Tags

ekonomi Islam cenderung berada di jalan tengah antara sosialisme dan kapitalisme (atau
sintesa?).Sangat menarik lagi, di buku2 Mohammad Hatta, beliau mengusulkan  policy economy “Sentris” yang juga merupakan sintesa atau jalan  tengah antara sosialisme dan kapitalisme.

Analisa dari pilosopis Ekonomi-Islam(?) Bung Hatta menunjukan bahwa pemikiran Bung Hatta mempunyai akar dengan Fabian Socialism di UK. Disisi yang lain, Hatta beberapa kali merefer pemikiranya terhadap
Franklin Roosevelt khususnya dalam dunia setelah PD2.

Singkatnya, banyak kemiripan antara pemikiran “Mixed Economy / Third Way / Distributism” Hatta dengan Clinton dan Obama saat ini. Tentunya ini masih prematur dan over-generalization. Tapi the Big
question is….Apakah ini sebenarnya yang (dunia) inginkan ?

Di pihak lain, saya koq melihat kecenderungkan (demontrasi) anti perang,imprealisme,globalisasi,privatisasi sebenarnya merupakan perlawanan terhadap ideologi ekonomi new-right yang sangat pro-market dengan idenya imprealis/privatisasi/globalisasi yangawalnya dipelopori oleh Milton Friedman pada 1970an ketika sebagian negara eropa barat mengalami stagflation. Rezim ekonomi neo-liberal

Friedman ini memang mengandalkan unsur “greed” atau keserakahan tanpa  ada peranan negara dalam hal pembangunan negara. Teorinya selalu  mengedepankan “market” sebagai indikator pertumbuhan ekonomi
dimana  market/pasar tidak pernah salah. Indonesia sendiri saya pikir sebenarnya sudah lama memeluk paham ekonomi kapitalis cronysm-neo-liberal sejak Bung karno ditumbangkan.

Having said that, i think we live in very interesting and crucial times. Mungkin kita berada di persimpangan jalan. Di Indonesia partai reformis  menggunakan perbaikan moral untuk melakukan perubahan posif dan pola pikir ekonominya koq nggak jauh berbeda dengan Hatta ya :-)