Sementara di Yogyakarta Sri Sultan HB IX terus menerus mendapat tekanan dari pihak Belanda. Beberapa intel Belanda melaporkan Sri Sultan HB IX terbukti menjalin kerjasama dengan beberapa perwira TNI
juga menyembunyikan mereka di dalam Kraton. Sri Sultan menolak tuduhan Belanda dan meminta agar Belanda memeriksa sendiri saja ke dalam Keraton. Tapi bila pasukan Belanda berani masuk ke Keraton dia akan protes kepada kawan kecilnya yang sudah jadi Ratu Belanda, Juliana.

Kemudian datanglah Pro-Kontra itu yang menjadi perang sejarah sampai saat ini belum selesai. Yaitu Serangan Umum 1 Maret 1949. Untuk itu mari kita baca dulu dari versi Sri Sultan HB IX. Setelah penangkapan Belanda terhadap pemimpin-pemimpin Republik Indonesia, PBB mengalami
kegemparan. Nehru, Perdana Menteri India menuding Belanda sudah melakukan perbuatan biadab tak tahu malu. Kemarahan Nehru ini didukung oleh anggota-anggota PBB lainnya. Yang paling galak adalah Australia, Australia meminta Belanda mematuhi etika hukum Internasional karena sudah berulang kali Belanda berunding dengan
pihak Indonesia baik melalui pihak ketiga atau Komisi Tiga Negara dan Komite Jasa Baik dengan begitu Belanda mengakui eksistensi negara RI, sementara penyerbuan kemarin itu dinyatakan Belanda sebagai aksi
Polisionil dengan menyamakan agresi militer dengan aksi polisionil berarti Belanda secara tidak langsung sudah menyatakan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi.

Amerika Serikat sendiri lewat delegasinya mendesak Belanda mengadakan perundingan dengan pihak Indonesia seraya mengancam bila kelakukan Belanda tidak berubah maka dompet bantuan Amerika terhadap Belanda tidak akan terbuka lagi. “Belanda harus mematuhi peraturan-peraturan
Internasional dan mengikuti cara-cara penyelesaian konflik yang terhormat”

Belanda yang merasa terpojok dengan desakan negara-negara anggota PBB berteriak lantang “Republik Indonesia tidak ada lagi, buktinya sama
sekali tidak ada perlawanan dari pihak kaum RI ketika pemimpin- pemimpinnya kami tangkap”

Sri Sultan mendengarkan perdebatan-perdebatan PBB ini baik-baik dari siaran BBC, ia mengambil kesimpulan bahwa harus diadakan serangan militer besar-besaran yang dapat membuktikan anggapan Belanda itu salah. Ia duduk terdiam dan berpikir apa bisa militer melakukan serangan terkonsolidasi. Sri Sultan HB IX meminta pendapat kakaknya
Pangeran Prabuningrat apakah bisa militer dikonsolidasikan untuk melakukan serangan yang sedang ia pikirkan. Pangeran Prabuningrat mengusulkan agar Sultan memanggil salah seorang perwira TNI yang masih ada di sekitar Yogya.
“Siapa, Latief Hendraningrat sedang di luar kota”
“Itu Komandan Wehrkreiss III, yang orangnya pendiam masih di sekitar Yogyakarta?”
“Yang mana?” tanya balik Prabuningrat.
“Itu lho yang berhasil rebut tangsi senjata Jepang di Kotabaru”
“Oh, Overste Suharto”
“Ya, Suharto…suruh orang Keraton hubungi dia untuk datang kesini,
menyamar jadi Abdi Dalem Keraton saja”
“Baiklah” kata Prabuningrat.

Suharto datang diam-diam ke Keraton Yogya dengan menyamar menjadi Abdi Dalem (kisah Suharto menyamar menjadi Abdi Dalem ini sempat di film-kan oleh Usmar Ismail di tahun 1950 dan masih versi Orisinil jauh dari kesan menjilat). Suharto dibawa Marsoedi sebagai perwira
penghubung antara Suharto dengan Sri Sultan ke ruang khusus Sri Sultan untuk membicarakan kemungkinan serangan besar-besaran di Yogyakarta. Kejadian itu berlangsung tanggal 14 Februari 1949.

“Mas Harto duduklah” Jawab Sultan dengan bahasa Jawa halus.
“Baik Kanjeng Sinuwun” Jawab Letkol Suharto dengan menggunakan bahasa Jawa Tinggi yang biasa dibahasakan seorang hamba pada Paduka Rajanya.
“Mas Harto akhir-akhir ini keamanan kota Yogya tidak stabil bagaimana kamu bisa membereskannya supaya tidak ada lagi penjarahan-penjarahan di toko-toko dan perampokan-perampokan yang kabarnya juga menggunakan
senjata, Belanda sendiri kewalahan terhadap aksi liar para perampok itu”

“Bisa Kanjeng Sinuwun, saya usahaken agar perampokan itu tidak ada lagi..”

Sri Sultan melihat ke arah radio dan kemudian matanya menerawang dalam-dalam. Ia tahu sedang diamat-amati intel Belanda namun penilaian Belanda sama sekali salah, ia diperkirakan akan memperjuangkan Yogya sebagai daerah otonom dibawah Belanda atau diam- diam ingin menjadi Presiden Republik Indonesia. Padahal apa yang
dilakukan Sultan adalah bentuk pengabdian Raja Jawa terhadap kehendak sejarah. Dan Belanda kurang paham terhadap bentuk pengabdian ini. Sri Sultan betul-betul ingin mengabdi pada Republik Indonesia bukan mengejar ambisinya. Tangan kanan Sri Sultan memegang dagu-nya yang agak lancip itu lalu dia berkata pelan pada Letkol Suharto.

“Mas Harto apa bisa dilakukan serangan besar-besaran ke Yogyakarta?”
“Maksud Sinuwun?” Suharto balik bertanya.
“Serangan pendadakan agar Belanda tahu Republik masih ada”
“Hmmm…saya usahaken”
“Berapa pasukan yang kamu punya?”
“Kalau dihitung-hitung yang bisa saya kerahkan dari SubWehrkreis saya
sekitar dua ribu orang”
“Hmmm…dua ribu cukup”
“Memang Sinuwun mau merencanakan apa?”
“Saya menginginkan agar TNI bisa masuk ke dalam kota dan merebut semua tempat yang dikuasai Belanda terutama gudang senjata yang ada di Pabrik Waston itu, juga beberapa titik penting seperti Stasiun Kereta Api, Jalan Malioboro dan Benteng Vredenburg”
Suharto terdiam sejenak dia berpikir dalam-dalam. Suharto adalah ahli strategi dia tidak akan mengambil keputusan bila keputusan itu tidak akan ia menangkan. Ia bukan tipe pengambil spekulasi yang untung- untungan ia harus paham situasi. Namun yang dihadapinya adalah Sri Sultan, Rajanya. Ia juga berpikir bahwa inti kekuatan pasukan Belanda
adalah KNIL pribumi kebanyakan dari Ambon, yang juga agak tak yakin dengan Belanda, bagaimanapun orang-orang pribumi itu dalam hatinya memihak Republik. Yang ditakutkan Suharto justru pasukan Marinir Belanda yang sudah dididik di Virginia Amerika.

“Berapa jam yang dibutuhkan pasukan bantuan Belanda dari luar Yogya terutama yang di Semarang itu bisa tiba ke Yogya?”
“empat jam mungkin mereka akan sampai ke Yogya dan langsung membantu pertempuran”
“Kamu bisa kuasai Yogya selama enam Jam, Mas Harto?”
“Bisa Sinuwun”
“Kamu sanggup?”
“Sanggup sinuwun”
“Sekarang laksanakan” Sri Sultan adalah Menteri Pertahanan pada kabinet Hatta dia mengerti problem-problem kekuatan angkatan perang kita. Dan dengan strategi perebutan kota Yogyakarta diharapkan LN Palar wakil Indonesia di luar negeri punya dukungan fakta bahwa Indonesia masih ada”. analisa Sri Sultan dengan mata menerawang ke depan.