Tags

Tulisan berikut adalah salinan dari artikel yang ditulis di Majalah Prisma July 1977 oleh Abu Hanifah tentang Amir Syarifudin. Sebagai catatan, Abu Hanifah adalah teman sekolah Amir Syarifudin sejak jaman 20an. Dikemudian hari Abu menjadi spokeperson Masyumi sementara Amir menjadi salah satu founding father Indonesia (yang terlupakan). Tulisan ini bersambung.

>>>>>>>>>>>>

Rasanya tak perlu saya gambarkan terlalu banyak tentarig Angkatan 28. Diketahui Sekarang, bahwa dalam STOVIA telah timbul beberapa organisasi pemuda daerah, se perti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Am bon, Jong Minaliasa dan sebagainya. Semula organisasi itu bercorak kedaerahan, te tapi lama kelamaan kontak antara mereka, juga dengan cabang-cabang mereka di seluruh nusantara mulai nampak, dan tahun 1926 ada usaha untuk rnenggabungkanor ganisasi-organisasi pemuda daerah itu. Te tapi rupanya waktunya belum tiba; masih ada kecurigaan dan daerah-daerah terhadap kemungkinan dominasi mereka yang berasal dan Jawa, mengingat jumlah mereka mi memang besar.

 

Saatnya baru menjadi matang pada tahun 1928, terutama karena pimpinan pusat or ganisasi-organisasi pemuda itu umumnya berada di Jakarta dan dikuasai oleh maha siswa-mahasiswa yang tergabung dalam Per kumpulan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Untuk diketahui, waktu itu apa yang di sebut “pelajar” sama artinya dengan maha siswa sekarang. Mereka yang belajar di se kolah lanjutan seperti MULO, AMS, HBS, biasanya disebut “murid” dengan me nambahkan nama sekoiah di belakangnya. Begitulah pada Kongres Pemuda 11(1928) dilahirkan ikrar untuk bersatu. Lahirlah Sumpah Pemuda, Lagu Kebangsaan Indo nesia Raya dan pengakuan Merah Putih se bagai bendera Indonesia. Semua per kumpulan pemuda akan dibubarkan dan akan dilebur dalam suatu fusi. Organisasi Pemuda Indonesia yang semula menganggap dirinya sebagai wadah persatuan pe muda daerah, akhirnya mengalah juga dan ikut melebur dirinya dalam Indonesia Muda. Dengan demikian, mulai 1928 itu corak perjuangan pemuda berubah: dan corak kedaerahan menjadi corak kebangsaan. Sebenarnya yang dinamakan Angkatan 28 itu berasal dan tiga tempat:

 

Negeri Belanda (Perhimpunan Indonesia), Bandung (Studiclub)

dan Jakarta (Perkumpulan Pe lajar Pelajar Indonesia).

 

Tentu saja yang sa ya maksudkan adalah “inti” dan Angkatan 28. Dalam Perhimpunan Indonesia, kita kenal nama-nama Datuk Nazir Pamoentjak, Nazief, Hatta, Soekiman, Budi arto, Sartono, Soenario, Iskaq, Samsi, dan lain-lainnya. Yang berasal dan Bandung antara lain Sukarno dan Anwari. Sedang yang berasal dan Jakarta, yang jumlahnya lebih besar, adalah Mohamad Yamin, Amir Sja rifudin, Assaat, Wongsonegoro, Abbas, Su wirjo, Reksodiputro, Tamzil, dan banyak lagi.

 

Dalam hubungan mi saya akan membicara kan salah satu kelompok dalam Angkatan 28 itu, yakni kelompok Indonesis Clubgebouw (IC) di Kramat 106, yang sekarang disebut Ge- dung Sumpah Pemuda. Memang di sanalah Sumpah Pemuda itu pertama kalinya di ucapkan. Kelompok mi antara 1928 dan 1931 terdiri dan mahasiswa-mahasiswa senior berbagai Sekolah Tinggi dan STOVIA (tingkat 7 ke atas). Di gedung mi sering berkumpul juga mereka yang dan Bandung, seperti Bung Karno, atau mereka yang telah tamat belajar, seperti Sartono dan Soenario.

 

Kelompok Indonesis- Clubgebouw (IC) dalam Angkatan 1928

 

Kelompok IC, Angkatan ‘28, terdiri dan mereka yang tinggal di gedung Kramat 106, Me reka mi umumnya terdirl dan mahasiswa mahasiswa senior STO VIA dan pelbagai Se kolah Tinggi. Mereka termasuk yang be kerja keras dalam mensukseskan Kongres Pemuda ke dua, yang menghasilkan Sumpah Pemuda, lagu Kebangsaan Indonesia Raya, bendera; Sang Merah Putih dan pengakuan nasional antara para pemuda bangsa.

 

Ketika saya diam di gedung itu, antara táhun 1928 sampai dengan 1931, penghuni IC an taranya adalah Amir Sjarifudin, Mohamad Yamin, Assaat, Abas, Surjadi, Mangaraja Pintor, dan satu mahasiswa dan Sekolah Tinggi Kedokteran yang baru masuk. Se benarnya IC itu hidup karena para peng huni membayar sekaligus, sewa rumah, air, listrik dan lain-lain. Tetapi kesempatan itu dipakai, juga buat berkumpulnya maha siswa-mahasiswa lain, di mana mereka da pat rileks: membaca suratkabar, majalah, main billiard, main pingpong, dan catur atau bridge. Tempat rekreasi mereka di bagi an depan umumnya selalu ramai. Bagian be lakang dan pavilyun-pavilyun adalah tern- pat para penghuni tinggal, makan, beristi rahat, dan lain-lain.

 

Sayang gedung Kramat 106 sekarang, yang telah diberi nama Gedung Surnpah Pe muda itu, dipugar kurang cermat. Justru, di mana ada karnar-.kamar penghuni-peng huni plus satu karnar arca, dibongkar dan sekarang kosong. Sedangkan dapur, kamar mandi dan kamar pelayan, malahan di pugar. Jadi buat penghuni lama seperti saya, gedung itu sekarang kurang menarik. Bekas kamar saya, kamar Amir Sjarifudin, kamar Assaat, kamar Abbas, dan kamar Arca di rubuhkan samasekali.

 

Kalau dilihat dan nama-nama penghuni itu, pembaca akan dengan sendirinya mengerti iklim semangat yang ada antara mereka pada waktu-waktu itu. Karena masing-ma sing memiliki cukup perasaan kritis ter hadap apa-apa yang terjadi di Indonesia dan di dunia, serta terang mempunyai cukup banyak waktu dan kesempatan buat membicarakan, dan memperdebatkan soal-soal politik, kultur, masyarakat, kolonialisme Be landa, teori-teori politik yang pelik dan ha! hal sehani-hari. mi sering terjadi ketika habis makan malam pukul 8. Perdebatan itu kadang-kadang begitu sengit dan ber semangat, sehingga menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa yang sedang her santai di bagian depan. Biasanya mereka menarik kursi-kursi dan depan dan turut mendengarkan perdebatan. Seringkali per debatan tanpa program itu dihadini oleh pe mimpin-pemimpin pemuda lain, seperti Wongsonegoro, Jusupadi, atau Zainudin (Stovia), dan banyak lagi. Sekali-sekali Bung Karno mampir dan turut serta, kalau ia ke betulan berada di Jakarta. Saya kira mung kin banyak lagi mereka yang turut mem bikin sejarah Indonesia hadir dan aktif ber debat di IC. Saya ketahui, bahwa di luar ke lompok IC mi ada kelompok-kelompok lain. Banyak di antara mereka kemudian masuk partai politik, umumnya PNI. Ada juga yang masuk partai-partai lain. Yang penting adalah, perdebatan-perdebatan .itu ternyata benar-benar mengasah otak kami.

 

Ada satu ciri khas dalam berdebat, yang ke mudian ternyata menjadi kebiasaan, yaitu sengitnya perdebatan, sekalipun dijalankan secara ilmiyah. Sening karena tidak puas, esok haninya atau minggu itu juga kami mencari literatur ke Museum, buat mem perkuat pendapat. Pernah berbulan-bulan kami mernperdebatkan revolusi Perancis. Masing-masing mempunyai jagonya. Amir Sjarifudin mengagurni Robenspierre, Mohamad Yamin menjagoi Marat, Assaat pengikut Danton, dan saya lebih me ngagumi Mirabeau. Kebetulan semua jago jago revolusi Perancis itu memang ada counterpart-nya dalam revolusi Indonesia sendiri. Dan seperti revolusi Perancis, revo lusi Indonesia juga menelan anak-anaknya sendiri.

 

Kami kaji sampai detail arti revolusi, rnulai dan revolusi Perancis sampai revolusi Ame rika, terus ke revolusi Russia dan Cina. Juga genakan nasional Gandhi dan kawan kawannya di India. Saya rasa pada akhir 1929, hampir semua revolusi di dunia telah kami bahas. Kadang-kadang dengan amat sengit. Anehnya, tidak pernah ada sifat pribadi di dalamnya. Kalau telah capek, pukul I malam, kami kumpulkan uang buat can kopi plus sate atau sotong ke pasar Senen. Judul percakapan sudah berubah, lebih mendekati soal-soal yang biasanya dekat ke hati pemuda.

 

Kalau kebetulan waktu ujian, perdebatan ti dak ada, dan masing-masing terus masuk kamar. Di gedung hanya terdengar maha siswa-mahasiswa yang masih main billiard atau bridge. Kira-kira pukul 12 malam, mu lai kembali bunyi-bunyian. Amir Sjarifudin melepaskan capek dengan menggesek biola nya, biasanya ciptaan Schubert atau satu serenata yang sentimentil. mi tanda bagi saya buat membalas: Sayapun mengambil biola dan membunyikan lagu yang sarna.

 

Terdengar teriakan dan kamar Yamin, bahwa kami harus diam, sebab ia sedang sibuk bekerja. Ia sedang menterjemahkan karangan Rabindranath Tagore yang harus masuk ke Balai Pustaka bulan itu juga. Malahan Amir Sjarifudin bertambah asyik menggesek biolanya, sehingga Yamin ber teriak-teriak, dan kami bersama ketawa ter bahak-bahak. Kemudian IC sunyi lagi.

 

Di sini mungkin pembaca dapat menerka watak dan semangat penghuni-penghuni IC. Sebenarnya belum nampak benar aliran apa kemudian yang akan kami anut. Tetapi, te rang perasaan romantik ada pada kami Se mua. Kami kagumi pejuang kemerdekaan bangsa-bangsa lain. Sejarah mereka dan buku-buku mereka kami “telan.” Kadang kadang ada kalimat-kalimat yang merangsang.

Hampir semua kagum terhadap Marx dan Engels. “Manifesto Komunis” amat da pat perhatian, terutama karena tujuannya memperbaiki kaum melarat, atau proletar. Kadang kala, kalau ada yang menanyakan, apa ada uang buat beli gado-gado, jawab nya: “Mana bisa, uang saya kan telah habis bulan in Kan saya kaum proletar. Pergi saja kepada si A, ía kan kapitalis, sebab masih dapat beli rokok enak.”

 

Tetapi sebenarnya tiada satupun yang ter lalu terpengaruh oleh ajaran komunis, se kalipun kadang-kadang kami perdebatkan Manifesto Komunis dan pengaruhnya pada dunia buruh. Kebetulan waktu itu, PKI baru dilarang, tetapi rasanya anggota-anggotanya masih berkeliaran, dan mungkin

ada yang masuk partai lain. Yang sangat dicurigai polisi Belanda adalah bekas anggota Serikat Rakyat, yang merupakan organi sasi-massa PKI. Mereka curiga, bahwa banyak bekas anggota organisasi itu masuk PNI. Tentu saja kami menganggap perlu mempelajari Manifesto, yang begitu berpengaruh di dunia. Sekurang-kurangnya secara ilmiyah. Tetapi kami sendiri waktu itu berpendapat, bahwa kondisi dunia telah berbeda dan zaman Marx dan Engels. Te tapi kondisi ekonomi dan sosial di bagian terbesar dunia tidak banyak berubah, ter utama di tanah jajahan kapitalis Barat. Buat kami yang penting adalah jalan apa yang ha rus ditempuh, supaya sukses melawan kaum penjajah.

 

Tidak terlalu mengherankan, kenapa kami amat banyak memperdebatkan komunis me, karena baru saja ada pemberontakan komunis dalam tahun 1926. Efeknya masih nampak di mana-mana. Tetapi, terutama yang lebih diperhatikan adalah tulisan-tulis an Marx dan Engels. Ingatlah, bahwa kami hidup dalam dunia kolonial, di mana ma sih berlaku:

 

Poenale Sanctie, rodi, di mana rakyat Indonesia diperlakukan sebagai budak. Kekayaan Belanda melimpah-Iimpah. Boleh dikatakan eksploitasi petani dan buruh kita oleh Belanda dan kaki tangan me reka—termasuk penggede Indonesia sen diri—dengan parasit-parasit bangsa asing (Cina, dan lain-lain) amat menyedihkan kami. Hal itu menerbitkan amarah dan perasaan kepahitan. Jadi, teori yang menjanjikan perubahan dan perbudakan, harus kami selami dan analisa. Yang penting ada lah, apakah aliran itu baik buat rakyat Indo nesia yang ingin merdeka.

 

Maka dibalik-baliklah buku yang menerangkan Manifes Komunis dan Marx yang kemudian ditambah di sana-sini oleh Engels. Saya masih ingat benar perdebatan pendebatan waktu itu, yang sebenarnya hanya perdebatan teoritis dan ilmiyah. Ba nyak yang melihat komunisme seperti di lakukan Stalin dalam praktek sama sekali tidak menarik.

Makin dipelajari, makin nampak kontro versi dalam teori dan praktek. Mulai nam pak pula oleh kami, bahwa teori-teori Stalin tak sesuai dengan Marxisme asli. Jauh juga kami menganalisa Stalinisme, yang di anggap lain dan Marxis-Leninisme. Bagi kami, mempelajari satu ahiran tidak berarti pro-aliran itu. Rupanya sekarang agak lain di dalam masyarakat kita. Kadang-kadang kita hampir saja seperti burung unta. Asal tidak melihat musuh, cukuplah untuk menganggap musuh tidak ada.

 

Dalam perdebatan-perdebatan itu, mulai te rang bagi kami, bahwa Marxisme memiliki :daya tarik besar pada mereka yang merasa terjepit, merasa dihina, merasa tidak men dapat keadilan, dan terang buat orang mis kin. Satu persatu diperdebatkan bagian bagian Manifesto itu. Bagian historisnya, bagian ramalan, bagian moralnya, dan bagian revolusionernya.

 

Cukup menarik pada waktu itu ad’àlah satu bagian dan mukadimah Manifesto, yang menyatakan, bahwa “… Sejarah manusia adalah sejarah pertentangan kelas, per golakan antara yang memeras dan yang di peras, antara kelas yang memerintah dan di perintah . . .“ Menjadi perdebatan pula pen dapat Marx, bahwa tidak boleh tidak akan ada peperangan antara kaum burjuis, yang akan menghancurkan mereka sendiri, Ke ganasan kaum kapital terhadap kaum buruh, dan melaratnya rakyat banyak juga mendapat perhatian penuh. Marx dan Engels rnengatakan, bahwa pengetahuan mereka tentang hal itu adalah dari laporan inspeksi-inspeksi dan pabrik-pabrik sendiri.

 

Jadi eksploitasi rakyat dikemukakan benar. amat kami rasakan, sebab pada waktu itu kebetulan ada perdebatan di da lam Volksraad tentang nasib kuli-kuli kontrak di perkebunan Sumatera Timur (Deli, Serdang, dan lain-lain). Harus disadari Sekali lagi, bahwa kami waktu itu meng anggap kami ujung tombak perjuangan kemerdekaan Indonesia, apalagi setelah 28 Oktober 1928. Menjadi obsessi benar, bagaimana caranya Indonesia dapat merdeka, dengan jalan apa, dan bentuk apa hendaknya satu negara Indonesia.

 

Perdebatan-perdebatan itu kadang-kadang di hadiri oleh Sartono, Bung Karno, dan me reka yang telah tamat sekolah. Terang, banyak dari Manifesto itu yang tidak di setujui, misalnya: “meniadakan hak milik pribadi,” atau abolition of private poverty. Pendek kata, kami cukup memperdebatkan komunisme, dan sosialisme pada umum nya. Sosialisme juga rnendapat tempat penting dalam perdebatan dan fikiran kami. Sampai-sampai buku Adam Smith dicari di Museum. Hampir semua menolak apa yang disebut classical liberalism, yang menciptakan kapitalisme dan imperialisme modern.

 

Debat besar sekali terjadi, tentang apakah ada kebenaran dalam ide bahwa kebenaran itu hanya bisa didapat dengan kompetisi bebas antara semua doktrin. Memang ide ini dapat dikatakan menjadi populer di ne gara-negara Barat. Tetapi bagaimana dengan negara-negara lemah, apalagi negara negara jajahan seperti Hindia Belanda. Ini juga sudah dirasakan oleh rakyat jelata di Eropa; dapat dibaca dalam Das Kapital. Nyatalah bahwa kami benar-benar memerlukan banyak waktu buat mernpelajari soal-soal yang bersangkutan dengan satu negara Indonesia yang akan merdeka. Tetapi rasanya tidak sia-sia. Ketika revolusi 1945 mulai, rasanya saya sendiri telah siap,

sekurang-kurangnya secara teoritis, buat menghadapi soal-soal yang akan timbul da lam membentuk satu negara baru.

 

Sekali lagi saya tegaskan, bahwa sekalipun kami banyak mempersoalkan sosialisme dan komunisme, tidak berarti kami menjadi pengikut aliran-aliran mi pada waktu itu. Mungkin ada simpati, karena melihat ke adaan tanah air pada waktu itu. Kolonialisme Belanda dengan tirani dan tindakan sewenang-wenang, diskrirninasi yang menyolok serta gap antara Vreemde Oosteriing (bangsa Cina, India, dan lain-lain) dengan Inlander, yang secara menyolok dibina Belanda, kemiskinan rakyat (istimewa di Jawa), dan banyak lagi yang menyakitkan hati. Hal itu semua memang merangsang radikalisme di kalangan pemimpin-pemimpin pemuda dan pemimpin nasionalis.

 

Segala aktivitas terutama terjadi sampai akhir Desember 1929, pada waktu mana pemimpin Partai Nasional Indonesia di geledah, dan juga pemimpin-pemimpin organisasi Pemuda Indonesia. Tetapi satu hal harus saya kemukakan di sini, yang mung kin kurang diketahui. Pada tanggal 19 Oktober 1929, ketika sedang ada perdebatan agak meriah antara kami, Bung Karno masuk.

 

Ia sekitar 1 jam turut mendengar kan, kemudian berdiri dan dengan se mangat berbicara, lalu mengakhiri dengan:

 

“Sudahlah, tidak perlu lagi banyak teori. Man kita fikirkan, apa yang akan diperbuat. Bila kaum kapitalis perang lagi dan bunuh-membunuh satu sama lain, kita dapat menari di atas

bangkai-bangkai mereka, dan berontak secara fisik. Sekarang, soalnya bagaimana mempersiapkan rakyat buat waktu itu. Itu lebih baik kita fikirkan mulai sekarang.”

 

Kami semua tercengang, tetapi persis inilah pendapat Manifesto Komunis. Sebab Mani festo Komunis berkeyakinan, bahwa kapitalis dunia akan runtuh, dan sebagai sebabnya adalah bertambahnya gap antara overproduksi dan konsumsi kurang. Me mang, apa yang dikatakan Bung Karno membikin kami berfikir. Memang setelah itu kami banyak membicarakan cara-cara be revolusi dalam praktek di beberapa bagian dunia yang berbeda-beda keadaanya.

 

Tetapi mulai 1930, keadaan politik memburuk. Lagipun banyak antara kami telah disibukkan oleh pelajaran-pelajaran, sebab ujian penghabisan telah mulai mendekat. Saya sendiri mempersiapkan dalam  ujian semi-arts. Tiba-tiba tanggal 3 September 1930, Bung Karno tertangkap, diadili dan dijatuhi hukuman 3 tahun. Pidato pembelaannya, “Indonesia klaagt aan (Indonesia menggugat)” amat mengesankan.

 

Secara pendek tadi saya gambarkan cukilan-cukilan fikiran, sikap, dan pendapat kelompok Angkatan 1928 IC, yang tidak banyak berbeda dengan mereka di luar kelompok ini. Sekaligus dapat sedikit banyak dilihat lingkungan, di mana Amir Sjarifudin berada waktu itu. Kami semua fanatik, tetapi rasanya Amir yang paling menonjol emosinya dalam perdebatan-perdebatan dan dalam mempertahankan pendapatnya. Tetapi kami semua sebenarnya dilanda obsessi patriot dan tiada fikiran sedikit juga kepada nasib sendiri. Mungkin agak congkak bunyinya, tetapi, kami merasa kami Sebagai ujung tombak perjuangan kebangsa an. Kaum tua waktu itu belum sejauh itu fikirannya. Dan secara jujur, kami anggap mereka koperator dengan Belanda dalam Volksraad dan sedikit sebagai penyeleweng penyeleweng di parlemen Belanda.

 

Hidup pribadi kami, di luar lingkungan IC adalah sedikit berlainan. Semua, selain saya mempunyai famili atau kenalan-kenalan dan keluarga Indonesia. Umumnya mereka mengongkosi studinya sendiri. Kecuali Mohamad Yamin yang mendapat beasiswa dan beberapa lembaga, sedangkan saya mendapat beasiswa STOVIA. Waktu itu rasanya kami ada juga merasakan ke kosongan batin. Karena itulah, Yamin misalnya dekat sekali kepada Gerakan Theosofie, Amir mülai mendekat kepada Gereja Kristen, sekalipun ia seorang Muslim. Ada yang banyak bergaul ‘dengan pastur-pastur Katholik. Aneh, tidak pernah kami didekati oleh kaum ulama Islam. Saya sendiri, mulai 1926 masuk kursus filsafat, yang diberikan Sekali seminggu ‘di gedung Blavatsky.

 

Se benarnya yang memberi kursus campuran guru-guru dan golongan Theosofle, antara nya guru besar dan Sekolah Tehnik Tinggi Bandung. Mula mulanya rasanya Amin juga turut, tetapi ia kemudian terlibat dalam terjemahan-terjemahan Tagore, dan se jarah purbakala. Jadi pada tahun 1929, saya sendirilah yang dapat diploma, sebagai:

Scholar of Philosophy.

 

Semua ini karena mau mengisi kekosongan batin. Tetapi Yamin juga asyik membikin soneta dan sajak, Amir asyik main biola, saya sendiri menutup waktu-waktu kosong dengan olahraga dan musik (biola, gitar, tennis, silat dan sepak bola, plus dansa). Amir dan saya pada waktu malam sering naik andong berjam-jam dan bicara tentang segala hal yang dirasakan, mulai dan politik sampai ke gadis dan cinta. Amir Sjarifudin adalah seorang yang umumnya emosionil, dan ini ternyata juga dalam segala hal. Dalam bertukar fikiran, dalam cara ia bergembira atau kurang Se nang. Pada tahun 1929, saya selain pe mimpin majalah Pemuda Indonesia, juga ber tanggungjawab tentang isi majalah Indonesia Raya, majalah dan PPPI. Satu ketika di muat tulisan Amir tentang perlawanan kaum Vlaming di Belgia terhadap raja Belanda. Judulnya Defiere Vlaamsche Leeuw. Artikel di tulis di bawah nama samaran dan memang isinya galak. Saya dipanggil Polisi Intel Be landa (PID), ditegur, karena artikel itu merendahkan bangsa Belanda.

 

Setelah di periksa beberapa jam saya lolos juga. Memang kami tidak pernah memakai nama sendiri dalam satu artikel. Misalnya saya sering menulis, tetapi tak pernah di bawah nama saya sendiri. Kawan-kawan malahan menulis sajak-sajak cinta-kasih, tetapi di bawah nama samaran.

Berpotret pun kami jarang. Takut dikenali spion-spion PID.

 

Bahwa kami umumnya dapat dikatakan condong kepada sosialisme, itu rasanya terang. Dalam zaman revolusi 1945, Amir Sjarifudin dan Assaat adalah anggota Partai Sosialis. Abas anggota PNI yang terang coraknya sosialis. Saya sendiri waktu itu sayap kiri dan “Masjumi”, yang oleh George McTurner Kahin dicap sebagai religius-socialis. Yamin condong ke Partai Murba.

 [BERSAMBUNG]