Tags

Beberapa Catatan Dari Perspektif Sejarah dan Antropologi Atas Buku
Amien Rais ″Selamatkan Indonesia″*

Oleh : Dr.phil.Ichwan Azhari*

1. Sejarah Berlanjut

Amien menulis bab 1 bukunya dengan judul „Sejarah Berulang” yang
mensimplikasikan dan menarik garis sederhana bahwa apa yang
berlangsung di Indonesia saat ini merupakan ulangan semata dari yang
terjadi sejak zaman VOC. Uraian ini bagi saya sangat menarik karena
jarang ada analis yang memiliki kepekaan historis, menghubungkan
akar-akar di masa lalu dengan kelanjutannya di masa kini. Akan tetapi
sayang sekali sumber-sumber sejarah yang digunakan Amien sangat miskin
dan tendensius menggambarkan semata kehebatan VOC dan keberhasilan
eksploitasi ekonomi dan politiknya di Indonesia. Seandainya Amien
berkesempatan mempelajari studi-studi sejarah periode ini yang ditulis
Furnivall, Ricklefs bahkan sumber-sumber Jawa yang luar biasa
banyaknya, maka analisa dan kesimpulan yang ditarik Amien tentang
hubungan politik , ekonomi dan kekuasaan VOC dengan raja-raja Jawa
akan lebih menarik.
Dalam kajian sejarah mutakhir tentang VOC di Indonesia keadaan VOC
berhadapan dengan intrik-intrik kekuasaan politisi Jawa tidaklah
sehebat yang digambarkan sumber-sumber Amien dalam bab 1 bukunya.
Selama 80 tahun awal keberadaannya di Jawa, VOC masuk dalam jebakan
menghadapi ruwetnya kekuasaan raja-raja Jawa yang saling baku hantam,
sulit dipercaya, berkhianat, penuh intrik di kraton, melakukan
aliansi-aliansi longgar yang kemudian bubar, membuat
kesepakatan-kesepakatan tertulis yang kemudian tidak dijalankan,
memberontak, menolak adanya satu matahari kekuasaan, membuat
kerusuhan, elit-elit politik yang bermuka dua serta sultan-sultan yang
lemah dan peragu. VOC sangat lelah dan sangat tidak stabil berhadapan
dengan segala intrik politik penguasa Jawa. Dipihak lain VOC
berhadapan dengan perang dan persaingan dengan kekuatan-kekuatan
dagang Eropa lainnya seperti Inggris, Spanyol, Portugis dan dari dalam
digerogoti koruptor, salah urus perusahaan dan bercokolnya banyak
pemabuk dan orang-orang tidak profesional yang menjadi jalan bersama
menuju kebangkrutan dan pembubaran VOC.
Yang menarik dari periode ini untuk refleksi Indonesia masa kini
adalah bahwa koorporat asing (seandainya istilah ini cocok) yang
masuk ke Indonesia saat ini jauh lebih dahsyat dari segi kekuatan,
profesionalisme, jaringan global dibanding VOC, tapi elit politik
Indonesia yang berkuasa menyerupai apa yang berlangsung di berbagai
pusat pertikaian politik Jawa sejak awal abad 17. Jika dulu ada pada
institusi kraton dan raja-raja, mungkin sekarang ada pada partai,
istana, institusi militer, konglomerat, birokrat dari pusat sampai
daerah. Ini lebih cocok sebagai sejarah yang berlanjut.
Sisi lain yang perlu dikoreksi dari telaah sejarah Amien adalah
terobsesinya dia pada seakan-akan pernah adanya kebesaran masa lalu
Indonesia melalui hegemoni Majapahit dan Sriwijaya. Satu obsesi yang
merupakan kelanjutan dari obsesi Yamin dan Soekarno dalam merumuskan
Indonesia Raya. Padahal refleksi sejarah itu sudah lama dikalangan
sejarahwan dianggap sebagai refleksi yang sesat karena kejayaan
seperti diimajinasikan itu tidak pernah ada dalam sejarah. Indonesia
sebagai sebuah konstruksi negara dan bangsa baru ada pada awal abad 20
dan bukan merupakan warisan dari nenek moyang entah sejak jaman kapan.

2. Bukan Inlander tapi Budaya Politik Jawa

Mental inlander yang terdapat pada para pemimpin politik Indonesia
saat ini yang sering disebut-sebut Amien Rais memperlihatkan kurangnya
pemahaman penulis tentang dinamika sejarah dan budaya Indonesia.
Mental inlander menurut Amien berasal dari masa penjajahan yang
menunjuk pada sifat merendah bangsa kita pada Belanda dan
mengagung-agungkan bangsa asing (Barat). Bagaimana mungkin mentalitas
pada masa penjajahan Belanda itu bisa melompat ke pemimpin masa kini
sementara mereka tidak pernah mengalami kehidupan politik pada periode
Belanda tersebut?
Di pihak lain para pemimpin politik yang hidup dan mengalami periode
inlander itu, seperti misalnya generasi Tan Malaka atau Soekarno
Hatta, justru tidak memperlihatkan mental inlander. Mereka telah
berhasil mematahkan mental inlander itu pada saat seharausnya mental
itu mempengaruhi generasi mereka. Generasi Soekarno Hatta yang
dicitrakan positif dalam banyak bagian buku Amien adalah generasi yang
tidak masuk dalam kategori inlander, sulit dipahami logika sejarahnya,
jika generasi sesudah mereka kerasukan sifat inlander yang tidak
mereka kenal dan sama sekali tidak diwariskan generasi sebelumnya.
Oleh karena itu secara historis dan secara kultural sifat-sifat
negative para pemimpin yang disebut Amien inlander itu harus dicari
padanan yang tepat dan asal usul dari mana sifat itu meresap ke
kalangan politisi dan birokrat Indonesia. Saya mencurigai sifat-sifat
itu bukan dibawa dari periode jaman penjajahan Belanda, (yang telah
berhasil dipatahkan generasi Soekarno-Hatta), tapi justru dari
periode pasca pemerintahan Soekarno, yakni pada masa era kekuasaan
Soeharto yang sangat bersifat Jawa dan feodalistik.
Budaya Jawa pedalaman yang selama 30 tahun berkuasa secara hegemonik
dalam seluruh urat saraf birokrat, politisi dan system politik
Indonesia sampai saat ini, merupakan jalan buntu yang menyulitkan
bangsa ini keluar dari benang kusut yang dirisaukan oleh Amien dalam
bukunya. Sayang sekali mentalitas birokrat dan politisi yang bermental
jawanisme ini tidak banyak disorot dan diakui dalam buku Amien.
Padahal di UGM cukup banyak antropolog dan budayawan dan juga cukup
banyak literature antropologi yang bisa memberi kontribusi kepada
Amien terhadap tema ini. Seandainya Amien menelaah ini dengan cermat,
saya yakin dia akan memberikan telaah yang jauh lebih bagus dari pada
sekedar melemparnya ke keranjang sampah inlander era kolonial, padahal
yang sebenarnya terjadi adalah periode pascakolonial yang sarat dengan
budaya politik Jawa.
Menganalisa periode merasuknya budaya Jawa dalam perilaku politisi dan
birokrat Indonesia tidak harus memberi citra buruk terhadap semua
orang Jawa. Dalam kajian antropologi Jawa itu tidak homogen. Ada Jawa
pesisir yang lebih egaliter misalnya. Amien Rais dan Juga Gus Dur
bukanlah tipe Jawa pedalaman sebagaimana budaya yang dikembangkan
Soeharto dalam kehidupan politik Indonesia selama puluhan tahun.
Sementara itu tidak sedikit politisi dari luar Jawa yang sudah menjadi
Jawa karena keberhasilan Soeharto melakukan jawanisasi budaya politik
Indonesia. Oleh karena itu diperlukan suatu sikap oposisi yang terbuka
terhadap budaya politik Jawa yang sampai sekarang masih dominan, dan
oposisi yang paling efektiv adalah yang dilakukan oleh orang Jawa
sendiri.

3. Bukan Tokoh tapi Perombakan Sistem dan Landasan Budaya
Amien selalu menyebut bahwa agenda mendesak bangsa Indonesia adalah
munculnya kepemimpinan baru yang segera dapat memperbaiki keadaan yang
disebutkan dalam bukunya. Mahatir Muhammad bahkan Ahmadinejad adalah
tokoh yang disebut luar biasa dan terkesan bahwa Indonesia akan segera
bisa keluar dari keterpurukan jika pemimpin seperti ini bisa muncul di
Indonesia dalam waktu dekat. Pandangan seperti ini memperlihatkan
syndrome ratu adil, yakni keadaan yang amburadul dan hancur-hancuran
sekarang ini akan segera bisa diakhiri jika sang ratu adil datang.
Alkisah, sepuluh tahun yang lalu, sewaktu gelombang reformasi
dianggap berhasil menumbangkan Soeharto, orang menganggap inilah era
tampilnya kepemimpinan baru yang akan membawa Indonesia keluar dari
kehancuran. Ada empat orang pemimpin yang dielu-elukan waktu itu,
Amien Rais, Megawati, Gus Dur dan Sultan Hamengkubuwono X. Dua dari
empat orang itu kelak pernah bergantian menjadi presiden. Amien Rais
pun menduduki posisi sangat strategis sebagai ketua parlemen. Tapi
kenapa sang pemimpin tak juga bisa membawa Indonesia keluar dari
kemelut bahkan mewariskan kondisi Indonesia seperti sekarang yang
diuraikan dalam buku Amien ini ?
Dilihat dari perspektif antropologi, ada yang luput dari pandangan
banyak pemimpin dan orang-orang terdidik selama ini. Selalu dianggap
bahwa perubahan segampang membalik telapak tangan. Munculnya pemimpin
yang kuat dan flamboyan dianggap sudah cukup sebagai instrumen
satu-satunya untuk segera mengakhiri kekacaubalauan. Padahal yang
lebih mendasar dilakukan adalah kehadiran pemimpin yang segera
melakukan perombakan sistem dan perubahan landasan budaya. Sistem dan
landasan budaya yang ingin dirubah itu adalah sesuatu yang sudah
berlangsung lama, sehingga diperlukan juga waktu untuk merubahnya.
Misalnya, tanpa perombakan sistem dan landasan budaya, bisakah orang
sekaliber Mahatir atau Ahmadinejad menjadi presiden Indonesia dan
membawa Indonesia seperti Malaysia dan Iran ? Bukankah mereka dalam
bulan-bulan pertama pemerintahannya akan penuh kompromi dengan
parlemen agar tidak dijatuhkan dalam hitungan bulan ? Mereka akan
disibukkan memperkuat basis dukungan partai, tutup mata atas
penyelewengan, inefisiensi, asal kekuasaan dalam jangka pendek
menjadi lebih stabil sampai akhir periode dan diupayakan
terkonsolidasi untuk periode berikutnya. Mereka juga akan berhadapan
dengan anak kandung globalisasi : gerakan etnonasionalisme,
primordialisme dan konsumerisme yang rakus di dalam negeri yang rapuh.
Salah satu yang mendesak dilakukan pemimpin baru adalah melakukan
reformasi melalui jalur pendidikan. Ini tidak pernah dilakukan selama
ini. Hasilnya tidak seketika memang. Tapi jalur seperti itulah yang
banyak dilakukan negara-negara yang sukses dan berhasil keluar dari
lingkaran kemelut. Reformasi melalui jalur pendidikan merupakan
investasi yang akan membawa perubahan perombakan sistem dan landasan
budaya yang tangguh. Pada saat seperti itu pemimpin baru akan relatif
mudah berhasil membawa Indonesia menjadi negara sejahtera.

*Makalah di presentasikan dalam Bedah Buku “Agenda Mendesak
Bangsa-Selamatkan Indonesia” Karya Amien Rais.
*Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (PUSSIS) / Ketua
Program Studi Antropologi Sosial, Universitas Negeri Medan.