Tags

,

 Dalam istilah anak muda, orang yang lebih gaul,
> akan lebih terbuka melihat perbedaan. Inilah generasi baru yang
disebut
> sebagai kaum religius demokrat. Pada merekalah, masa depan
Pancasila
> dan keberagaman kita akan dipertaruhkan.
>

Istilah “Religious Democrat” atau “Religious Sosialist” bukan hal yang baru sebenarnya. Dalam buku “Portrait of Patriot: Hatta”,  Deliar Noer sudah menggambarkan bung Hatta sebagai Religious
Sosialis , begitupun tokoh tokoh lain seperti M. Natsir dkk bisa dikatakan sbg Religious-Sosialis. Mereka bisa menjadi relijius  sekaligus demokrat+sosialis karena mereka belajar western
civilization dan eastern kulture dan menyatu didalamnya.

istilah “relijius sosialis/demokratis” kurang dikenal di kalangan nasionalisme Indonesia yang dipimpin Bung Karno cs dari 1958 sampai 1966 karena Bung Karno sendiri tidak pernah mengecap pendidikan Barat. Ajaran “nasionalisme” secara tidak langsung mendorong  karakter “xenophobia” dan “rasialisme”. 

Xenophobia ini menurut wikipedia adalah “The fear or hatred of strangers or foreigners.”. Strangers disini termasuk Western  Civilization, Middle Eastern Civilization dst dst.

Yang perlu di”angkat” di Indonesia menurut Hatta dan Sjahrir, adalah “religious atau sekuler demokrat-sosialis” ini, karena dengan  begitu manusia Indonesia lebih mudah mengenal perbedaan dan lebih  adil terhadap sesamanya.

Konon kabarnya jaman parlementer dulu, M Natsir dan Aidit masih bisa makan soto bareng2 setelah keduanya saling berdebat berbusa busa di parlemen. Pun dalam hubungan lain, Natsir punya hubungan baik dengan Pak Kasimo.

Jadi memang bener kayaknya karakter pemimpin Indonesia 50 tahun lalu jauh lebih baik dari sekarang.