Di pertengahan tahun 1945 orang-orang pergerakan di Jakarta sudah berhasil memasuki masa puncak kerjanya yaitu : Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dimana Bung Karno dan Bung Hatta menyatakan kemerdekaannya. Namun tuntutan kemerdekaan politik itu oleh pihak Republikein secara de jure hanya daerah kekuasaan Belanda. Di luar
kekuasaan Belanda kaum Republikein tidak berhak, sementara wilayah kekuasaan Solo-Yogya disebut Voorstenlanden adalah daerah yang dipertuan oleh Sunan Solo, Mangkunegoro, Sultan Yogya dan Paku Alam
dan bukan kekuasaan Hindia Belanda.

Di puncak sejarah inilah nasib kedua wilayah menjadi sangat berbeda juga nasib kehidupan kraton- kratonnya kelak. Sunan Solo dan Mangkunegoro bimbang, bahkan separuh menolak bergabung dengan Republik Indonesia. Mereka takut bila bergabung dengan Republik kerajaan-kerajaan akan dilikuidir dan pemerintahan yang dikabarkan Sosialis itu menolak adanya bentuk feodalisme. Sementara Sultan Yogya dan Paku Alam dengan keyakinanbulat mendukung Republik Indonesia dan bergabung dengan Republik Indonesia.

Penggabungan Sultan Yogya ini merupakan simbol bahwa Raja Jawa (Jawa adalah simbol dari pusatnya Nusantara) berdiri dibelakang Sukarno-Hatta ini berarti dari sisi budaya kemerdekaan RI mendapatkan
legitimasinya. Sunan Solo dan Mangkunegoro masih menolak dan ini berakibat fatal karena rakyat Solo keburu marah pada dua raja ini dan meledaklah Gerakan Swapraja dimana mereka menuntut Raja Solo dan Mangkunegaran menyerahkan hak istimewanya ke Republik Indonesia sejak
saat itulah Kasunanan Solo kehilangan wibawanya.

Mangkunegaran masih agak terselamatkan karena kelak Suharto yang menjadi Presiden RI kedua menikahi kerabat jauh Mangkunegaran dan Keraton Mangkunegaran
masih sedikit memiliki pamor.