Tags

Mau menambahkan, karena jujur saja saya memang mencari “jawaban” dari pertanyaan ini, saya sempat terombang ambing apakah memang Indonesia itu pantas untuk menjadi negara full blown capitalism mengikuti laizzes-farre system, mixed-economy atau sebaliknya mesti seperti negara yang menolak kapitalisme ala China / India sebelum 1990. saya harus banyak baca banyak referensi dan buku untuk bisa menjawab pertanyaan ini. Sukur sudah ketemu jawabanya.

Mesti diingat definisi Indonesia itu adalah Indonesia dari Sabang Merauke yang demografi penduduknya 75 persen berada di Jawa dan 40% berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jadi kondisi historis-sosial-ekonomi di daerah itu yang sering kali menjadi “dominasi” permasalahan ke-Indonesia-an.

Jadi kalau dilihat dari dua aspek :

(1) aspek demografis, ada dua negara yang punya karakter yang sama dengan Indonesia. Yaitu India dan China. Dua duanya terletak di Asia, multikultural dan multi-etnis (China lebih dual-ethnis sich). bedanya
karakter dua bangsa ini, mereka dua duanya lebih punya enterpreneur spirit, jadi bisa hidup Mandiri. Dua negara ini sekarang maju sangat pesat.

Cuman orang lupa, dua negara ini sebenarnya sosialist state, India baru terbuka dengan globalisasi pada 1995 di era Manmohan Singh ketika secara sosial-ekonomi masyrakatnya terlindungi dan mereka punya
ketahanan kuat terhadap asing dengan PENGUASAAN SCIENCE dan TECHNOLOGY. China pun seperti itu, Cina yang sekarang baru berubah di era 1990an terutama di sektor manufakturingnya, jadi disatu sektor,
kapitalisme dibuka, sementara untuk melindungi lapisan rakyat mayoritas , mereka menerapkan sistem sosialistis dan tertutup terhadap pengaruh asing.

Dua negara ini, China dan India, baru membuka era globalisasi ketika industri dalam negerinya sudah kuat dan ketika mereka mempunyai masyrakat intelektual yang menguasai science dan teknologi melalui
pembangunan sektor pendidikan dan universitas. Indonesia, masuk globalisasi tanpa perencanaan, semuanya hanya terjadi karena koup 1965 dimana setelah soeharto menang, pengusaha asing masuk
secara habis habisan di Indonesia.

(2) dari sisi sejarah, dari semua buku sejarah asli Indonesia yang

saya baca ( entah dari soekarno, hatta, sjahrir, tan malaka, amir
syarifudin, m natsir yang ditulis oleh mcvey, legge, anderson, kahin
,mrazek, dst) __semua__ pemimpin asli Indonesia menolak globalisasi
dan perdagangan bebas (ini tahun 1945-1965 lho ya). Katanya bung hatta
dan sjahrir, perdagangan bebas itu hanya mungkin jika lapisan
masyrakat terbawah sudah terlindungi secara sistem (welfare).

jadi idenya soekarno, hatta , sjahrir sebenarnya seragam. Ide mereka

sebenarnya gak jauh ingin membuat Indonesia ini seperti China atau

India dimana lowest-economic-society mesti dilindungi dulu.

Lebih jauh lagi, bung hatta dan sjahrir ini berkali kali mengatakan

kalau sebagin orang Indonesia (bisa ditebak siapa) mempunyai tendensi

untuk menjajah, termasuk menjajah bangsa sendiri. Ini sangat

berbahaya jika Indonesia dikontrol oleh kekuatan Militer-Feodal dan

perdagangan bebas dibuka, menurut Sjahrir ini kombinasi terburuk yang

mungkin bisa terjadi di Indonesia.

ps: kritik mereka terhadap “rencana ekonomi Indonesia” 50 tahun

didepan dan ketepatan mereka dalam berpikir dan menganalisa sedikit

banyak membuat saya kagum thdnya. Saya gak menyangka bisa menemukan

statement seperti itu.

>

> ACC — the third way!

>

– Show quoted text –

> Persoalan ekonomi adalah persoalan tua di dunia ini. Begitu tuanya

sehingga selalu menarik untuk dibicarakan atau diperdebatkan. Dan

hebatnya dia semakin muda pula. Sejaka zaman bahola persoalan ini

selalu punya dua kubu sentral. Dalam soal specifik apa saja dalam

ekonomi. Soal nasionalisasi atau internasionalisasi ekonomi nasional

atau objek penting perekonomian nasional misalnya tambang,

telefon,televisi dll. Masalah nasionalisasi perkebunan di Indonesia

setelah Belanda engkang, masalah coal mine di Inggris pada permulaan

perang dunia kedua selesai, masalah privatisasi perusahaan yang sama

di bekas Uni Soviet dll dsb. Selalu ada dua kubu sentral pendapat dari

dulu sampai sekarang, dan pasti jugalah seterusnya kedepan. Bagaimana

kalau nanti cuma satu pendapat atau cuma satu kubu saja? Bakal

datangnya The end of history Fukuyama? Banyak tesis, terlebih yang

dialektis akan kelihatannya sekarang ini lebih gampang dimengerti.

Salah satu yang sudah sering

> saya postingkan di milis kita ialah bahwa kontradiksi adalah tenaga

penggerak perkembangan. The end of history bisa diartikan sebagai

permulaan kontradiksi baru, artinya history tidak akan pernah

berakhir, hanya permulaan kontradiksi baru.

> “I beg to be different” (Shodan Purba), sangat melengkapi dua kubu

sentral dalam masalah ekonom ini dimilis kita, yang kita langsung

hadapi sekarang ini di negeri Indonesia. Dalam soal

>nasionalisasi-internasionalisasi/liberalisasi sudah sering kita

>mendengar dua pendapat besar, seperti yang diwakili oleh Kwik Kian

>Gie, Rizal Ramli dll dan dipihak lain Washington Consensus (mafia

>berkeley) seperti Budiono, Sri Mulyani dll dimulai sejak era

economist >Sumitro Djojohadikusumo. Untuk lebih menyingkat saya kutib

wawancara

>

Dari catatan sejarah, sebenarnya korupsi Mafia Berkeley pertama kali

bukan pada jamanya suharto,

jamanya Bung Karno ternyata Pak Sumitro

ini (maaf jika mengagetkan) sudah dicari cari KPK (komite pemberantan

korupsi)-nya bung karno karena diduga Pak Cum ini menyalahgunakan

wewenang dan melakukan penyalahgunaan dana sehingga Pak Cum saat itu,

“lari” ke Singapura untuk menghindar KPK.

(Baca Mrazek: Sjahrir 2 bab terakhir).

Rizal Ramli di Arsip Milis AKI online, demi kenyamanan Anda semua

http://www.mail-archive.com/ahlikeuangan-indonesia@yahoogroups.com

> “Begitu KMB ditandatangani, bung Karno memerintahkan, jangan bayar

itu utang. Jadi walaupun utang itu disepakati, pemerintah Indonesia

tidak pernah mau bayar. Taktiklah istilahnya itu. Tapi waktu

pemerintahan Soeharto, awal Orde Baru pada tahun 1967, Widjojo

Nitisastro dan kawan-kawan yang disebut sebagai Mafia Berkeley membuat

kesepakatan baru untuk mulai membayar utang Hindia Belanda tersebut

yang sebetulnya secara moral itu tidak justified (dibenarkan — red),

secara histories politis itu tidak justified. Tetapi Widjojo dan

>kawan-kawan waktu itu sepakat untuk mulai mencicilnya. Widjojo dan

>kawan-kawan itu memang dididik di Berkeley, dipersiapkan untuk

>mengambil alih pengelolaan ekonomi setelah Soekarno jatuh, supaya

>membelokkan garis ekonominya, satu garis dengan garis Washington.

>

Betul sekali bapak , istilahnya garis ekonomis “kiri” Rotterdam based

sosial-demokrat-kerakjatan yang dipakai di Indonesia sebelumnya

dibelokkan ke garis “kanan jauh” Berkeley neo-capitalism. Rotterdam

ini tempat sekolahnya bung hatta dimana beliau mengambil sedikit

banyak ide2 sosial-ekonominya.

Bung karno sebenarnya, lebih “kiri” lagi dari bung hatta, beliau lebih

pro-Mao economic thinking.

( Lucu sebenarnya, karena saya kadang2 menghadiri acara di UC

Berkeley, orang2 Berkeley itu sebenarnya lebih “kiri” dariapda “kanan

jauh” seperti mafia berkeley ).