Tags

, ,

> > > Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim
> > > Habibie Bilang, Silakan Tembak Saya..atau..
> > > Nopember ini, ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) menggelar
> > > muktamarnya yang ketiga di Jakarta. Banyak yang menilai, hajatan
> besarnya
> > > kali ini tidak seberuntung ketika Soeharto dan Habibie masih
> berkuasa.
> > > Di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, keberadaan ICMI
> dianggap
> > > meredup, karena tokoh kontroversial itu secara terbuka membenci
> organisasi
> > > cendekiawan Muslim itu. Salah satu buktinya, ICMI `ditendang’
> dari kantor
> > > lamanya di Kebon Sirih oleh dua orang dekat Presiden, Menristek AS
> Hikam
> > > dan Menag Tolchah Hasan.
> > > Bagaimana kelanjutan kiprah organisasi tempat bermuaranya cendekiawan
> > > Muslim dari berbagai aliran ini? Sahid mewawancarai tokoh yang
> berperan
> > > besar di balik pendiriannya 11 tahun yang silam. Dr Muhammad
> `Imaduddin
> > > `Abdurrahim MSc, pendiri ICMI yang pernah dipenjara karena aktivitas
> > > dakwahnya.
> > > Di rumahnya, di kawasan Klender, Jakarta Timur, kepada wartawan Suara
> > > Hidayatullah, lelaki sepuh (69 tahun) yang biasa dipanggil Bang Imad
> ini
> > > menceritakan kisah-kisah di balik berdirinya ICMI yang belum banyak
> > > diketahui orang.
> > > Misalnya, latar belakang kebencian Gus Dur terhadap ICMI. Upaya
> Jenderal
> > > LB Moerdani menjegal ICMI. Pandangan-pandangannya terhadap Habibie.
> Juga
> > > obsesinya menaikkan Cak Nur sebagai calon Ketua ICMI dan bahkan calon
> > > Presiden 2004.
> > > Dibandingkan tokoh-tokoh lainnya, ustadz yang berguru pada Ismail
> Raji’
> > > al-Faruqi ini menjadi unik karena hampir tak pernah terjun ke
> hiruk-pikuk
> > > partai politik. Bahkan di masa rame-ramenya orang bikin partai
> sekalipun.
> > > Lucunya, selama 14 bulan ia pernah dipenjara karena dianggap
> membahayakan
> > > kekuasaan rejim Orde Baru. Alhamdulillah, di penjara ia menghasilkan
> buku
> > > Kuliah Tauhid yang terkenal itu, dan telah dicetak delapan kali.
> > > Minatnya lebih pada dakwah dan pengkaderan. Dalam hal ini, ruang dan
> waktu
> > > yang dijelajahinya merentang luas sekali. Berbagai tempat di
> Nusantara,
> > > Malaysia, Amerika, Timur Tengah pernah menjadi basisnya. Sahabatnya
> ada di
> > > mana-mana. Ia salah satu murid kesayangan Mohammad Natsir, juga guru
> dari
> > > Anwar Ibrahim.
> > > Ah, mengapa dia tiba-tiba yakin, Anwar akan dibebaskan sebelum bulan
> > > Ramadhan mendatang? Selamat menyimak perjalanan dan
> renungan-renungannya.
> > > Bagaimana Anda melihat peran dan posisi ICMI di bawah rejim saat ini?
> > > Nggak apa-apa. ICMI kan jalannya karena Allah. Yang penting ummat
> Islam
> > > mendukung.
> > > Tapi sejak dulu Abdurrahman Wahid menentang ICMI?
> > > Itu karena dia merasa tidak dilibatkan. Padahal, pertama kali saya
> > > membentuk ICMI di Kota Gede, Yogya (1988), sebetulnya dia mau ikut.
> Dia
> > > setuju saya tempatkan sebagai salah seorang ketua. Tapi waktu mau
> > > berangkat isterinya sakit. Dia minta maaf tak jadi ikut.
> > > Sayangnya waktu Habibie menentukan kepengurusannya, saya ada tugas ke
> > > Kuala Lumpur sehingga tak sempat beri tahu Gus Dur. Di situ mungkin
> dia
> > > marah karena tidak diikutkan. Dia mengkritik macam-macam. Sayangnya,
> oleh
> > > kawan-kawan (yang hadir di Simposium Cendekiawan Muslim) di Malang,
> > > kritik-kritik itu dibalas. Seharusnya memang tidak usah dilayani.
> > > Akhirnya Habibie datang padanya dan minta dia masuk. Terus Gus Dur
> bilang,
> > > Saya tidak menentang, tapi saya tidak mau masuk. Habibie tetap minta
> orang
> > > NU ada yang masuk. Akhirnya Gus Dur memberi Dr Muhammad Thohir, orang
> NU
> > > yang diangkat jadi asisten Habibie. Pak Ud (KH Yusuf Hasyim) dan KH
> Ali
> > > Yafie yang saya usulkan pun oleh Habibie dimasukkannya.
> > > Di masa Orde Baru, sejak pulang dari Amerika Serikat, Bang Imad
> mengaku
> > > sering dibuntuti intel. Rapat persiapan pembentukan ICMI di Yogya itu
> pun
> > > sempat diintai, sehingga akhirnya dibubarkan polisi saat mereka
> sedang
> > > sarapan pagi.
> > > Anda sendiri dekat dengan Gus Dur?
> > > Saya dengan dia sebetulnya tidak ada apa-apa. Dia baik saja dengan
> > > saya. Saya kenal dia pertama kali ketika dia masih tingkat dua di
> > > Al-Azhar. Saya pulang dari Amerika sehabis mengambil S-2 tahun 1966,
> > > mampir ke Kairo. Nah dia yang jadi guide saya, karena bahasa arabnya
> > > fasih. Dia tahu saya dari HMI. Sampai ICMI terbentuk pun saya masih
> baik.
> > > Dia memberi kritik, Dengan ICMI ini bagaimanapun Bang Imad sebetulnya
> > > sudah masuk ke lapangan politik walaupun tidak berpolitik.
> > > Waktu itu Anda tidak melihat sentimen lain di belakang sikap Gus Dur?
> > > Saya justru ingin merangkul semua orang sesuai dengan sumpah saya.
> Waktu
> > > NU keluar dari Masyumi tahun 1948 (saya masih remaja), saya
> bersumpah,
> > > hanya akan masuk organisasi Islam kalau ia merupakan persatuan
> seluruh
> > > unsur ummat.
> > > Mungkinkah kebencian Gus Dur terhadap ICMI karena dia dekat dengan
> Benny
> > > (Moerdani)?
> > > Barangkali begitu alasan dia. Saya tak tahu. Mungkin saja dia diancam
> > > Benny.
> > > Di Balik Layar
> > > Para pengamat cenderung mengatakan, ICMI merupakan alat Soeharto
> mendekati
> > > Islam. Bagaimana sebenarnya proses berdirinya?
> > > Sepulang dari Amerika saya berdiskusi dengan Aswab Mahasin tentang
> para
> > > cendikiawan Islam yang saling bermusuhan. Dia bilang, Bang Imad kan
> yang
> > > masih diterima oleh semua. Satukan mereka.
> > > Dia meyakinkan saya bahwa harus saya sendiri yang menyatukan, karena
> wadah
> > > cendikiawan Islam yang sudah pernah ada tidak bisa. Tahun 1989
> Kebetulan
> > > saya diundang ceramah oleh Universitas Brawijaya. Pulang dari sana
> > > anak-anak Unibraw yang dipimpin Erik Salman almarhum datang kepada
> saya
> > > dan minta saya pindah ke Malang untuk meramaikan Masjid di sana.
> Supaya
> > > Unibraw bisa seperti Salman, kata mereka. Waktu itu saya sudah
> dipecat
> > > dari ITB.
> > > Saya bilang tidak bisa. Kemudian saya kasih saran supaya bikin
> simposium
> > > yang mengundang Habibie. Mereka setuju tapi minta saya ikut membantu.
> > > Apa pertimbangan Anda menyarankan nama Habibie?
> > > Waktu bulan puasa saya kebetulan baca wawancara dia di majalah
> Kiblat. Tak
> > > berapa lama di majalah Business Review dia jadi cover story. Di sana
> dia
> > > dipuji-puji.
> > > Bagaimana Anda bertemu Habibie?
> > > Waktu Hari Raya, saya ke rumah Pak Alamsyah (Ratuprawiranegara,
> mantan
> > > menteri agama). Saya tanya pada Pak Alamsyah, siapa orang dekat
> Soeharto
> > > yang kuat komitmennya terhadap Islam dan bisa menyatukan ummat. Waktu
> saya
> > > tanyakan tentang Emil Salim dia nggak setuju. Begitu juga waktu saya
> > > ajukan Azwar Anas.
> > > Ah, jangan. Orang bodoh bisa kamu bikin pintar, orang miskin bisa
> kamu
> > > bikin kaya, tapi seseorang walaupun pintar dan kaya namun pengecut
> tidak
> > > ada gunanya. Apa yang kamu kerjakan ini perjuangan. Jangan diajak
> berjuang
> > > orang pengecut, katanya.
> > > Saya tanya lagi, Jadi siapa Pak kira-kira orang dekat Soeharto yang
> ada
> > > komitmen Islamnya? Itu, tuh anak Bugis, Habibie, jawabnya. Saya kan
> tidak
> > > kenal dia, jawab saya lagi. Nanti saya kenalkan, kata Pak Alamsyah.
> > > Akhirnya anak-anak Malang itu berusaha temui Habibie, tapi nggak bisa
> > > tembus juga. Mereka datang lagi pada saya. Saya sampaikan ini pada
> Pak
> > > Alamsyah. Terus dia tulis memo di atas kop surat pribadi, dengan
> tulisan
> > > tangan,Tolong terima Dr `Imaduddin yang ingin ngobrol dengan saudara.
> > > Tapi Salman dan teman-temannya kesulitan juga untuk menyampaikannya
> ke
> > > Habibie karena ajudannya, Napitupulu, yang Kristen selama ini selalu
> > > mempersulit. Akhirnya saya sarankan supaya mereka cari tahu di mana
> > > Habibie shalat Jumat. Kan ajudannya tak ikut masuk. Rupanya itu
> > > dilaksanakan.
> > > Awal Agustus 1989 waktu Habibie keluar masjid habis Jumat, dikejar
> oleh
> > > Salman dengan membawa surat Pak Alamsyah. Langsung dipanggil
> ajudannya
> > > untuk buat janji bertemu. Tulis, hari Kamis tanggal 23 jam 12 saya
> terima
> > > ini, Dr `Imaduddin, kata Habibie.
> > > Bagaimana suasana pertemuan itu?
> > > Saya membawa Mas Dawam (Rahardjo) bersama empat anak dari Malang
> > > itu. Waktu kami sampai masih ada tamu di ruangannya. Kami tunggu.
> Lebih
> > > kurang pukul satu kami diterima. Tapi kami disuruh makan dulu.
> > > Waktu mereka pergi makan, saya tidak ikut karena puasa. Dia bilang,
> saya
> > > juga puasa. Nah kesempatan berduaan itulah saya `hantam’ dia.
> Sebab,
> > > tadinya waktu ngobrol ramai-ramai kami tidak diberinya kesempatan.
> Hanya
> > > dia saja yang ngomong. Setelah mereka pergi makan saya masukkan
> ayat-ayat
> > > Quran, tak-tak-tak. Dia diam saja.
> > > Kalimat saya tidak putus, tak saya beri dia kesempatan ngomong. Saya
> pikir
> > > waktu itu, dia ini memang harus dibombardir terus. Saya katakan,
> Ummat ini
> > > sudah dipinggirkan. Kalau Saudara tidak membela, tidak ada yang lain
> yang
> > > bisa membela, karena Saudara punya kapasitas. Saya meminta dia
> memimpin
> > > organisasi cendikiawan yang mau dibuat dalam simposium itu.
> > > Akhirnya dia bilang, Saya mau, saya mau, memang saya bertanggung
> jawab
> > > untuk ummat ini. Tapi kami disuruhnya dulu membuat proposal untuk
> > > disampaikan kepada presiden, karena dia merasa sebagai pembantu
> presiden
> > > tidak bisa memegang jabatan di luar tanpa ijin presiden.
> > > Saya kan lebih tua dari dia. Dia panggil saya Bapak. Katanya,
> Curahkan apa
> > > yang Bapak sampaikan ini dalam surat, dengan usul saya sebagai ketua
> > > organisasi ini. Tapi saya minta dukungan sedikitnya 20 tandatangan
> > > cendikiawan Muslim yang S-3 termasuk Cak Nur (Nurcholish Madjid).
> > > Saya buatlah surat itu dengan beberapa kali perubahan. Baru setelah
> itu
> > > saya cari tandatangan. Ketika didatangi para mahasiswa, Cak Nur
> tadinya
> > > nggak mau tanda tangan karena rencana itu berbau politik. Dia tanya
> pada
> > > saya di telepon, siapa di belakang ini. Saya bilang, saya yang ada di
> > > belakang proyek ini. Akhirnya dia mau ha..ha..ha… Setelah Cak Nur,
> > > barulah terakhir saya tanda tangan. Alhamdulillah terkumpul 49
> > > tandatangan, 43 diantaranya S-3.
> > > Jadi gagasan awal berdirinya ICMI berasal dari Anda ya?
> > > Saya memang yang memberi tugas kepada anak-anak Malang itu supaya
> > > mengadakan simposium di Unibraw yang mengupas tentang sumbangsih
> > > Cendikiawan muslim dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
> > > Waktu itu key note speaker-nya saya suruh anak-anak untuk minta
> Habibie
> > > saja. Rencana saya, sesudah dia bicara di simposium itu, pada session
> > > berikutnya saya akan membakar apa yang dikatakan Habibie dengan
> menegaskan
> > > pentingnya para cendekiawan Islam bersatu dan mengkampanyekan bahwa
> dialah
> > > yang tepat untuk memimpin wadah cendekiawan Muslim itu.
> > > Tapi Habibie minta pernyataan dukungan itu untuk disampaikan kepada
> > > Soeharto. Alhamdulillah, Soeharto juga mendukung, bahkan dia mau
> membiayai
> > > simposium itu. Dia juga bilang bersedia membuka acara itu.
> > > Rupanya Benny Moerdani ketakutan. Tanggal 6 Desember, hari Kamis
> tahun
> > > 1990, jam 7 pagi acara mau dibuka dan Soeharto akan sampai pakai
> > > helikopter dari Surabaya ke Malang. Tapi sampai malamnya, Kapolda
> Jatim
> > > belum kasih surat jaminan keamanan Soeharto sesuai undang-undang.
> > > Rapat panitia sampai jam 12 malam belum ada keputusan. Malam itu kaki
> > > tangan Benny, entah kolonel siapa namanya, berusaha membujuk Habibie
> > > supaya acara itu digagalkan dengan alasan sektarian. Sampai jam 12
> malam,
> > > Habibie jengkel dengan orang itu, akhirnya keluarlah Bugisnya,
> `’Silakan
> > > tembak saya di tempat, kalau tidak maka saya akan teruskan program
> > > ini.”
> > > Orang itu akhirnya mundur. Akhirnya jam dua pagi Habibie menelpon
> Kapolri,
> > > Pak (Jenderal) M Sanusi di Jakarta, minta jaminan keamanan bagi
> > > Soeharto. Nah Kapolri lalu menelpon Kapolda, perintahkan keamanan
> untuk
> > > Soeharto. Itulah sebabnya Benny menganggap saya The Most Dangerous
> > > Man. Itu dikatakannya kepada William Liddle, ahli politik Indonesia.
> Si
> > > Liddle yang bilang pada saya.
> > > Karena peran dan jasanya yang dianggap cukup besar, baik dalam dakwah
> > > maupun pendirian ICMI, tahun 1999 pengagum Umar bin Khatab itu pernah
> > > dianugerahi Bintang Mahaputra Adhipradana oleh Habibie, presiden RI
> ketika
> > > itu.
> > > Apa yang ada di benak Soeharto ketika itu sampai dia mau mendukung
> acara
> > > tersebut?
> > > Yang saya tahu Habibie itu sangat dekat dengan Soeharto. Kalau dia
> datang,
> > > itu bicaranya tidak satu jam, tapi bisa tiga jam, karena dia sudah
> > > dianggapnya anak oleh Soeharto.
> > > Ketika ICMI sedang jaya, Anda pernah berhubungan dengan Soeharto?
> > > Tidak. Tapi kata Habibie, Soeharto yang minta saya mewakili ICMI
> menjadi
> > > ketua di IIFTIHAR (International Islamic Federation for Technology
> and
> > > Human Resource Developent).
> > > ICMI dulu tidak bisa menghindar dari permainan politik yang dilakukan
> > > orang-orang di dalamnya. Bisa Anda jelaskan?
> > > Waktu itu, Habibie selain pemerintah juga kan pembina Golkar. Jadi
> > > kecintaannya kepada Islam membuatnya ingin memajukan pemimpin dari
> > > kalangan Islam di tubuh Golkar.
> > > Dia beralasan, kalau 90 persen Islam, maka 90 persen juga yang
> memegang
> > > jabatan. Ketika Frans Seda tidak setuju, dia bilang, Katanya
> > > demokrasi. Sumarlin juga pernah marah sama dia karena begitu. Pernah
> dia
> > > mengirim orang IPTN untuk beasiswa ke Al-Azhar. Alasan dia, IPTN kan
> > > banyak buruhnya muslim, mereka butuh pembimbing agama Indonesia. Ini
> bukan
> > > uang pemerintah, tapi uang saya pribadi, dia bilang begitu.
> > > Pencalonan Cak Nur
> > > Sejak Habibie jatuh, ICMI terkena dampaknya, perannya pun makin
> surut. Apa
> > > rencana Anda ke depan?
> > > Saya mengharapkan, kalau berhasil, kongres ICMI tanggal 9-12 November
> > > nanti, saya akan mulai kampanye supaya Cak Nur terpilih jadi ketua
> ICMI
> > > yang baru. Tak bisa disangkal, di Indonesia ini dia yang paling
> > > alim. Kalau dia yang jadi, dia suruh saya apa saja, nggak usah kasih
> saya
> > > jabatan, kerja saja, saya mau, dalam rangka mencetak kader-kader baru
> yang
> > > akan kita lempar di pasar politik. Terserah mereka mau ikut di partai
> > > mana.
> > > Apakah dia bersedia?
> > > Saya berkesempatan ngomong sama dia Mei kemarin. Kami ditakdirkan
> Tuhan
> > > dua hari dua malam bersama-sama di Taipei dalam satu undangan yang
> > > sama. Karena hotelnya sama kami ke mana-mana selalu bersama.
> > > Sepanjang itulah saya jejalkan dia, You harus siap. Dia menolak
> karena
> > > katanya akan ada orang yang tidak suka. Saya bilang, orang yang nggak
> suka
> > > itu urusan saya, yang penting kan kita mencari ridha Allah. Apa you
> tega,
> > > nanti ummat ini jadi hancur. Tidak ada pemimpin seperti you. Yang
> pandai
> > > banyak, tapi yang ikhlas itu you contohnya.
> > > Akhirnya karena saya keluarkan ayat-ayat dan hadits nggak berkutik
> > > dia. You jadi ketua ICMI. Konsentrasi mencetak kader selama empat
> tahun
> > > ini. Tahun 2004 angkat saya jadi manajer kampanye. Saya akan kampanye
> > > supaya you jadi presiden. (Bang Imad tersenyum)
> > > Katanya, Ah Bang Imad ini, ada-ada saja.
> > > Sudah, jangan bantah, ini demi rakyat, saya bisa baca hati rakyat,
> Saya
> > > bilang begitu dia diam saja.
> > > Tapi kan sudah ada pernyataan dari sejumlah pengurus ICMI, bahwa
> Habibie
> > > masih pantas memimpin?
> > > Iya, tapi dianya nggak mau. Pulang ke sini saja masih belum mau. Dia
> masih
> > > di Jerman. Dia itu orang cerdas dan ikhlas. Jarang ada kecerdasan
> otak dan
> > > keikhlasan hati bisa bertemu di satu pribadi.
> > > Waktu pemilihan Wakil Presiden tahun 1997, yang meyakinkan supaya dia
> mau
> > > dicalonkan Soeharto itu kebetulan saya. Sejak tahun 1996 saya sudah
> mulai
> > > meyakinkan dia. Lebih khusus lagi ketika sama-sama dari Jeddah,
> sepuluh
> > > jam dia berdiskusi sama saya.
> > > Wajib hukumnya, berdosa kalau you tolak, rakyat sudah menghendaki,
> kata
> > > saya.
> > > Saya sudah sangat dekat dengan dia waktu itu.
> > > Kemudian waktu saya dibawanya ke Brunei, pulang pergi lima jam saya
> charge
> > > lagi dia. Terus dia bilang, Bagaimana kata Tuhan lah nanti. Saya
> bilang
> > > lagi, Kalau rakyat menghendaki, Tuhan menghendaki.
> > > Dipenjara
> > > Bagaimana awalnya hingga Anda bisa masuk penjara?
> > > Saya melakukan aksi pengkaderan dengan menggelar training-training
> dakwah
> > > di Salman. Saya pulang dari Malaysia kan akhir 1973. Awal 74-nya saya
> > > mulai mengadakan LMD (Latihan Mujahid Dakwah). Semua fasilitas Salman
> saya
> > > manfaatkan betul-betul. Hampir tiap bulan selalu ada training.
> > > Bang Imad pernah dipinjam dari ITB oleh pemerintah Malaysia pada
> 1971-1973
> > > untuk membangun pendidikan tinggi di sana, karena ketika itu
> Perguruan
> > > Tinggi di Malaysia hanya setingkat D3. Kerja sama itu terjadi secara
> > > kebetulan, yakni ketika Dirjen Perguruan Tinggi Malaysia ketika itu,
> Datuk
> > > Hamzah terkesan dengan khutbah Jumat yang disampaikan Bang Imad di
> Salman.
> > > Padahal tidak ada gerakan politiknya, tapi mengapa Anda dianggap
> berbahaya
> > > hingga akhirnya ditangkap dan dipenjara?
> > > Ini kan karena Soedomo dan Benny yang tidak suka Islam.
> > > Sepulangnya dari Amerika tahun 1966, Bang Imad diangkat jadi Ketua
> Lembaga
> > > Dakwah Mahasiswa Islam di PB HMI. Di situlah ia menjadi sangat dekat
> > > dengan Ketuanya Nurcholish Madjid, dan banyak berkeliling Indonesia
> untuk
> > > memberi training dakwah.
> > > Setelah selesai dari HMI tahun 1969, ia diangkat menjadi imam di
> masjid
> > > Salman ITB. Waktu itu Salman sudah mulai berbentuk. Sejak itulah Bang
> Imad
> > > mempergunakan masjid itu sebagai basis pengkaderan. Cuma bedanya,
> kalau di
> > > HMI namanya LKD, Latihan Kader Dakwah, di Salman namanya LMD, Latihan
> > > Mujahid Dakwah.
> > > Oleh rejim militer waktu itu, rupanya kegiatan Bang `Imad dianggap
> > > mengancam kekuasaan. Maka ia dipenjara tanpa proses pengadilan dari
> Mei
> > > 1978 sampai Juli 1979 di LP Nirbaya. Ia pun sampai harus dipecat dari
> > > ITB. Penahanannya jadi berita sampul di majalah IMPACT International
> > > terbitan London, waktu itu.
> > > Baik pemenjaraan maupun pemecatannya tak pernah punya alasan yang
> jelas
> > > hingga hari ini. Jaksa pun menurut Bang Imad sampai bingung membuat
> > > dakwaan. Tapi menurutnya bisa jadi karena ceramah-ceramahnya yang
> sangat
> > > keras terhadap Soeharto serta yang membangkitkan semangat
> anti-dominasi
> > > ekonomi Cina dan Kristenisasi. Saya memang sempat menyebut Soeharto
> > > Fir’aun, katanya. Yang unik, julukan itu disematkan kepada
> Soeharto karena
> > > ia berhasil menyusup ke makam yang disiapkan Soeharto untuk diri dan
> > > keluarganya di Imogiri. Areal pemakaman berharga ratusan juta itu,
> dengan
> > > tiang berlapis emas, difoto oleh Bang Imad, dan tersebar di majalah
> > > ITB. Yang bikin makam sebelum mati kan Fir’aun, tuturnya. Ia
> akhirnya
> > > dibebaskan, setelah rektor ITB waktu itu Prof Doddy Tisna Amidjaja
> memberi
> > > jaminan.
> > > Bagaimana reaksi sesama aktivis dan tokoh-tokoh Islam waktu itu?
> > > Nggak ada itu. Semua pada ketakutan. Hanya Pak Natsir yang mengirim
> surat
> > > ke luar negeri sehingga banyak dukungan bagi saya dari luar, Saudi,
> > > Hongkong, Inggris, Amerika, Australia. Media-media muslim di sana
> ikut
> > > merespon penangkapan saya.
> > > Bagaimana perasaan Anda saat dipenjara?
> > > Mulanya saya sempat kesal juga, tapi namanya juga perjuangan.
> > > Apa saja kegiatan Anda selama di penjara?
> > > Saya menulis buku Kuliah Tauhid. Saya banyak menghafal ayat-ayat
> > > Quran. Setiap hari saya baca Quran satu juz berikut tafsirnya. Saya
> juga
> > > bergaul dengan napol seperti Subandrio. Dia malah belajar Islam
> dengan
> > > saya selama setahun.
> > > Kegiatan pengkaderan menjadi concern Bang Imad sejak dulu, karena ia
> yakin
> > > hal itu lebih besar pengaruhnya ketimbang aksi jangka pendek.
> Keyakinan
> > > itu, akunya, diperoleh dari nasihat mantan Wapres RI pertama,
> Mohammad
> > > Hatta yang pernah memanggilnya bersama sejumlah pemuda Islam.
> > > Saya fanatik pada pesan almarhum Pak Hatta, bahwa perjuangan yang
> > > seharusnya adalah dengan pendidikan. Pesan itu disampaikan langsung
> ketika
> > > saya baru lulus ITB, kata anggota Pengurus Pusat Dewan Dakwah
> Islamiyah
> > > Indonesia (DDII) ini. Sekeluar dari penjara tidak ada universitas
> negeri
> > > yang berani mengundang Bang Imad. Unibraw-lah yang pertama kali
> > > mengundang. UI pun pernah mengundang tiba-tiba dibatalkan oleh
> almarhum
> > > Prof Daud Ali. Ceramah di Unibraw itulah yang kemudian menjadi titik
> awal
> > > perjuangan berikutnya dengan mendirikan ICMI.
> > > Dinasihati Bung Hatta
> > > Bagaimana isi pesan Bung Hatta itu?
> > > Beliau bilang, `’Jangan dibayangkan kita ini seperti Amerika dan
> Eropa
> > > Barat. Mereka itu kan sudah ratusan tahun merdeka. Kita kan baru
> tujuh
> > > belas tahun. Rakyat kita masih banyak yang buta huruf, terutama orang
> > > Islamnya, karena dibikin bodoh oleh Belanda. Rakyat ini belum tahu
> apa
> > > kewajiban dan haknya.
> > > Kata Bung Hatta, selama rakyat belum tahu hak dan kewajibannya kita
> tidak
> > > bisa berdemokrasi. Oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang adalah
> > > bagaimana mendidiknya supaya mengerti hak dan tanggung jawabnya.
> > > Saya dengar kalian mau bikin masjid di ITB. Saya gembira, itulah yang
> saya
> > > mau, karena kita membutuhkan pemimpin yang jujur, bertaqwa dan
> > > ikhlas.”
> > > Pesan Bung Hatta itu saya pegang betul.
> > > Bagaimana Anda bisa bertemu Pak Hatta?
> > > Dia yang minta. Tahun 1962, ketika saya baru jadi dosen, suatu hari
> saya
> > > ditelepon oleh Pak Kasoem, pemilik pabrik kaca mata yang sekarang
> > > diteruskan anaknya, Lily Kasoem. Saya diminta mengumpulkan sejumlah
> pemuda
> > > Islam. Katanya, Pak Hatta, yang waktu itu baru berhenti dari
> jabatannya
> > > Wakil Presiden, mau ketemu.
> > > Datanglah kami waktu itu bertujuh, termasuk Hussein Umar dari PII,
> > > dijemput pakai minibis ke Ujung Berung, tempat peristirahatan Pak
> > > Hatta. Saya duduk berdekatan dengan beliau. Tiba-tiba Pak Kasoem
> menunjuk
> > > saya jadi juru bicara. Langsung saya diberi kesempatan pertama
> bicara.
> > > Orang Medan kan nggak kenal basa-basi. Saya ngomong langsung,
> `’Kami
> > > pemuda Islam sangat kecewa kepada Bapak.”
> `’Kenapa,”
> > > kata Pak
> > > Hatta. `’Kami anggap Bapak tidak bertanggung jawab karena Bapak
> > > meninggalkan kursi wapres. Padahal semua tahu, kalau Soekarno itu
> tidak
> > > mau mendengar siapapun kecuali Bapak. Sekarang setelah Bapak
> tinggalkan,
> > > Soekarno merajalela. Negara jadi begini, begitu kata saya.
> > > Saya pikir dia marah, nggak tahunya dia malah senyum-senyum.
> `’Saya bangga
> > > kalian ngerti juga politik, tandanya kalian peduli dengan nasib
> > > bangsa,”
> > > katanya. Baru setelah itu beliau menyampaikan pesan tadi.
> > > Apa jawaban Bung Hatta pada kekecewaan itu?
> > > Kata Bung Hatta, `’Nggak bisa cocok saya dengan Soekarno. Biar
> saya beri
> > > dia kesempatan, mau diapakan negara ini.” Kemudian saya
> bantah
> > > lagi,”Tapi kan sekarang Soekarno jadi diktator.”
> > > Dia bilang lagi, `’Itu karena rakyatnya masih bodoh. Dia akan
> berubah
> > > kalau rakyat bisa kalian didik. Jadi tugas kalian sekarang adalah
> > > bagaimana mendidik rakyat. Satukan ummat ini dengan kecerdasan yang
> > > memadai. Jadi jangan ke politik dulu sekarang ini, tapi melatih dan
> > > mendidik dulu.” Ucapan Pak Hatta ini merasuk ke dalam otak
> dan hati
> > > saya. Itu yang saya pegang.
> > > Puluhan tahun Bang Imad melakukan kaderisasi formal dan informal di
> > > kalangan pemuda, khususnya di Masjid Salman ITB. Kaderisasi itu
> banyak
> > > diminati para mahasiswa hingga mempengaruhi perkembangan dakwah di
> > > berbagai kampus lainnya di Indonesia saat itu. Sebabnya adalah, visi
> > > dakwah Bang Imad banyak difokuskan pada pembentukan Tauhid sehingga
> banyak
> > > melahirkan kader-kader militan.
> > > Kuliah Tauhid
> > > Visi pengkaderan yang Anda lakukan sangat kental fokusnya pada
> tauhid. Apa
> > > latar belakangnya?
> > > Rasulullah 23 tahun berdakwah, 13 tahunnya konsentrasi pada tauhid.
> Ini
> > > pegangan saya. Makanya saya yakin, orang yang belum beres tauhidnya
> masuk
> > > ke politik, dia akan goyang.
> > > Selain itu ayah kan tamatan Al-Azhar. Sejak saya kecil, dia selalu
> > > menekankan masalah tauhid kepada saya. Sementara, kalau soal fiqih
> akan
> > > dijelaskan kalau ditanya saja. Menurut dia, tauhid itu yang bisa
> membentuk
> > > pribadi. Saya pun yakin dengan doktrin ini.
> > > Karena visi dakwah tersebut, oleh Mahathir Bang Imad pernah dikontrak
> > > sejak 1987-1994 untuk membangun etos kerja para pejabat Malaysia
> dengan
> > > memberikan pembekalan tauhid. Dalam pandangannya, bagaimana seseorang
> > > bertauhid bisa dilihat dari urusan terbesar, seperti mengatur negara,
> > > sampai yang kecil-kecil seperti soal rokok.
> > > Anda mengharamkan rokok. Kenapa?
> > > Coba, ilah itu apa artinya? Ada berapa kali perkataan ilah dalam
> > > al-Quran? Saya sudah hitung, semuanya ada 147 kali, baik yang mufrad
> > > maupun yang jamak. Dan artinya macam-macam, dari yang kongkrit sampai
> yang
> > > abstrak.
> > > Contoh yang abstrak adalah orang yang meng-ilah-kan hawa
> > > nafsunya. Afaraayta manittakhadza ilaahahu hawaahu. Hawa terhadap
> rokok
> > > juga bisa jadi ilah. Sesuatu yang mengikat kita itulah ilah. Orang
> yang
> > > mengerti Laa ilaaha illallah tidak akan mau dipengaruhi dan diikat
> oleh
> > > siapapun dan apapun, termasuk oleh rokok.
> > > Meski anti rokok, interaksi Bang Imad dengan kawan-kawannya yang
> perokok
> > > tetap baik. Mereka sangat menghargai prinsip Bang Imad itu. Sebagai
> contoh
> > > adalah AM Saefuddin, sahabat dekatnya di Dewan Dakwah. Kabarnya,
> bekas
> > > menteri yang perokok berat itu segan merokok di depan Bang Imad.
> > > Selain soal rokok, pemahaman tentang Tauhid membuat Anda menjadi
> kritis
> > > terhadap penguasa ya?
> > > Dulu Soeharto kan memper-ilah dirinya, sama seperti Fir’aun. Itu
> sudah
> > > syirik.
> > > Kabarnya sesudah di penjara Anda mengaku belajar dan mulai mengubah
> > > pendekatan terhadap Soeharto?
> > > Saya menyadari akhirnya, bahwa yang melawan Namruj kan Ibrahim.
> Ibrahim
> > > itu anak siapa? Dia anak Azar, tangan kanannya Namruj. Jadi orang
> Istana
> > > juga yang menjatuhkannya. Begitu juga dengan Fir’aun yang
> dijatuhkan
> > > Musa. Musa kan sejak bayi dibesarkan di Istana Fir’aun. Orang
> dalam
> > > juga. Kemudian saya mencoba mencari figur di rejim Orba yang bisa
> membawa
> > > perubahan. Muncullah Habibie melalui ICMI yang saya dirikan bersama
> > > teman-teman itu.
> > > Tak Berpolitik
> > > Selama ini Anda paling konsisten untuk tidak bergabung di partai
> > > politik. Mengapa?
> > > Saya menganggap politik praktis itu tidak mungkin dijalankan oleh
> orang
> > > yang tauhidnya belum beres, karena yang akan mereka cari kan
> kedudukan,
> > > bukan kebenaran.
> > > Dulu waktu Masyumi pecah, NU keluar tahun 48, waktu itu saya mau naik
> > > kelas III (SMU), saya bersumpah, Demi Allah saya tidak akan bergabung
> > > dengan satu partai pun, sebelum partai Islam bersatu. Saya hanya
> memegang
> > > ini saja. Padahal Masyumi adalah satu-satunya partai Islam waktu itu.
> > > Dalam berorganisasi pun saya sempat kecewa. Ketika SMP dan SMA kan
> saya di
> > > PII. Di ITB saya di HMI. Waktu itu saya gembira sekali karena
> organisasi
> > > mahasiswa Islam cuma satu. Sampai ketika tahun 60-an, saya lupa
> persisnya,
> > > Mahbub Junaedi dari NU, keluar dari HMI dan mendirikan PMII
> (Pergerakan
> > > Mahasiswa Islam Indonesia).
> > > Padahal waktu itu dia wakil ketua di PB HMI. Saya kecewa sekali, tapi
> > > bagaimana lagi. Nah saya baru berorganisasi lagi di ICMI. Di ICMI
> saya
> > > berbahagia, karena ada semua, tokoh NU masuk, Muhammadiyah dan
> lain-lain.
> > > Bang Imad juga pernah masuk Hizbullah, laskar rakyat bentukan
> > > Masyumi. Karenanya ia pernah dilatih jadi tentara sampai mendapat
> pangkat
> > > sersan satu. Ia sempat juga bergerilya melawan Belanda, Tapi yang
> berhasil
> > > ketika mencuri senjata Jepang, kata pria berkaca mata ini.
> > > Menjelang Pemilu 1992, Pak Natsir, pernah berfatwa untuk mendukung
> > > PPP. Mengapa Anda tidak menganggap itu sebagai instruksi?
> > > Waktu itu PPP tidak jelas, karena masih mengekor kepada
> > > Soeharto. Sementara saya orangnya tidak bisa begitu. Itu watak dan
> > > keyakinan saya, terserah orang suka atau tidak.
> > > Saya berpegang pada hadist Nabi, `’Kami tidak akan memberikan
> jabatan
> > > kepada orang yang menginginkan jabatan itu.” Ada juga hadits
> Qudsi
> > > yang
> > > mengatakan, `’Kalau engkau menerima jabatan karena dipaksa maka
> Aku akan
> > > mendampingi engkau. Tapi kalau engkau menerima jabatan karena engkau
> > > menginginkannya, maka aku akan biarkan engkau sendirian dengan
> jabatan
> > > itu.”
> > > Jadi saya takut sekali. Kalau dipaksakan, oke saya terima. Kalau
> misalnya
> > > Pemilu nanti rakyat memilih saya langsung jadi presiden, mengapa
> > > tidak. Tapi seperti saya bilang tadi sekarang ini saya sedang giat
> > > mempromosikan Cak Nur jadi presiden, walaupun tidak lewat lapangan
> > > politik.
> > > Mengapa Cak Nur?
> > > Dia orang ikhlas dan pengetahuannya dalam. Saya tidak melihat orang
> yang
> > > lebih baik dari dia.
> > > Usia Anda sekarang 69. Tahun 2004 nanti apakah Anda masih sanggup
> menjadi
> > > manajer kampanye Cak Nur?
> > > Kalau sehat, Insya Allah. Kalau untuk dia saya akan mendukung terus.
> > > Bang Imad pernah mengalami sakit parah sejak Juli 1997 sampai Oktober
> > > 1998. Saat itu jantungnya harus dioperasi. Karenanya, Saya hanya bisa
> > > menyaksikan kejatuhan Soeharto melalui TV saja.
> > > Soeharto dan Anwar Ibrahim
> > > Tentang pengadilan Soeharto, sebagai orang yang pernah dianggap
> musuhnya,
> > > bagaimana sikap Anda?
> > > Anaknya saja yang dibicarakan. Kasih hukuman yang berat. Yang penting
> > > sebetulnya kembalikan uang milik rakyat itu. Kan tidak sedikit itu,
> 30
> > > miliar dolar (menurut majalah Forbes 45 miliar dolar). Kembali
> separohnya
> > > saja sudah untung betul. Anggaran belanja kita kan tidak sampai
> > > segitu. Kalau dia mau mengembalikan itu, sudahlah maafkan saja.
> > > Tapi, maaf juga kan harus lewat proses pengadilan?
> > > Diadili juga tidak bisa. Mau apa lagi. Dokter bilang dia sudah
> permanen
> > > sakit.
> > > Ngomong-ngomong, sebagai orang yang dekat dengan Anwar, bagaimana
> kondisi
> > > terakhirnya?
> > > Berbagai cara sudah kita lakukan supaya dia bebas. Ada yang mengajak
> cara
> > > spiritual dengan doa bersama juga saya tempuh. Karena ada hadits
> > > Rasulullah Saw, kalau 40 orang berdoa dengan permintaan yang sama,
> insya
> > > Allah diijabah.
> > > Ada seorang kiai yang mengerahkan 40 santrinya untuk berdoa bagi
> kebebasan
> > > Anwar. Tiga hari yang lalu saya ditelpon, insya Allah sebelum puasa
> bebas
> > > dia. Itu kekuatan doa.
> > > Semangat Jihad
> > > Latar belakang Anda adalah ilmu elektronika. Dari mana Anda belajar
> agama?
> > > Sejak kecil setiap habis subuh ayah mengajarkan Quran dan tafsirnya.
> Dari
> > > surat al-Fatihah sampai tiga puluh juz. Itu sedemikian kuat tertanam,
> > > tidak lupa sampai sekarang, Alhamdulillah. Itulah bekal saya
> berdakwah dan
> > > berjihad.
> > > H Abdul Rahim Abdullah, ayah kandung Bang Imad adalah seorang ulama
> > > tamatan Al-Azhar yang pernah diangkat dan diasuh oleh mufti
> kesultanan
> > > Langkat. Ibunya, Syaifatul Akmal, adalah cucu Sekretaris Sultan
> Langkat
> > > yang pernah menjadi murid ayahnya sebelum dikawini. Darah keulamaan
> itulah
> > > yang menurun kepada Bang Imad, anak kelima dari sembilan bersaudara.
> > > Apa yang membuat Anda sangat bersemangat dalam dakwah dan jihad?
> > > Dulu kisah perang Uhud sering diceritakan ayah saya. Dalam perang itu
> ada
> > > remaja yang turut berjihad di usia belia dan berhasil meraih syahid.
> Bagi
> > > saya cerita itu sangat mendalam pengaruhnya. Jadi saya ingin seperti
> itu
> > > waktu itu. Apalagi kondisi waktu saya kecil, memang memungkinkan saya
> > > punya semangat itu.
> > > Sesudah Proklamasi, Belanda merebut kampung kami di Tanjungpura. Ayah
> saya
> > > sebagai ketua Masyumi jadi incaran Belanda. Sehingga kami semua lari
> masuk
> > > hutan, dekat pinggir laut. Selama seminggu kami bersembunyi hanya
> makan
> > > nangka muda, daun pakis dan buah nipah. Mana sedang bulan puasa.
> Sejak itu
> > > semangat juang saya terbentuk.
> > > Sampai-sampai karena ingin ikut berjuang, di Hizbullah saya berbohong
> > > tentang umur saya ketika mendaftar. Waktu ditanya saya bilang,
> `’tujuh
> > > belas”. Padahal umur saya baru lima belas. Saya pikir, kan
> ketua
> > > Masyuminya ayah saya. Akhirnya saya diterima.
> > > Tapi ketika dia tahu saya masuk Hizbullah dengan berbohong, dia tidak
> > > marah. Justru dia malah tersenyum dan membiarkan saya ikut. Padahal
> dia
> > > orangnya keras sekali. Itu pertama kali seumur hidup, saya berbohong
> tapi
> > > tidak dimarahi.
> > > Selain ayah, siapa guru yang waktu itu berpengaruh juga?
> > > Ada yang berkesan saat itu. Sepulang gerilya saya ditanya oleh guru
> > > saya. Abdullah namanya. `’Mau apa kamu ikut perang”.
> `’Mau
> > > merdeka,”
> > > kata saya. `’Kalau sudah merdeka nanti, yang begini tidak perlu
> lagi. Yang
> > > diperlukan nanti adalah insinyur yang bisa membangun
> negara,”
> > > katanya.
> > > Sejak itu saya balik lagi untuk sekolah. Guru yang mengajar tinggal
> dua
> > > orang, salah satunya Pak Abdullah tadi. Yang lain keterusan jadi
> > > tentara. Makanya saya sempat diminta mengajar kelas di bawah saya.
> Itu
> > > pengalaman pertama saya mengajar.
> > > Sejak kecil bakat kecerdasan Bang Imad memang sangat menonjol,
> terutama di
> > > bidang eksakta. Ketika pertama kali datang ke Jakarta, setelah lulus
> dari
> > > SMA Negeri Langkat, tahun 1953, ia langsung diberi beasiswa oleh
> > > Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan untuk belajar di ITB
> > > karena angka di rapornya rata-rata delapan dan sembilan. Pria yang
> lahir
> > > 21 April 1931 itu lulus ITB tahun 1961 dan pada Januari tahun
> berikutnya
> > > oleh profesornya, Tubagus Sulaiman ia langsung diminta mengajar di
> > > ITB. Padahal ia baru diwisuda bulan April.
> > > Yang unik, di almamaternya itu, ia justru diminta mengajar kuliah
> agama
> > > Islam bukan Teknik Elektro, jurusan yang diambilnya ketika kuliah.
> Itu
> > > karena latar belakangnya yang HMI dianggap layak. Apalagi mata kuliah
> > > (MK) yang dipelopori oleh dekannya itu ditetapkan menjadi MK wajib
> seluruh
> > > perguruan tinggi di Indonesia oleh Menteri PPK waktu itu, Prof.
> Thayib
> > > Hadiwidjaja. Karena keenceran otaknya juga, takdir Allah di tahun
> 1963,
> > > Bang Imad mendapat beasiswa dari pemerintah untuk meneruskan belajar
> di
> > > bidang Elektro Arus Kuat di IOWA State University.
> > > Begitu pula sekeluar dari penjara, tahun 1980, mendapat beasiswa dari
> > > pemerintah Arab Saudi untuk mengambil gelar doktor di universitas
> yang
> > > sama. Sayangnya, ketika selesai S-3, tahun 1984 ia dilarang pulang
> oleh
> > > Pak Natsir karena meledaknya Peristiwa Priok.
> > > Keluarga
> > > Anda menikah lagi diusia senja. Apa motivasinya?
> > > Sebetulnya, ceritanya tidak sengaja. Dimulai ketika saya sedang
> membantu
> > > seorang anak gadis yang baru lulus SMA dan ingin mencari beasiswa ke
> > > Malaysia.
> > > Waktu itu dia sempat mengadukan keadaannya setelah ditinggal ayahnya
> > > sambil menangis. Saya pun terharu, karena teringat mendiang ayah dan
> ibu
> > > saya yang yatim ketika kecil.
> > > Apalagi saya berpikir, kalau saya mengurus orang yang bukan muhrim
> saya,
> > > apa kata orang nanti. Jadi untuk menjaga fitnah saya memutuskan untuk
> > > menikahi ibunya. Jadi ini tidak semata-mata pertimbangan biologis.
> Usia
> > > saya waktu itu kan sudah 65 tahun.
> > > Bang Imad juga tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan itu.
> Karena
> > > itu, sebelumnya ia minta pertimbangan dari sahabatnya, Prof Ali Yafie
> dan
> > > Dr Sugiat.
> > > Baru kemudian keputusan itu direalisasikan pada 4 Agustus 1996, ia
> > > menikahi Leila Cutsiah, janda beranak empat yang kini sudah
> memberinya
> > > seorang putra, Muhammad Umar Imaduddin (3,5).
> > > Saya ingin dia jadi Umar abad 21, tandas ayah yang lebih tampak
> seperti
> > > kakek dari anak kesayangannya itu. Umar, yang ketika ditemui Sahid
> tampak
> > > lincah dan cerdas itu, bagi Bang Imad memang melengkapi kebahagiaan
> > > bersama tiga anaknya yang didapat dari istri pertama, Siti Amanah.
> > > Dari istri yang dinikahinya tahun 1967 itu ia dikaruniai Nur Halisah
> MBA,
> > > Ir. Sakinah, dan Rahimah MA yang tinggal di Cijantung. Di hari tuanya
> > > kini, Bang Imad selain aktif di DDII, ia juga masih memimpin Yaasin
> > > (Yayasan Pembina Sari Insan), sebuah lembaga pengembangan dan
> manajemen
> > > sumberdaya manusia di Jakarta.
> > > Mudah-mudahan di hari tuanya yang lebih senggang, Bang `Imad sempat
> > > merenungi kekurangan-kekurangannya di masa lalu, dan menghasilkan
> kader
> > > dakwah lebih banyak lagi. Amien.
> > > [Deka Kurniawan, wpr]
> > > –~–~———~–~—-~——

——~——-~–