Tags

 

…….. [disambung dari seri 1]

 

amirs

 

Tahun 1932 saya berangkat dari Jakarta, dan memulai karier dokter di Medan Dli pada maskapai Kebon Tanjong Morawa.

 

 

Saya tidak bersedia masuk pegawai negêri, dan karena itu melepaskan kontrak saya de ngan Belanda. Berat juga hati saya ketika berpisah dengan Amir. Rasanya kami ba nyak persamaan dalam sifat, watak dan pe rasaan. Ia antarkan saya ke kapal yang akan berangkat. Kami saling merasa kehilangan sesuatu.

Baru tahun 1946 saya bertemu lagi dengan Amir Sjarifudin. Ketika sayâ balik dan Sumatera tahun 1939, buat mendapat titel arts di GHS, ia tidak di Jakarta. Kemudian saya berlayar sebagai Opsir Kesehatan Angkatan Laut Sekutu (tahun 1940-1941- 1942), terus menerus di medan perang, di Bombay, Singapura kemudian di Tanjung Priok sampai ditangkap tenterajepang akhir Maret 1942. Pada mulanya sekali-sekali kami masih ada hubungan surat menyurat. Tahun 1937 Arnir termasuk pimpinan Ge rindo (Gerakan Rakyat Indonesia) yang Se kalipun sosialistis dan nasional.istis tetapi menyokong Belanda, karena benci ter hadap fascisme Eropa. Dalam bulan Mei 1939, terjadi satu federasi dan partai-partai yang berdasarkan nasionalisme, bernama Gapi (Gaboengan Politick Indonesia), di mana Amir juga tercantum sebagai salah se orang pemimpin. Anehnya, dalam Kongres Rakyat Indonesia, tahun 1939 Gapi mene rima secara resmi 3 putusan, yang sebelumnya telah diikrarkan Angkatan 1928. 

 

Putusan itu ialah mengakui Bahasa Indonesia Se bagai satu-satunya bahasa, Sang Merah Putih sebagai Bendera Nasional, dan lagu Indonesia Raya sebagai lagu Kebangsaan. Benar-benar satu hal yang mengherankan. Sebab itu berarti, kaum tua sampai tahun 1939 belum mengakui Sumpah Pemuda dan hasil-hasil Kongres Pemuda kedua. Rasa nya, kalau tidak ada Amir Sjarifudin dan Mohamad Yamin, mungkin sekali penga kuan terhadap Sumpah Pemuda oleh par tai-partai politik waktu itu belum juga ter laksana. Saya tak mengatakan, bahwa pop ularitas Sumpah Pemuda dan hasil-hasil Kongres Pemuda kedua tidak ada. Malahan sebaliknya. Sampai organisasi-organisasi non-politis telah mengakui hasil-hasil ta hun 1928. Rupanya telah menjadi penyakit kaum tua untuk tidak lekas-lekas mengakui prestasi pemuda.

 

————-

 

Apalagi kalau pemuda itu juga telah dewasa dan mem”buldozer” kebenaran yang telah ada dalam masyarakat sendiri.

Tetapi pada tahun 1939 itu juga Amir Sjarifudin ditangkap oleh pemerintah Hin dia Belanda bersama beberapa pemimpin lain. Ada cerita yang tidak dapat dibuktikan sekarang, bahwa Amir Sjarifudin, di bela kang layar dibela oleh Prof. Schepper, seorang guru besar yang amat taat kepada agama Kristen. Rupanya pada tahun 1935, Amir Sjarifudin telah masuk agama Kris ten. Ada kabar waktu itu di koran-koran, yang tidak begitu dapat dicek, bahwa sebenarnya Amir Sjarifudin semula ber sedia mendirikan satu partai politik kristen. Tetapi karena perhitungan politik, tidak jadi meneruskan maksudnya itu. Malahan se perti diketahui ia turut mendirikan Gerindo pada bulan April 1937. Ketika Amir Sjarifudin berada dalam tahanan Belanda tahun 1939, ia sering didatangi oleh Prof. Schepper, yang rupanya dapat meyakinkan pemerintah Belanda, bahwa Amir Sjarifudin lebih baik dipakai dalam pemerintahan. Se telah itu, rupanya Amir diberi kesempatan memilih, apakah dibuang ke Digul atau ke kerjasama dengan Belanda di Departemen Ekonomi.

 

Rasanya, kalau saya boleh berspekulasi (ka rena sedikit mengenal Amir Sjarifudin) ía memilih taktik kerjasama. Bila ia dibuang ke Digul, kesudahannya ia terang akan terasing akan pergerakan bangsanya. Padahal perang Dunia II telah berkobar, dan Jepang sedang bersiap-siap buat turut serta. Kalau Amir waktu itu masih Amir yang saya kenal, maka fascisme dan diktatorial-nazisme terang bukan idealnya. Jadi mungkin ia memilih yang “kurang jelek.” Rasanya begitu jalan fikirannya.Itu sebabnya, Belanda menyerah kepada Je pang, Amir Sjarifudin bersedia menerima uang sebesar 25 ribu gulden sebagai modal buat mendirikan satu partai bawah-tanah untuk sabotase terhadap Jepang. Dalam hal mi rasanya ia terpaksa bekerjasama dengan PKI illegal yang didirikan Muso di tahun 1939. 

 

Harus diingat, bahwa Russia waktu itu ber pihak pada Sekutu yang memerangi

 

—-

Fascisme dan Nazisme. Mungkin waktu itu ia telah didekati oleh PKI illegal, sebagai sa lah satu pemimpin Gerindo, yang memang menganut, radikal- sosialisme. Mungkin Be landa telah mencium hal itu dan lekas-leka menangkap dia, tetapi mungkin juga Be landa tidak percaya, bahwa ía seorang komunis. Kalau tidak, ia tidak akan lepas dan tahanan Belanda, betapapun bësarnya pengaruh Professor Schepper.

Lagipun mungkin sekali Amir percaya ke pada janji-janji Van der Plas, bahwa setelah perang, Belanda akan memerdekakan Indo nesia menurut aturan Commonwealth ala Ing geris. Kesan mi saya dapati dan satu pem bicaraan dengannya dalam tahun 1946, ke tika saya singgah di Yogya. Ia waktu itu menjadi Menteri Pertahanan RI. Di zaman Jepang ia tertangkap dan sedianya akan di hukum mati, ‘ tetapi tertolong oleh usaha Bung Karno. Ia waktu itu bekerjasama dengan golongan Illegal PKI.

 

Saya bertemu dengannya setelah 14 tahun berpisah. Rasanya ia agak berubah. Lebih fanatik, lebih emosionil. Saya waktu itu da tang ke Yogya buat membicarakan soal sen jata bagi pasukan-pasukan kami di Jawa Ba rat, bagian daerah saya. Kami kekurangan peluru dan senapan otomatis. Ia nampak nya agak sedikit curiga. Lagipun saya waktu itu anggota pemimpin pusat Masjumi, ke tua pertahanan daerah Bogor, serta Ketua Dewan Nasional daerah Bogor. Saya tidak mendapat senjata yang saya minta, karena di Yogyapun tidak benlebihan senjatanya. Te tapi saya berkesempatan buat bicara kem bali secara terbuka dengan Amir, sekalipun kami berada dalam pangkuan partai yang berbeda. Ia menyatakan kekecewaannya, bahwa Belanda tidak menetapkan janji, yang katanya pernah dijanjikan oleh van der Plas. Ia sangat jengkel rupanya. Tetapi per sahabatan kami tidak terlalu rusak, apalagi setelah bercerita-cerita tentang zaman IC.

 

Kedua-kalinya saya bertemu lagi dengan. Amir, ketika ada rapat-rapat KNIP di Ma lang. Sekali mi saya bertindak sebagai ketua fraksi Masjumi, yang sangat menentang per setujuan Linggarjati. Terjadi pertentangan keras dalam soal penanda-tanganan, ka rena Masjumi, kemu-dian juga PNI, meng anggap pemerintah Sjahrir (termasuk Amir 

 

Sjarifudin) bersedia buat sementara menerima usul Belanda, supaya Republik Indonesia hanya terdiri defacto atas Sumatera dan Madura. Masjumi dan PNI tidak bersedia turut dalam pemungutan suara. Saya jadi jurubicara Masjumi, dan PNI diwakili Mr Ali Sastroamidjojo. Persetujuan Linggarjati diterima oleh KNIP serta disokong Sukarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta.

Seminggu setelah itu saya bertemu lagi dengan Amir Sjarifudin. Ia meminta saya bersedia memimpin delegasi Indonesia ke Asian Relations Conference di New Delhi, India. Saya merasa heran, mengapa kabinet Sjahrir merasa perlu menyerahkan pimpinan delegasi Indonesia ke konferensi internasional yang begitu penting, kepada pihak yang menentang beleid kabinet yang berkuasa. Kemudian Presiden Sukarno dan PM Sjahrir dalam pembicaraan dengan saya me minta lagi dengan sangat supaya saya terima pengangkatan sebagai ketua Delegasi Indonesia itu, Kemudian saya mengerti strategi mereka. Dunia luar tidak boleh berpendapat, bahwa dalam Republik Indo nesia ada konflik serius antara pemerintah dengan oposisi. Di sini jelas benar, peme rintah RI amat sangat berpendapat, bahwa

 

satu oposisi parlementer adalah satu hal yang normal dalam demokrasi, dan tidak perlu rnerusak hubungan antara kelompok di luar dan di dalam pemerintahan. Demo krasi murni tidak selalu dapat terjadi Se lama hidup Republik Indonesia. Tetapi ada kemungkinan suasana psikologis yang me nyebabkan mereka yang memerintah dan diperintah waktu itu dianggap sederajat mutu fikirannya dan tahu benar aturan aturan permainan politik dalam demokrasi. Kebetulan, banyak di antara mereka adalah Angkatan 1928. Memang harmoni kerja sama antara oposisi dan pemerintah baru menghilang, ketika telah masuk angkatan angkatan lain seperti generasi Serikat Islam, PKI, dan lain-lain. Ini yang menyebabkan revolusi Indonesia hampir ambruk oleh pe rang saudara, seperti pada pemberontakan Madium tahun 1948.

 

Sebelum saya berangkat ke Asian Relations Conference di New Delhi, ada beberapa kali rapat antara saya—sebagai Ketua Dele gasi—dengan Sjahrir dan Amir Sjarifudin. Tujuannya adalah supaya Indonesia dalam konferensi itu dapat memberi keterangan yang jelas tentang politik luar negerinya. Sa ya sendiri tidak puas dengan politik positive neutrality yang maksudnya waktu itu dalam

 

____

 

mencari kawan dan menjauhkan lawan, Indonesia tidak mau campur dengan soal soal negara-negara lain, dan akan selalu bersikap netral. Saya berpendapat, bahwa Indonesia akan menghadapi wakil negara negara yang sedang memperjuangkan ke merdekaannya, seperti India, Vietnam, Bur ma, dan negara-negara lain yang setengah jajahan di Asia. Mereka tentu mengharapkan satu sikap Indonesia yang positif, sekurang-kurangnya dalam soal-soal jajahan, penindasan ekonomi oleh kapitalis dunia, diskriminási ras oleh para penjajah dan lain-lain. Setelah beberapa hari berdebat, di mana turut juga Mr. Ali Sastroamidjojo dan beberapa pemimpin partai pemerintah, sampailah kami kepada konklusi, bahwa kita harus balik kepada mukadimah Undang Undang Dasar 1945. 

 

Pendeknya, kesudahannya kami sampai kepada keputusan, bahwa politik luar negeri Indonesia, adalah bebas dalam memilih politik terhadap soal soal dalam negeri, dan aktif bersikap dalam batas-batas kekuatan kita. Semua itu harus berdasarkan kepentingan rakyat Indonesia Ada yang menyatakan waktu itu, seharus nya berdasarkan kepentingan nasional. Tetapi itu ditolak, karena kediktatoran Hitler dan Mussolini pun dinyatakan berdasar kepentingan nasional. Demikianlah lahir politik luar negeri kita seperti dianut sekarang: “politik bebas dan aktif.”

 

Sungguhpun sejak 1947 sampai sekarang, sering politik itu dilaksanakan seperti menarik sehelai karet, kadang-kadang ditarik ke kiri, dan kemudian ditarik ke kanan, waktu itu belum jelas, ke mana karet itu di tarik. Maka berangkatlah delegasi Indo nesia yang saya pimpin itu, terdiri dan 37 anggota. Tetapi ketika saya pulang dan New Delhi akhir Maret 1947, keadaan politik di Indonesia telah keruh. Belanda nampak sangat agresif. Saya pulang dulu ke kota saya, Sukabumi. Sebelum saya dapat memberi laporan ke Yogya, Belanda telah memulai agressi pertamanya. Tanggal 20 Juli 1947, tentara Belanda menyerang Sukabumi, salah satu daerah yang diincer benar oleh Belanda, karena kaya dengan karet, kina, teh dan beras, Saya dengan jas putih berdarah karena sedang melakukan operasi terhadap seorang pasien di Rumah Sakit, ditangkap dan ditahan di sel penjara Suka bumi. Rekan saya, yang berbangsa Cina, di biarkan terus bekerja. Kesudahannya, saya dibawa ke Jakarta dan ditahan di penjara Glodok, kemudian di kamp tahanan Tanggerang.

Setelah ada cease-fire, tahun 1948, saya dan beberapa kawan dilepaskan ke daerah re publik via Salatiga. Di Magelang, Letkol Sarbini (sekarang Letjen) menampung kami dan diteruskan ke Yogya. Sukarno, Hatta, Sjahnir dan Amir, dengan agak terharu melihat saya yang kurus kering. Mereka rupanya mengira saya sudah mati.

 

Rupanya telah banyak yang terjadi selama saya dalam tahanan Belanda. Sjahrir sudah turun sebagai Perdana Menteri dan di gantikan oleh Amir Sjarifudin. Ini terjadi tanggal 3 Juli 1947. Kemudian terjadi perundingan dengan Belanda yang terkenal sebagai perundingan “Renville.” PM Amir Sjarifudin dan kabinetnya menyetujui dan menandatangani persetujuan Renville, yang kemüdian ternyata lebih lagi menjepitkan posisi RI (17-19 Januari 1948). Letika saya dan kawan-kawan sampai di Yogya pada awal 1948, Amir Sjarifudin telah meletak kan jabatan sebagai Perdana Menteri.

 

Presiden Sukarno membentuk satu kabinet presidentil, di bawah pimpinan Wakil Presiden Hatta. Memang Presiden Sukarno, selalu membentuk satu kabinet presidentil, di bawah pimpinan harian satu PM. Tetapi ia selalu hadir dalam sidang-sidang kabinet, dan sening memveto apa yang ia anggap satu hal prinsipiil yang harus dipertimbangkan lagi. Tetapi sehari-hari kabinet bertindak Se akan-akan sifatnya parlementer, sekalipun tidak bertanggungjawab pada parlemen, tetapi pada presiden.

 

Kabinet presidentil ini dan semula di tentang keras oleh sayap kiri. Menurut persetujuan Renville, tentara RI harus di pindahkan dan satu ganis yang dinamakan “van Mook line.” Karena itu kira-kira 35 ribu prajurit TNI, terutama Siliwangi dan Jawa Barat harus hijrah ke Jawa Tengah, yang masih masuk daerah Republik di Jawa. In terjadi 26 Februari 1948. Hijrah ini adalah soal pelik dan banyak juga barisan, terutama barisan rakyat tidak bersedia hi-

 

____

jrah. Mereka terus menjalankan perang gerilya di daerah yang terrnasuk daerah yang

dikuasai” tentera Belanda. Di antaranya beberapa pasukan Hizbullah di Jawa Barat.

 

Persetujuan Renville dipakai Belanda buat menjalankan politik cerai-berainya, terutama dengan menciptakan negara-negara boneka, seperti negara-negara Madura, Pasundan dan Jawa Timur. Di luar Jawa ada negara-negara Indonesia Timur, Sumatera Timur, Sumatera Selatan, Borneo Barat, anjar, Borneo Timur, dan Bangka. Negara-negara ciptaan Belanda ini memang tambah menyukarkan kedudukan Re publik. Tetapi sebagian besar dari Sumatera masih setia kepada Republik Indo nesia.

 

Munculnya politik Partai Komunis Indonesia

 

Sampai tahun 1947, PKI, dan kawan-kawan boleh dikatakan lebih sering bergerak se perti kaum nasionalis, tetapi karena politik berunding kabinet-kabinet RI sering meleset , timbul pendapat, bahwa mereka harus lebih banyak memakai cara-cara kaum komunis. Dalam hal ini Stalinis. Pendapat ini terutama berkembang setelah ada kesan keras, bahwa PBB di bawah pengaruh 

Amerika Serikat kuat sekali membela Belanda,

 

PKI sebenarnya hanya mempunyai kira-kira 3 ribu anggota, tetapi menurut mereka, itu jumlah kadernya saja. Tetapi mereka dan para simpatisannya percaya, bahwa per juangan jangka lama akan menguntungkan mereka. Sehingga mereka mulai memperkuat posisinya di dalam organisasi-organi sasi seperti Partai Sosialis, organisasi Buruh Pesindo. Juga mereka mulai lebih  melihat kepada pimpinan Moskow. Waktu itu Moskow yang dikuasai Stalin, ber pendapat bahwa kemerdekaan negeri-negeri yang dijajah tidak pernah diperoleh, sebelum Amerika Serikat dan sekutu tunduk kepada Sovyet Rusia. Lain daripada itu aliran komunis baru, yang ditekankan dan Moskow mengajarkan bahwa dunia ini ternagi dalam dua blok, yaitu blok kapitalis “agresif” dipimpin Amerika Serikat dan blok “demokratis” yang berada di bawah  pimpinan Sovyet Rusia. Maksud utama

 

waktu itu adalah menghancurkan Marshall- plan Amerika di Eropa.

Kebetulan dalam bulan Februari 1948 di adakan satu Konferensi Pemuda Asia Teng gara di Calcuta dan dihadiri oleh wakil wakil PKT di antaranya Soepeno. Di situ mereka diberitahu tentang taktik baru kaum komunis dunia dan juga detail pembagian dua blok kekuatan di dunia baru. Kembali di Indonesia, maka propaganda komunis di alirkan kepada sistem baru tadi. Dalam bu lan-bulan sesudah itu pemuda-pemuda yang dilatih dalam konferensi Pemuda Ko munis di Praha dan mereka yang meng hadiri konferensi Buruh Internasional (juga di Praha) datang kembali ke tanah air.

PKI mengikuti aliran baru yang ditunjuk oleh konferensi-konferensi komunis di atas. Banyak di antara pemimpin lama kehilang an pengikut waktu itu.

 

Di dalam Partai Sosialis sendiri lama ke lamaan timbul perpecahan antara mereka yang pro Sjahrir dan pro Amir Sjarifudin. Kepada Amir, Sjahrir menanyakan apakah ia lebih dulu nasionalis baru komunis atau sebaliknya. Sjahrir berpendapat, bahwa perang kelas tidak dapat diterapkan di Indo nesia, sebab Indonesia belum memiliki kelas borjuis. Borjuis di Indonesia sebelumnya hanyalah orang-orang Belanda dan Cina. Sjahrir juga tidak bersedia berpihak kepada salah satu negara besar, Amerika atau Sovyet. Kèmbali Sjahrir kepada posisi nya yang lama, yaitu positive neutrality. Buat Sjahrir itu masih Iebih aman dari “politik bebas dan aktif,” karena keadaan. Bagi Sjahrir waktu itu, yang penting Indonesia jangan terlibat dalam pertengkaran antara dua negara raksasa itu. Ia mengharap, dengan begitu Indonesia dapat berbuat lebih banyak buat perdamaian dunia. Tetapi nampäknya bagi saya, Sjahrir telah men campur-adukkan “politik bebas dan aktif” dengan politik positive neutrality. Telah mulai “soal karet,” yang akan ditarik-tarik.

 

Perpecahan antara kelompok Sjahrir dan Amir terjadi ketika terbentuk Kabinet Pre sidentil Hatta. Amir dan kelompoknya, yaitu PKI, Partai Buruh dan Pesindo, menentang kabinet Hatta, sedangkan kelompok Sjahnir. menyokong. Tanggal 13 Februari 1948 ter jadi perpecahan. Kelompok Amir mem

 

__

 

bentuk Partai Sosialis baru, sedangkan Sjahrir membentuk Partai Sosialis Indonesia. Partai Sosialis baru itu dipimpin oleh Amir Sjarifudin, Tan Ling Djie dan Abdul Mad jid, dan garisnya menentang kabinet Hatta, Tetapi dalam rapat di Surakarta, 26 Februari 1948, sayap kiri Amir diubah menjadi Front Demokrasi Rakyat atau FDR.

 

Amir Sjarifudin menjadi ketua federasi baru ini, tetapi programnya tak berbeda dan Sayap Kiri, ketika kelompok Sjahrir masih bersamanya. Tetapi lama-kelamaan aliran FDR bertambah radikal. Anggota-anggota nya yang terkemuka menghendaki penghentian segala perundingan dengan 

Be landa, dan menganggap persetujuan Renville sebagai satu kesalahan besar. Malahan mengusulkan, supaya segala harta Belanda di Indonesia dinasionalisir. Ini sebenarnya hampir sama dengan program kelompok Tan Malaka, yang dari semula menuntut apa yang mulai dipropagandakan oleh FDR itu. 

 

Posisi Amir Sjarifudin mulai sukar, sebab FDR mulai bergerak kepada aliran komunis yang lebih nyata. Tetapi sebaliknya ia me miliki kekuatan nyata. Ketika Amir masih menjadi menteri 

pertahanan, ia mengambil kesempatan itu buat membikin basis -basis kekuatan dalam angkatan bersenjata dan barisan buruh. Waktu itu ia menempatkan orang-orang nya pada posisi-posisi kunci dalam angkatan darat dan barisan buruh. Juga penyimpanan senjata-senjata cadangan hanya diketahui oleh orang-orangnya saja. Selain itu sebagai menteri pertahanan, ia sempat membentuk TNI-Masyarakat. Tetapi mereka yang terkena pengurangan jumlah dalam TNI itu, mulai melihat kepada FDR dan Amir Sjarifudin sebagai pimpinan. Tetapi rupanya inti dan simpatisan-simpatisan FDR dalam TNI tidak begitu terkena. Lagi pun ketika Kabinet Hatta memerintahkan barisan-barisan rakyat supaya membubarkan diri hal ini ditentang keras. Tidak boleh tidak dapat diperkirakan pada suatu waktu satu bentrokan antara barisan-banisan rakyat atau lasykar-lasykar dengan pasukan TNI yang masih patuh pada pemerintah dapat terjadi. Sementara itu FDR memulai tak tik lain, yaitu menganjurkan pemogokan

 

 

pemogokan. Ini ditentang keras oleh golongan komunis yang katanya berdasar kan nasionalisme di bawah pimpinan Tan Malaka. Mereka tergabung dalam Gerakan Revolusi Rakyat (GRR).

 

Sebenarnya program GRR tidak banyak bedanya dan FDR, tetapi mereka menyokong Hatta.

Tiba-tiba datang satu perubahan besar, yang membahayakan posisi ‘Amir Sjarifudin sebagai pemimpin top dan sayap kiri pro komunis. Rupanya Suripno, yang pernah menjadi sekretanis saya pada Asian Relations Conference di New Delhi, tidak langsung pulang, tetapi terus berangkat ke Eropa Timur, buat keperluan partai. Rupanya dia anggota PKI dan dicap Stalinis tulen. Di Praha ia dapat janji dan Duta Besar Sovyet, bahwa negaranya akan bersedia mengadakan satu consular treaty dengan RI. Tetapi ketika ia balik ke Indonesia Amir Sjarifudin sudah bukan PM lagi, sedangkan Hatta tidak bersedia menerima perjanjian apa-apa dengan Sovyet pada waktu itu. 

 

Dengan sendirinya pemerintah Hatta bertambah curiga terhadap FDR. Memang rupanya ada maksud FDR, buat mengadakan coup dengan senjata. Mereka telah memiliki satu program yang terperinci buat itu. Pemerintah Hatta lama tidak mengetahui maksud-maksud FDR mi. Tiba-tiba Soeripno kembali ke Indonesia lewat Bukittinggi. Ia datang bersama Muso, jago lama PKI. Tanggal 11 Agustus 1948, Soenipno dan Muso sampai di Yogya. Seperti diketahui, Muso selain termasuk anggota pimpinan PKI yang berontak tahun 1926, juga pendiri dan apa yang dinama kan “PKI satu organisasi bawah tanah yang dibentuknya di tahun 1935. Sukses Muso segera nampak, sebab dengan entusias dan aklamasi ia diangkat menjadi Sekjen PKI menggantikan Sarjono.

 

Rasanya mulai sejak itu Amir Sjanifudin me rasa posisinya terdesak sebagai pemimpin utama FDR. Bertambah lama bertambah jelas, bahwa FDR akan dikuasai kaum komunis. Maka datanglah pengakuan Amir Sjarifudin yang mengherankan kawan kawannya dan mengejutkan pemerintah. Amir berkata tanggat 29 Agustus 1948, bahwa ia sebenannya adalah seorang komunis, dan sejak tahun 1935, ketika berada di Surabaya, masuk “PKI Illegal” dari Muso.

 

Juga Setiadjit, Abdul Madjid dan Tan Ling Djie dari Sosialis mengakui, bahwa mereka memang telah lama menjadi komurlis. Setiadjit dan Abdul Madjid sejak tahun 1936 ketika mereka masih 

mempin PI di negeri Be landa, sedangkan Tan Ling Djie adalah mahasiswa institute lenin dan anggota pki illegal musso, jadi . Jadi kartu-kartupun mulai terbuka.

 

 

Telah diuraikan tadi, ada kabar dalam tahun 1936 (mungkin permulaan 1935), bahwa Amir Sjarifudin menjadi seorang Kristen. Ada juga kabar, bahwa dalam tahun itu ia bermaksud mendirikan partai politik Kristen, barangkali semacam Parkindo, tetapi tidak diteruskan karena iklim politik tidak menguntungkan. Kemudian ia masuk Gerindo, malahan menjadi salah sati pe mimpin yang penting di bawah Mr. Sartono sebagai ketua. Dalam pimpinan Gerindo itu ada juga Wikana, yang kemudian memang juga tercatat sebagai seorang komunis. Tetapi Gerindo waktu itu menjalankan satu politik kooperasi, yang memperbolehkan anggotanya masuk Volksraad. Jadi kalau pengakuan Amir itu serius, maka ia telah menjadi komunis dalam tahun 1937, ketika Genindo didirikan.

 

Ada dua kemungkinan. Satu hal, ialah Amir turut dengan kurang kesadaran tentang tindakannya. Kedua, ia memang dapat di yakinkan sebagai komunis, tetapi dalam hidupnya sehari-hari tidak ada kesan sedikitpun. Malahan cara hidupnya lebih mirip cara hidup borjuis, juga ketika ia saya jumpai di Yogya di tahun 1948. Atau mungkin ía termasuk seorang aktor besar, yang dapat menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

 

Tetapi ketika ia masih muda dn amat rapat bergaul dengan saya sampai tahun 1931 , ia lebih mirip seorang Bohernien, artis , kadang2 seperti gypsie. Sesorang yang penuh emosi , sentimentil, lekas marah, tetapi lekas baik, suka ketawa, tetapi bila sedang main bio;a menyinarkan sedih atau gembira. Saya tidak mengatakan bahwa seorang komunis tidak bisa mempunyai sifa2 seperti diperilhatkan

 

>>

 

Amir. Tetapi sukar melihat Amir sebagai seorang Stalinis, yang ia akui dengan ke yakinan itu.

 

Benar, seperti lazim pada seorang komunis, ía menjalankan self critic yang cukup hebat, tetapi inipun bagi saya belum merupakan bukti. Memang pada 9 September 1948, ía mengumumkan kritik diri yang berbunyi kira-kira sebagai berikut:

 

“Sebagai komunis saya akui kesalahan saya, dan saya berjanji tidak akan membikin kesalahan lagi. Saya menerima 25 ribu gulden dan Belanda sebelum pendudukan Jepang, buat menjalankan gerakan-gerakan bawah tanah. Tetapi saya terima uang itu karena Comintern (Communist-internationa!e). meng usulkan supaya kita bekerjasama dengan kekuatan kolonial dalam satu front melawan Fasisme.” Ia seterusnya menjelaskan lagi, bahwa setelah perang dunia kedua berakhir, tidak ada alasan lagi buat bekerja sama dengan kaum kolonialis. Kaum ko- munis sekarang tidak memerlukan lagi kerjasama dengan kaum kapitalis.

 

Keterangannya itu diucapkannya di Yogya karta dalam bulan September 1948. Saya waktu itu juga di Yogya. Anehnya, baru saja pada 8 September saya bertemu dengan Amir Sjarifudin. Ceritanya begini: Amir me nelpon saya pagi hari, apakah saya dapat datang ke rumahnya, sebab anaknya sakit. Ia minta saya makan siang di rumahnya, sebab Zainab, isterinya akan memasak rendang dan gulai kambing. Saya menyatakan, bahwa penjaganya anak-anak Pesindo mungkin, akan menghalang-halangi, dan bagaimana pendapat masyarakat nanti. Amir pentolan FDR, dan saya waktu itu boleh dikatakan jurubicara Masjumi dan anggota pimpinan pusat Masjumi. Tetapi ia me nyatakan bahwa kita toh masih sahabat. Karena ingin melihatnya dan juga ingin tahu apa sebenarnya yang berada di belakang permintaannya itu, saya datang pukul 11 p gi. Saya juga ingin melihat anak—anak dan tinya yang telah lama tidak saya ketemui. Sampai di rumahnya rupanya dia sedang kedatangan tamu lain , Musso, yang baru diangkah menjadi sekjen PKI. Terang rupanya maksud amir hendak mempermukan saya dengan Musso. Timbullah sedikit dialog antara Musso dengan saya tentang

 

>>

 

kemerdekaan Indonesia, dan corak pemerintahan yang baik. Timbul pertentangan ideologi, yang diadakan dalam suasana cukup ramah. Tetapi dan mula ternyata Musso adalah Stalinis keras, menurut faham saya.

 

Dialog kami yang tidak disertai Amir, berkisar dari Sosialisme ke Marxisme, ke Historis-Materialisme ke Manifesto Komunis, Leninisme, dan Stalinisme. Berhadapan dengan Musso, yang telah diindoktrinir ala Stalin itu berat juga. Terlalu panjang buat membicarakan dialog itu. 

Jelas Stalinisme seperti dikemukakan oleh Musso, amat berbeda dan teori Lenin. Sekalipun (menurut Musso) Stalin setia kepada ajaran Lenin, tetapi nampak perbedaan dalam cara 

berfikirnya. Musso rupanya dengan sabar mencoba menjelaskan pada saya, bahwa tidak benar Stalinisme itu seperti banyak orang menyangka adalah staats-capitalisme. Ia caci Trosky, dan kemudian Bukharin. Yang sebenarnya dikerjakan Stalin, katanya adalah membina sosialisme. Dan banyak lagi.

 

Tetapi kita tersangkut kepada pendapat saya, bahwa komunisme, apa namanya Trotskyisme atau Leninisme atau Stalinisme adalah bertentangan dengan pendirian saya sebagai seorang Islam yang berkeyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya katakan juga bahwa saya seorang sosialis, tetapi sosialis religius. Musso tertawa keras. Ia menyatakan pendapat saya itu telah kuno, sebab termasuk utopis-sosialisme.

 

Kesudahannya setelah datang waktu makan, ia mengatakan, bahwa antara saya dan dia sebenarnya tidak banyak perbedaan. Kita bersama-sama bersedia mengabdi kepada rakyat, sedangkari kaum borjuis dan kapitalis mengisap rakyat. Saya jawab, “Tetapi dasar dan pengabdian itu berbeda. Saya menganggap pengabdian itu harus berdasarkan satu moral, dan moral itu bagi saya adalah keyakinan kepada adanya Tuhan Yang Mahakuasa.”

 

Saya heran mendengar jawabannya, “Percayalah Bung Abu, di Rusia kami sedang mempersiapkan satu kapal terbang yang akan memeriksa langit hijau. Nanti kita lihat apakah Tuhan itu ada atau tidak.” Baru dalam tahun 1956 saya mengerti, bahwa yang dimaksud Musso mungkin Sputnik-Sovyet, yang menggemparkan dunia itu.

 

Setelah makan siang Musso berangkat. Saya bertanya pada Amir mengapa ia biarkan saya berdebat dengan Musso. Ia senyum, dan berkata, “Abu, kamu saya kenal benar, tetapi saya belum kenal Musso. Tetapi saya sekarang tahu kapasitasnya.” Rupanya saya dibikin kelinci percobaan Oleh Amir Sjarifudin.

 

Dalam pembicaraan satu jam sebelum saya pergi dan rumahnya, saya mendapat kesan, bahwa ia agak nervous, dan kadang-kadang ketika sedang bicara, tampak ia memikir mikir. Rupanya ia suka minum, wiski campur air. Juga Musso suka minum. Selama kami berbincang-bincang mereka berdua menghabiskan setengah botol wiski. Saya merasa curiga, tentang keadaan ketenangan jiwa Amir. Seakan-akan “equilibrium individu” mulai terganggu. Juga saya mendapat kesan, bahwa ia terus-menerus dalam ketegangan, tensi-tinggi, mungkin karena merasa senantiasa dalam tekanan. Tekanan itu kiranya adalah perasaan, bahwa dengan kedatangan Musso dan beralihnya aliran perjuangan kaum sosialis-radikal Indonesia yang menjurus kepada komunisme, terutama Stalinisme keras yang dibawa Musso dari Moskow dan pemimpin-pe mimpinmuda yang baru dapat latihan dan Praha, wibawa Amir akan berkurang. Esok harinya, 9 September 1948, Pimpinan Pusat Masjumi mendapat surat dan Sentral Komite PKI buat bekerjasama membentuk satu persatuan nasional. Tentu saja Ketua Masjumi Dr. Soekiman, bertanya kepada saya, apakah saya memberi janji-janji pada Musso dan Amir Sjarifudin. Saya berpendapat bahwa usul PKI itu hanya balon politik dan tidak perlu dianggap serius. Pimpinan Pu- sat Masjumi membalas, bahwa kerjasama politik antara PKI dan Masjumi tidak mung kin, karena berbeda aliran politik dari dâsar perjuangan buat memerdekakan tanah air. Rupanya PKI juga mengirim usul yang sama kepada PNI yang juga ditolak.

 

Sejak saat itu keadaan dalam negeri ber tambah tegang. PKI mempercepat gerakan nya di mana-mana. Pimpinan PKI memulai sening mengadakan rapat umum. Musso, Amir Sjarifudin, Wikana dan lain-lain pemimpin turut serta berpidato anti kabinet Hatta. Mereka jalan di daerah-daerah Jawa Tengah dari ujung ke ujung, ke Solo, Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu dan banyak tempat lain lagi. Sedianya turnee pimpinan itu akan berlangsung sampai akhir September. 

Tetapi, tiba-tiba pemimpin-pemimpin PKI muda tak sabar lagi. Barisan-barisan bersenjata pro-PKI dan Pesindo, dan pasukan Divisi 4 pro PKI, telah memulai pemberontakan bersenjata dan menduduki Madiun. 

 

Musso dan Amir Sjarifudin menghadapi satu fait-accompli dari mana tidak ada jalan balik lagi. Revolusi Komunis dimulai. Tetapi pemberontakan itu tidak terorganisir baik dan koordinasinya buruk, sekalipun ribuan anggota dan simpatisan komunis turut serta. Sebenarnya kericuhan besar-besaran telah terjadi di Solo, tetapi dapat dipadamkan oleh pasukan Siliwangi. Tanggal 4 September, batolyon-batalyon Siliwangi dapat menduduki kwartir-kwartir pasukan-pasukan pro PKI di Solo.

 

Tanggal 15 September 1948, Presiden Sukarno menyatakan daerah-daerah Solo dan lingkungan dibawah keadaan perang, dan ditunjuk Kol Gatot Subroto sebagai Gubernur Militer.

Militer. Pada hari itu Jenderal Soedirman mengirim 3 ribu orang dari Divisi Siliwangi ke Solo buat memperkuat kedudukan Republik dan sekaligus terus mengejar pasukan pro PKI. 

Kemudian terjadi satu pertempuran yang sebenarnya menentukan nasib pemberontakan PKI. 

 

Dalam pertermpuran ini terlibat kekuatan inti mereka yang terbaik. 

Tetapi Madiun berada dalam tangan pasukan-pasukan pro PKI. Maka berkecamuklah perang saudara di Jawa Tengah yang berkesudahan dengan hancurnya tenaga-tenaga militer PKI. 

Ribuan korban keganasan PKI di mana mana menjadi saksi. bahwa PKI mernang tidak mengenal ampun bila lawan-lawan nva tertangkap.

 

Musso dan Amir boleh dikatakan masuk perangkap gerakan revolusinva sendiri. Kuat kesan bahwa mereka belum siap melakukan pemberontakari bersenjata, tetapi terpaksa menyokong sikap pemimpin-pemimpin muda seperti Soemarsono dan Djokosujono.

 

 

 

____

 

Pasukan-pasukan pemerintah ternyata memiliki pimpinan yang lebih baik dari prajurit-prajurit yang Iebih berpengalaman. Lama-kelamaan nyata bagi Musso, bahwa rakyat banyak tidak berpihak kepada mereka, dan kekuatan mereka hanya ada di daerah-daerah Jawa Tengah saja. Maka berubahlah pidato-pidato mereka, yang mula-mula rnengumandangkan suatu “Republik Proletar Indonesia.” 

 

Pidato penghabisan yang diucapkan oleh Amir Sjarifudin tanggal 23 September berbunyi sebagai berikut:

 

“Perjuangan yang kami adakan waktu ini hanya buat memberi koreksi kepada revolusi-revolusi kita. Jadi dasarnya tidak berubah sama sekali. Revolusi ini tidak berubah dari corak nasionalisnya, yang sebenarnya adalah revolusi merah-putih, dan lagu kebangsaan kami tetap Indonesia Raya”.

 

Waktu saya dengar pidato Amir Sjarifudin, yang berkali-kali diradiokan, saya benar benar menaruh kasihan pada kawan saya itu. Saya merasa dalam pidatonya itu terdengar suatu frustrasi. Suatu kebingungan dan suatu keputus-asaan.

 

Mungkin, ya mungkin, di tengah-tengah kehancuran perjuangannya dan dalam malam sepi, ia ingat kembali cita-cita yang ia kandung ketika muda. Mungkin ia ingat kembali pada IC. Mana tahu. Pidato itu sama sekali bukan pidato seorang pemimpin komunis yang fanatik dan terdidik, sebab, komunis tulen sama fanatiknya dengan seorang beragama. Contoh-contoh cukup banyak kita lihat di kalangan Lenin, Mao, dan Marxis biasapun. Jadi, saya sejak itu tidak percaya, bahwa Amir Sjanifudin, yang selalu membawa Injil kecil dalam sakunya, adalah komunis. Mungkin ia seorang Radikal-Sosialis, atau Nasionalis-Revolusioner, atao Marxis tok. Terang mentalitasnya, cara hidupnya, jalan fikirannya, jalan perjuangan politiknya, tidak cocok de ngan predikat komunis dalam arti kiasik. Terang buat saya ia seorang pejuang yang kecewa dalam cita-citanya buat 

kemerdekaan tanah airnya. Rasanya ia mengharap terlalu banyak dari manusia-manusia di Se kelilingnya.

 

Di samping itu ada satu segi menyolok dalam wataknya, ambisinya besar, karena ia amat percaya kepada kapasitasnya. Memang ia seorang yang brilian, tetapi nampaknya ia tidak stabil, dan tidak sabar. Juga kelemahannya terletak pada emosi yang sering menjadi pedoman yang salah bagi 

si kap dan perbuatannya.

 

Sebagai manusia, ia kawan yang baik, suami yang setia, bapak yang penyayang. Semua sifat-sifat borjuis, yang biasanya tidak terlalu diperkirakan ada pada komunis klasik. Apa lagi mau dikatakan tentang Amir Sjarifudin? Mungkin ia seorang Don Quichot, yang ke sana-sini mencari musuh cita-citanya, dan mencari kekasihnya yang berada dalam cenkeraman naga kapitalis. Kapitalis seperti yang ia kenal dalam zaman jajahan, biar berkulit putih, kuning atau sawo matang. Saya tahu benar, ia amat benci pada pamongpraja yang ia anggap sebenarnya parasit rakyat, penjilat terhadap penjajah, yang menurut dia memiliki Skiavengeist atau jiwa budak. Sebab itu buku yang paling ia sukai adalah Max Havelaar karya Multatuli. Kesalahan Musso dan Amir Sjarifudin adalah mengira rakyat benci pada peme rintahan Sukarno-Hatta. Mereka kira oposisi yang sekali-kali diperlihatkan berarti konfrontasi. Memang dalam kamus komunis , oposisi sama dengan konfrontasi, malahan kontra-revolusioner. Jadi meng anggap PNI yang nasionalis dan Masjumi yang religius-sosialistis dapat dikonfrontir dengan Presiden Sukarno justru salah tafsir. Biar PNI dan Masjumi menentang persetujuan Linggarjati Sukarno-Hatta-Sjahrir, tetapi tiada niat buat berkonfrontasi sedikitpun. 

Inilah yang dinamakan “demo krasi” dalam praktek.

 

Amir Sjarifudin kesudahannya tenggelam bersama-sama pemberontakan komunis di Madiun. Tanggal 28 Oktober 1948, pasukan-pasukan tempur PKI hancur. Tiga hari kemudian, 31 Oktober, Musso tewas dalam pertempuran dengan pasukan Mobrig, yang dipimpin Jenderal Jasin. Sebelumnya, 29 Oktober, Djokosujono dan Maruto Darusman tertangkap, dan tanggal 31 Oktober itu, Amir Sjarifudin serta Soeripno ditangkap juga. Mereka dihukum mati. Re volusi memakan anaknya sendiri.

 

__________________________________________________________________________

 

Notes: Baca juga kesaksian Soemarsono ( http://www.worldcat.org/isbn/9799465036 ) dan tanggapan Bung Sjahrir terhadap kejadian Madiun di “Indonesian socialism” sebagai pelengkap.