Tags

> “This crippling of individuals I consider the worst evil of
capitalism. Our whole educational system suffers from this evil. An
exaggerated competitive attitude is inculcated into the student, who
is trained to worship acquisitive success as a preparation for his
future career.”
>
> (Albert Einstein)
>
>
>
> Baca tulisan pak Einstein ini sering juga saya merenung sendiri,
atau dari renungan satu ke renungan lain, misalnya “kapitalisme”
Karo, pelajar Karo, pemuda/mahasiswa Karo yang sekarang sedang giat-
giatnya belajar cari ilmu untuk future careernya. Sudah itu saya
hubungkan pula dengan kata-kata psikolog
>
>
Capitalism dan Invidualism itu satu koin bae karena yang dicari oleh
kapitalisme adalah kepuasaan individu melalui penguasaan capital
yang diciptakan melalui Profit atau “usury” istilahnya Bung Karno
(dan om marks 100 tahun sebelumnya).

Nanti dech kapan kapan saya kirimkan naskah asli nasakomnya bung
karno, meskipun saya gak fully aggreeable dengan apa yang ada disitu
(misalnya dalam hal menggabungkan agama dengan om marks) , tapi
dalam hal anti-imprealisme anti-kapitalismenya saya setuju dengan BK.

Profit melalui kapitalisme itu ada dua jalan, melalui SDA atau SDM,
yang “rampant” dengan evil-ness itu sebenarnya kapitalisme-SDA
karena banyak unsur “pemaksaan” disitu.

pekerjaan saya sebenarnya sehari-hari berkutat di kapitalisme-SDM
menggunakan SDM yang tangguh , kita bikin alat produksi dimana alat
produksi itu akan dipakai oleh orang lain di seluruh dunia. Misalnya
orang perlu bikin dokumen maka ia harus pakai software, nah untuk
itu org perlu pakai windows, disitulah mcrosoft bisa menjadi raja.
Siapa yang untung ? Ya orang2 yang bikin produk seperti mcrosoft
(saya termasuk disini…kerja ongkang ongkang kaki juga produknya
pasti dibeli karena produk tsb dibutuhkan setiap orang). Antithesis
dan sekaligus sinkretis kapitalisme-SDM di bidang IT adalah Open
Source dimana software dikembangkan dan diberikan secara gratis.

sedangkan kapitalisme melalui exploitasi SDA di Indonesia
sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1850 Dimana kekayaan / natural
resources milik penduduk lokal dikeruk oleh bangsa lain, sementara
orang yang tinggal di tanah tersebut, tetap bae menjadi miskin
(kecuali sebagian penguasa lokal –feudal ruler istilanya– karena
dia bekerjasama dengan kaum kapitalis-SDA luar negeri).
>besar Jung, yang menganjurkan pemakaian “both-and” dalam kritiknya
atas cara >barat yang lebih suka pakai “either-or”. Mungkinkah
pemuda/mahasiswa Karo >memakai “both-and” dalam memandang dan
mencari solusi “kapitalisme” Karo?
>
> Tah jadi renungen sendiri saja ngenda nake, hehehe . . .
>
> ” We are all learners, doers, and teachers” ( Richard David Bach)
syncretisme saja . ambil yang bagus dari barat, timur,
utara selatan dan buang jauh jauh buruknya. saya pikir orang india
yang paling berhasil menerapkan good-syncretisme ini. Kapitalisme
dan Sosialisme dua duanya dipakai mereka jadilah both-and “mixed
economy”. Kapitalisme dipakai ketika bersaing keluar (misalnya
dalam sektor high technology) dan sosialisme digunakan ketika
menggunakan rakyat yang berada didalam (sektor agrarian, pertanian,
kelautan,dlsb).

Istilahnya, yang kuat melindungi yang lemah, yang kaya melindungi
yang miskin.

kalau di Indonesia kan kebalikanya, yang kuat menghisap yang miskin,
yang miskin menghidupi yang kaya.