Tags

dari buku Sjahrir Politics and Exile by Prof. Mrazek.

Menjelang kemerdekaan RI pada Agustus 1945 , pemuda yang menggerakan
Soekarno-Hatta adalah pemuda-pemuda radikal sayap kiri nasionalis
dengan aktor intelektualnya, Bung Sjahrir, pemuda pemuda tersebut
banyak juga yang merupakan simpaltisan aktif dari PARI-nya Bapak
Republik Indonesia, Tan Malaka.

Pemuda disini termasuk Soekarni, Adam Malik, Chaerul Saleh, BM Diah,
Mochtar Loebis, Djohan Sjahroezah (masih famili Sjahrir).

Diketahui, berdasarkan keterangan Bung Hatta yang dikutip Ben
Anderson, Tan Malaka pada pertengahan Agustus 1945 bertempat tinggal
dirumahnya Achmad Subardjo, Tan sudah mengenal Subardjo sejak 1920
sewaktu Subardjo sekolah di Leiden.

Pada kasus penculikan Sukarno Hatta dan proklamasi 1945, Tan Malaka
tidak ikutan dan hadir (jadi sbg aktor intelektual yg melihat dari
seberang). Sesuatu yang disesalinya dikemudian hari.

Tan Malaka hadir pada demonstrasi September 1945 di lapangan IKADA, Di
acara itu Tan Malaka berakhir kesal kepada Soekarno “seharusnya ia
memberikan pidato tentang masa depan dan memberikan semangat
perjuangan ke rakyat, berjanji untuk terus melakukan aksi rakyat dari
rakyat untuk rayat, tapi malah ia meminta massa untuk ‘setia’ dan
mengikuti peraturan sebelum massa pulang ke rumah masing-masing.

Selanjutnya, sama seperti Sjahrir, menurut Hatta , Tan malaka ditawari
posisi dalam kabinet RI pertama , tapi dia menolak. Pada september
1945 Soekarno pernah memberikan surat wasiat yang mana disebutkan jika
terjadi apa apa dengan bung karno, tan malaka-lah yang melanjutnya
perjuangan sebagai pemimpin revolusi ( tapi kemudian warisan ini
diperuntukan kepada 4 orang yaitu iwa, wongsonegoro , sjahrir dan tan
malaka ).

Oktober 1, Tan Malaka pindah dari jakarta ke bogor. Pada pertengahan
Oktober Tan dikunjungi Sjahrir, Adam Malik dan Soekarni. Pada
kesempatan itu Tan mengusulkan kepada Sjahrir. Bagaimana jika Tan
Malaka mengambil alih kepresidenan dari tangan Soekarno ? nanti
Sjahrir akan tetap menjadi perdana menteri dan tetap melangsungkan
tugas sehari-harinya. Jawab Sjahrir secara diplomatis ? “Nanti akan
saya pertimbangkan kalau Tan paling tidak punya sepuluh persen dari
pendukung Soekarno, coba Tan ‘jalan-jalan’ kedaerah Jawa dan lihat
sendiri betapa besar pengaruh Soekarno”.

Seminggu kemudian mereka bertemu kembali setelah Tan ‘berkeliling’
melihat pengaruh Soekarno didaerah Jawa, pertemuan ini terjadi di kota
Serang Jawa Barat, hadir di pertemuan ini Djohan Sjahroezah, Dr.
Soedarsono, Soekarni, Adam Malik, Pandoe Wigoena. Di pertemuan ini Tan
berkata “Sjahrir kamu betul, memang Bung Karno sangat dibutuhkan”.
Di pertemuan itupun para pemuda meminta Tan untuk menjadi ketua partai
sosialis yang hendak mereka bentuk dan berpusat di Yogya, tapi ditolak
oleh Tan, di pertemuan itu Tan Malaka berkata
kepada Sjahrir (ref: adam malik, mengenang sjahrir p.4) :

“Kita bekerjasama saja (Sjahrir dan Tan), mari kita bangun kekuatan
perjuangan dan pertahankan proklamasi ini, saya akan berkeliling ke
jawa dan daerah lain, sementara itu, Kamerad Sjahrir dapat memperkuat
orang-orang di Jakarta agar siap menghadapi segala kemungkinan”.

Selanjutnya pertempuran antara tentara sekutu/Belanda dan Indonesia
menjadi sangat besar
ketika peristiwa November Surabaya meletus.Tan Malaka tiba di Surabaya
tepat di pertengahan
pertempuran. Diantara pecahan granat itu Tan masih sangat banyak
menulis, seperti tulisanya “Moeslihat” , “Strategi”, Politik, “Policy”
dan Rentjana Ekonomi.

Tulisan Tan Malaka di “Politik” dan “Moeslihat” banyak mengkritik
pejuang Indonesia yang berperang di Surabaya: ia mengkriti pejuang
yang melawan tanpa perhitungan dan jadi
korban sia sia (senseless sacrifice) ; “Kedislipinan sebagai faktor
terlemah pejuang Indonesia”.
Sebaliknya pejuang Indonesia, menurut Tan harus mengikuti keyakinan
dan integritatas/konsekweksi logik.

[………berlanjut………….]