Tags

> Kamis, 05 Juni 2008 08:10 WIB
>
>
> 20 Mei Sebagai Harkitnas Digugat Sejarawan Unimed
>
> WASPADA ONLINE

>
>
> (TEBINGTINGGI)
> – Sejarawan Universitas Negeri Medan DR Phil. Ichwan Azhari, MS,
> menolak penetapan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
> Alasannya, organisasi Budi Utomo yang lahir pada 20 Mei 1918, dan
> menjadi tonggak kesejarahan Harkitnas, bukan organisasi yang
> mencerminkan semangat kebangsaan.
>
>
>
> Salah satu kesimpulan itu diambil pada sarasehan “Memperingati 1 Abad
> Hari Kebangkitan Nasional” yang dilaksanakan Bagian Infokom Pemko
> Tebing Tinggi, Rabu (4/6), di Balai Kartini.
>
>
>
> Selain Ketua Program Studi Antropologi Sosial PPS Unimed itu, nara
> sumber lain yakni Drs. H. Eddy Syofyan, M.AP yang juga Kabag Infokom
> Pemprovsu. Terlihat hadir Walikota Ir. H. Abdul Hafiz Hasibuan, jajaran
> Muspiko serta ratusan guru sejarah dari berbagai sekolah.
>
>
>
> Menurut Azhari, organisasi Budi Utomo bukanlah organisasi yang
> mengusung semangat kebangsaan, melainkan semangat Jawa sentris dalam
> kegiatannya. Bahkan dalam Kongres Pemuda 1928, Budi Utomo justru
> menolak kegiatan itu dan enggan bergabung bersama pemuda lain.
>
>
>
> Penetapan 20 Mei sebagai Harkitnas, merupakan sakralisasi sejarah
> akibat terjadinya sentralisasi penyampaian kesejarahan yang dilakukan
> Jakarta (Pusat). Sementara penetapan itu lebih kepada pengekoran yang
> dilakukan demi keuntungan penjajah Belanda, kata Azhari. Hal itu
> terkait dengan ketiadaan sumber daya bangsa dalam menggali secara
> faktual sejarah bangsa.
>
>
>
> Lebih jauh Ichwan Azhari, menyatakan sejarah terbagi dua, yakni fakta
> sejarah dan tafsir sejarah. Selama ini dalam pemahaman sejarah
> Indonesia, hal kedua begitu dominan. Sehingga tafsir sejarah dipandang
> sebagai sejarah itu sendiri. Akademisi jebolan salah satu perguruan
> tinggi Jerman itu, menyontohkan bagaimana secara fakta sejarah yang
> namanya sumpah pemuda itu tidak ada, melainkan kongres pemuda.
>
>
>
> Kalimat “sumpah pemuda” itu baru ada tahun 1958, ketika Soekarno
> mencetuskannya. Namun, kalimat itu kemudian, justru menghiasi berbagai
> buku ajar sejarah.
>
>
>
> Akibat terjadinya sentralistis sejarah yang dilakukan Jakarta , banyak
> fakta sejarah di daerah yang kemudian tak tergali dan terlupakan.
> Padahal, sejarah kebangkitan nasional tidak hanya terjadi di Jawa, tapi
> merata di seluruh tanah air. Contohnya di Sumut, banyak tokoh
> kebangkitan nasional yang berjuang, seperti MH Manulang (Tanah Batak),
> Tengku Hasyim (Langkat) Sutan Cahyangan (Tapanuli) atau Williem
> Iskandar dan Putri Lopian. Tapi sejarah nasional kemudian tidak
> mencantumkannya.
>
>
>
> “Dari sejarah yang banyak salah ini, kemudian melahirkan pejabat yang salah dalam memahami sejarah,” tegas Ichwan Azhari. (a08)
>
> (wns)

Mengenai Sumpah pemuda dan Soekarno.

tales of revolution page 61:

….

But the young men of 1928 were more modern. they were united in the perhimpunan pelajar Indonesia. The union was founded in 1926 and had branches in jakarta , bandung and surabaya. the direct goal of this union was to unite all the provincial youth organization in indonesia. The PPPI was disgusted with the older indonesian political parties after the decline of SI and disappearance of PKI and general apathy that had set in after the severe dutch actions againts radical nationalism.

The PPPI was very impatient and wanted a free indonesia as quickly as possible, after a very intensive lobbying a national conference was held in 1926 but it failed to convince the youth leaders of all island of archipelago that they must stop feeling as separate organization and that they should unite in one big organioation.

The great all national youth congress held on 26 october was great success.

Cindy’s adams book or rather soekarno story about the pledge of the youth movement is incorrect. He had to claim to be the initiator of it all. He said:

On october 28, soekarno officially proclaimed the solemn pledge: one nation, one flag, one language.In 1928 we sang our national anthem for the first time.

soekarno was in fact only an interested guest at young congres. He might have talked a lot with the congress leaders and the other participants and might have influenced them. He was there when the pledge was given and when indonesia raya was introduced.

he might have agreed with the pledge but he proclaimed the flag was just again in his imagination, becvause i myself was there and with some of the others hoisted the red white flag which had already been recognized for some years as national flag during ceremenonies of PPPI and the pandu indonesia. these stories by soekarno reflect badly on the reliability of his autobiography.