Tags

,

Assalamualaikum,

Kalau kejadian 1965 heboh ya …

Dalam banyak perestiwa orang kebanyakan mau tahu hebohnya saja (peristiwa 1965, peristiwa madiun 1948) tapi tidak mempelajari aspek sebab-akibat dan hal-ikhwalnya.

Anyway dalam soal 1965, dalam Diskusi Indonesia post-suharto era di UC Berkeley tempo hari yang dihadiri sejarawan veteran Indonesia (misalnya dari Cornell) dan aktifis dari Indonesia , salah satu presentasinya adalah membahas adanya “rekonsiliasi” antara para keturunan korban pki (baik dari keluarga Jenderal yang menjadi korban dan keluarga PKI) karena mereka semua adalah ‘korban’.

Kalau kejadian 1965 ingin ditinjau dari sudut hal-akibat, Bung Hatta dan Sjahrir sudah berpendapat sbb sejak Bung Karno membubarkan parlemen Ali Sostroamidjoyo dan membentuk Demokrasi Terpimpin , ditulis tahun 1957:

Bung Karno adalah ‘dalang’ dari banyak kejadian di Indonesia dimana beliau menjadi counter-balance antara berbagai kekuatan disekitarnya. Ketika Bung Karno mendeklarasikan Demokrasi Terpimpin , Bung Karno sebenarnya merubah peta politik dari Dwi-Tunggal (Soekarno-Hatta) yang demokratis menjadi Tri-Tunggal (Soekarno sbg center-axis dengan kaum nasionalis sebagai pendukung , TNI di sayap kanan , dan PKI di sayap kiri). Hal ini dianggap Hatta dan Sjahrir extremely dangerous.

Dua founding father ini mengatakan Tri-Tunggal ini bahaya, sebab jika satu kekuatan ini jatuh (atau menaik) , dua kekuatan kiri dan kanan ini akan berseteru sehingga kelak di Indonesia nanti kemungkinan terjadi dua skenario, dimana revolusi ala Bolshevik terjadi di Indonesia , atau skenario kedua pemerintahan diktator dengan rejim fasis militer Indonesia yang akan naik. Sebelumnya BK juga dikritik oleh Hatta,Sjahrir,dan kaum agamis lainnya karena tidak mungkin menggabungkan antara agama dan komunis.

Selain itu, Menurut M. Natsir, jaman demokrasi terpimpin hingga jatuhnya BK dianggap jaman kegelapan kaum agamis.