Tags

dari diskusi di milist lain, ini mungkin contoh dari sample sejatinya masyrakat demokrasi di Indonesia dalam bentuk terkecil kecilnya.
—————
Kesatuan dan Perjuangan dari segi-segi yang bertentangan”

Kalimat ini adalah salah satu diantara banyak istilah dalam konteks dialektika perkembangan hal-ihwal, termasuk juga dalam perkembangan pikiran manusia. Dari dulu saya merasakan bagaimana manusia awam pada umumnya enggan mendengar apalagi mempelajari atau meneliti istilah dialektika. Pengalaman sejarah perkembangan manusia selama seratus tahun lebih memusuhi dialektika sejajar dengan memusuhi sosialisme/komunisme terutama dalam periode perang dingin telah merupakan salah satu sebab utamanya. Tetapi belakangan sudah sangat banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan maupun ilmu sosial dan ekonomi mulai memakai cara pandang dialektis ini sebagai pembantu penelitiannya atau membuat kesimpulannya.

Dialektika bukanlah sosialisme atau komunisme, walaupun dialektika ini diperdalam oleh Marx dan Engels, yang dari awalnya sudah banyak didahului oleh orang-orang Junani dan juga dari Jerman sendiri yaitu Hegel yang memulai istilah tes-antites-sintes. Istilah ini merupakan istilah penting lainnya dalam ilmu dialektika. Dalam percakapan sekarang sering saya ganti isltilahnya dengan tenang-kacau-tenang (lagi) atau order-disorder-order (lagi). Atau kalau dalam organisasi, persatuan-perpecahan-persatuan (lagi). Tiap kali lahir proses perubahan/pergeseran kembali, ini akan menunjukkan kualitas yang berbeda dari semula dan karena itu dikatakan perkembangan, artinya dia mengandung perubahan dan kemajuan.

Seakan-akan susah memahami tetapi sebenarnya tidak juga, atau mengapa tidak bisa disederhanakan semua dengan kata-kata awam saja.

Dalam hubungannya dengan rumah adat Karo, tulis:

‘house’ di strukturalisme Levi-Strauss adalah kumpulan orang-orang yang bertentangan

Disini menyederhanakan istilah diatas menjadi praktek kehidupan, bukan teori semata.

Sebagian ahli menterjemahkan atau menggambarkan kehidupan dalam lingkungan dirumah jenis ini (rumah adat Karo, rumah gadang Minang atau rumah adat Toraja dan Dayak) sebagai bentuk keharmonisan, sebagian lagi dari segi pertentangan atau perjuangan yang terdapat didalamnya. Peninjauan dialektis ialah bahwa keduanya ada didalamnya (kesatuan dari segi-segi bertentangan). Levi-Strauss seperti saya baca dari melihat pertentangan didalamnya dan juga melihat fakta keharmonisan sejajar tulisan Masri Singarimbun soal kehidupan Karo di rumah adat ini.

Pertentangan itu antara lain kata Strauss antara kalimbubu dan anakberu (wife-givers are superior to waife-takers). Istilah superior disini mungkin hanya orang Karo yang bisa memahami secara tepat, lain etnis akan lain juga pemahamannya, karena pengertian ini (mehamat man kalimbubu) tidak bisa dipisahkan dengan pengertian demokrasi horizonal Karo: “demokrasi horizontal dengan sistem hierarki kolektif bergilir dan adil ibas runggu rakut sitelu tutur siwaluh merga silima”. Di demokrasi Karo ada hierarki (kolektif), tetapi bergilir dan adil. Tiap manusia Karo mendapat giliran jadi kalimbubu (superior) atau jadi inferior (anak beru) dan jadi sederajat (senina). Ini keindahan hierarki Karo, hierarki dalam ke-egaliter-an. Masyarakat Karo adalah masyarakat egaliter, tetapi juga hierarkis, dalam definisi demokrasi Karo diatas. Disini kesatuan hierarki dan egaliter, dua kata berlawanan.

Kalimbubu dan Anakberu merupakan kesatuan segi-segi bertentangan, dan sangat berat memang kontradiksi disini, terutama dalam pelaksanaan utang adat (). Kontradiksi yang berat terkandung didalamnya, antara superior dan inferior, antara yang harus dihormati (mehamat man kalimbubu) dan yang harus dipuji (metami man anak-beru). Yang dihormati harus bisa memuji, yang dipuji harus bisa menghormati. Satu keharmonisan, atau satu kesatuan dari segi-segi bertentangan. Dialektika dalam praktek. Nanti disambung dengan istilah lain dalam dialektika.

>>>>>>>>>>>>

Perbedaan pikiran mereka membuat saya teringat kepada gejala lama yang
tak pernah berkesudahan di dalam masyarakat Karo. Bukan hanya
berdasarkan studi struktur sosial Karo saja, juga dari pengalaman
hidup sendiri, saya setuju sekali dengan pendapat antropolog Perancis
Claude Lévi-Strauss yang mengatakan (berdasarkan kajian dan kritiknya
terhadap desertasi Masri Singarimbun) bahwa Karo adalah contoh ‘house
society’ terbesar di dunia.

‘House society’ menurut Lévi-Strauss adalah penyatuan hal-hal yang
bertentangan. “Kita serumah dengan musuh kita,” adalah salah satu
ungkapan ‘house society’. Mehamat man kalimbubu, kata kita, di pihak
lain kita menyadari bahwa Kalimbubu adalah musuh terbesar, terutama
dalam pelaksanaan utang adat.

Tak heran ada istilah ‘tempa kal’ (sering diucapkan oleh Ita Apulina).
“Beloh kal melasken kata, bas ia é kari reh liah jamburlang é, ia kang
kari si man saron,” adalah ucapan yang tak asing bagi kebanyakan orang
Karo berkenaan dengan “antara harapan dan kenyataan” ini.

Dalam ‘house society’, konflik adalah untuk solidaritas dan
solidaritas adalah awal dari konflik. Kelihatannya sama dengan
thesis-antithesis-[new]thesis dari Marx yang sering dituliskan Kaka
MUG di milis ini. Tapi sangat berbeda, ‘house’ bagi Marxisme yang di
antropologi sangat didengungkan oleh L.H. Morgan dengan istilah
‘communal house’ sebagai kumpulan orang-orang sepemikiran/seide
(pendapatnya ini kemudian dihancurkan oleh Lévi-Strauss), ‘house’ di
strukturalisme Lévi-Strauss adalah kumpulan orang-orang yang bertentangan.

Sekarang saya coba kembali membumi dengan terus mengikut pikiran
Lévi-Strauss. Dalam masyarakat Karo, sulit membuat sebuah
usulan/rencana baru tanpa dibayangi rasa ketidakpuasan terhadap
sesuatu yang sudah ada. Ketika kita berhasil melahirkan sesuatu yang
baru, saat itu pula lahir antinya. “Lenga ndai siban lenga ka bo
banna,” adalah ungkapan untuk gejala ini. Karena itu, sukses adalah
awal dari sebuah kegagalan.