketua dari partai sosialist independen/ OSP, dan tadinya
penulis ‘De Socialist’. Karenanya ia juga merupakan teman dari Sal
Tas, Jacques De Kadt, os Riekerk dan Soetan Sjahrir.

Pada phase selanjutnya, WIllem Schermerhorn ini nanti menjadi PM
Belanda dan berunding dengan Soekarno dalam Perjanjian Linggardjati.

Sedangkan tokoh-tokoh seperti Schmidt dan Sal Tas, beliau beliau ini
juga bukan orang baru dalam perjuangan ‘East Indies’ atau Indonesia.
Malahan tokoh-tokoh dari Partai Buruh dan Sosialis inilah yang
sudah sejak lama mendesak Pemerintah Kolonial Belanda (pre-PD 2)
untuk memberikan kemerdekaan atau self-government kepada Indonesia
(East Indies Waktu itu).

Hubungan Sjahrir dengan tokoh-tokoh ini sangat kental sekali, tulisan
Sjahrir beberapa kali dimuat di ‘De Socialist’. Mereka saling punya
interaksi kuat satu dan lainnya. Bahkan, istri Soetan Sjahrir sendiri
yang pertama adalah Maria Duchateau , mantan istri dari Sal Tas
sebelum berpisah. Ada kisah menarik sewaktu Maria ini datang ke kota
Medan pada 1932 untuk menikah dengan Sjahrir. Buku ‘Out Of Exile’
yang merupakan kisah perjuangan Sjahrir di pengasinganpun merupakan
kumpulan surat-surat dari Sjahrir kepada Maria yang dikoleksinya
selama bertahun-tahun.

Pada April 1945, NIGIS atau Netherlands Indies Government Information
Service , sebuah radio di Brisbane Australia melaporkan ke Indonesia
tentang kejadian bersejarah tentang konferensi PBB di San Francisco,
AS. Radio itu juga melaporkan bahwa satu anggota delegasi Belanda-
Indonesia adalah Burhanuddin, beliau ini adalah mantan tahanan
Belanda di Boven digul yang sebelumnya juga merupakan teman
seperjuangan Sjahrir-Hatta di Pendidikan Nasional Indonesia.