Tags

 
SUARA PEMBARUAN DAILY

Supriyadi dan Pemberontakan Blitar

Rosihan Anwar

Belum lma berselang muncul di media tulisan tentang kembalinya Supriyadi, yang hilang tak tentu rimbanya setelah pemberontakan tentara PETA (Pembela Tanah Air) terhadap Jepang di Blitar pada Februari 1945.

Di sini, saya tidak akan terjun ke gelanggang polemik sejarawan, apakah orang yang mengaku diri Supriyadi itu “benar” atau “palsu”. Tatkala terjadi pemberontakan Blitar, saya wartawan harian Asia Raja dan lantaran sensor Jepang pengetahuan saya sedikit sekali mengenai peristiwa tersebut.

Untung saya gemar membaca sejarah dan menemukan dalam buku Javahet laatste front (2000), karangan W. Rinzema-Admiraal, sebuah cerita mengenai pemberontakan Blitar. Penulisnya melakukan penelitian terhadap arsip rahasia Kerajaan Belanda yang telah bebas untuk disiarkan, seperti: laporan dinas intel Nefis dan keterangan Jenderal Yamamoto yang bertugas di Jawa.

Berikut dipaparkan pemberontakan Blitar. Terlebih dulu keadaan umum di Jawa awal 1945. Waktu itu rakyat sengsara dan lapar. Beras dicatu. Di Pekalongan, beras dibatasi hanya 76 gram per orang per hari. Bandingkan dengan orang Jepang yang mendapat 640 gram beras per hari. Tekstil lenyap. Rakyat pakai baju karung goni atau karet. Para lurah diwajibkan memasok laki-laki dari desanya untuk dipaksa bekerja sebagai kuli atau romusa. Jepang mengirim mereka ke tambang batu bara dan terowongan Neyamah yang tidak jauh dari Blitar. Upah romusa, Rp 5 sehari, sama dengan harga satu porsi nasi tanpa sayur dan lauk. Kesengsaraan mengakibatkan sekitar 100 romusa meninggal dunia setiap hari.

Pada zaman kolonial Belanda, Blitar dikenal sebagai tempat aktivitas orang-orang kiri yang mendukung pemberontakan PKI tahun 1926. Gembong-gembongnya dibuang ke Boven Digul. Di zaman Jepang masih ada kader kiri yang bergerak di bawah tanah. Sikap anti-Jepang di kalangan rakyat berkembang luas.

Suasana Waspada

Sehari sebelum pemberontakan Blitar, 14 Februari 1945, di sebuah restoran yang menjual gado-gado duduk tiga tamu. Di luar hujan turun tiada hentinya. Salah seorang dari mereka berpakaian seragam PETA. Tamu kedua adalah daidanchoyaitu komandan PETA yang beranggota 500 orang dan biasa mengunjungi restoran itu. Semua tampak tenang serta aman. Tapi, di bawah permukaan ada suasana waspada. Rakyat marah, karena dekat terowongan Neyamah ribuan romusa menderita, sehingga jalan keluar ialah memberontak terhadap Jepang.

Supriyadi Shodancho (Letnan II) di daidan Blitar mengetahui sentimen rakyat. Tapi, dia berpendapat, pemberontakan harus terjadi serentak di Jakarta, Bandung, dan Semarang, dengan masa persiapan setengah tahun. Supriyadi dikagumi sebagai idola dan ditaati oleh kaum pemuda Blitar, karena dia mudah bergaul dengan orang-orang yang setara dan dengan pemuda-pemuda desa.

Tiba-tiba, ketiga tamu di restoran melihat dengan mata kepala sendiri, Jepang melemparkan jenazah romusa dari sebuah truk, lalu ditumpukkan di tepi jalan. Pemandangan kejam itu menimbulkan shock di kalbu ketiga anggota PETA. Kemarahan mereka mendidih cepat. Mulanya mereka mau meminta nasihat dulu dari luar dan dari pemimpin mereka di Blitar, dr Ismangil. Pada saat itu, kontak-kontak dengan Surabaya dan Semarang telah terputus.

PETA tahu tentang tindakan Jepang memperkukuh garis pertahanannya yang ketiga untuk menangkal kemungkinan kelak serangan tentara sekutu dengan mendirikan depot dan secara rahasia mengirimkan barang-barang dan perlengkapan ke Boyolali.

Di kalangan pemimpin- pemimpin PETA yang beroposisi terhadap Jepang, timbul pertanyaan, apakah gerangan tujuan akhir dari transpor-transpor Jepang ke daerah pantai? Mereka menyadari bahwa didahului dengan komunikasi antara sesama adalah sangat diperlukan aksi perlawanan.

Dalam situasi demikian, Supriyadi dan teman-temannya yang diinspirasikan oleh sentimen kuat marxistis dan antikolonial, tidaklah bisa bersikap menahan diri terus-menerus. Mereka sadar bahwa Jepang di Pulau Jawa berada di bawah tekanan keras akibat jatuhnya Luzon, Filipina, ke tangan tentara Sekutu. Maka, mereka mau memanfaatkan situasi itu.

Pada 25 Februari 1945 sore jalan-jalan raya di Kota Blitar tiba-tiba penuh dengan militer. Tiada seorang pun tahu, apakah ini suatu patroli ekstra atau tidak. Tahu-tahu terdengar bunyi rentetan senapan mesin dari arah asrama PETA.

Suasana mencekam. Di mana-mana orang siaga. Ternyata seorang Jepang dibunuh di Hotel Sakura. Tapi, para anggota PETA tetap meneriakkan “merdeka, merdeka” dan bertanya “Saudara mau ikut jalan mana, Jepang atau PETA?”

Pemberontakan Blitar merupakan sebuah tanda peringatan. Jepang pun melakukan penyelidikan. Restoran gado-gado diawasi. Secara incognito empat orang mengunjungi Blitar, di antara mereka adalah Mr Mohamad Yamin. Tidak jelas siapa yang mengirimkan mereka, Jawa Hokokai atau Gunseikanbu?

Anggota-anggota PETA dengan Supriyadi, karyawan di restoran dan ayah Supriyadi, ditahan dan disiksa oleh kempetai. Begitu antara lain yang dipaparkan dalam buku Java, het laatste front.

 

Penulis adalah wartawan senior