tanggal 18 Desember 1948.
Belanda berhasil menerjunkan ribuan orang ke Maguwo Yogya tanpa perlawanan berarti kecuali dari taruna-taruna AURI dibawah komando
Kasmiran.

Penyerbuan ke Yogya pada waktu sangat mendadak pasukan
penerjun payung kebanyakan KNIL orang Ambon dan Kupang dalam pertempuran di Maguwon itu 40 orang anak buah Kasmiran tewas ditempat. Saat itu sedang berlangsung perundingan antara pihak RI dengan Belanda di daerah Kaliurang. AH Nasution juga sedang berada di Yogya dan terlibat perundingan namun tiba-tiba Belanda melakukan
sebuah keputusan nekat menyerang Yogyakarta.

Prakarsa ini melawan kehendak Van Mook dan diputuskan oleh Dr.Beel Perdana Menteri Belanda dari garis keras, Van Mook sendiri lebih menginginkan langkah
kooptasi dengan membentuk pemerintahan-pemerintahan boneka yang mengepung Jawa, tapi karena Belanda baru saja dapat bantuan dari proyek Marshall Plan uangnya digunakan untuk membiayai perang.

Serangan Belanda ke Maguwo mengikuti metode pasukan Jerman saat menduduki Nederland tanggal 10 Mei 1941. Menggunakan taktik penerjunan payung. Dengan langsung terjun payung, maka pasukan Belanda bisa langsung berada di garis belakang musuh tanpa melewati
barikade-barikade militer yang ada di sekeliling Yogya terutama jalur Semarang-Yogya atau Purwekerto-Yogya. Pimpinan serangan umum Belanda ada ditangan Jenderal Spoor, yang dulu merupakan anak buah dan didikan Letjen Oerip Soemohardjo semasa di KNIL.

Untuk pasukan dalam kota diserahkan kepada Kolonel Van Langen Komandan Brigade T. Serangan berjalan lancar pertahanan dari pihak republik sama sekali tidak ada. Bahkan beberapa penduduk saat melihat pesawat-pesawat
tempur jenis cureng di udara dan tank sherman mulai masuk kota, rakyat malah takjub dikiranya TNI sedang latihan perang-perangan.

Beberapa diantaranya berteriak kegirangan karena bangga melihat pesawat-pesawat canggih terbang di atas kota dan mereka kira itu pesawat milik TNI AU. Memang sebelum serangan dimulai AH Nasution dan Bambang Sugeng Komandan Divisi Djawa Tengah sudah mengabarkan bahwa
TNI akan melakukan latihan perang-perangan untuk mengantisipasi serangan Belanda. Namun belum latihan ternyata TNI sudah kedahuluan anak buah Jenderal Spoor.

Jenderal Sudirman yang tahu kota Yogya sudah terkepung buru-buru menghadap Bung Karno dan penggede-penggede Republik yang sedang rapat di Gedung Agung (Istana Negara) membahas serbuan Belanda. Jenderal Sudirman disuruh mengunggu di luar, sebentar Bung Karno menemui
Sudirman dan mengatakan “Saya akan menyerahkan diri” Sudirman kecewa akan keputusan Bung Karno, dia balik bertanya “Bung tak mau bergerilya dengan saya di hutan-hutan?” Bung Karno diam sejenak lalu tangannya memegang hidungnya, sejenak matanya berkedip-kedip “Dirman,
kau tahu saya akan merasa terhina bila saya nanti tertangkap Belanda di kampung-kampung tengah hutan sebagai pelarian. Apalagi bila saya terbunuh, lebih baik saya ditangkap dengan cara terhormat dengan ini
berarti dunia Internasional masih memperhatikan saya,…sekarang kamu pulanglah dulu..kamu sedang sakit, lebih baik beristirahatlah” Sudirman kecewa bukan main terhadap jawaban Bung Karno sebelumnya ia
juga sudah kecewa dengan sikap pemerintah yang didominasi kelompok Sjahrir yang masih suka berunding dengan Belanda. Sudirman lebih
bersimpati pada kekuatan militer yang terpengaruh Tan Malaka ketimbang TNI pro Hatta atau Sjahrir. Tapi dia sungkan dengan Bung Karno. Akhirnya Sudirman pulang dengan hati mangkel.

Sudirman berjalan bersama ajudannya ke rumahnya. Sudah dua bulan dia terbaring sakit, dan baru kali ini dia bisa bangun dan keluar rumah setelah mendengar beberapa kali bunyi bom. Di rumah Sudirman lalu
tidur di kamarnya. Paru-parunya tinggal satu, yang satunya lagi juga sudah menghitam terpengaruh penyakit. Badannya kurus kering.

Saat ia terbaring beberapa perwira TNI mengunjunginya termasuk Kolonel Bambang Sugeng. “Saya tidak mau menyerah dengan Belanda” kata Jenderal Sudirman.

`Ya, Pak kita juga tidak akan menyerah, tapi Belanda sudah mengepung Yogya” kata Kapten Tjokropranolo ajudan Jenderal Sudirman. “Tjokro, ambilkan aku jas dan blangkon di laci, minta pada Ibu…”
“Lho, Bapak mau kemana?”
“Saya akan menyingkir ke hutan-hutan saya tidak mau ditangkap Belanda”
“Tapi Bapak masih sakit”
“Anak-anakku masih banyak bergerilya di dalam hutan, masak aku mau
nyerah begitu saja”
“Baiklah Pak nanti Bapak ditandu saja dengan kursi kayu di depan”
“Baiklah”

Sidang darurat di tengah agresi militer Belanda berlangsung cepat. Diputuskan pemerintahan akan di over ke Bukittinggi kebetulan disana ada Menteri Kemakmuran Sjarifudin Prawiranegara dan beberapa pemimpin
Republik lapis tengah sedang bertugas di Bukittinggi. Termasuk beberapa perwira yang ada di Sumatera seperti Kolonel Hidayat yang menjabat Panglima Komandan Sumatera (ajudan Kol. Hidayat ini Kapten
Islam Salim- anak Agus Salim-), Kolonel Nazir diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Laut PDRI juga Kolonel Hubertus Soejono menjadi KSAU
(kelak di tubuh AURI terjadi perpecahan karena belum terselesaikannya masalah penyerahan KSAU PDRI ke KSAU RI karena Suryadarma masih menganggap dia sabagai KSAU resmi, Suryadarma juga ikut ditangkap
pada penyerbuan Belanda 28 Desember 1948 dan dibuang ke Bangka). Bung Hatta juga memerintahkan agar dibangun sebanyak mungkin zender (jaringan pengirim) radio untuk dijadikan kekuatan penekan bagi Palar di PBB.

Setelah selesai Bung Karno keluar ruangan dan mendengar suara bom terus berjatuhan, sementara Sri Sultan HB IX berjalan di belakangnya. Bung Karno menoleh kepada Sultan. “Bung Sultan bagaimana dengan Bung, apa Bung yakin aman disini?” Dengan tersenyum Sri Sultan berkata “Bung Karno tidak usah mengkhawatirken saya, Belanda
tidak akan berani masuk Keraton, nanti biar para perwira-perwira TNI bersembunyi di dalam Keraton menyamar jadi abdi dalem”

“kalau begitu saya akan tunggu itu Van Langen tangkap
saya…sementara Bung Sultan tetap di Yogya”
“Ya saya kira begitu” Sri Sultan tersenyum. Sultan tahu Van Langen tidak akan berani menangkap dirinya, karena Sri Ratu Belanda sudah berpesan pada tentara Belanda jangan mengutak-atik kawannya Sri Sultan HB IX.